Oleh: Faoziduhu | Mei 25, 2012

PELAJARAN DARI KELUARGA YAKUB (Bagian 3)


Banyak kisah-kisah menarik yang kita bisa pelajari dari keluarga Yakub yang diceritakan dari pasal 29 hingga pasal 49 kitab Kejadian. Namun kita tidak bisa membahasnya secara keseluruhan. Pada bagian akhir dari uraian ini, saya mengajak kita melihat kejadian 37:3. Dalam ayat itu tertulis demikian “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya.” Bagian yang lain adalah Kejadian 42:4 yang bertuliskan demikian “tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf pergi bersama saudara-saudaranya, sebab pikirnya “jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.” Dari kedua ayat ini, timbul sebuah kesan dalam hati kita atau semacam dugaan yang demikian kuat bahwa dalam keluarga Yakub memang terjadi pilih kasih. Yakub lebih mengasihi Yusuf dan lebih mengasihi Benyamin ketimbang anak-anaknya yang lain. Mari kita mencoba membuktikan lebih dahulu dugaan atau kesan itu.
Pertama-tama, kalau kita membaca pasal 37:3 maka penulis kitab Kejadian menyebutkan dengan gamblang bahwa Yakub yang telah memiliki nama baru yaitu Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anak yang lain. Kita perlu ingat bahwa Benyamin dilahirkan juh sebelum pasal 37. Dengan demikian secara harafiah, Yusuf memang lebih dikasihi dibandingkan yang lain bahkan lebih dikasihi dibandingkan dengan Benyamin adiknya. Pertanyaannya, mengapa Yakub lebih mengasihi Yusuf? Apakah karena Yusuf merupakan putra satu-satunya yang berakhlak baik (37:2). Alkitab mencatat bahwa saudara-saudara Yusuf memiliki perangai yang jahat dan Yusuf sering melaporkan perbuatan saudara-saudaranya kepada ayahnya. Apakah karena Yusuf memiliki paras yang ganteng dan tubuh yang elok sehingga Yakub lebih mengasihinya (bd 39:6). Ternyata semua alasan itu tidak benar. Alkitab mencatat bahwa Yakub lebih mengasihi Yusuf karena Yusuf lahir pada masa tuanya. Jadi alasannya bukan karena ahlak dan juga bukan karena keelokan paras. Bukan karena keunggulan dalam rupa jasmani dan juga bukan karena keunggulan dalam rupa bathin. Namun lebih kepada “perasaan” sayang yang tumbuh kepada anak yang bungsu tanpa bisa dijelaskan dengan alasa-alasan yang logis. Memang ini kelihatan sesuatu yang sulit dijelaskan secara mendetail dari kajian psikologis.
Anak yang kedua yang paling dicinta adalah Benyamin. Kejadian pasal 42 memberikan kita sebuah indikasi bahwa memang benyamin lebih disayang ketimbang anak-anak lainnya, setelah “berita kematian Yusuf” di dengar oleh Yakub. Yakub lebih merasa sayang kehilangan nyawa Benyamin dibandingkan dengan sayang kehilangan nyawa saudara-saudaranya yang lain. Mengapa Benyamin paling dikasihi dibandingkan dengan yang lain? Tidak ada penjelasan yang setegas pasal 37:3. Namun dalam nast-nast berikutnya yaitu dari ungkapan-ungkapan Yakub dan Yehuda, menjadi terang kepada kita bahwa Benyamin disayang (42:38;44:20; 31) karena alasan yang sama dengan Yusuf. Banyamin dilahirkan ketika Yakub telah tua umurnya. Jadi, Yusuf dan Benyamin lebih disayang ketimbang yang lain, karena keduanya dilahirkan bagi Yakub, ketika Yakub telah berusia lanjut.
Fakta tentang Yakub yang lebih menyayangi anaknya yang bungsu adalah sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi pada zaman dahulu. Orang tua di zaman pascamodern di berbagai belahan dunia manapun memang ada yang memiliki sikap seperti Yakub. Sebuah penelitian dilansir oleh femalefirst menunjukkan bahwa 59 persen orang tua sadar bahwa mereka lebih memilih anak bungsu dibandingkan si sulung. Secara khusus, ayah dan ibu cenderung lebih sering berada di samping si bungsu, lebih memberikan perhatian, dan menghabiskan waktu membaca lebih banyak bersama mereka. Anak bungsu juga cenderung lebih mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mendapat perawatan yang lebih baik. Orang tua mereka cenderung lebih sulit menolak apapun yang diinginkan si bungsu. Menurut Lisa Penney, juru bicara bounty.com, yang tergabung dalam penelitian mengatakan, “Sangat sedikit orang tua yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan, dan meskipun penelitian ini membuktikan hal ini benar terjadi, kami tidak menyarankan orang tua hanya menyayangi satu anak dari yang lain,” Menurutnya, para orang tua cenderung memanjakan dan mendukung si bungsu karena mereka adalah anak yang paling muda, sehingga mereka lebih menuntut, dan para orang tua berpikir bahwa inilah saat memerhatikan si bungsu karena perhatian akan semakin sedikit diberikan saat mereka makin tua. Walaupun si sulung sering diminta untuk lebih mandiri dibandingkan anak bungsu, lebih dari separuh orang tua mengaku mereka terikat lebih cepat dengan anak pertama mereka. Sebanyak 64 persen orang tua merasa mereka memiliki banyak kesamaan dengan anak sulung dan lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. (Vemale.com).
Fakta tentang orang tua yang lebih menyayangi anak yang bungsu adalah salah satu dari sekian banyak bentuk-bentuk ketimpangan kasih dalam keluarga, tidak terkecuali dalam keluarga Kristen. Ada orang tua yang lebih mengasihi anak yang sulung. Misalnya Ishak yang lebih sayang kepada Esau anaknya yang sulung (Kejadian 25:28). Orang tua yang lain lebih sayang anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Sikap-sikap seperti ini memang kadang disadari atau tidak disadari oleh orang tua. Namun anak-anaklah yang bisa merasakan dan memberikan penilaian terhadap sikap orang tua terhadap mereka. Saya tida mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi keluarga anda hari ini. Apakah orang tua masih sering pilih kasih, suka membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain, lebih memprioritaskan anak yang satu dan mengorbankan anak yang lain, memuji-muji anak yang satu dan sering menekan dan menghina anak yang lain. Hal-hal inilah yang sering diamati, dirasakan, dialami anak-anak dari orang tuanya. Perlakuan yang tidak sama rata, yang tidak adil, yang pandang bulu menjadi bukti bahwa terjadi ketimpangan kasih dalam keluarga.
Sikap-sikap yang tidak bijaksana dari orang tua seperti inilah yang mengakibatkan munculnya kecemburuan, kebencian, perasaan tidak suka, diantara anak-anak dalam keluarga. Sikap yang pilih kasih mengakibatkan munculnya perasaan rendah diri bagi sebagian anak dan atau perasaan superior bagi anak lainnya. Akibatnya muncul letupan-letupan kecil diantara anak-anak yang jika tidak segera diatasi kelak bisa membesar dikemudian hari. Keluarga menjadi terpecah, kurang harmonis, kurang kompak, tidak menyatu, tidak rukun dan kelak ketika anak-anak menjadi besar mereka tidak peduli satu sama lainnya. Oleh sebab itu orang tua harus menunjukkan sikap yang bijak terhadap anak-anak mereka. Tunjukaan kasih dan perhatian secara merata, tidak membeda-bedakan atau membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Memang setiap anak unik, kadangkala cara mendidik anak yang satu tidak sama dengan cara mendidik terhadap anak lainnya. Kadangkala anak yang satu diberi kelonggaran karena memang anak tersebut telah menunjukkan kematangan, kedewasaan serta tanggung jawab mandiri. Namun terhadap anak yang lain kita tidak bisa longgar sebab anak tersebut masih belum bisa bertanggung jawab dalam banyak hal. Sekalipun cara didikan terhadap anak menyesuaikan terhadap kondisi anak, tetapi orang tua harus ingat satu hal. Semua anak adalah sama. Kasih orang tua kepada semua anak harus sama. Mereka adalah mutiara-mutiara yang berharga yang dititipkan Tuhan kepada orang tua untuk dikasihi dan disayangi. Bagaiamana dengan anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: