Oleh: Faoziduhu | April 26, 2012

TUGAS DAN PEKERJAAN ROHANIWAN (Bagian 2)


Setelah semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menyusun khotbah telah lengkap, barulah rohaniwan tersebut meramunya sedemikian rupa sehingga lahirlah sebuah teks khotbah yang akan disampaikannya. Untuk menyusun sebuah teks khotbah itupun bukan soal gampang. Ia harus menyederhanakan khotbah tersebut sehingga bisa dimengerti, ia harus menghubungkan antara apa yang diamanatkan oleh teks dengan dunia jemaat hari ini, atau dengan kata lain ia harus memikirkan bagaimana khotbahnya relevan atau teraplikasi dalam kehidupan jemaat sehingga khotbahnya menjawab kebutuhan mereka dan dia juga harus mengumpulkan bahan-bahan ilustrasi yang tepat dan pas untuk mendukung khotbahnya. Inipun butuh waktu berjam-jam. Setelah teks khotbah telah selesai, ia harus menguasai khotbahnya, belajar menyampaikan dengan intonasi, ritme dan gaya khotbah yang benar-benar menarik perhatian jemaat. Ingat bahwa menyampaikan khotbah bukan soal gampang. Banyak jemaat ketika beribadah tidak siap mendengar berita Firman Tuhan. Ada yang mengatuk dalam gereja, ada yang tidak focus kepada khotbah. Bagaimana kalau sebuah khotbah demikian monoton? Tidak relevan? Bukankah jemaat tidak mendapatkan apa-apa pada hari Minggu tersebut?
Tugas rohaniwan yang kedua yang tidak kalah penting adalah doa. Para Rasul mengatakan kepada jemaat “supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman” (Kisah rasul 6:4). Doa adalah bagian penting dari tugas rohaniwan. Doa sebenarnya bukan hanya sekedar tugas. Doa adalah nafas hidup, detak jantung kehidupan seorang rohaniwan bahkan semua anak-anak Tuhan. Oleh sebab itu doa merupakan bagian penting dari ritme kehidupan para rohaniwan. Tanpa doa, seorang rohaniwan tidak bisa “hidup sehat” secara rohani dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Masalahnya, butuh waktu berapa jam untuk berdoa bagi seorang rohaniwan? Tidak ada ukuran yang bisa kita jadikan patokan waktu ideal bagi jam doa seorang rohaniwan. Para Rasul memiliki jam-jam tertentu dalam berdoa dan hal itu di pengaruhi oleh kebiasaan orang Yahudi pada zaman itu (Kis 3:1; Kis 10:9). Rohaniwan yang baik akan menyisihkan banyak waktunya untuk berlutut berdoa memanjatkan berbagai hal dihadapan Tuhan tidak hanya dirinya sendiri tetapi juga jemaat yang digembalakannya, pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Setiap rohaniwan biasanya memiliki catatan doa, sehingga ia bisa memiliki pokok-pokok doa yang dengan tekun di doakannya dan juga melihat bagaimana Tuhan berkarya menjawab doa-doanya.
Tugas rohaniwan yang ketiga adalah merawat jemaat yang dipercayakan kepadanya. Walaupun rohaniwan sudah disibukkan dengan persiapan khotbah dan kehidupan doanya, namun ia juga harus memberikan waktunya untuk melawat jemaatnya. Untuk itu visitasi (besuk) dan pelayanan konseling merupakan bagian penting dari tugas perawatan jemaat. Seorang rohaniwan yang bertanggung jawab harus menyisihkan jam-jam sibuknya untuk melihat jemaatnya. Ia harus mengunjungi mereka yang sakit, mengunjungi mereka yang sudah lama tidak aktiv beribadah, menyelesaikan masalah-masalah atau konflik yang mungkin terjadi dalam kehidupan jemaat, memberikan nasehat kepada mereka yang mungkin berbuat dosa atau melanggar hukum Tuhan. Jam-jam visitasi Rohaniwan memang berbeda di tiap-tiap gereja. Yang jelas semakin banyak jemaat, semakin kompleks masalah, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk melakukan visitasi. Yang ironis, jika rohaniwan yang melayani jemaat dewasa tidak sebanding dengan jumlah jemaat yang banyak. Jika ia demikian giat berkunjung kepada jemaat yang jumlahnya begitu banyak sehingga frekwensi berkunjung semakin sering, maka waktu-waktu lainnya yaitu persiapan Firman Tuhan, jam-jam doanya, dan aktivitas lainnya harus dikorbankan. Sebaliknya jika ia harus menyeimbangkan waktu-waktunya untuk persiapan Firman, waktu doanya, waktu membacanya, dengan wakyu-waktunya untuk berkunjung, maka kemungkinan frekwensi berkunjungnya akan sedikit berkurang. Hal ini sebenarnya dapat disiasati dengan melibatkan majelis untuk membagi waktu melakukan pelayanan pembesukan. Sehingga visitasi giat dilakukan tanpa harus mengorbankan tugas-tugas penting lain dari seorang rohaniwan.
Tugas rohaniwan berikutnya adalah tugas mengajar. Selain berkhotbah, seorang rohaniwan juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas katekisasi. Entah itu katekisasi sidi-Babtis maupun katekisasi pra nikah. Jika jemaatnya banyak, maka intensitas mengajarpun makin sering. Seorang rohaniwan, harus mempersiapkan tugas mengajarnya dengan baik. Ia tidak boleh keliru di dalam mengajarkan doktrin kepada calon babtis-sidi. Demikian juga ia tidak boleh salah dalam mengajarkan dasar-dasar penting tentang pernikahan Kristen kepada calon mempelai. Seorang rohaniwan tidak hanya mengajar melalui bahasa verbal, tetapi juga mengajar melalui tulisan. Oleh sebab itu, ia juga harus memberi waktu untuk menulis pengajaran yang biasanya dipublikasikan melalui warta atau buletin gereja. Tugas rohaniwan kelima adalah memberitakan injil kepada mereka yang belum percaya. Sesibuk-sibuknya rohaniwan, ia harus memberitakan injil. Waktu memberitakan injil bisa dilakukan melalui perkunjungan, khotbah atau juga bisa dengan menyisihkan waktu memberitakan injil kepada orang tertentu atau keluarga tertentu.
Tugas keenam yang tidak boleh diabaikan adalah tugas-tugas menejerial. Sekalipun gereja memiliki majelis dan kedaulatan majelis demikian kuat, namun seorang rohaniwan harus bertanggung jawab dalam tugas-tugas manajerial gereja. Seperti diketahui bahwa para majelis bukanlah full time gereja dan merekapun memiliki kesibukan lain selain pelayanan di gereja, maka kadang-kadang ada bagian tugas mereka yang tidak bisa dilakukan oleh karena waktu yang sangat terbatas. Maka seorang rohaniwan memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan bahkan kalau perlu melaksanakan tugas-tugas tersebut. Seorang rohaniwan juga harus memiliki waktu untuk menyusun program, mengevaluasi program, menyiapkan kader-kader atau calon majelis, menghadiri rapat-rapat baik rapat majelis, rapat kepanitiaan dan berbagai macam pertemuan-pertemuan rutin lainnya. Semuanya membutuhkan waktu dan persiapan. Biasanya rapat-rapat membutuhkan waktu minimal satu jam. Baik itu rapat penyusunan program, rapat evaluasi dan pertanggung jawaban kegiatan. Belum lagi rapat-rapat antar gereja yang bersifat ekumenikal ataupun juga sidan dan rapat-rapat sinodal. Semuanya butuh waktu dan persiapan.
Kita sudah melihat enam tugas penting seorang rohaniwan. Sekarang kita melihat waktu-waktu yang “sisa” yang sebenarnya juga tidak kalah penting yang merupakan bagian dari tugas rohaniwan. Pertama, seorang rohaniwan wajib dan harus membaca. Jika rohaniwan sudah malas membaca, tidak punya waktu untuk membaca, maka ini menjadi “alamat buruk” bagi rohaniwan dan juga gerejanya. Mengapa? Sebab rohaniwan tanpa membaca akan menjadi rohaniwan yang diibaratkan pejuang yang kehabisan amunisi dan senjata dalam bertugas. Oleh sebab itu seorang rohaniwan selalu menyisihkan waktunya untuk membaca. Kedua, waktu untuk keluarga. Sehebat-hebatnya seorang rohaniwan dalam pelayanan, namun kalau keluarganya hancur-hancuran, apakah gunanya? Apakah hamba Tuhan tersebut bisa jadi teladan? Oleh sebab itu seorang rohaniawan wajib memberikan waktu buat anak-anak maupun kepada pasangannya. Waktu-waktu berharga perlu di dapatkan oleh keluarganya. Bukankah keluarga rohaniwan juga merupakan bagian dari jemaat dan mereka juga memiliki hak yang sama untuk diperhatikan oleh rohaniwannya?
Dari uraian yang demikian panjang lebar, menjadi jelas kepada kita seperti apakah tugas rohaniwan itu. Hal apakah yang dikerjakannya, tugas dan tanggung jawab apa yang ada di pundaknya. Hal apakah yang dilakukannya untuk mengisi waktu-waktunya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: