Oleh: Faoziduhu | Januari 27, 2012

SELAMAT HARI RAYA IMLEK (Siapakah Yang Merayakan Imlek?)


Dua minggu berturut-turut warta gereja sudah mengupas dan menjelaskan kepada kita tentang makna imlek, latar belakang dan bahkan tradisi-tradisi yang tidak diperbolehkan secara Alkitab ketika kita merayakan imlek. Persoalannya sekarang imlek itu milik siapa? Dan hanya boleh dirayakan oleh siapa? Beberapa hari yang lalu, beberapa teman saya protes ketika saya mengucapkan selamat tahun baru imlek kepada mereka. Orang yang pertama protes dengan alasan bahwa ia bukan orang beragama Konghucu. Kebetulan ia seorang Kristen yang taat dan aktif beribadah. Baginya Imlek hanya dirayakan orang Konghucu atau budha dan dengan demikian hanya merekalah yang pantas menerima ucapan Gong Ci Fa Cai. Teman saya yang kedua protes, karena ia merasa bukan dari suku Tionghwa maupun peranakan Tionghwa. Jadi dia merasa bahwa ucapan tahun baru imlek seharusnya hanya pantas diucapkan kepada orang Tionghwa saja dan tidak pantas diucapkan kepada orang dari suku atau etnis lain.
Protes teman-teman saya ini membuat saya tertawa dalam hati. Disatu sisi saya bisa memaklumi bahwa imlek adalah sebuah perayaan yang baru dengan bebas kita rayakan sejak zaman reformasi. Sebelumnya selama puluhan tahun sejak masa ORLA sampai ORBA perayaan imlek adalah suatu aktivitas yang dilarang dan terlarang. Maka ketika kebudayaan dan tradisi imlek diteguhkan sebagai hari besar nasional bersamaan dengan penetapan konghucu sebagai agama resmi ke-6 Di Indonesia, pikiran sebagaian orang langsung mengarah pada sebuah anggapan bahwa imlek hanya menjadi milik orang konghucu dan Tionghwa. Di sisi yang lain, wawasan sebagian orang tentang apa itu tahun baru, asal muasal tahun baru yang sangat minim, membuat sebagian dari kita menjadi berpikiran sempit alias eksklusif. Maka pemikiran dan pemahaman tentang tahun baru dan imlek perlu saya uraikan dan luruskan dalam artikel kali ini. Semoga melalui tulisan ini perayaan imlek menjadi semakin meriah dan bermakna bagi semua jemaat.
Kalau kita dengan jujur menyelidiki mengenai Tahun baru, maka penetapan Tahun baru selalu berkenaan dengan tradisi tertentu yang telah memiliki sistem penanggalan dan perhitungan tertentu yang berbeda satu sama lain. Kita mengenal ada beberapa penanggalan tahun yang didasarkan para perhitungan Matahari atau Bulan. Diantaranya Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Imlek, Tahun Baru Saka dan berbagai macam tahun baru lainnya. Macam-macam tahun baru ini ditetapkan tidak hanya berkenaan dengan perhitungan Matahari atau Bulan tetapi juga selalu dikaitkan dengan peristiwa alam, atau peristiwa yang berkenaan dengan keyakinan dan religi tertentu. Misalnya Tahun Baru Masehi yang dikaitkan dengan hari raya panen dalam tradisi orang Romawi-Yunani Kuno. Demikian juga dengan tradisi imlek yang dikaitkan dengan di mulainya musim semi. Demikian seterusnya. Penetapan macam-macam tahun baru juga muncul dan hadir dalam berbagai ragam budaya masyarakat dunia. Tahun Baru Masehi muncul di Romawi, Tahun Baru Imlek muncul di Tiongkok, Tahun baru saka hadir di Bali, Demikian juga dengan yang lainnya.
Tahun baru Masehi dirayakan oleh semua orang. Tidak hanya oleh orang romawi dan Yunani saja. Juga bukan hanya dirayakan oleh orang Barat saja dan juga bukan hanya dirayakan orang percaya saja. Tahun Baru Masehi milik semua orang dan dirayakan semua orang apapun agamanya dan apapun latar belakang sukunya. Demikian juga halnya dengan tahun baru Imlek. Tahun baru Imlek sesunggunhnya bersifat unvirsal dan boleh dirayakan semua orang apapun suku dan agamanya. Jadi imlek tidak hanya menjadi milik penganut agama konghucu saja. Saya sering merasa lucu kalau setiap perayaan imlek, stasiun TV dan radio hanya meliput aktivitas keagamaan di wihara saja. Saya belum pernah melihat ada stasiun TV meliput imlek di gereja. Mengapa bisa demikian? Karena pandangan orang tentang imlek selalu dikaitkan dengan konghucu dan Budhis.
Persoalannya, tidak dapat dipungkiri bahwa perayaan Tahun Baru Masehi atau Imlek biasa dikaitkan dengan keyakinan dan kepercayaan tertentu yang melekat di dalamnya. Tahun Baru Masehi bertolak dari keyakinan pada dewa matahari dan tradisi-tradisi agama di Romawi kuno. Imlek juga selalu berkaitan dengan keyakinan kepada dewa dapur dan dewa-dewa keberuntungan lain lengkap dengan berbagai tradisi dan tahayul di dalamnya. Artikel Minggul lalu sudah menegaskan kepada kita bahwa sebagai orang Kristen, ketika merayakan imlek segala hal yang berbau tahayul dan mistik harus dibuang jauh-jauh.
Yang paling penting adalah makna apa yang di dapat dan dihayati ketika merayakan tahun baru, entah imlek atau masehi. Setiap momen pergantian tahun, kita selalu diingatkan untuk bersyukur kepada Tuhan atas pemeliharaanNya dalam hidup kita. Kita juga diingatkan setiap kali pergantian tahun untuk bersandar kepada Tuhan sumber segala berkat yang akan melimpahkan karuniaNya atas hidup rohani dan jasmani kita. Jadi setiap orang kristen bisa merayakan tahun baru Masehi dan Imlek dengan penuh sukacita tanpa kehilangan makna rohani di dalamnya. Selamat Tahun Baru Imlek 2563.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: