Oleh: Faoziduhu | Desember 7, 2011

TETAPI AKU DAN SEISI RUMAHKU KAMI AKAN BERIBADAH KEPADA TUHAN (Sebuah Refleksi atas Yosua 24:15b) Di tuliskan di warta jemaat GKA Imanuel Lawang 4 Desember 2011


Hari ini kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan, karena kita menyelenggarakan sebuah sakramen dan upacara penting yakni Babtisan Kudus dan Peneguhan Sidi. Sebuah acara yang sangat penting dan monumental secara khusus bagi saudara-saudara kita yang akan menjalaninya. Bukankah babtisan dewasa dan Peneguhan sidi hanya terjadi sekali seumur hidup? Karena itu patutlah kita merayakan dan membesarkan namaNya yang kudus dan agung yang telah memilih, menentukan, memanggil, membenarkan dan memuliakan mereka yang sebenarnya tidak layak namun dilayakkanNya, tidak benar namun dibenarkanNya (Roma 8:29-30). Merayakan dan membesarkan nama Tuhan di peristiwa penting ini bukanlah sesuatu yang berlebihan apabila kita mengingat Firman Tuhan yang menyatakan bahwa “demikian juga aka nada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang berdosayang bertobat, lebih dari sukacita karena Sembilan puluh Sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (Lukas 157).
Babtisan memang tidak menyelamatkan. Yang menyelamatkan adalah ketika seseorang percaya dengan sungguh dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya (Yohanes 3:16; Roma 10:9-10). Namun bukan berarti babtisan tidak penting. Babtisan diadakan sebagai sebuah meterai, sebuah tanda bahwa seseorang telah menjadi milik Kristus. Demikian juga peneguhan sidi. Upacara ini tidak menyelamatkan. Namun merupakan sebuah penegasan akan babtisan kanak-kanak yang telah dikerjakan oleh niat orang tua mereka di masa lampau. Tetapi sekarang kanak-kanak yang telah bertumbuh dewasa tersebut dengan niat sendiri meresponi panggilan Tuhan kepada mereka untuk mengakui imannya di hadapan umum, bahwa mereka benar-benar percaya dan menjadikan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Oleh sebab itu babtisan dan upacara sidi adalah sebuah perayaan. Perayaan akan kasih anugerah Tuhan bagi mereka yang akan dibabtis dan sidi, sebab Tuhan telah menyatakan anugerahNya bagi mereka (Efesus 2:8-9). Mereka diselamatkan bukan karena usaha mereka namun semuanya adalah pemberian Allah. Tatapi bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi kita. Sebab Tuhan semakin menambah bilangan orang yang percaya dan tergabung dalam keluarga Allah sebagai satu tubuh yang terikat satu dengan yang lainnya.
Persoalannya bagaimakah kehidupan mereka selanjutnya sebagai orang beriman? Tetapi tidak hanya mereka namun juga bagi kita. Bagaimanakah hidup kita setelah dibabtis dan disidi? Pertanyaan yang sama juga diajukan oleh Yosua kepada bangsa Israel setelah mereka menduduki tanah kanaan. Apa yang dijanjikan Tuhan sekarang telah terbukti. Di bawah kepemimpinan Yosua, bangsa itu berhasil menduduki tanah Kanaan dan menumpas habis penduduknya. Persoalannya sekali lagi bagaimanakah kehidupan bangsa itu selanjutnya? Terlebih ketika Yosua sudah lanjut umurnya. Apakah mereka tetap setia kepada Allah atau tidak? Kalau kita membaca perikop ini secara lengkap, maka kita melihat bahwa Yosua dan bangsa itu memilih untuk tetap beribadah kepada Allah dan menolak beribadah kepada allah lain. Dimulai dari Yosua dan keluarganya selanjutnya bangsa itu keluarga demi keluarga sepakat untuk beribadah kepada Tuhan dan menolak beribada kepada allah lain (Yosua 24:16). Komitmen bersama ini dikenal dengan perjanjian sikhem. Sebuah traktat perjanjian yang di simbolkan dengan batu yang besar yang didirikan dibawah pohon besar di tempat kudus Tuhan (ayat 26).
Tetapi apakah pernyataan ini benar-benar di wujudkan oleh bangsa Israel? Benar. orang-orang yang hidup sezaman dengan Yosua konsisten dengan sumpah mereka di hadapan Tuhan, bahwa mereka akan tetap setia menyembah kepada Tuhan. Untuk hal ini kita patut angkat jempol dan menjadikan mereka sebagai teladan rohani yang baik. Bukankah mereka sendiri yang bersumpah di hadapan Tuhan untuk tetap berpaut kepadanya. Namun masalahnya perjanjian ini bukan hanya mengikat kepada satu generasi tetapi perjanjian antara Tuhan dan sebuah bangsa yakni Israel. Bisa saja generasi Yosua demikian taat kepada Tuhan namun bagaimana dengan generasi berikutnya? Jika generasi berikutnya gagal untuk mewujudkan perjanjian itu, maka dengan otomatis menciderai secara keseluruhan perjanjian yang telah dibuat. Alkitab mencatat bahwa generasi sesudah Yosua adalah generasi yang tidak mengenal Allah dan tidak beribadah kepadaNya (Hakim-hakim 2:10). Dengan demikian menjadi jelas bahwa israei telah ingkar atau menodai perjanjian Sikhem. Maka akibatnya, bangsa itupun dihukum oleh Tuhan dengan berbagai persoalan yang timbul dari bangsa-bangsa di sekitar mereka yang sering mengganggu mereka.
Bercermin dari kehidupan bangsa Israel dengan perjanjian di Sikhem, baiklah saudara-saudara kita yang hari ini di babtis dewasa dan sidi juga boleh menetapkan hati untuk berpaut hanya kepada Tuhan dan tidak kepada yang lain. Berjanji (bersumpah) di hadapan Tuhan untuk tetap konsisten sampai akhir hidup mereka beribadah dan hanya beribadah kepada Allah. Babtisan dan sidi seperti sebuah perjanjian di Sikhem antara Allah dan Israel demikian juga sekarang antara Tuhan Yesus dengan mereka yang akan dibabtis dan di sidi. Akankah mereka tetap konsisten dengan perjanjian ini? Ataukah mereka dikemudian hari menjadi lupa atau pura-pura lupa, dengan sengaja mengingkari perjanjian dengan Tuhan, dengan sadar meninggalkan Tuhan dan berpaut kepada allah lain. Dengan gampangnya mereka dikemudian hari “menjual/membuang” imannya, ingkar kepada Yesus dan sudah tidak lagi mengakuiNya di hadapan manusia? Ingat Firman Tuhan, Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7). Kiranya Tuhan menolong mereka melewati jalan lurus dan sempit ini, memikul salib dengan setia hingga suatu saat nanti kita semua tiba di sorga dan Tuhan berkata “engkau hambaKu yang setia, masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu (Matius 25:23).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: