Tentang Saya

ia Dilahirkan dengan nama lengkap Faoziduhu Lahagu dalam sebuah keluarga yang sederhana, Faozi demikian nama panggilannya tinggal dan bertumbuh dalam keluarga Kristen dan lingkungan pelayanan gerejawi. Ayahnya yang bernama Rutumbowo Lahagu Almarhum dan ibunya yang bernama Siburuti Sarumaha bekerja sebagai tenaga penuh waktu di asrama putra milik sinode BNKP di NIAs (masih satu kompleks dengan perumahan pendeta dan juga pusat pengembangan pelayanan BNKP). Pengalaman banyak berjumpa dengan para pendeta membuatnya sejak kecil bercita-cita ingin menjadi pendeta. Pria yang terlahir pada tanggal 19 Oktober 1974 ini memulai pendidikannya di TK Hanabalindow milik BNKP. Kemudian melanjutkan pendidikan di SD Impres Tohia. Setelah menamatkan pendidikan di SD, oleh desakan banyak pihak, ia melanjutkan pendidikannya di SMP Kristen BNKP. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP pria yang anak satu-satunya dalam keluarga ini selanjutnya menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Gunungsitoli. Disinilah babak baru dalam kehidupan spiritual-rohaninya dimulai. Hampir bersamaan dengan peneguhan sidinya, ia mengikuti sebuah kabaktian Kebangunan Rohani yang diadakan oleh gerejanya BNKP Deninger. Disitulah ia mengambil keputusan menerima Kritus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. keputusan ini semakin memantapkannya ketika diteguhkan dalam peneguhan sidi yang dilaksanakan tidak lama berselang setelah peristiwa KKR tersebut.
Perobatan dan kelahiran baru inilah yang kemudian menyebabkan ia banyak terlibat dan aktif dalam berbagai persekutuan rohani yang waktu itu mulai menjamur di kotanya. dipersekutuan inilah ia bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan dan aktif melayani. Bersama dengan teman-temannya yang bernama Martianus Zega (sekarang pendeta di GKT Nazaret Surabaya), Rony Sofian (sekarang penginjil di GKKK Yogyakarta), Juliman Harefa (sekarang pendeta di BNKP Jakarta) mereka mendirikan sebuah persekutuan pelajar yang berusaha menjangkau pelajar SMA di kota tersebut dan membawa mereka mengenal Tuhan dan bertumbuh di dalamnya. Alhasil, persekutuan yang diberi nama Eklesia itu menghimpun ratusan anggota dari berbagai sekolah di Gunungsitoli, mendapat dukungan dari sekolah dan juga dilindungi (dipayungi) oleh gereja. dari persekutuan inilah kemudian lahir banyak pemimpin rohani yang kemudian dipakai Tuhan melayani pekerjaanNya. Melalui keaktifan diberbagai persekutuan seperti getsemani, peniel dan Eklesia, faozi semakin dimantapkan akan panggilan Tuhan mempersembahkan hidup melayani Tuhan.
Sekalipun kurang mendapat dukungan dari keluarga, berhubung Faozi anak satu-satunya dan orang tua semakin tua tekad menjadi Hamba Tuhan sudah sangat bulat. Panggilan itu tidak dapat dihentikan, ditunda dan dibatalkan lagi. Bulan Juli tahun 1995, setelah 3 tahun tamat dari SMA dan menggumuli dengan sungguh-sungguh panggilanNya, ia memulai pendidikannya di Sekolah Tinggi Teologi Elohim Indoensia (STTELA) sebuah sekolah teologi interdenominasi berbasis reformed yang didirikan oleh LEPKI dan badan misi gereja Presbiterian Korea. Di sekolah inilah ia mulai menyukai tulis menulis artikel dan menjadi pelopor berdirinya media komunikasi di sekolah tersebut yang diberi nama Oligos. Media ini walau sangat simpel-sederhana dan dibagikan dalam lingkup terbatas telah menjadi media komunikasi yang efektif dan sering dipakai untuk mengkomunikasikan program SEMA yang pernah dipimpinnya dan juga media komunikasi sekolahnya dengan alumni. Melalui oligos dan juga majalah tampil yang dulu diterbitkan LEPKI, ia mencoba mengungkap gagasan-gagasannya sekaligus melatih kemampuan menulisnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut, ia diminta untuk menjadi tenaga pengajar/dosen di almamaternya dan menekuni bidan Perjanjian Lama. Namun tiga tahun kemudian, ia dipanggil untuk melayani sebagai gembala penuh waktu di Gereja Kristen Abdiel (GKA) Imanuel-Lawang. Walaupun melayani sebagai gembala, namun ia masih berkesempatan untuk mengajar non reguler di almamaternya. Beberapa tahun kemudian ia melanjutkan studi di ITA (sekarang bernama STT Aletheia) dan mendapatkan gelar MA dengan konsentrasi di bidang pastoral konseling. Ditengah berbagai aktifitas menggembalakan dan mengajar, ia selalu menyempatkan diri untuk menulis. Baginya menulis adalah wahana mengungkapkan mengekspresikan gagasan dan pikiran. Bukankah Allah juga “berbicara” kepada umatNya di segala zaman melalui tulisan? Tulis menulis sangat penting dalam komunikasi. kumunikasi melalui tulisan lebih dapat dipertanggung jawabkan dibandingkan dengan komunikasi lisan.
Dilahirkan dalam gereja yang memegang kuat tradisi protestan, ia kemudian semakin diyakinkan dan semakin teguh dalam keyakinan reformasi sebagai keyakinan ortodoksi-konservatif ditengah-tengah arus liberalisme dan kharismatik setelah menempuh pendidikan teologi baik di STTELA maupun ITA. Walaupun Lutheranisme dan Calvinisme sedikit berbeda dalam beberapa hal, namun keduanya dalam hal fundamental adalah sama. Sekarang ia demikian giat memperjuangkan keyakinan reformed dalam garis Calvinisme melalui tulisan dan khotbah. Ia rindu menumbuhkan semangat kebanggan pada jati diri reformed dan mendorong terjadinya apologet-diskusi kritis yang bertujuan mengkritik berbagai ajaran liberalisme dan Kharismatik yang sudah menyimpang dari kebenaran Alkitab.
Pada tahun 2000, ia menikah dengan Ev. Muliani Gulo,MA dan dikaruniai dua orang anak. Yang pertama bernama Elthamasta Vigiliani Lahagu dan Marvel Sinemaziduhu Lahagu. Istrinya juga menempuh pendidikan di dua sekolah yang sama. Istrinya juga melayani di GKA Imanuel Lawang dan STTELA.

Responses

  1. selamat malam bapak… saya dari GMIT NTT senang membaca tulisan anda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: