Oleh: Faoziduhu | Maret 8, 2012

ADILKAH ALLAH DALAM PEMILIHANNYA (Mengungkap Keadilan dan Kasih Allah dalam Doktrin Pemilihan)


Doktrin Pemilihan adalah Ajaran Alkitab yang sulit untuk dijelaskan, namun penting untuk diberitakan. Banyak orang kristen tidak pernah mendengar atau tidak tidak mengerti doktrin yang satu ini. Jujur harus diakui bahwa ada dua tokoh penting yang mengungkapkan kebenaran ini secara terang-terangan dalam sejarah gereja. Mereka adalah Agustinus dari Hippo dan Yohanes Calvin dari Geneva. Namun Doktrin ini bukanlah lahir dari pemikiran mereka. Dengan kata lain ajaran ini bukanlah karangan manusia. Pengajaran ini murni berasal dari Alkitab. Keduanya, setelah menggumuli Firman Tuhan menemukan kebenaran ini dalam Alkitab dan mengajarkannya kepada jemaat. Jadi sekali lagi ditegaskan bahwa doktrin pemilihan bukanlah milik kaum reformed atau aliran Calvinis saja. Tetapi merupakan keyakinan semua aliran gereja yang percaya dan takluk pada Firman Tuhan.
Persoalannya adalah, kritik yang sering dikemukakan banyak orang mengenai doktrin pemilihan adalah mengenai keadilan Allah. Jika Allah hanya memilih sebagian orang untuk selamat dan membiarkan yang lain (tidak dipilih) untuk binasa, bukankah itu membuktikan bahwa Allah tidak adil? Kalau saudara misalnya memiliki 2 orang anak dan saudara memiliki satu buah permen coklat, apakah yang saudara lakukan? Jika saudara hanya memberikan permen itu kepada satu anak saja bukankah itu tidak adil? Lalu, bagaimana sebenarnya keadilan itu? Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menganggap keadilan itu adalah dengan memberikan permen coklat itu kepada kedua-duanya bukan. Saudara mungkin akan membeli satu lagi permen coklat atau saudara membagi dua permen coklat itu sama besar dan memberikannya kepada kedua anak saudara? Bukankah itu keadilan yang sering kita pahami dalam kehidupan sehari-hari? Jadi Argumentasi ini didasarkan pada paham bahwa keadilan berarti sama rata. Apakah keadilan Allah bisa kita pahami dalam pengertian semacam itu?
RC Sproul memberikan kita jawaban atas hal itu. “Teriakan-teriakan yang biasanya didengar oleh orang Calvinist pada titik ini adalah ‘Itu tidak adil!’ Tetapi apa yang dimaksud dengan keadilan di sini? Kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah ‘sama’, maka tentu protes itu benar. Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus” – ‘Chosen By God’, hal 155. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa ‘adil’ harus berarti mem-perlakukan semua orang dengan sama rata? Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak selalu harus berarti ‘mem-perlakukan secara sama rata’.
Budi Asali memberikan kita fakta-fakta lain tentang sesuatu yang memang tidak sama rata. ‘Adil’ tidak selalu berarti ‘memperlakukan secara sama rata’. Perlu diingat bahwa dalam banyak hal Allah bersikap membedakan (tidak memperlakukan secara sama rata), misalnya: pada waktu menciptakan sebagai binatang, manusia atau malaikat. pada waktu Ia memilih Israel dan bukannya bangsa-bangsa lain. pada saat Ia memberikan penebusan kepada manusia yang jatuh ke dalam dosa, tetapi tidak kepada malaikat yang jatuh ke dalam dosa (Ibr 2:16). pada saat ia memberikan talenta kepada manusia (Mat 25:14-30). pada saat ia memberikan karunia-karunia kepada orang kristen (1Kor 12:7-11).
Firman Tuhan membeberkan kepada kita tentang fakta pemilihan. Bahwa Allah memang tidak bertindak sama rata. Allah memilih Yakub dan bukan Esau. Allah memilih Ishak dan bukan kakaknya (Roma 9:1-15) bahkan Allah memilih Abraham dan bukan Nahor atau Haran. Firman Tuhan mengatakan pemilihan itu tidak bergantung kepada kehendak manusia atau usaha manusia, namun pada kemurahan hati Allah. Jadi dalam bagian ini jelas bahwa Keadilan tidak bisa kita samakan dengan sama rata sama rasa. Argumen kedua yang dikemukakan orang-orang yang menuduh Allah tidak adil dalam pemilihannya adalah bahwa Allah bersikap tidak adil kepada orang yang tidak dipilih. Allah memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang. Allah membiarkan mereka binasa dan tidak memutuskan memilih mereka untuk ditebus. Pernyataan ini penuh kekeliruan. Mengapa? Sebab Allah justru bersikap adil kepada mereka yang akan binasa. Bukankah mereka binasa karena keberdosaan mereka? Dan bukankah mereka berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan dosa, kekerasan dan kedegilan hati mereka yang tidak mau bertobat dari dosanya. Dan bukankah dengan membiarkan mereka binasa dalam keberdosaannya, hal ini menunjukkan keadilan Allah. Namun bagaimana dengan mereka yang dipilih. Allah justru menyatakan kemurahanNya kepada mereka secara ajaib.
Doktrin pemilihan memang sejak awal sudah ditentang. Namun Firman Tuhan memberikan kita sebuah penegasan soal keadilan Allah berkaitan dengan bagaimana Ia memilih dan membiarkan yang lain binasa. Hal itu dapat kita lihat dalam Roma 9: 13-16 “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati. Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Paulus mengatakan mustahil. Sebuah jawaban yang tegas. Tidak mungkin Allah dikatakan tidak adil. Paulus kemudian memberikan jawaban bahwa Allah memiliki kedaulatan yang mutlak atas ciptaanNya. Ia memiliki hak absolut atas tindakan apapun yang Ia ambil. Ciptaan memang tidak memiliki hak apapun untuk menuntut penciptanNya. Memang kelihatan dalam bagian ini Allah terkesan bertindak sewenang-wenang. Namun tentu tidaklah demikian. Tindakan Allah ini tidak akan kontradiktif dengan sifat-sifatNya yang lain. Alah memiliki kasih. Bahkan Ia adalah kasih itu sendiri, tetapi Ia juga adalah Allah yang adil. Tetapi tidak hanya kasih dan adil, Ia juga adalah Allah yang berdaulat. Ketiganya tidak saling bertentangan dan kontradiksi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: