Oleh: Faoziduhu | Mei 18, 2012

PELAJARAN DARI KELUARGA YAKUB (Bagian 2)


Apa mau dikata, siasat Laban menjadi kenyataan. Yakub memperistri Lea. Namun cintanya kepada Rahel tidak pernah surut. Ia rela untuk bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel menjadi istrinya. Sekalipun dalam kehidupan manusia purba, system perkawinan masih sangat sederhana. Namun yang jelas disini kita melihat bahwa untuk menikahkan seorang gadis dengan pria idamannya atau untuk bisa mendapatkan atau mempersunting seorang gadis bukanlah hal yang mudah pada masa itu. Butuh perjuangan. Sebab dalam kehidupan zaman purba otoritas keluarga masih sangat kuat. Orang tua memiliki hak untuk menerima dan menolak lamaran seseorang dan hal itu terikat dengan suatu perjanjian di kedua belah pihak. Tidak seperti zaman sekarang. Peran keluarga tidak terlalu dominan dan bahkan sering diabaikan oleh pria dan wanita yang sedang dimabuk cinta dan berniat untuk membangun mahligai rumah cinta mereka. Yakub mendapatkan Rahel dengan susah payah dibawah dominasi keluarga, dalam hal ini Laban. Ia membayar mahar atau jujuran pernikahannya dengan bekerja di rumah Laban empat belas tahun lamanya.
Banyak orang yang memikirkan hari ini bahwa betapa pentingnya pernikahan yang diperjuangkan dengan susah payah, dengan membayar jujuran atau belis memiliki korelasi atau hubungan yang erat dengan lamanya usia penikahan. Jujuran adalah harta benda dalam bentuk uang atau emas yang diserahkan kepada mempelai yang akan dipersunting atau dilamar. Semakin besar nilai jujuran atau semakin susah/berat atau semakin sulit mempersunting si gadis maka semakin beratpula kelak dikemudian hari kedua mempelai memikirkan tindakan untuk berpisah atau cerai. Teori ini dapat kita lihat dan buktikan di daerah-daerah yang masih mempertahnkan adat dengan jujuran yang sangat tinggi. Angka perpisahan atau perceraian masih sangat rendah. Di daerah tersebut untuk mendapatkan seorang gadis tidak gampang. Keluarga calon mempelai pria harus mikir seratus kali untuk mendapatkan jodoh bagi anaknya. Mereka harus menyiapkan dana yang besar. Kadang menabung sejak anak laki-laki mereka masih kecil untuk kelak dipakai sebagai jujuran pernikahan anaknya. Kadang-kadang terpaksa harus minjam atau membuat arisan pernikahan untuk membiayai jujuran anaknya. Jadi bisa dibayangkan seseorang yang membangun rumah tangganya dengan utang atau dengan arisan, harus membayar biaya-biaya tersebut bertahun-tahun kemudian. Bahkan ada yang menyicil membayar utang jujuran itu sampai dua generasi lamanya. Maka ada sebuah ungkapan lucu demikian “Bagaimana mau berpikir soal berpisah (cerai), uang jujuran pernikahan saja belum lunas.”
Disini kita melihat nilai perkawinan atau pernikahan demikian tinggi. Orang tidak dengan gampang menikah. Keluarga yang hendak menikahkan anaknya tidak dengan serta merta atau tiba-tiba mengadakan pesta. Tidak ada pesta kejutan untuk pernikahan. Semua dipersiapkan dengan serius dan hati-hati. Anda mungkin masih ingat dengan pernikahan Ishak, ayah dari Yakub. Bagaimana Eliezer menempuh perjalanan bermil-mil untuk mendapatkan Ribkah bagi Ishak. Bagaimana Elizer membayar jujuran berupa emas, perak serta pakaian kebesaran sebagai jujuran bagi pernikahan Ishak (Kejadian 24:53). Beda halnya dengan seorang budak wanita. System kekeluargaan di timur tengah kuno mengizinkan seorang istri memberikan budak wanita miliknya kepada suaminya untuk “dihampiri” demi mendapatkan anak atau keturunan. Namun penting digaris bawahi bahwa seorang budak wanita tidak disebut sebagai istri yang sah. Sebab, pertama. Seorang budak wanita tidak menikah dengan pria tuannya itu. Tidak ada jujuran untuk budak wanita dan atau tidak perlu usaha keras 7 tahun seperti yakub yang mendapatkan Lea dan Rahel. Tidak perlu pesta untuk budak wanita. Kedua, budak wanita pada masa itu tidak memiliki hak apapun atas dirinya sendiri. Ia harus tunduk dan taat kepada tuannya. Bahkan taat untuk hal-hal yang sangat sensitive sekalipun.
Memang system semacam ini tidak dikehendaki oleh Allah. Tuhan sudah menegaskan tentang aturan pernikahan yang dikehendakiNya dalam Kejadian 2:24 (hal ini akan saya jelaskan minggu depan). Bahwa penikahan adalah satu-satunya cara yang sah atau legal bagi sebuah rumah tangga. Tidak ada pintu darurat atau jalan pintas dalam sebuah rumah tangga. System perbudakan wanita dengan kebebasan seorang majikan wanita menyerahkan budak wanitanya kepada suaminya dan seorang suami yang dengan bebas “menghampiri” budak wanita milik istrinya adalah sesuatu yang illegal sebenarnya dari hukum pernikahan yang dikehendaki Tuhan. Kita akan melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari sytem yang “kacau dan ngawur” semacam ini sungguh sangat merusak rumah tangga. Anda masih ingat dengan kisah keluarga Abraham? Bagaimana Sarai dengan sukarela menyerahkan budaknya perempuan yang bernama Hagar demi mendapatkan keturunan bagi Abraham (Kejadian 16:1-2) . Namun apakah yang terjadi kemudian? Bukankah Hagar memandang rendah Sarai majikannya itu (Kej 16:4b). dan bukankah dalam kisah berikutnya, Hagar dan Ismael harus menderita karena diusir dari rumah Abraham? (Kejadian 21:8-21).
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian ini adalah bahwa pernikahan adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Tuhan hanya membangun 2 lembaga penting yaitu gereja dan keluarga. Oleh sebab itu keluarga perlu dimulai dengan suatu pernikahan yang agung dan suci. Keluarga tanpa dimulai dengan pernikahan sama halnya dengan merendahkan martabat manusia itu sendiri sebagai citra dan gambar Allah. Bahkan tidak hanya itu, keluarga tanpa pernikahan sama halnya dengan menghina Allah yang merancang dan membangun keluarga. Setiap orang yang hendak berkeluarga harus berjuang dan tidak menggampangkan pernikahan itu. Mereka harus berdoa, patuh pada kehendakNya, mempersiapkan segalanya dengan matang, memikirkan dan menggumuli semuanya dengan baik. Maka pada akhirnya, cita-cita pernikahan dan keluarga yang berbahagia sungguh dapat terwujud (Mazmur 128).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: