Oleh: Faoziduhu | Januari 20, 2012

SEBUAH KRITIK BAGI KEBAKTIAN KESEMBUHAN


Hari-hari ini kita menyaksikan iklan-iklan rohani yang ditampilkan di surat kabar baik majalah maupun Koran demikian juga iklan dengan spanduk yang banyak kita lihat dan temukan di jalan-jalan besar yang demikian menarik perhatian yaitu kebaktian kesembuhan. Iklan tersebut terkadang dibumbui lagi dengan istilah kesembuhan ilahi, muzizat ilahi, alami kesembuhan ilahi dan seterusnya. Sempat suatu ketika saya di sebuah stopan jalan menyaksikan beberapa spanduk dipajang besar-besar berdampingan. Yang paling atas ada spanduk kebaktian kesembuhan ilahi. Spanduk itu memperkenalkan seorang hamba Tuhan yang dapat mendoakan dan dikaruniai kemampuan kesembuhan ilahi. Spanduk dibawahnya adalah promosi seorang tabib atau paranormal (dukun) yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Pada waktu saya melihat spanduk-spanduk promo itu, secara khusus dua yang saya sebutkan tadi, saya jadi tersenyum sendiri. Apa bedanya dukun rohani dengan dukun sekuler? Bukankah keduanya sama-sama dukun? Hanya yang satu Kristen dan yang lain tidak? Mengapa saya memiliki pemikiran yang agak nyeleneh semacam ini? Sebab ada latar belakang yang sangat mengganggu saya ketika saya masih di daerah saya di Nias. Pada zaman dahulu, ketika kedokteran belum semaju sekarang, orang yang sakit mesti ke dukun. Kalau mau ke dukun atau paranormal harus membawa ayam atau burung merpati sebagai sesajennya, selanjutnya si dukun berdoa dengan ritual tertentu kemudian mengoleskan sesuatu kepada si sakit atau menyemburkan sesuatu atau juga bisa dengan memijit bagian tertentu dengan minyak atau ramuan yang begitu bau menyengat. Anda jangan samakan dukun disana dengan yang disini. Dukun pada waktu itu, yang menarik adalah menyebut nama Yesus dan berdoa dalam nama Yesus. Jadi sambil di sembur atau mengoleskan sesuatu sebut nama Yesus. Kelihatan rohani bukan? Padahal semua orang tau bahwa para dukun ini telah belajar ilmu gelab sehingga memiliki kuasa atau kesaktian (keahlian) yang tidak hanya dipakai untuk mendatangkan penyakit namun juga untuk menyembuhkan penyakit.
Jadi wajar saja kalau melihat iklan itu saya tersenyum sendiri. Dua dukun bertarung mencari pelanggan. Namun lepas dari itu, baiklah kita berpikir positif. Anggap saja ini pertarungan antara kuasa terang dengan kuasa gelab. Seperti halnya peristiwa Mesir, dimana Harun mengadakan muzizat mengubah tongkatnya menjadi ular dan para ahli sihir (dukun) Mesir mengadakan muzizat yang sama dengan mengubah tongkat mereka menjadi ular. Akhirnya Harun menang, tongkatnya menelan tongkat para ahli mantra Mesir. Dari kacamata sedikit positif namun sebenarnya kurang kritis, kita menyamakan pertarungan harun versus ahli sihir dengan pertarungan antara pendeta kesembuhan (kebaktian kesembuhan) versus mbah dukun. Bahasa sederhananya begini. Dari pada ke paranormal mending ke pendeta. Daripada ke rumah dukun mending ke kebaktian kesembuhan. Khan benar, memilih yang rohani ketimbang yang menggunakan kuasa jahat. Persoalannya, apakah yang kelihatan rohani itu benar-benar rohani? Apakah yang kelihatan menggunakan nama Yesus itu benar-benar berasal dari Allah. Bukankah Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang? (2 Kor 11:14), bukankah di zaman akhir akan muncul nabi-nabi palsu yang mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan muzizat-muzizat (Matius 24:24) dan bukankah pada hari terakhir banyak orang akan mengadakan banyak muzizat demi nama Yesus? Padahal mereka tidak dikenal olehNya (Matius 8:23). Saya tidak mengatakan bahwa semua penyembuhan berasal dari iblis atau nabi palsu. Sebagai orang reformasi kita mempercayai kuasa Tuhan melakukan muzizat hari ini. Namun, perlu kita camkan bahwa Iblispun bisa melakukan muzizat kesembuhan bahkan tanda-tanda yang dahsyat. Biarlah Firman Tuhan sendiri yang akan menguji apakah praktek kesembuhan rohani atau ilahi itu berasal dari Tuhan atau tidak.
Yang hendak di kritik disini adalah kebaktian kesembuhan. Sepanjang sejarah gereja, tidak pernah kita mengenal istilah kebaktian kesembuhan. Bahkan kebaktian Kebangunan Rohani untuk menjangkau mereka yang belum percayapun tidak menggunakan istilah ini. Dalam Alkitab kita tidak mengenal ibadah kesembuhan bahkan Alkitab memiliki pandangan lain mengenai ibadah. Alkitab dengan jelas menegaskan bahwa ibadah adalah untuk Allah. Ibadah dalam pengertian aslinya adalah sujud menyembah (proskuneo). Kita menyembah siapa? Tentu menyembah Tuhan. Jadi ibadah atau kebaktian adalah perjumpaan dengan Tuhan dimana kita menyembah Dia dan Dia berbicara kepada kita melalui FirmanNya. Inilah focus dan titik point kebaktian. Jadi, menjadikan kesembuhan sebagai focus kebaktian adalah salah dan sesat. Ini jelas tidak Alkitabiah. Ini bukan lagi kebaktian gerejawi atau ibadah kepada Allah. Tetapi ibadah untuk manusia dan kepada manusia. Manusia dalam hal ini pendetanya dimuliakan dan disembah dan jemaat hanya datang kebaktian untuk sembuh dan bukan “mencari” Allah.
Apakah salah kalau dalam kebaktian ada doa untuk orang sakit? Tidak salah. Orang sakit wajib di doakan, diperhatikan, di dampingi dan ditopang. Namun titik berat kebaktian atau ibadah bukanlah doa untuk orang sakit. Fokus kebaktian adalah menyembah Tuhan. Jemaat yang datang beribadah hendaknya mengoreksi diri apakah mereka datang mencari sembuh atau mereka datang sujud menyembah kepada Allah. Tuhan Yesus ketika menyembuhkan orang sakit, para rasul ketika tumpang tangan sembuhkan orang sakit tidak memanfaatkan kebaktian. Kebaktian tetap kebaktian. Kebaktian adalah milik Allah, kepada Allah dan hanya untuk Allah. Bahkan ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang di rumah atau di jalan atau dimanapun, penekanannya bukan di kesembuhannya namun di injilNya. Penekanannya di berita kabar baik. Itulah sebabnya berkali-kali disebutkan bahwa setelah Yesus mengajar, Ia menyembuhkan penyakit banyak orang. Jadi Firman dulu baru kesembuhan dan perhatikan itupun bukan di kebaktian atau ibadah.
Kalau begitu kita ini seperti orang Farisi, bukankah Yesus pernah menyembuhkan orang sakit pada hari sabat di rumah ibadat lagi (Markus 3:1-6). Orang-orang Farisi mengamati Yesus dan mencari kesalahanNya kalau-kalau Ia menyembuhkan orang sakit di hari sabat di rumah Tuhan. Ternyata Yesus dengan berani menyembuhkan orang sakit itu setelah sebelumnya berkata “manakah yang diperbolehkan pada hari sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang.” Ayat ini mungkin saja bisa diklaim sebagai ayat untuk meneguhkan kebaktian kesembuhan ilahi. Dalam beberapa kesempatan Yesus memang menyembuhkan orang di tempat ibadah. Namun persoalannya bukan dimananya atau kapannya. Namun persoalannya dalam situasi apa Yesus mendemontsrasikan kesembuhan? Tuhan Yesus adalah seorang yang menghormati ibadah. Ia mengajarkan kepada kita supaya dengan tulus beribadah kepadaNya dan hanya kepadaNya kita menyembah. Namun ibadah tidak berhenti pada kesukaan perjumpaan dengan Allah tetapi ibadah itu membawa berkah bagi umatNya. Oleh sebab itu merupakan kewajiban kita kapanpun dan dimanapun untuk berbuat baik, menyelamatkan nyawa orang, termasuk mendoakan orang sakit supaya Tuhan menjamah dan menyembuhkan mereka dari sakit. Itupun merupakan ibadah. Namun menjadikan kesembuhan sebagai focus ibadah adalah keliru dan sesat. Dalam ibadah, Allah disembah dan dimuliakan dengan tulus dan dengan segenap hati, selanjutnya semangat perjumpaan dengan Allah melalui ibadah mendorong kita menyatakan kasih kepada sesama yakni menolong mereka yang sakit dan lemah; memperhatikan mereka yang menderita dan papa. Inilah ibadah yang benar.
Suatu hari seorang jemaat bertanya kepada gembalanya, “mengapa di gereja kita tidak ada kebaktian penyembuhanNya? Mengapa di gereja A kebaktian kesembuhannya kok setiap Minggu? Apakah hal itu yang menyebabkan gereja tersebut selalu ramai pengunjung dan gereja kita kok pengunjungnya sulit bertambah?” Ada 2 hal yang terkandung dalam pertanyaan jemaat tersebut. Pertama, apakah diperkenankan sebuah gereja mengadakan kebaktian penyembuhan? Kedua, apakah kebaktian penyembuhan bisa digunakan sebagai pendekatan (approach) dalam menjangkau orang yang belum percaya untuk dibawa mengenal dan percaya kepadaNya?. Kedua pertanyaan diatas berkaitan dengan teologi ibadah (liturgis) dan teologi misi (dan atau pertumbuhan gereja). Baiklah mari kita mencoba menelaahnya dengan baik. Pertama, kebaktian sesungguhnya berkenaan dengan penyembahan kita kepada Allah. Sebuah ritual yang kita lakukan sebagi respons kita akan undangan Tuhan untuk datang bersujud di hadapaNya dan selanjutnya kita mendengarkan sabdaNya. Jadi ada dua hal yang penting dalam sebuah kebaktian yaitu menyembah dan mendengar. Kita menyembah dan Tuhan berbicara kepada kita, melalui FirmanNya. Titik kulminasinya adalah Khotbah. Penyembahan kepadaNya adalah penghantar kita untuk mendengar sabdaNya. Jadi sekali lagi fokusnya adalah Khotbah, Injil diberitakan. Itulah sebabnya di gereja-gereja reformatoris, mimbar diletakkan di tengah-tengah dan mimbar tidak boleh dipindah-pindahkan (mimbar diperbesar supaya tidak dengan gampang di pindah-pindah) dan Tidak ada yang lebih dari itu. Oleh sebab itu tidak ada kebaktian penyembuhan apapun alasannya. Apalagi kebaktian kesembuhan tiap Minggu. Namun, jika dalam kebaktian itu ada doa untuk orang sakit, itu tidak dilarang malah wajib untuk dilakukan. Bukankah di gereja reformatoris doa untuk orang sakit dimasukkan dalam bagian dari doa syafaat? Jika ada jemaat yang menderita sakit dan ingin didoakan secara pribadi, maka gereja memiliki kewajiban untuk mendoakan jemaat tersebut secara pribadi. Kebaktian harus berjalan dengan tertib dan teratur, sehingga jemaat dapat dengan focus menyembah dan mendengar Firman Tuhan.
Pertanyaan kedua berkaitan dengan demonstrasi penyembuhan sebagai bagian dari penjangkauan bagi jiwa-jiwa yang belum percaya. Ada yang salah kaprah bahkan merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh gereja atau lembaga misi akhir-akhir ini dalam melakukan misi penjangkauan jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka berpandangan bahwa aktifitas penyembuhan dari penyakit, entah dengan demonstrasi muzizat ataupun dengan pengobatan medis adalah salah satu cara paling ampuh untuk “membujuk” orang menjadi percaya. Pandangan ini selalu didasarkan kepada tindakan Tuhan Yesus tatkala ia mendemonstrasikan muzizat penyembuhan bersamaan dengan Ia memberitakan injil Kerajaan Allah. Demikianpula para Rasul yang menyembuhkan banyak orang sakit dan penyembuhan itu mengakibatkan banyak orang menjadi percaya (Misalnya Kis 9:34). Kalau kita membaca Alkitab dengan baik dan benar, maka kita akan menemukan bahwa Tuhan Yesus maupun para rasul ketika melakukan tindakan kasih dengan mendoakan atau menyembuhkan orang sakit bukanlah dengan tujuan atau maksud-maksud pragmatis tertentu. Namun supaya orang yang sembuh itu bisa melihat dan mengalami tanda-tanda kerajaan Allah dan dengan demikian mereka memuliakan Allah (Lukas 5:26). Kalau kita membaca catatan injil, menjadi jelas kepada kita bahwa orang-orang yang disembuhkan itu pulang dengan takjub sambil memuliakan Allah (Matius 9:8). Orang-orang yang disebuhkan diperintahkan untuk pulang (tidak diminta untuk ikut rombongan Yesus) (Matius 9:6) dan bahkan orang yang disebuhkan dilarang untuk menceritakan kepada orang lain siapa yang menyembuhkan mereka (Markus 3:12; 1:44). Mengapa bisa demikian? Ya, Karena tujuan penyembuhan yang Tuhan Yesus lakukan adalah murni menolong mereka yang sakit dan memulihkan keadaan mereka. Dengan mereka mengalami kesembuhan, mereka dapat memuliakan Dia dalam hidup mereka. Sekali lagi bukan dengan tujuan pragmatis tertentu.
Memang dalam pelayananNya Yesus memberitakan injil sambil menyembuhkan banyak penyakit (Lukas 6:18), benarpula bahwa ada sebagian orang yang disebuhkan menjadi percaya kepadaNya (Lukas 17:16) dan seperti catatan Lukas dalam Kisah Rasul, malah satu kota menjadi percaya karena kesembuhan satu orang. Namun pelayanan kasih adalah sebuah pelayanan yang murni dan tulus tanpa maksud tertentu menjadi cirri dari pelayanan Yesus dan para rasul. Pada waktu Tuhan Yesus mengutus ke dua belas rasul melayani (Matius 10:7-8), Yesus memberikan mereka tugas. Pertama, beritakanlah Kerajaan sorga sudah dekat (Injil) dan kedua sembuhkanlah orang sakit. Kedua tugas tersebut tidak bisa dicampur baurkan, sekalipun keduanya berhubungan dan bisa dikerjakan secara bersamaan. Namun pelayanan kesembuhan adalah tulus dan murni. Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid supaya menggunakan cara penyembuhan supaya makin banyak yang melihat dan mengalami kesembuhan menjadi percaya, sekalipun tidak dipungkiri banyak orang menjadi percaya karena melihat dan mengalami kesembuhan. Namun motiv kesembuhan seharusnya murni yakni supaya orang bisa memuliakan Allah dan mengalami tanda-tanda kerajaan Allah.
Kalau ada yang percaya karena sembuh itu benar. Namun Alkitab mencatat bahwa sebagian besar dari mereka yang mengalami muzizat kesembuhan justru sama sekali tidak menjadi percaya (Lukas 17:17-18). Bahkan Alkitab mencatat bahwa banyak orang berbondong-bondong mencari Yesus bukan untuk mendengarkan Firman dan menjadi percaya, sebaliknya mereka hanya ingin melihat tanda yang dibuat Yesus atau mereka hanya ingin disembuhkan saja. Walaupun banyak orang tetap tidak percaya dan sekalipun mereka telah mengalami kesembuhan, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi atau tidak menyurutkan tindakan Yesus untuk terus menerus melakukan penyembuhan demi penyembuhan. Bahkan disaat ditangkap di taman getsemanipun, Yesus masih sempat menyembuhkan hamba imam besar yang putus telinganya (Lukas 22:51). Mengapa bisa demikian? Karena Yesus memiliki motivasi yang murni dan tulus ketika menyembuhkan orang sakit.
Bergerak dari dasar Alkitab inilah kemudian kita berkesimpulan bahwa aktivitas penyembuhan, entah dengan doa kesembuhan atau pengobatan medis hendaknya dilakukan dengan motivasi yang murni dan tulus. Hari ini banyak gereja, badan misi dan orang percaya yang melakukan demonstrasi kesembuhan dengan tujuan yang tidak murni. Mereka melakukan pelayanan kasih tersebut supaya yang dilayani menjadi percaya. Cara paling jitu untuk menguji motivasi kita apakah tulus dan murni ketika melakukan pelayanan kasih seperti mendoakan orang sakit atau pengobatan medis adalah apakah kita masih mau melayani mereka yang sakit, sekalipun mereka tidak atau belum mau percaya. Ada gereja atau orang percaya yang tidak mau menolong sesame yang belum percaya karena sudah berkali-kali ditolong di doakan atau diobati namun orang tersebut belum juga mau percaya. Gereja atau orang Kristen semacam ini perlu mengoreksi motivasinya menolong atau menyatakan kasih kepada orang lain.
Suatu hari seorang jemaat bertanya kepada gembalanya, “mengapa di gereja kita tidak ada kebaktian penyembuhanNya? Mengapa di gereja A kebaktian kesembuhannya kok setiap Minggu? Apakah hal itu yang menyebabkan gereja tersebut selalu ramai pengunjung dan gereja kita kok pengunjungnya sulit bertambah?” Ada 2 hal yang terkandung dalam pertanyaan jemaat tersebut. Pertama, apakah diperkenankan sebuah gereja mengadakan kebaktian penyembuhan? Kedua, apakah kebaktian penyembuhan bisa digunakan sebagai pendekatan (approach) dalam menjangkau orang yang belum percaya untuk dibawa mengenal dan percaya kepadaNya?. Kedua pertanyaan diatas berkaitan dengan teologi ibadah (liturgis) dan teologi misi (dan atau pertumbuhan gereja). Baiklah mari kita mencoba menelaahnya dengan baik. Pertama, kebaktian sesungguhnya berkenaan dengan penyembahan kita kepada Allah. Sebuah ritual yang kita lakukan sebagi respons kita akan undangan Tuhan untuk datang bersujud di hadapaNya dan selanjutnya kita mendengarkan sabdaNya. Jadi ada dua hal yang penting dalam sebuah kebaktian yaitu menyembah dan mendengar. Kita menyembah dan Tuhan berbicara kepada kita, melalui FirmanNya. Titik kulminasinya adalah Khotbah. Penyembahan kepadaNya adalah penghantar kita untuk mendengar sabdaNya. Jadi sekali lagi fokusnya adalah Khotbah, Injil diberitakan. Itulah sebabnya di gereja-gereja reformatoris, mimbar diletakkan di tengah-tengah dan mimbar tidak boleh dipindah-pindahkan (mimbar diperbesar supaya tidak dengan gampang di pindah-pindah) dan Tidak ada yang lebih dari itu. Oleh sebab itu tidak ada kebaktian penyembuhan apapun alasannya. Apalagi kebaktian kesembuhan tiap Minggu. Namun, jika dalam kebaktian itu ada doa untuk orang sakit, itu tidak dilarang malah wajib untuk dilakukan. Bukankah di gereja reformatoris doa untuk orang sakit dimasukkan dalam bagian dari doa syafaat? Jika ada jemaat yang menderita sakit dan ingin didoakan secara pribadi, maka gereja memiliki kewajiban untuk mendoakan jemaat tersebut secara pribadi. Kebaktian harus berjalan dengan tertib dan teratur, sehingga jemaat dapat dengan focus menyembah dan mendengar Firman Tuhan.
Pertanyaan kedua berkaitan dengan demonstrasi penyembuhan sebagai bagian dari penjangkauan bagi jiwa-jiwa yang belum percaya. Ada yang salah kaprah bahkan merupakan kesalahan fatal yang dilakukan oleh gereja atau lembaga misi akhir-akhir ini dalam melakukan misi penjangkauan jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka berpandangan bahwa aktifitas penyembuhan dari penyakit, entah dengan demonstrasi muzizat ataupun dengan pengobatan medis adalah salah satu cara paling ampuh untuk “membujuk” orang menjadi percaya. Pandangan ini selalu didasarkan kepada tindakan Tuhan Yesus tatkala ia mendemonstrasikan muzizat penyembuhan bersamaan dengan Ia memberitakan injil Kerajaan Allah. Demikianpula para Rasul yang menyembuhkan banyak orang sakit dan penyembuhan itu mengakibatkan banyak orang menjadi percaya (Misalnya Kis 9:34). Kalau kita membaca Alkitab dengan baik dan benar, maka kita akan menemukan bahwa Tuhan Yesus maupun para rasul ketika melakukan tindakan kasih dengan mendoakan atau menyembuhkan orang sakit bukanlah dengan tujuan atau maksud-maksud pragmatis tertentu. Namun supaya orang yang sembuh itu bisa melihat dan mengalami tanda-tanda kerajaan Allah dan dengan demikian mereka memuliakan Allah (Lukas 5:26). Kalau kita membaca catatan injil, menjadi jelas kepada kita bahwa orang-orang yang disembuhkan itu pulang dengan takjub sambil memuliakan Allah (Matius 9:8). Orang-orang yang disebuhkan diperintahkan untuk pulang (tidak diminta untuk ikut rombongan Yesus) (Matius 9:6) dan bahkan orang yang disebuhkan dilarang untuk menceritakan kepada orang lain siapa yang menyembuhkan mereka (Markus 3:12; 1:44). Mengapa bisa demikian? Ya, Karena tujuan penyembuhan yang Tuhan Yesus lakukan adalah murni menolong mereka yang sakit dan memulihkan keadaan mereka. Dengan mereka mengalami kesembuhan, mereka dapat memuliakan Dia dalam hidup mereka. Sekali lagi bukan dengan tujuan pragmatis tertentu.
Memang dalam pelayananNya Yesus memberitakan injil sambil menyembuhkan banyak penyakit (Lukas 6:18), benarpula bahwa ada sebagian orang yang disebuhkan menjadi percaya kepadaNya (Lukas 17:16) dan seperti catatan Lukas dalam Kisah Rasul, malah satu kota menjadi percaya karena kesembuhan satu orang. Namun pelayanan kasih adalah sebuah pelayanan yang murni dan tulus tanpa maksud tertentu menjadi cirri dari pelayanan Yesus dan para rasul. Pada waktu Tuhan Yesus mengutus ke dua belas rasul melayani (Matius 10:7-8), Yesus memberikan mereka tugas. Pertama, beritakanlah Kerajaan sorga sudah dekat (Injil) dan kedua sembuhkanlah orang sakit. Kedua tugas tersebut tidak bisa dicampur baurkan, sekalipun keduanya berhubungan dan bisa dikerjakan secara bersamaan. Namun pelayanan kesembuhan adalah tulus dan murni. Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid supaya menggunakan cara penyembuhan supaya makin banyak yang melihat dan mengalami kesembuhan menjadi percaya, sekalipun tidak dipungkiri banyak orang menjadi percaya karena melihat dan mengalami kesembuhan. Namun motiv kesembuhan seharusnya murni yakni supaya orang bisa memuliakan Allah dan mengalami tanda-tanda kerajaan Allah.
Kalau ada yang percaya karena sembuh itu benar. Namun Alkitab mencatat bahwa sebagian besar dari mereka yang mengalami muzizat kesembuhan justru sama sekali tidak menjadi percaya (Lukas 17:17-18). Bahkan Alkitab mencatat bahwa banyak orang berbondong-bondong mencari Yesus bukan untuk mendengarkan Firman dan menjadi percaya, sebaliknya mereka hanya ingin melihat tanda yang dibuat Yesus atau mereka hanya ingin disembuhkan saja. Walaupun banyak orang tetap tidak percaya sekalipun mereka telah mengalami kesembuhan, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi atau tidak menyurutkan tindakan Yesus untuk terus menerus melakukan penyembuhan demi penyembuhan. Bahkan disaat ditangkap di taman getsemanipun, Yesus masih sempat menyembuhkan hamba imam besar yang putus telinganya (Lukas 22:51). Mengapa bisa demikian? Karena Yesus memiliki motivasi yang murni dan tulus ketika menyembuhkan orang sakit.
Bergerak dari dasar Alkitab inilah kemudian kita berkesimpulan bahwa aktivitas penyembuhan, entah dengan doa kesembuhan atau pengobatan medis hendaknya dilakukan dengan motivasi yang murni dan tulus. Hari ini banyak gereja, badan misi dan orang percaya yang melakukan demonstrasi kesembuhan dengan tujuan yang tidak murni. Mereka melakukan pelayanan kasih tersebut supaya yang dilayani menjadi percaya. Cara paling jitu untuk menguji motivasi kita apakah tulus dan murni ketika melakukan pelayanan kasih seperti mendoakan orang sakit atau pengobatan medis adalah apakah kita masih mau melayani mereka yang sakit, sekalipun mereka tidak atau belum mau percaya. Ada gereja atau orang percaya yang tidak mau menolong sesame yang belum percaya karena sudah berkali-kali ditolong di doakan atau diobati namun orang tersebut belum juga mau percaya. Gereja atau orang Kristen semacam ini perlu mengoreksi motivasinya menolong atau menyatakan kasih kepada orang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: