Oleh: Faoziduhu | April 26, 2012

MEMAHAMI KITAB OBAJA


Beberapa hari yang lalu seorang jemaat bertanya kepada saya tentang apakah maksud yang terkandung dari kitab Obaja. Memang banyak orang yang tidak mengerti latar belakang kitab obaja akan sangat sulit memahami apakah maksud dan makna yang terkandung dalam kitab tersebut. Kitab Obaja merupakan kitab yang sangat pendek dalam perjanjian Lama. Sama halnya dengan kitab Filemon dalam Perjanjian Baru. Kitab Obaja hanya satu pasal dengan dua puluh satu ayat saja. Namun walau ditulis sangat singkat dan digolongkan sebagai kitab nabi-nabi kecil, namun tulisan-tulisan obaja mengandung muatan yang dalam dan bisa relevan dalam kehidupan orang percaya saat ini. Kitab Obaja tidak seperti kitab lainnya, dalam kitab ini tidak menceritakan tentang masa atau tempat penulisan demikian juga dengan riwayat penulisnya. Nama Obaja berarti Hamba atau penyembah Yahweh dan merupakan nama umum dalam Alkitab. Setidaknya ada dua belas orang lainnya yang bernama sama dalam perjanjian lama. Menurut tradisi Yahudi, obaja penulis kitab ini adalah kepala istana raja Ahab (1 Raja-raja 18:3-16).
Kitab Obaja berisi tentang nubuatan atas Edom. Siapakah bangsa Edom ini? Edom disebut juga Hor (Bilangan 20:23), Seir (Kej 36:8-9) dan juga disebut namanya dengan Esau (Ulangan 2:4-5). Bapak Leluhur bangsa Edom adalah Esau. Esau adalah anak dari Ishak dan merupakan saudara kandung dari Yakub leluhur Israel. Negeri Edom terletak di dataran tinggi dengan tebing-tebing batu pasir di tepi sebelah tenggara laut mati, dari sungai Zared sebelah utara sampai dengan teluk akaba di sebelah selatan. Bangsa Edom menurut para ahli memiliki system pemerintahan monarkhi (Andrew E Hill, Survey PL. Hal.622). Bangsa Edom memiliki riwayat panjang yang penuh dengan pasang surut hubungan dengan bangsa Israel. Ketika bangsa itu keluar dari Mesir menuju Kanaan, bangsa Edom menolak mengizinkan umat Tuhan melewati daerah Edom kearah timur dan mengancam mereka dengan kekuatan perang (Bil 20:14-21;21:4). Selanjutnya sampai pada masa raja Daud, Edom dengan Israel tinggal dan hidup berdampingan. Namun pada masa-masa pemerintahan raja-raja berikutnya. Edom sering menjadi serbuan raja Yoram, Amasia dan juga raja Uzia. Daerah edom dijadikan kota-kota satelit yang bersifat sementara.
Pada masa penyerbuan babilonia atas Yehuda, Edom memiliki andil yang cukup besar. Edom tidak hanya membantu babel tetapi juga ikut menduduki desa-desa di daerah Yehuda sekitar tahun 587 sebelum masehi. Nabi Obaja menyampaikan sebuah nubutan hukuman atas bangsa Edom. Mengapa nubuat ini disampaikan? Sebab bangsa Edom telah menunjukkan sikap sombong dan bertindak kejam terhadap bangsa pilihan Tuhan. Memang benar Israel dihukum karena dosa mereka. Mereka dibuang ke babel karena kekerasan dan kebebalan hati mereka. Mereka terusir dari kanaan karena mereka berpaling kepada berhala dan menyembah dewa dan ilah sembahan bangsa lain. Namun sikap Edom yang sombong dan kejam kepada Israel mendatangkan murka Tuhan dan hukuman akan ditimpakan atas mereka.
Apakah yang menjadi bukti kesembongan edom? Dalam ayat 3 terlihat bahwa posisi strategis edom yang memiliki letak geografis yang menguntungkan dalam sebuah peperangan menyebabkan Edom menjadi sombong dan angkuh. Edom berpikir bahwa dengan posisi geografis mereka yang demikian menyebabkan mereka tidak akan ditaklukkan oleh bangsa manapun. Kesombongan berikutnya adalah sikap mereka ketika Yahuda diserang oleh babilonia. Mereka justru memandang rendah bangsa Yehuda dan bersukacita atas kebinasaan mereka. Bahkan mereka membual atas kesusahan Yehuda (ayat 12-13). Dosa kedua yang ditunjukkan Edom adalah kekejaman mereka terhadap Yehuda ketika Babel menyerang Yahuda. Mereka bertindak kejam terhadap Yehuda (ayat 10), merampok kekayaan Yehuda (ayat 11) dan melenyapkan orang-orang yang luput dari serangan babilonia. Penghukuman yang besar akan dialami oleh Edom yang sombong dan kejam itu (ayat 2-7; 15-16).
Hal apakah yang dapat kita petik makna terdalam dari kisah ini? Pertama-tama jika kita mempersonifikasikan diri kita dengan Edom, maka kita janganlah menjadi sombong dan angkuh dengan kemampuan dan posisi yang kita miliki saat ini. Kemampuan, kekuatan dan posisi yang kita punya hendaknya membuat kita menjadi rendah hati dan hanya bersandar kepada Tuhan. Lebih lagi, janganlah kita menertawakan kemalangan, kehinaan dan penderitaan yang dialami oleh orang lain, secara khusus umat Tuhan. Banyak orang merasa lebih baik, lebih suci dan kudus, merasa lebih benar ketika orang lain dihukum. Ia berpikir bahwa dengan hukuman yang dialami oleh orang lain hal itu menunjukkan bahwa ia lebih superior dalam kesalehan, kebaikan. Inipun adalah sebuah kesombongan. Israel secara khusus Yehuda memang berdosa tetapi Edompun juga berdosa. Dengan kata lain kitapun orang berdosa. Kita bisa lemah, kita bisa gagal, kita rentan dengan segala godaan. Lebih dari itu kalau bukan Tuhan yang membenarkan kita mustahil kita akan luput dari hukuman juga. Oleh sebab itu kita tetap rendah hati melihat kemalangan orang lain, kita mencoba mengembangkan perasaan empati melihat orang lain mengalami kemalangan karena dosa mereka. Hal ini bukan berarti kita membela mereka karena dosanya dan menyalahkan Tuhan. Tidak. Namun kita sebaliknya menangisi kebebalan dan keberdosaan mereka hingga akhirnya mereka dihukum oleh Tuhan seraya kitapun juga menangisi diri kita akan keberdosaan kita, mengingat bahwa kitapun layak dihukum karena dosa kita, dan tetap memiliki sikap rendah hati. Sikap kedua, jika kita melihat orang lain menderita, kita tidak boleh menggunakan kesempatan untuk merugikan mereka atau memperdaya mereka. Banyak orang justru bertindak kejam terhadap saudara kandung atau saudara seimannya sendiri ketika mereka menderita dan mengalami kesusahan.
Jika kita mempersonifikasikan diri kita dengan Yehuda, maka kita diajarkan melalui kitab Edom ini, bahwa Tuhan berkuasa atas bangsa-bangsa. Kuasa Tuhan bersifat universal. Ia memiliki kedaulatan mutlak atas semua bangsa. Ia memiliki kuasa dan hak menghukum bangsa manapun sesuai dengan kehendakNya yang kudus. Bangsa manapun yang sombong dan angkuh akan dihancurkan oleh Allah. Nubuatan Obaja ini kelihatannya terwujud di zaman Maleakhi (maleakhi 1:2-4). Para sarjana berpendapat bahwa sekolompok suku dari Nabat menjarah dan menaklukkan kawasan Edom dan menjadikan Petra sebagai ibu kota mereka. Sisa-sia Edom yang masih hidup kemudian pindah ke Idumea dan kemungkinan lain berbaur dengan orang nabat. Firman dan nubuatan Allah tidak pernah gagal. Apa yang difirmankanNya sungguh benar dan amin (FD).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: