Oleh: Faoziduhu | Agustus 3, 2012

MENGAPA HARUS BERDOA (Bagian 2-Terakhir)


Semua alasan-alasan yang diuraikan diatas sebenarnya merupakan alasan yang tidak benar. Mengatakan bahwa Tuhan Mahamengetahui adalah benar. Ia memang mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita. Ia juga mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Ia mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita di masa depan. Ia mengetahui segalanya. Namun keyakinan kita akan pengetahuan Allah tidak serta merta membuat kita merasa tidak perlu berdoa, bahkan berpikir bahwa dengan berdoa kita menghina Dia. Ini pandangan yang naif dan terkesan dibuat-buat. Sekalipun Tuhan mengetahui semuanya. Namun doa adalah sebuah bentuk komunikasi kita denganNya. Bayangkan saja kalau kita tidak berdoa dan berpikir bahwa Ia sudah tahu semuanya. Bukankah dengan tidak berdoa hubungan kita semakin renggang dan bukan tidak mustahil suatu saat hubungan kita dengan Tuhan akan putus suatu saat. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan.
Alkitab mengajar kita bahwa Allah yang kita kenal bukan saja Allah yang besar, agung, mulia dan bersifat transenden. Namun ia juga adalah Allah yang kita sebut sebagai Bapa. Pribadi yang dekat dan bersama dengan kita. Ia immanen. Jika Allah adalah Bapa kita. Maka kita seharusnya memiliki hubungan komunikasi yang baik dengannya. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya “berdoalah kepada Bapamu yang ada ditempat yang tersembunyi” (Matius 6:6). Demikian juga Tuhan Yesus berpesan “Berjaga-jagalah dan Berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Matius 26:41). Bayangkan saja kalau ada seorang anak yang tidak mau berbicara kepada ayahnya, karena ia beranggapan bahwa ayahnya sudah mengetahui semua kebutuhannya. Saya tidak habis berpikir bahwa seorang anak tidak pernah meminta sesuatu kepada ayahnya atau tidak pernah bicara kepada ayahnya. Ia begitu pasif dalam berkomunikasi. Bukankah hubungan mereka semakin renggang dan penuh dengan praduga satu sama lain.
Tidak hanya itu, banyak orang kristen berpikir bahwa doa hanya sekedar memohon dan meminta kepada Tuhan. Doa tidak hanya sekedar itu. Doa adalah sebuah pelayanan kita kepada Allah. Di dalam doa kita menaikkan syukur kepadaNya. Kita bersyukur untuk semua berkat, pemeliharaanNya atas hidup kita. Ia menjaga kita dari yang jahat, menjauhkan kita dari godaan, melindungi kita dari marabahaya, mencukupi kebutuhan kita bahkan mencurahkan segala berkatNya atas kita. Maka seharusnya kita berterima kasih kepadaNya melalui doa. Memang mewujudkan syukur tidak hanya dengan doa tetapi juga dengan tindakan lain. Misalnya memberikan persembahan syukur, bersaksi tentang kebaikan Tuhan dan bahkan kerelaan untuk melayani Dia. Namun Doa tetaplah sebuah wujud syukur secara langsung. Kita berbicara kepada Tuhan, kita mengakui dengan mulut kita bahwa berkat bersumber dariNya dan berterima kasih kepadaNya.
Namun doa juga tidak hanya bicara syukur. Namun di dalam Doa kita mengakui dosa kita. Kita mengetahui bahwa kita lemah dan kita bisa saja gagal melakukan Firman Tuhan dalam hidup kita. Maka ketika kita sadar akan pelanggaran kita. Maka saluran terpenting untuk mengungkapkan pengakuan dosa kita adalah melalui doa. Banyak orang Kristen berpikir bahwa pengakuan dosa hanya bila kita berbuat dosa yang bagi banyak orang begitu mengerikan dan menjijikkan. Namun untuk dosa yang biasa, semisal berbohong tidak perlu pengakuan dosa melalui doa. Bahkan mungkin ada yang berpikir bahwa pengakuan dosa hanya waktu di gereja saja. Bukankah di dalam susunan liturgi gereja ada doa pengakuan dosa. Jadi dosanya dikumpulin dulu dan hari Minggu baru diakui. Ini paham yang salah. Di dalam doa tiap hari, kita seharusnya mengakui pelanggaran dan kesalahan kita. Kadang ada dosa yang kita sadari atau ketahui namun kadangkala juga ada dosa yang tidak kita sadari. Artinya, pengetahuan kita yang terbatas, membuat kita tidak sadar bahwa apa yang kita perbuat sebenarnya adalah dosa.
Alasan berikutnya adalah kedaulatanNya atas kita. Memang Tuhan berdaulat atas hidup kita. keputusanNya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Namun alasan ini tidak serta merta menjadi pembenaran untuk tidak berdoa. Jika kita mengakui bahwa Tuhan sudah menetapkan semuanya, pertanyaanNya bagaimana kita bisa mengetahui kehendak dan ketetapanNya? Apakah kita paranormal yang bisa menangkap dengan mudah kehendakNya? Sehingga kita tidak merasa perlu berdoa? Bukankah kehendakNya adalah sesuatu yang terus menerus kita cari dan caranya adalah dengan berdoa? Kehendak kita tidak sama dengan kehendak Tuhan. Tuhan berdaulat atas kehendakNya. Masalahnya, kita terus menerus dalam pencarian akan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Bisa saja kehendak kita sejalan dengan kehendakNya. Namun kadangkala kehendak kita bertentangan dengan kehendakNya. Nah, oleh karena kehendakNya adalah sesuatu yang terus menerus kita cari, maka sangat wajar dan seharusnya kita mengemukakan kehendak kita atau keinginan kita dalam doa kepadaNya. Melalui Doa kita, mengemukakan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita. Jadi doa justru mengangkat martabat kita, sebagai mahluk yang memiliki kehendak dan keinginan. Sekalipun kehendak dan keinginan itu harus tunduk di bawah kedaulatanNya yang mutlak.
Alasan berikutnya adalah kemakmuran. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang tepat sekali dalam Lukas 12:18 untuk menjawab hal ini. Diceritakan tentang seorang yang sukses dalam kehidupannya dan dengan kesombongan ia berkata, “beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah.” Tetapi Tuhan menetapkan bahwa malam itu juga jiwanya diambil. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa membeli nyawanya seberapa banyak uangnya. Manusia hanyalah debu dan hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Maka sebagai orang percaya yang menyadari kauasa Tuhan dan hanya bersandar kepadaNya, tidak ada alasan untuk tidak berdoa.
Alasan terakhir adalah paham kebetulan. Jika Allah tidak berkuasa mengendalikan ciptaanNya, dan Ia hanya bisa membiarkan segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka untuk apa berdoa. Bukankah semuanya terjadi secara kebetulan? Ini pandangan yang menyesatkan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu dirancang dan dikehendaki oleh Tuhan. Bahkan sampai hal-hal yang mendetail dalam hidup kita. Firman Tuhan berkata: “bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi, diluar kehendak BapaMU. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari banyak burung pipit.” (Matius 11:29-31). Jadi sekali lagi tidak ada yang namanya kebetulan. Dari uraian panjang lebar diatas, menjadi jelas kepada kita mengapa kita berdoa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: