Oleh: Faoziduhu | Maret 21, 2012

TUGAS DAN PEKERJAAN ROHANIWAN (Bagian 1)


Suatu ketika seorang anak Sekolah Minggu bertanya kepada penginjil di gerejanya, hal apakah yang dikerjakannya setiap hari, sejak Senin sampai dengan Sabtu. Setaunya, Rohaniwan tampak sibuk sekali pada hari Minggu. Tetapi kira-kira hal apakah yang mereka kerjakan diluar hari tersebut? Apakah para Rohaniwan hanya bekerja pada hari Minggu dan di luar hari Minggu mereka libur? Jadi dari hari Senin sampai dengan Sabtu Rohaniwan bersantai ria tanpa melakukan kegiatan apapun? Apakah mereka tidak ada kerjaan alias pengangguran diluar hari Minggu tersebut. Kalau demikian halnya, bukankah pekerjaan rohaniwan adalah pekerjaan paling “ringan” dan paling “gampang” atau pekerjaan paling “enak” dibandingkan dengan pekerjaan lainnya? Namun anehnya, mengapa sedikit sekali orang bersedia terpanggil menjadi rohaniwan? Pertanyaan-pertanyaan ini jarang sekali mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga banyak orang yang hanya menduga-duga hal apakah yang dikerjakan rohaniwan gerejanya dari Senin sampai dengan Sabtu. Atau paling-paling, sebagian dari kita memang membenarkan anggapan bahwa Rohaniwan itu, pengangguran dari senin sampai dengan Sabtu. Baiklah mari kita mencoba bertanya dengan jujur, menyelidiki kira-kira hal apakah yang Rohaniwan kerjakan tiap harinya? Saya akan mencoba menjawab hal ini dengan menguraikan tugas-tugas dan tanggung jawab penting rohaniwan gereja.
Pertama-tama, tugas seorang rohaniwan adalah mengajar atau berkhotbah. Tugas ini tidak boleh dilalaikan atau diabaikan seorang rohaniwan. Ini tugas pertama dan yang paling utama. Tugasnya adalah memberikan makanan rohani yang sehat dan benar kepada “domba-domba” yang Tuhan percayakan kepadanya (Kis 6:4, 2 Timotius 4:2, Yeh 33:7). Pada waktu jemaat di Yerusalem semakin berkembang dan jumlahnya kian banyak, maka pelayanan pekerjaan Tuhanpun makin kompleks dan makin bertambah. Para Rasul tidak hanya bertugas memberitakan Firman, tetapi juga memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhan jasmani jemaat, utamanya pelayanan kepada janda-janda. Oleh karena para rasul terbatas jumlahnya namun jemaat bertambah banyak maka para rasul akhirnya disibukkan dengan kegiatan atau pelayanan yang sifatnya jasmani tadi. Mereka tidak bisa memfokuskan diri dalam pelayanan Firman sebab pikiran dan energinya banyak terkuras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani jemaat (Kis 6:2). Itulah sebabnya kemudian diangkatlah para diaken yang memiliki tugas untuk melayani meja atau dengan kata lain memperhatikan hal-hal jasmani yang merupakan kebutuhan dan pelayanan yang tidak kalah penting dalam gereja Tuhan mula-mula. Sehingga dengan demikian, para rasul dapat memusatkan pikiran dalam pelayanan Firman Tuhan (ayat 4). Hal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya konsistori atau dewan majelis yang memiliki tugas mulia melaksanakan tugas “melayani meja” (ayat 2).
Sekarang muncul pertanyaan, sebegitu berat dan pentingkah pemberitaan Firman itu? Jawabannya adalah ya. Mengapa? Sebab Tuhan telah mempercayakan FirmanNya kepada pemberita-pemberita dan mereka wajib bertanggung jawab memberitakan FirmanNya secara benar, penuh keberanian dan berintegritas. Konsekwensi apabila mereka lalai atau keliru dalam memberitakan Firman sangat fatal dan sangat berbahaya. Nyawa adalah taruhannya (Yeh3:16-21). Oleh sebab itu Firman Tuhan yang diberitakan haruslah di pelajari, direnungkan, digumuli dengan baik sehingga pada waktu diberitakan dapat mendatangkan berkat rohani bagi jemaat dan bukan kutuk. Entah berkat itu berupa teguran, didikan, penghiburan dan kekuatan. Oleh sebab itu, seorang rohaniwan butuh waktu berjam-jam mempersiapkan khotbahnya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ia harus mendedikasikan waktu-waktunya berjam-jam dengan duduk melakukan penelitian mendalam atas teks dan konteks yang akan dia khotbahkan. Idealnya, seorang pemberita Firman sekaliber apapun dia, harus menyiapkan khotbah selama minimal 15 jam. Sekali lagi untuk 1 khotbah, idealnya butuh persiapan minimal 15 jam. Hitung sendiri bagaimana kalau rohaniwan khotbah 2 atau 3 kali dalam seminggu.
Mengapa butuh waktu sampai segitu lama?Hal apakah yang dikerjakannya selama 15 jam waktu studinya menyiapkan 1 khotbah itu? Baiklah saya akan merincinya satu persatu. Seorang pengkhotbah yang baik, ketika memilih teks untuk tema khotbah yang dia sampaikan harus berhati-hati. Ia tidak boleh sembarangan comot ayat atau perikop sana-sini. Ia harus selektif memilih teks yang akan dikhotbahkan. Setiap teks memiliki konteks sendiri. Pikiran pengkhotbah tidak boleh dipaksakan ke dalam teks. Atau dengan kata lain teks tidak boleh dipaksa mengikuti pemikiran pengkhotbah (eisegesis). Seorang pengkhotbah harus tunduk kepada berita Alkitab yang sesungguhnya (eksegesis). Jika ia sudah menemukan teks khotbahnya, maka ia wajib mendalami lagi teks atau perikop yang akan ia khotbahkan. Ia harus menyelidiki bahasa asli Ibrani atau Yunaninya. Kadangkala terjemahan bahasa Indonesia kurang tepat dalam terjemahannya, sehingga maknanya menjadi kabur atau hilang sama sekali. Penggalian naskah asli juga akan sangat memperkaya khasanah khotbahnya. Untuk menterjemahkan sebuah teks utama dan teks-teks pendukung, ia membutuhkan waktu berjam-jam melakukannya.
Setelah ia berhasil menterjemahkannya, ia harus mempelajari latar belakang perikop, latar belakang penulisan, dan juga dengan hati-hati mempelajari latar belakang teks-teks pendukung lainnya. Ia kemudian berusaha menemukan amanat teks khotbah atau dengan kata lain setelah berkali-kali membaca sambil mempelajari struktur perikop, ia harus menemukan inti khotbah atau kerygma khotbah. Kemudian ia harus menemukan sistematika atau urut-urutan teks/perikop dan dalam hal ini ia akan sangat terbantu pada waktu mempelajari struktur perikop teks yang ia pelajari sebelumnya. Untuk melakukan pekerjaan ini butuh waktu berjam-jam. Ia harus membaca berbagai literature, buku-buku tafsiran dan berbagai terjemahan lain sebagai perbandingan. Setelah semuanya lengkap barulah ia berani menyusun khotbahnya. Ibarat tukang masak, ia harus menyiapkan semua bumbu dan bahan masakannya sampai lengkap, barulah ia mulai memasaknya. Lumayan lama dan rumit bukan? (bersambung)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: