Oleh: Faoziduhu | Februari 23, 2012

MENIKMATI DAN MENYUKAI HAL –HAL YANG TIDAK DISUKAI


Banyak hal dalam hidup ini yang tidak kita sukai. Misalnya soal makan. Ada orang yang tidak suka makanan tertentu. Tetapi menyukai makanan lain. Saya orang yang tidak begitu suka makan nasi kuning, tahu menjes dan tidak suka makan mendol. Tetapi makanan jenis lain saya sangat suka. Ini baru soal makanan. Ketidak sukaan kita terhadap sesuatu hal bisa menyangkut kebiasaan tertentu, warna tertentu dan banyak hal yang lainnya. Termasuk ketidak sukaan kita terhadap orang atau kelompok orang tertentu dan juga ketidak sukaan kita menjalani suatu realita hidup disaat tertentu.
Ketidak sukaan kita terhadap sesuatu sebenarnya tidaklah permanen. Sebab pada dasarnya ketidak sukaan kita itu dibangun oleh banyak faktor –faktor yang sebenarnya tidak begitu mengikat kita. Ditambah lagi dengan natur kita manusia yang bisa fleksibel terhadap sesuatu dan bisa berubah atau diubahkan. Misalnya kembali soal makan. Dulu, saya sangat tidak suka makan tahu dan tempe. Melihatnya saja, saya sudah seperti mau mual dan (maaf) muntah. Tetapi sekarang saya paling gemar makan kedua jenis makanan tersebut. Mengapa bisa tidak suka pada awalnya dan bagaimana bisa menjadi suka? Saya lahir dan dibesarkan di daerah yang tidak mengenal tahu dan tempe. Jadi pada waktu saya berjumpa dengan keduanya, saya tidak tertarik memakannya bahkan saya selalu membayangkan tahu (yang sebenarnya luar biasa enak itu) dengan karet mentah yang baru di ambil dari pohonnya. Maaf, saya biasa melihat karet mentah lembut berwarna putih seperti tahu tersebut di daerah saya. Namun kemudian, seiring berlalunya waktu saya terus menerus mencoba menikmati makan tahu dan tempe, akhirnya sekarang saya menjadi doyan dan suka makan makanan tersebut. Apalagi kalau dicampur dengan sayur, bakso. Semuanya jadi enak. Jadi latar belakang kebiasaan bisa mempengaruhi kita untuk tidak menyukai suatu hal dalam hidup kita. Makanan adalah contoh praktis yang sangat sederhana.
Bagaimana dengan sisi lain dalam hidup kita? Banyak hal yang tidak kita sukai atau kita tidak bisa terima untuk jalani dalam hidup ini. Misalnya situasi atau keadaan/realita hidup. Terutama realita yang tidak menyenangkan atau tidak kita sukai dan harapkan terjadi dalam hidup kita. Saya yakin kita semua tidak suka sakit. Tetapi bagaimana kalau kita jatuh sakit dan dipaksa untuk beristirahat total dan sama sekali dilarang untuk melakukan aktivitas apapun. Pasti hari-hari anda di rumah sakit atau di rumah tempat anda dirawat akan menjadi hari-hari yang panjang dan membosankan bukan? Anda akan sangat gelisah dan sangat tidak suka dengan “hukuman” dokter yang bagi anda penghobi kerja, kedengaran kejam dan sadis. Namun, mau tidak mau anda harus menjalaninya bukan? Persoalannya, bagaimana anda mengubah sesuatu yang anda tidak anda suka itu menjadi kesukaan anda? Bagaimana anda melewati hari-hari panjang di rumah sakit menjadi begitu singkat dan anda menikmatinya? Ini yang menjadi persoalan.
Bagaimana kalau anda suatu saat dipindah tugaskan oleh pimpinan anda ke pos pekerjaan yang sebenarnya anda sangat tidak suka? Bagaimana kalau anda menerima aturan baru yang sebenarnya anda tidak suka? Bagaimana kalau anda menerima seorang rekan kerja yang anda tidak suka dan mau tidak mau anda harus bekerja sama dengannya? Bagaimana kalau anda diminta melakukan suatu pekerjaan yang sebenarnya anda sangat benci dan tidak suka? Bagaimana kalau ada hal tertentu yang kita inginkan atau direncanakan tetapi tidak menjadi kenyataan? Bukankah itu fakta yang tidak kita harapkan dan tidak kita sukai? Sebenarnya banyak hal dalam hidup ini yang tidak kita suka tetapi tidak ada pilihan untuk kita menolak atau menghindarinya.
Sekarang tinggal ada dua hal yang menjadi respon kita. Pertama, kita menjalaninya tetapi denga sungut-sungut, berat hati, menggerutu dan mengomel terus menerus, kita tidak ada damai sejahtera, hati kita berontak, kebencian terus kita pelihara, perasaan amarah kita pendam, kita menjadi begitu tertekan dan mungkin hari-hari dilewati dengan air mata. Saya pikir kalau pilihan pertama ini yang menjadi respon kita, maka umur kita akan sangat pendek, penyakit akan sulit sembuh dan bahkan penyakit baru akan banyak bermunculan, kita akan sangat sulit produktif dalam bekerja, pikiran kita terkuras untuk menyesali hidup, menyesali orang lain, kecewa dengan ini dan itu, kita tidak bisa berpikir inovativ dan positif lagi. Intinya kerugian yang kita dapatkan.
Sebaliknya jika respon kita sebaliknya, maka keuntungan besarlah yang kita dapatkan. Kita mencoba melihat realita itu dari kacamata postiff, kita mulai beradaptasi dan mencoba menjalaninya, kita terus menerus mengedepankan kerendahan hati dan mau belajar, kita mencoba mengatasi hal-hal yang menganggu suasana hati kita, kita mencoba menikmati dan bersukacita menerima hal-hal yang tidak kita suka itu, dan kita merasa tertantang untuk melewati masalah tersebut. Pendek kata, kita ingin mengubah perasaan tidak suka menjadi suka, tidak nyaman menjadi nyaman dan tidak nikmat menjadi begitu nikmat. Persoalannya, bagaimana bisa itu terjadi? Dan apakah mungkin bisa terjadi. Jawabannya semua bisa terjadi dan tergantung kita bagaimana hal itu bisa terjadi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: