Oleh: Faoziduhu | Desember 13, 2011

BELAJAR DARI KETAATAN YUSUF (Matius 1:18-25)


Pendahuluan:
Saya yakin kita semua pernah bermimpi. Entah mimpi yang baik maupun mimpi yang buruk. Pada dasarnya banyak orang senang kalau mimpinya indah, misalnya mimpi dapat uang banyak, mimpi dapat istri cantik bagi yang belum menikah atau mimpi lain yang menyenangkan. Kalau sudah bangun pengen tidur lagi melanjutkan mimpi yang menyenangkan itu. TIDAK ADA ORANG yang senang dengan mimpi buruk. Mimpi dikejar anjing gila, mimpi utang ditagih, mimpi jatuh ke jurang dan seterusnya.
Pada suatu ketika, kurang lebih 20 tahun yang lalu di kota Semarang seorang wanita mendatangi seorang pendeta dan menceritakan bahwa hidupnya demikian susah sebab ia tidak mencintai suaminya. Setiap hari mereka bertengkar dan keluarga mereka seperti dalam neraka. Beberapa kali wanita tersebut mencoba untuk bunuh diri namun selalu gagal. Pendeta tersebut lalu bertanya mengapa dulu memutuskan menikah dengan pria yang menjadi suaminya itu? Wanita itu kemudian berkatan bahwa ada seorang pendeta yang mengaku bermimpi di datangi Roh Kudus. Roh Kudus itu kemudian memerintahkan pendeta itu menikahkan wanita itu dengan pria yang sebenarnya tidak dicintainya. Karena takut melawan kehendak Tuhan, akhirnya ia mentaati mimpi dari pendeta itu. Maka jadilah sebuah rumah tangga yang tidak didasarkan kepada kehendak Tuhan namun didasarkan kepada mimpi.
Di dalam Alkitab kita juga menemukan seorang pria yang bermimpi. Tetapi mimpinya itu benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan mimpi sembarang mimpi. Mimpi itu berasal dari Tuhan sendiri, dimana dalam mimpi itu, Malaikat Tuhan menjumpai Yusuf dan berbicara kepadanya. Saudara yang kekasih di dalam Alkitab, Allah sering memakai mimpi untuk menyatakan kehendakNya kepada umatNya. Allah juga sering memakai mimpi untuk menyatakan FirmanNya melalui mimpi. Firman atau wahu itu kemudian dituliskan di dalam Alkitab yang sekarang menjadi Kitab suci kita. Namun pada masa kini, kita tidak boleh percaya kepada mimpi, apalagi mengklaim mimpi kita itu adalah kehendak Tuhan. Kalau mimpi saudara itu anda yakin kehendak Tuhan, maka lebih baik ditulis saja lalu bikin kitab yang baru dan kitab itu anda sebut sebagai kitab suci. Mimpi hanyalah bunga tidur. Jadi kalau anda bermimpi yang menyenangkan bersyukurlah tetapi jangan percaya dengan mimpi apalgi kalau anda menafsirkan mimpi. Kalau anda mimpi buruk berdoalah supaya anda tidak mimpi buruk lagi.
Latar Belakang:
Kita kembali kepada mimpi yang benar di dalam Alkitab. Pada waktu itu Yusuf sudah bertunangan dengan Maria. Dalam adat istiadat Yahudi, pertunangan adalah salah satu tahap dalam hubungan seorang pria dan wanita. Pertunangan itu diresmikan dan diketahui oleh umum. Dalam pertunangan itu ada semacam perjanjian yang dilakukan orang tua kedua belah pihak yang bersedia melanjutkan pertunangan itu ketahap pernikahan. Jadi pertunangan itu bersifat mengikat. Dalam masa pertunangan, mereka sudah dikenal sebagai suami istri, namun belum boleh hidup serumah atau bersama sebagai suami-istri. Maka apabila pertunangan ini dibatalkan atau diputuskan maka hal itu disebut dengan perceraian.
Pada waktu Yusuf bertunangan dengan Maria, Yusuf demikian terkejut sebab ternyata Maria mengandung. Pada waktu itu Yusuf belum mengetahui bahwa Maria tunangannya itu mengandung dari Roh Kudus. Itulah sebabnya ia bermaksud secara diam-diam menceraikan tunangannya itu. Muncul pertanyaan disini mengapa ia menceraikannya secara diam-diam? Kalau kita melihat dalam tradisi Yahudi maka akan sangat jelas bahwa seorang suami dapat saja menceraikan tunangannya di depan umum dengan alasan tertentu. Yusuf juga bisa menuntut Maria di depan pengadilan untuk bercerai dengan alasan karena Maria sudah mengandung. Jika Maria dituntut dengan alasan demikian, maka jelas Maria akan dihukum dengan hukuman dilempari batu. Namun ada alternative kedua yang ditempuh Yusuf yaitu menceraikannya dengan diam-diam. Dalam tradisi yahudi menceraikan tunangan dengan diam-diam biasanya disaksikan oleh paling tidak 2 saksi. Dengan demikian, Maria tidak dipermalukan, tidak dicemarkan namanya dan bahkan Maria terhindar dari hukuman yang berat, yakni dilempari dengan batu. Sikap Yusuf ini tentu menunjukkan keluhuran budi dan kebaikan hati yang luar biasa. Secara manusia langkah yang dilakukan oleh Yusuf sebelum bermimpi dijumpai malaikat adalah langkah yang bijaksana.
Persoalannya, mengapa Yusuf bisa memilih langkah yang bijaksana ini? Mengapa Yusuf bisa memiliki sikap yang demikian baik, demikian sabar, murah hati, sekaligus juga tegas dengan menceraikan Maria tunangannya itu? Jawabannya di ayat 19. Yusuf adalah seorang yang tulus hatinya. Dalam pengertian lain, kata tulus disini adalah sebuah SIKAP HIDUP YANG MENTAATI HUKUM AGAMA. Artinya Yusuf adalah seorang yang taat kepada hokum-hukum Tuhan. Ia mencintai Taurat Tuhan, menggumuli Taurat Tuhan dan mentaati Taurat tersebut dalam hidupnya. Ketaatan kepada hokum Tuhan inilah yang sangat mempengaruhi semua tindakannya. Ketaatan pada hukum membentuk karakternya menjadi seorang yang penuh kasih, murah hati, penuh kebaikan tetapi juga seorang yang tegas.
Penerapan:
Tuhan ingin kita juga memiliki hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Tuhan ingin kita seperti Yusuf mencintai Firman Tuhan, menggumuli dan melakukannya dalam hidup. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan membentuk karakter hidup kita semakin lama semakin baik, menjadikan kita bijaksana dalam hidup dan bahkan membuat kita menjadi berkat bagi orang lain. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan memproses hidup kita semakin berkualitas dan memuliakan Dia. Kita yang dahulu seorang yang pemarah sekarang menjadi seorang penyabar; Kita yang dahulu pendendam sekarang menjadi seorang pengampun; kita yang dahulu seorang yang hanya mementingkan diri sendiri sekarang menjadi peduli kepada orang lain; Kita yang dahulu senang dalam dosa atau menjadi pembenci dosa; Kita yang dahulu kurang peduli kepada keluarga sekarang demikian sayang kepada keluarga. Demikian seterusnya.
Persoalannya, sudahkah Firman Tuhan mengubahkan hidup kita? Atau Firman Tuhan hanya penghias bibir kita; hanya menambah pengetahuan kita. Apakah Firman Tuhan sudah kita praktekkan dalam hidup kita. Seberapa banyak Firman Tuhan mengubahkan hidup kita. Atau kita di gereja mengangguk-angguk tetapi setelah keluar dari gereja kita lupa dengan apa yang kita iyakan di dalam gereja? Ilustrasi: Seorang jemaat memberi tahu pendetanya bahwa ia akan pergi ke Kota Suci Yerusalem. Ia menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Gunung Sinai. “Begini,” ujarnya kepada sang pendeta, “saya berencana mendaki sampai ke puncak gunung itu, dan setelah tiba di sana saya akan membaca Sepuluh Perintah Allah keras-keras.” Pria itu mengira perkataannya akan menyenangkan pendetanya. Jadi, ia terkejut saat mendengar tanggapan sang pendeta, “Tahukah Anda, saya dapat memikirkan suatu ide yang lebih baik dari itu.” Pria itu menyahut, “Benarkah, Pak Pendeta? Apakah itu?” Pendeta itu menjawab tanpa tedeng aling-aling, “Daripada menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer untuk membaca Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai, mengapa Anda tidak tinggal di rumah saja dan menaati sepuluh perintah tersebut?”
Jujur kita harus akui kekristenan kita terkadang hanya bersifat simbolis. Lebih banyak tampilan lahiriah yang kelihatannya rohani namun sebenarnya kita belum berubah sama sekali dari kehidupan kita yang lama.

Latar Belakang:
Pada waktu Yusuf hendak melaksanakan rencanaNya itu, ternyata Malaikat Tuhan datang berbicara kepada Yusuf lewat mimpi. Tuhan mencegah niat Yusuf untuk menceraikan tunangannya itu. Sebelumnya, Yusuf sama sekali tidak tahu rencana keselamatan dari Tuhan. Itu sebabnya, melalui mimpi Tuhan berfirman kepada Yusuf bahwa anak dalam kandungan Maria itu berasal dari Roh Kudus. Anak dalam kandungan yang kelak disebut Yesus itu sedang menjalankan misi penebusan bagi dosa manusia. Maria dan Yusuf dilibatkan dalam misi itu. Oleh sebab itu Yusuf diperintahkan untuk mengambil Maria sebagai istrinya.
Sebenarnya perintah dari Tuhan bukanlah hal yang gampang bagi Yusuf. Ia bisa saja tidak MENTAATI PERINTAH TUHAN ITU. Pertama, peristiwa itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa maria mengandung dari roh kudus. Kedua, Jika Yusuf mengambil Maria sebagai Istrinya, maka ia tentu akan memiliki TUGAS yang sangat tidak gampang dalam rencana Allah. Saudara lihat dalam perjalanan berikutnya, bagaimana Yusuf membawa keluarganya mengungsi ke Mesir karena ancaman Herodes. Yusuf kemudian membawa keluarganya ke Nazaret dan bersama dengan Tuhan Yesus hidup disana. Saudara juga ingat bagaimana Yusuf dengan Maria berusaha mencari Yesus di bait Allah ketika ia berumur 12 tahun. Tugas dan tanggung jawab Yusuf besar. Apakah Yusuf menolak? Ternyata tidak
Dalam ayat 24 dikatakan “sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat itu kepadanya.” Yusuf tidak bersoal jawab dengan Tuhan; Yusuf tidak mengajukan sejumlah argumentasi atau alasan untuk menolak perintah Tuhan. Yusuf TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN MENTAATI perintah Tuhan.
Penerapan:
Kehebatan atau kemampuan luar biasa yang kita miliki ketika mendengar perintah Tuhan adalah mengajukan banyak sekali alasan-alasan untuk menolak perintah Tuhan. Saya punya anak bungsu kalau saya suruh belajar, selalu mengajukan banyak alasan untuk menolak. Alasannya, malas lah, sakit perutlah, dan berbagai alasan lainnya. Tuhan memberikan banyak perintah kepada kita, namun banyak sekali alasan yang kita kemukakan untuk menolak perintah Tuhan.
– Perintah untuk beribadah kepada Tuhan dengan setia. Alasan: ada tamu, ada undangan, sakit perut, pekerjaan banyak, capek, waktu untuk keluarga.
– Perintah untuk melayani Tuhan: Alasan: tidak ada waktu, saya tidak suka orang itu.
– Masih banyak perintah lain yang kita tidak patuhi dengan alasan-alasan yang begitu banyak.

Penutup:
Ada sebuah kisah tentang seorang pria yang memberikan khotbah yang mengesankan. Ia adalah pendeta di sebuah gereja baru tersebut. Semua orang menyukai khotbahnya dan memilihnya untuk menjadi pendeta baru mereka. Namun, mereka agak terkejut ketika sang pendeta menyampaikan khotbah yang sama pada hari Minggu pertamanya di sana — dan lebih mengejutkan lagi, ia mengkhotbahkan hal yang sama lagi pada minggu depannya. Setelah ia memberikan khotbah yang sama selama tiga minggu berturut-turut, para pemimpin gereja menemuinya untuk mencari tahu alasannya. Pendeta itu meyakinkan mereka, “Saya tahu apa yang saya lakukan. Bila Anda semua sudah mulai menjalankan pesan khotbah tadi dalam hidup ini, barulah selanjutnya saya akan memberikan khotbah yang lain.”Bagaimana dengan anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: