Oleh: Faoziduhu | Februari 10, 2012

BELAJAR DARI KEMAJUAN GEREJA KOREA (BAGIAN 2)


Nasionalisme yang bertumbuh sangat kuat dibarengi dengan kesulitan hidup yang berat membuat masyarakat Korea dimasa-masa sulit justru mendapat pegangan hidup dan kekuatan rohani dengan mereka memilih menjadi Kristen. Singkat cerita gereja di Korea mengalami perkembangan yang cukup pesat di masa-masa itu. Sekarang gereja di korea memberikan pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan bernegara di negara yang perkenomiannya bertumbuh pesat itu.
Sesungguhnya apakah rahasia dibalik pertumbuhan gereja Korea. Paling tidak ada beberapa hal. Pertama kehidupan doa yang luar biasa. Strategi pertumbuhan tidak akan ada gunanya tanpa kehidupan doa yang kuat dari seluruh jemaat dan para pemimpin gereja. Gereja-gereja di Korea selatan telah memberikan kita teladan yang luar biasa dalam kehidupan doa mereka. Salah satu gereja besar di Korea adalah gereja Myung Sung Presbiterian Church (MSPC). Gereja ini memiliki jemaat sebanyak 50.000 orang yang aktif beribadah tiap minggunya. Anda tahu gereja ini memiliki khusus persekutuan doa atau kebaktian doa pagi jam 04.00, jam 05.00, jam 06.00 dan jam 07.00. Kebaktian doa ini dihadiri oleh ribuan orang (Sumber: Majalah berita online GKY) dari segala tingkat usia dan kelas sosial. Para pekerja kasar sampai pengusaha kelas atas di Korea yang mengasihi Tuhan demikian antusias dan sangat rajin dalam berdoa. Kehidupan doa yang dengan tekun dan sehati dipraktekkan di gereja-gereja Korea menjadi kuci utama kemajuan dan keberhasilan pertumbuhan gereja di sana.
Kedua, ketaatan mereka kepada Firman Tuhan. Bagi jemaat-jemaat di Korea, Melakukan Firman Tuhan jauh lebih penting dari pada memperdebatkan mutu khotbah. Mereka tidak terlalu ambil pusing dengan bagaimana kualitas khotbah. Mereka juga tidak pernah mengkritik gaya atau model apalagi isi khotbah, apalagi mempersoalkan gelar dan usia pengkhotbah. Mereka adalah jemaat-jemaat yang tidak suka membanding-bandingkan pengkhotbah A dengan pengkhotbah B. Yang paling penting bagi jemaat-jemaat Korea adalah melakukan dan mempraktekkan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin mutu khotbahnya sangat rendah, pengkhotbahnya juga kurang fasih berbicara, gaya berkhotbahnya tidak menarik dan kurang lucu. Namun bagi jemaat Korea bukan itu yang penting. Yang penting adalah prakteknya. Apakah Firman yang disampaikan dilakukan atau tidak. Pdt. Kim Sam Hwan salah satu pendeta presbiterian besar di Korea bila mengetahui jemaatnya belum mempraktekkan Firman Tuhan yang dia telah sampaikan, maka ia akan mengulang topik yang sama pada khotbah berikutnya di minggu berikutnya sampai jemaat melakukan Firman Tuhan dalam hidup mereka. Untungnya gereja-gereja di Korea sangat minim memberikan kesempatan kepada pengkhotbah luar berbicara di mimbar gereja mereka. Sehingga mereka tidak pernah punya kesempatan sibuk membanding-bandingkan pengkhotbah luar dengan pengkhotbah mereka sendiri. Mereka tidak terlalu mempersoalkan isi atau gaya khotbah atau kritik sana-sini soal khotbah. Mereka sangat sibuk dalam praktek Firman dan bukan sibuk debat mutu khotbah dan pengkhotbah. Di sisi lain gembala dan para rohaniwan setempat sangat serius dan berhati-hati dalam menyiapkan dan menyampaikan khotbah mereka. Mereka rohaniwan yang terus menerus belajar dan memperlengkapi diri sehingga pelayanan mimbar mereka juga menjadi berkat bagi jemaat.
Tidak hanya soal mimbar. Rahasia keberhasilan dan kemajuan gereja Korea adalah mutu pelayanan ibadah mereka. Gereja-gereja Korea sangat memperhatikan ibadah. Ibadah bagi mereka bukan asal-asalan. Semua dipersiapkan dengan baik. Para pelayanan yang bertugas dalam ibadah dengan serius menyiapkan pelayanan mereka. Mulai dari pengkhotbah, singer, tim multimedia, penerima jemaat, tim multimedia sampai tim paduan suara dipersiapkan, ditata dan dikelola dengan baik. Manajemen ibadah mendapat perhatian yang sangat serius di gereja-gereja Korea. Sehingga setiap ibadah nyaris tanpa salah sebab telah dipersiapkan dengan sangat baik dan rapi. Anda jangan membayangkan bahwa mereka yang melayani disitu semuanya rohaniwan yang mendapat tunjangan dari gereja. Tidak. Mereka yang bertugas dalam pelayanan ibadah selain rohaniwan adalah pemimpin gereja dan jemaat biasa dari berbagai latar belakang profesi. Pengusaha hingga tenaga buruh kasar. Tetapi mereka semua tanpa pamrih dan tidak dibayar sama sekali dengan serius, sungguh-sungguh dan kompak melayani Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: