Oleh: Faoziduhu | Mei 3, 2012

ALLAH SEBAGAI PEMBELAKU (Mazmur 70)


Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan memimpin PA di persekutuan Wanita Debora. Saya pikir topic ini menarik untuk saya share-kan di warta ini semoga menjadi berkat. Sebelum kita membicarakan lebih dalam soal naskah ini, ada baiknya kita mengenal lebih dalam suapakah Daud. Daud adalah seorang raja Israel yang besar bahkan terbesar. Namanya begitu harum dan sangat terkenal. Ia seorang raja yang pemberani, seorang raja yang gagah perkasa di medan laga. Ia adalah raja yang selalu sukses dalam peperangan. Alkitab mencatat bahwa sebelum Daud menjadi Raja, ia sudah membunuh musuh-musuhnya sampai berlaksa-laksa (1 Samuel 18:7), Ia membinasakan Goliat (1 Samuel 17:40-58). Tidak hanya itu. Ketika Daud menjadi raja, ia memiliki para pahlawan yang gagah berani dan perkasa (2 Samuel 23:8-23). Ia juga memiliki orang-orang kepercayaan yang begitu setia membelanya (2 Samuel 15:21). Daud sangat ditakuti oleh musuh-musuh dan disegani oleh kawan (2 Samuel 8:13). Namun dibalik kebesaran dan kehebatan Daud, mari kita belajar siapakah Daud yang sebenarnya.
Di dalam ayat 3-4 jelas terbaca bahwa Daud sedang menghadapi musuh-musuh yang ingin mencabut nyawanya dan bahkan menginginkan malapetaka menimpa Daud. Tidak hanya itu, Daud juga menghadapi orang-orang yang menghina bahkan mensyukuri kemalangan atau penderitaan Daud. Kita tidak mengetahui dengan jelas latar belakang perikop ini. Dalam ayat 1, hanya disebutkan sedikit keterangan tentang Daud yang mempersembahkan korban peringatan. Namun terlepas dari semua itu, Daud pasti memiliki musuh. Tidak semua orang senang kepada Daud. Musuh-musuh Israel pasti menginginkan kematian Daud, tetapi dari kalangan orang Israel sendiri pasti ada yang benci kepada Daud. Mereka adalah musuh dari dalam atau musuh dalam selimut.
Kita ambil contoh yang paling jelas dalam Alkitab. Ketika Absalom berhasil mengkudeta ayahnya dan Daud terpaksa menyingkir dari Yerusalem karena ancaman anaknya itu. Dalam pelariannya itulah Daud melintasi Bahurim yang dihuni oleh sebagian kerabat Saul. Simei adalah salah satunya. Ia keluar dan menolok-olok Daud. Ia terus mengutuki Daud dan melemparinya dengan batu (2 samuel 16:5-8). Simei berkata “Tuhan telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan sebagai raja.sesungguhnya engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.” Jelas perkataan dan klaim Simei menyiratkan penghinaan, sindiran dan bahkan perasaan syukur atas musibah yang dialami Daud. Lebih menyakitkan hati lagi, Simei menyebut Daud sebagai penumpah darah dan orang dursila. Sebuah sebutan penghinaan yang luar biasa menyakitkan hati dan bisa menimbulkan emosi. Sehingga pantas saja seorang pahlawan Daud berniat membunuh Simei namun dicegah dengan tegas oleh Daud.
Apakah anda pernah mengalami apa yang dialami oleh Daud ini? Anda pernah dikata-katai orang lain, di serang oleh orang lain dengan gossip, fitnah, hinaan dan sejumlah kata-kata yang menyakitkan hati dan bisa memancing emosi anda? Bagaimana reaksi anda jika anda seperti Daud? Apakah anda marah? Tersinggung? Merasa harga diri anda direndahkan? Apakah anda merasa dilecehkan? Dan kemudian anda ingin segera melakukan pembalasan? Apakah anda melakukan pembelaan terhadap serangan yang diarahkan kepada anda? Jujur mungkin harus kita akui bahwa kita bisa saja memberikan reaksi negatif menghadapi serangan yang dapat merugikan diri kita. Apalagi jika posisi kita benar dan kita sama sekali tidak melakukan sesuatu yang salah seperti yang dituduhkan, difitnahkan atau digosipkan tentang kita. Namun bagaimana dengan Daud?
Kita harus belajar banyak dari Daud. Dibalik kebesaran, kehebatan, kemampuan, potensi yang dimilikinya, ternyata Daud adalah seorang yang menjadikan Tuhan sebagai pembelanya. Daud bisa saja memerintahkan anak buahnya membunuh Simei; Daud bisa saja menghunus pedangnya dan memotong lidah Simei untuk membungkamkan mulutnya yang tidak bertanggung jawab itu. Daud masih memiliki kuasa dan kemampuan untuk membela diri bahkan balik menyerang. Namun Daud tidak melakukan hal itu. Dalam 2 Samuel 16:12 Daud menyampaikan sebuah pernyataan yang indah sekali “Mungkin Tuhan akan memperhatikan sengsaraku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang ini pada hari ini.” Sebuah pernyatan yang dalam sekali bukan. Dalam tekanan emosi yang terdalam, Daud mencetuskan sebuah pernyataan iman yang luar biasa. Disinilah kita melihat kedalam dan kedewasaan iman Daud. Daud memandang serangan itu dari sudut padang positif. Ia berharap kutuk itu menjadi berkat baginya. Serangan itu tidak mendatangkan kerugian namun keuntungan baginya.
Lebih dari itu, kalau kita kembali dalam kitab mazmur ini, jelas dalam ayat 6, Daud berkata “tetapi aku ini sengsara dan miskin.” Apakah maksud kalimat ini? Dalam terjemahan NIV lebih jelas dituliskan “Yet I am poor and needy” artinya “namun aku miskin dan membutuhkan (melarat)” Daud dikatakan dalam bagian ini miskindan melarat. Apakah hal ini diartikan secara harafiah bahwa Daud miskin? Kalau kita membaca ucapan berbahagia dalam Matius 5:3 dituliskan “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Allah.” Apakah maksud Tuhan Yesus dengan kata miskin? Kalau benar-benar miskin berarti hanya orang miskinlah yang disebut berbahagia dan dapat masuk dalam kerajaan Allah. Dan kalau kata miskin dikenakan kepada Daud, maka hal itu sangat kontras dengan apa yang dimiliki oleh Daud. Sekalipun ia dalam pengungsian, namun ia masih kaya dalam banyak hal. Ia kaya dengan para pahlawan yang loyal mengiringinya, ia kaya dengan istri dan anak-anak yang bersamanya dalam pengungsiannya. Jelas bukan miskin jasmani yang dimaksud disini. Lalu apa? Daud merasa bahwa dihadapan Tuhan, Ia tidak ada apa-apanya. Di luar Tuhan ia sesungguhnya tidak berdaya. Dibalik kehebatan dan kebesaran Daud, Daud benar-benar sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak mampun, tidak sanggup, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang dimasud dengan miskin di hadapan Allah. Serangan dari musuh-musuhnya mempertajam dan mengasah keyakinannya bahwa hanya Tuhanlah sandaran satu-satunya dan HANYA TUHANLAH PEMBELANYA. Itulah sebabnya Daud tidak melakukan balasan atau perlawanan. Ia menyerahkan persoalannya kepada Tuhan sang pembelanya. Nada yang sama juga kita perhatikan dalam ucapan Tuhan Yesus. Hanya orang yang sadar siapa dirinya dan dengan rendah hati hanya berserah kepada Tuhan sajalah yang disebut berbahagia.
Perhatikan doa dan penyerahan hidup Daud dalam ayat 2 dan 6. Daud berkata “Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku ya Tuhan.” sebuah doa dalam suasana sangat genting. Ia memerlukan Tuhan sebagai pembelanya. Disinilah kita melihat kedalaman iman dan kedewasaan yang ditunjukkan oleh Daud. Daud tidak larut dalam emosi yang negatif, namun ia memilih bersikap yang benar. Berdoa dan bersandar hanya kepada Tuhan. Daud yakin Tuhan mampu membela perkaranya. Bahkan dalam ayat 5 tersirat sebuah harapan bahwa Tuhan suatu waktu akan membuat orang-orang yang bersandar kepadaNya akan bersukacita dan bergirang dan bahkan mereka akan menceritakan (menyaksikan) kebesaran Tuhan sang pembela umatNya.
Bagaimana dengan anda ketika menghadapi serangan dari orang-orang yang membenci anda? Apakah anda seperti Daud, yang dengan rendah hati bersandar pada Tuhan dan mengambil sikap berdoa? Atau anda berjuang mati-matian dan anda menghabiskan energy anda untuk melakukan serangan balik atau anda berjuang membela diri anda sendiri? Mari belajar dari Daud. Seorang yang memiliki pengalaman hidup yang panjang bersama dengan Allah. Bagaimana sikapnya terhadap Saul, terhadap keluarga besar Saul, terhadap Mikhal anak perempuan Saul bahkan terhadap Absalom anaknya sendiri yang menjahati dirinya. Daud bukan hanya seorang yang pintar bersaksi dan berkata-kata tentang bagaimana bersandar kepada Tuhan, namun Daud sendiri dalam pengalaman belajar yang panjang telah melalui banyak ujian dan ia mempraktekanya dengan baik. Bagaimana dengan anda?
Pengharapan dan keyakinan dan penyerahan hidup Daud kepada Allah memang tidak sia-sia. Tatkala Daud kembali ke Yerusalem untuk menduduki tahtanya oleh karena Absalom mati dalam peperangan menghadapi tentara Daud, Simei datang sujud di hadapan Daud dan berkata “janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada waktu tuanku keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi. Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa.” Simei minta maaf dan mohon ampun kepada Daud. Simei menyadari kesalahannya dan dengan penuh malu dan penyesalan mohon ampun kepada Daud. Daud memaafkannya, namun Hukuman lebih besar menimpa Simei pada zaman raja Salomo yang menghukumnya dengan hukuman mati karena Simei sendiri melanggar titah raja dan tidak konsisten dengan apa yang dikatakannya (1 Raja-raja 2:36-46).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: