Oleh: Faoziduhu | Juli 27, 2012

MENGAPA HARUS BERDOA (Bagian 1)


Ada seorang anak yang begitu aktif di Sekolah Minggu. Dia diajarkan oleh guru di gereja bahwa waktu bangun tidur, sebelum makan, kalau mau tidur harus berdoa. Namun ayahnya adalah seorang yang tidak percaya kepada Tuhan. Ia sering bertanya kepada anaknya, kenapa anaknya sering berdoa. Bukankah Tuhan sudah tahu segala sesuatu? Kenapa harus meminta sesuatu dengan berdoa? Anaknya kemudian menjawab sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah minggu bahwa berdoa adalah nafas hidup orang percaya. Namun jawaban yang singkat dan sederhana ini kurang memuaskan ayahnya itu. Sehingga orang tuanya tersebut terus menerus mempersoalkan tiap kali anaknya berdoa.
Sekalipun pertanyaan si ayah tadi bernada sinis terhadap doa, namun sebenarnya jujur kita akui bahwa banyak orang Kristen mempertanyakan mengapa harus berdoa? Apalagi orang Kristen yang pemahamannya terlalu ekstrim. Bukankah Tuhan Mahatahu. Ia tahu apa yang kita butuhkan, apa yang kita perlukan. Bahkan Ia lebih tahu sekalipun apa yang menjadi kebutuhan terpenting kita. Ia mengetahui jauh ke depan apa yang merupakan kemauan, kerinduan, keinginan dan kebutuhan kita. Jadi kita tidak perlu memohon sesuatu kepadaNya. Jika kita berdoa maka seolah-olah kita menghina Dia sebab seakan-akan Ia tidak mengetahui apa yang kita mau sampaikan. Seolah-olah Ia terbatas di dalam memahami kedalaman hati kita. Intinya, Tuhan sudah tahu semuanya, jadi buat apa berdoa.
Alasan ekstrim berikutnya adalah bahwa Tuhan adalah Mahaberdaulat. Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu. Kita hidup menurut “garis” yang Tuhan sudah tetapkan. Kita tidak bisa mengubah “takdir” kita dan kita hanya pasrah serta ikut apa yang sudah Tuhan tetapkan. Nah, kalau jalan hidup kita Tuhan sudah tetapkan, apa yang akan terjadi kemudian dalam hidup kita sudah digariskan oleh Tuhan, lalu kenapa harus berdoa? Bukankah berdoa hanya membuang-buang waktu dan energy kita saja? Toh, semua sudah tetapkan dalam kedaulatanNya. Jadi tidak perlu berdoa. Kita hanya bisa menerima apa yang Tuhan sudah tetapkan. Ketetapan Tuhan tetap baik dan selalu baik. Sekalipun ada banyak hal dalam ketetapanNya yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun ketetapanNya tetaplah yang terbaik. Kita tidak memiliki kedaulatan apapun untuk mengubah kehendakNya yang baik apalagi mengubah ketetapanNya yang final. Siapakah kita sehingga bisa mengubah kehendakNya yang mutlak. Jadi doa tidak ada gunanya. Sekali lagi ini pandangan ekstrim yang kedua.
Saya memiliki seorang teman yang cukup akrab dan sering saya ajak diskusi teologis. Kalau berkumpul dengan keluarganya dan waktunya untuk berdoa, dengan senyum sinis ia menolak ikut dengan alasan berdoa adalah sesuatu yang sia-sia, percuma dan buang waktu. Saya mengenal pemikiran orang ini tidak hanya dipengaruhi oleh alasan ekstrim diatas, tetapi juga karena kemapanan hidup yang dialaminya hari membuat ia merasa tidak memerlukan Tuhan atau tidak merasa perlu bersandar dan meminta sesuatu kepada Tuhan. Bukankah segala sesuatu ia sudah punya dan bahkan banyak orang bergantung dan berharap kepadanya. Sekarang kurang apalagi. Ia sama sekali tidak butuh Tuhan. Jadi untuk apa berdoa? Inilah alasan ekstrim lainnya. Yaitu kemapanan dan kemakmuran.
Apakah kemapanan dan kemakmuran, bisa membuat orang tidak mau berdoa? Jawabannya ya. Namun tidak semua orang yang mapan dan makmur tidak suka berdoa. Dalam Alkitab, kita menemukan bahwa Abraham seorang yang kaya raya di negerinya. Namun, ia adalah seorang yang suka berdoa. Ia memiliki hubungan yang demikian erat dengan Tuhan. Kemakmuran yang dialami seseorang bisa membuat orang tersebut menjadi Tuhan atas dirinya. Ia tidak butuh Tuhan. Ia hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatannya sendiri. Ada juga orang yang dulunya begitu tekun berdoa sebelum ia makmur secara materi. Namun setelah ia menjadi sukses, ia berpikir bahwa semua kesuksesan yang diraihnya adalah usaha dan jerih lelahnya. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang membuat ia mengalami kesuksesan dan mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Memang ia yang bekerja keras, namun Tuhan membuat kerjanya menjadi mujur dan mulus. Tuhanlah yang melindunginya dan membuat ia tetap sehat sehingga ia bisa bekerja dengan keras dan cerdas. Ia lupa bahwa dibalik jerih lelahnya, ada Tuhan yang beranugerah tiada hentinya. Sekarang setelah semua di dapatkannya, ia tidak merasa bahwa Tuhanlah yang membuatnya demikian dan oleh sebab itu ia tidak perlu berdoa.
Alasan klasik berikutnya adalah sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kebetulan. Tidak ada Tuhan dan tidak ada kekuatan lain yang berkarya di alam semesta. Jangan pikir bahwa paham “kebetulan” hanyalah milik orang ateis. Banyak orang Kristen yang memiliki paham “kebetulan” ini. Semangat naturalisme, menyebabkan munculnya paham segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Dalam kehidupan ini ada keuntungan dan kerugian. Keduanya terjadi secara kebetulan dan tidak ada intervensi Allah di dalamnya. Entah Allah ada atau tidak ada, tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat mengendalikan alam. Semua berjalan secara natural. Nah, paham seperti ini bisa menyebabkan orang kemudian tidak mau berdoa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: