Oleh: Faoziduhu | November 12, 2011

BILA AKU SEPERTI DIA (Mempertajam jiwa altruis kita)


Pada suatu ketika seorang anak kecil mendatangi rumah pendetanya. Setelah bertemu dengan sang pendeta, si anak sambil menangis menceritakan bahwa dirumahnya ada yang sakit. Tanpa bertanya lagi si pendeta segera pergi ke rumah si anak kecil itu. Sewaktu tiba di tempat yang dituju. Si pendeta ini heran, sebab si anak tidak mempersilahkan dia masuk rumah, tetapi justru mengajaknya berjalan mengitari rumah ke belakang dan ternyata ke kandang kambing milik keluarga anak kecil ini. Alangkah terkejutnya si pendeta melihat bahwa yang sakit ternyata hanya kambing anak kecil ini. Dalam hati si pendeta menyesal mengapa tadi tidak bertanya siapa yang sakit. Hatinyapun sangat “dongkol dan menggerutu.” Si anak ini minta pendetanya mendoakan kambingnya. Si pendeta ini karena “setengah mangkel” menumpangkan tangannya di tubuh kambing yang sakit sambil berdoa demikian “ha kau kambing, kalau hidup hiduplah, kalau mati matilah.”
Beberapa bulan kemudian, si pendeta ini jatuh sakit. Jemaatnya berdatangan memberikan hiburan dan mendoakan si pendeta. Anak kecil yang kambingnya didoakan pendetapun datang. Di dekat pembaringan pendeta itu, si anak minta ijin untuk mendoakannya. Si pendeta dengan senang mau didoakan oleh anak kecil itu. Maka untuk meyakinkannya, anak kecil itu menumpangkan tangannya di dahi si pendeta sambil berdoa “hai pak pendeta kalau kau hidup hiduplah, kalau kau mati matilah.” Si pendeta langsung kaget dengan doa itu. Kaget sekaligus ingat dengan doa yang sama pernah diucapkannya ketika mendoakan kambing anak kecil itu.
Anekdot di atas sebenarnya merupan sindiran yang sangat tajam bagi tiap kita. Seringkali apa yang baik yang kita ingin orang lain lakukan kepada kita, tetapi hal itu kita tidak lakukan kepada orang lain. Maka yang sering terjadi adalah apa yang baik yang ingin kita dapatkan dari orang lain, itu kita tidak dapatkan, sebab kita tidak pernah “memberikan” atau melakukannya terhadap orang lain. Suatu hari seseorang menyampaikan protes kepada pendetanya, mengapa kalau di rumahnya diadakan kebaktian rohani, yang datang sedikit sekali. Tetapi mengapa kalau di rumah orang lain, yang datang berjubel. Iapun protes dan mengira karena ia kurang mampu, makanya yang datang sedikit sekali. Si pendetapun menjawab dengan tegas “bagaimana engkau menginginkan orang banyak datang ke rumahmu, jika engkau sendiri tidak pernah menghadiri kebaktian di rumah orang lain.” Kisah-kisah diatas seolah-olah menunjukan bahwa ada “balas membalas” ada hukum sebab akibat ada hukum “memberi dan mendapat” yang merupakan hukum lisan dalam kita bersosial dan prinsip itu ternyata diadopsi dalam gereja. Apakah saya baru mengasihi kalau saya lebih dahulu mengasihi? Apakah saya baru memberi jika saya pernah mendapat? Apakah saya memperhatikan orang lain, jika kebutuhan saya diperhatikan telah terpenuhi?
Memang prinsip “memberi dan mendapat” yang merupakan bagian dari hukum sosial masyarakat kita tidak bisa kita hindari bisa mempengaruhi cara kita bergereja. Saya ambil contoh misalnya si A menikahkan anaknya dan ia bermaksud mengadakan resepsi pernikahan. Berhubung keterbatasan dana, ia pasti akan sangat selektif dalam mengundang bukan. Tidak semua yang dia kenal dia undang. Ia memberi undangan secara terbatas. Pertama-tama keluarga terdekat, lalu kemudian pasti ia memperhitungkan orang-orang yang pernah mengundangnya dalam acara serupa. Demikian juga halnya dengan orang yang diundang. Ia bisa saja membuka data-data yang ia punya melihat berapa angpao yang pernah di terima dari orang yang kali ini mengundangnya ketika anaknya menikah dulu. Ia pasti tidak akan memberi dibawah nilai tersebut bukan? Coba kalau tidak diundang, coba kalau angpaonya lebih kecil, kan bisa jadi bahan perbincangan dan bahan cibiran bukan? Maaf, kebetulan ini orang Kristen. Walaupun kebiasaan “balas membalas” ini tidak semua orang melakukannya, tetapi pada umumnya demikian. Ini memang jiwa social masyarakat kita.
Kalau begitu nilai-nilai social yang bersifat duniawi sama saja dengan nilai kekristenan. Saya katakan tidak. NIlai Kristen berbeda dari itu. Pertama, mari kita lihat apa yang dituliskan Lukas dalam pasal enam ayat tiga puluh satu demikian “dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.”dari pernyataan ini, jelas mengandung nilai-nilai kristiani yang dalam sekali. Pertama, bahwa kita harus lebih dahulu berbuat dan tidak harus menunggu orang lain berbuat baik lebih dahulu kepada kita. Banyak orang Kristen enggan berbuat sesuatu yang baik kepada orang lain jika dia tidak terlebih dahulu mendapatkan sesuatu dari orang itu. Contoh, suatu ketika seorang jemaat cerita kepada saya bahwa ia melihat ada seorang jemaat yang tidak mau menyapa atau tersenyum kepadanya setiap kali bertemu. Itu sebabnya iapun tidak mau menyapa atau tersenyum kepada orang tersebut. Ia bertekat dalam hatinya, bahwa ia baru akan mau menyapa dan tersenyum, bila orang itu lebih dulu menyapanya. Sikap ini tidak baik dan bertentangan dengan nilai-nilai yang Tuhan ajarkan. Tuhan mengajarkan supaya kitalah yang lebih dahulu melakukan kebaikan kepada orang lain. Bahkan lebih lagi Tuhan Yesus mengajar kita bahwa jika kita mengasihi/berbuat baik kepada orang yang lebih dulu mengasihi kita, apakah jasa kita? Dengan kata lain, apa istimewanya kebaikan kita itu? Tidak ada istimewanya. Sebab orang berdosapun melakukan hal yang sama bukan (Luk 6:32). Jadi, kebaikan yang kita buat bukan disebabkan oleh kebaikan orang lain, tetapi kebaikan itu sendiri adalah merupakan kewajiban, tanpa harus menunggu orang lain berbuat baik lebih dahulu kepada kita.
Kedua, ketika kita berbuat baik kepada orang lain, kita tidak boleh mengharapkan sebuah balasan yang setimpal dengan kebaikan yang kita telah perbuat. Tuhan Yesus bahkan dengan tegas berkata “jangan meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaannmu.” Dalam konteks kebaikan dan kasih yang kita tunjukkan, Tuhan mengajar kita untuk tidak mengharap apalagi meminta balasan. Artinya, jika suatu ketika kita tidak mendapat balasan apa-apa, bahkan ketika kita justru mendapatkan “tuba” seperti pepatah mengatakan air susu dibalas dengan air tuba, kita tidak berhak untuk menuntut kembali kebaikan kita.
Dari dua nilai nyang terkandung dalam makna diatas, sekarang kita bergerak ke arah yang lebih dalam lagi yakni yang ketiga. Sebelum kita berbuat baik kepada orang lain, kita harus memikirkan satu hal. Kita harus menempatkan diri kita dalam diri orang lain dengan cara memikirkan perasaan/kebutuhan kita sendiri. Suatu saat ketika anda menghadapi persoalan anda butuh pertolongan orang bukan? Anda pasti senang diperhatikan bukan? Anda pasti terharu jika suatu saat anda sakit dan dikunjungi oleh orang lain bukan? Anda pasti merasa berterimakasih sekali jika anda mengalami kedukaan lalu orang datang menghibur dan turut berduka dengan anda bukan? Demikianlah kira-kira pemikiran, perasaan atau kebutuhan orang lain. Maka perbuatlah! Lakukanlah! Penuhilah! Berikanlah, apa yang diperlukan orang lain.
Tahukah anda kedalaman kebaikan dan kasih Tuhan itu? Ia rela menjadi manusia. Ia menempatkan dirinya dalam posisi kita bukan? Ia turut merasakan penderitaan kita. Tetapi tidak hanya turut merasakan, ia sendiri telah mengalami bagaimana menjadi manusia yang menderita. Proses “menjadi” manusia sebenarnya gagasannya sama saja dengan pesan Tuhan Yesus tadi. Yesus tidak hanya memikirkan bagaimana seandainya jika saya menjadi manusia dengan segala penderitaannya. Lebih dari itu ia menjadi manusia dengan segala deritanya. Untuk bisa menempatkan diri kita dalam keadaan atau posisi orang lain. Atau dengan kata lain, bila aku seperti dia. Itu bukan persoalan gampang. Sesuatu yang sangat sulit untuk bisa bersikap demikian. Memiliki cara pandang seperti yang Yesus ajarkan, di dalam menempatkan diri kita dalam keadaan orang lain, tidak cukup. Mengamini bahwa apa yang kita ingin orang lain lakukan terhadap kita, kita perbuat kepada orang lain, sekali lagi tidak cukup. Kita harus memiliki padangan yang lebih radikal dari itu. Selama ini focus hidup kita selalu berpusatpada diri kita sendiri. Kita hanya peduli dengan diri sendiri, kita hanya mementingkan diri kita sendiri. Bahkan kita cenderung mengasihani diri kita sendiri. Ini memang cirri manusia yang sudah jatuh dalam dosa.
Tetapi orang yang sudah menganggalkan manusia yang lama, tidak lagi memiliki sikap seperti itu. Ia tidak lagi mementingkan dirinya sendiri. Tetapi sekarang dalam cara pandang yang baru, ia melihat keluar, melihat sesama dan mempertebal kasih kepada sesama, seperti hukum yang Tuhan ajarkan. Memang status kita dari manusia lama kepada manusia baru berlangsung dalam sekejab. Begitu kita terima Yesus sebagai Juruselamat pribadi, secara otomatis status kita telah berubah dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran. Tetapi untuk benar-benar menjadi manusia yang baru yang memancarkan kualitas kehidupan yang baru itu tidak bisa terjadi dalam sekejab. Butuh proses yang lama, bahkan berlangsung seumur hidup. Orang yang benar-benar menganggap dirinya baik dan tidak bercela justru menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya.
Tetapi mengapa banyak orang Kristen tidak berubah-ubah juga? Dari dulu sampai sekarang tetap saja sikapnya demikian. Jawabnya karena orang Kristen tersebut tidak mau berubah dan tidak mau diubah. Keduanya, baik berubah maupun diubahkan saling terkait satu sama lain. Perbuatan dan sikapnya masih tetap seperti yang lama. Tidak peduli dengan orang lain, sulit empati dengan sesame, berat menolong orang lain, hanya mementingkan diri sendiri. Orang semacam ini tidak bertumbuh dalam Firman. Banyak factor yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, mungkin ia sendiri tidak dekat dengan Firman Tuhan. Jarang mendengar Firman Tuhan, jarang ke gereja, jarang baca Firman, jarang doa dan seterusnya. Kedua, mungkin ia mendengar Firman Tuhan tetapi setan selalu merampas firmannya yang didengarnya sehingga tidak bertumbuh.
Ketiga, mungkin ia mendapat Berkat dari Firman yang ia dengar, yang menegur hidupnya. Ia berkomitmen untuk melakukannya. Tetapi banyak “duri” yang menghambat dan merintangi dirinya untuk melakukannya. Duri yang dimaksud bisa permasalahan hidup, bisa lingkungan, bisa temperamen, bisa keangkuhan hidup dan sebagainya. Bukankah ada orang Kristen ketika mendengar Firman tentang kemurahan hati, sudah bertekad untuk melakukan kemurahan kepada orang lain dalam wujud tindakan nyata misalnya membantu sesame jemaat yang lagi kesusahan. Namun ada “duri” yang menghalanginya untuk melakukan hal itu. Bisa anggota keluarganya, bisa kesibukan yang menyebabkan ia lupa dengan komitmennya, atau duri-duri lain yang menghamatnya melakukan Firman Tuhan.
Mempertajam jiwa altruis tidak hanya dengan mendengar, mengubah paradigm, tetapi perlu sebuah latihan kepekaan terhadap orang lain. Harus diakui bahwa ada orang-orang Kristen tertentu yagng tidak memiliki kepekaaan terhadap orang lain. Mereka hanya terfokus terus pada diri sendiri. Mereka yang memang memiliki karakter tertentu dan dibentuk dalam latar belakang keluarga yang antipasti terhadap orang lain akan harus lebih banyak berjuang dan memohon kuasa Roh Kudus untuk diubahkan menjadi orang yang berjiwa altruis, sekalipun itu merupakan perjuangan panjang selama bertahun-tahun setelah mereka “lahir baru.”
Ada beberapa saran yang saya bisa ajukan untuk mempertajam kepekaan kita terhadap orang lain. Pertama-tama, saya memakai istilah buka mata buka telinga. Tidak ada salahnya kita membaca atau menyaksikan peristiwa-peristiwa tragedi yang menimpa orang lain. Ini tidak buang-buang waktu. Kebanyakan kisah yang telah dibukukan atau diliput di televisi adalah kisah-kisah nyata yang ternyata banyak menggugah hati dan perasaan kita yang paling dalam. Memang ada peristiwa-peristiwa yang kita dengar dan saksikan di media tidak memiliki tujuan untuk mempertajam jiwa altruis kita, namun mengandung filosofi-filosofi yang justru bertolak belakang dengan tujuan yang saya maksudkan dengan yang pertama ini. Oleh sebab itu selektiflah di dalam menyaksikan tayangan-tayangan yang berbobot,mendidik sekaligus mempertajam kepekaan kemanusiaan kita.
Kedua, walaupun bukan tujuan utama, tetapi puasa merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk penyangkalan diri. Orang zaman dahulu melakukan pertapaan dengan menjauhi segala betuk kemewahan dan “hal-hal duniawi” bukan hanya bertujuan “meningkatkan iman” tetapi juga melatih kepekaan terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Pada umumnya para pertapa hidup dengan meditasi dan puasa. Diharapkan melalui pertapaan itu, mereka mengenal bagaimana hidup dalam segala penderitan. Bahkan dalam sejarah gereja, kita mengenal kelompok-kelompok keagamaan tertentu dalam rangka mempertajam kepekaan terhadap penderitaan sesama dengan menjual harta mereka dan menjadi orang miskin.
Kita memang tidak harus jadi pertapa atau masuk dalam kelompok orang-orang yang “memiskinkan diri.” Namun dengan puasa, kita bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam penderitaan. Sekali lagi ini bukan tujuan utama. Puasa juga tidak bertujuan menyiksa diri sendiri, tetapi memiliki tujuan rohani yang mulia. Bukankah Yesus pernah lapar? Kapan Yesus lapar? Yesus dicatat pernah lapar dalam beberapa peristiwa. Tetapi Yesus pernah lapar ketika Ia berpuasa 40 hari lamanya di padang gurun bukan? Jika Yesus pernah merasakan artinya lapar dalam puasa panjangnya, maka tidak heran ketika Yesus menyuruh murid-muridNya memberikan makan lima ribu orang. Yesus berkata “kamu harus memberi mereka makan.” Kitab-kitab sinoptik mencatat bahwa “Yesus memandang mereka dan tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Belas kasihan Yesus memang didasari kedaulatanNya yang tidak bisa diganggu gugat. Tetapi belas kasihan semacam itu di dalam kemanusiaanNya yang pernah merasakan kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 4:16), ikut memberikan andil yang tidak bisa kita abaikan. Ia penah menderita, hanya Ia tidak berbuat dosa.
Ketiga dengan sekolah penderitaan. Setiap kita tidak ingin menderita. Kita tidak ingin lapar, kita tidak ingin hidup miskin, kita tidak hidup sendiri, kita tidak mau ditinggal oleh orang-orang yang kita kasihi. Kita tidak ingin sakit. Namun kenyataan menunjukkan bahwa penderitaan-penderitaan semacam itu kita alami dalam hidup kita. Kita tidak bisa menghindari kenyataan penderitaan yang sewaktu-waktu kita alami, sekalipun kita sudah di dalam Tuhan. Setiap penderitaan yang kita alami dalam hidup kita, terjadi dengan seizin Tuhan (ini merupakan bagian dari penjabaran doktrin kedaulatan Allah yang dianut gereja reformed). Tuhan punya tujuan mulia dibalik penderitaan yang kita alami. Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang buruk bagi kita. Rancangan Tuhan selalu baik. Di balik derita pasti ada tawa, dibalik dukacita pasti ada kebahagiaan bahkan dibalik kesusahan iman bertambah.
Nah, dalam kerangka pemikian semacam inilah kita bisa memahami bahwa penderitaan yang kita alami merupakan sekolah. Tempat pembentukan. Tempat mengasah kepekaan kita. Jika kita pernah sakit diharapkan kita bisa empati terhadap orang sakit. Jika kita pernah kehilangan orang yang kita kasihi, diharapkan kita lebih peka ketika menyaksikan orang lain mengalami hal yang sama. Ketika kita pernah miskin, diharapkan kita bisa empati dengan mereka yang sedang kesulitan ekonomi. Ketika istri saya diopname dan dioperasi di rumah sakit beberapa bulan lalu. Saya belum memahami tujuan Tuhan yang mulia dibalik sekolah penderitaan itu. Saya tidak hanya kuatir, susah tetapi juga secara fisik harus mencurahkan perhatian merawat istri sampai sembuh. Siapa menyangka dibalik penderitaan dan kesusahan yang saya alami berkaitan dengan sakit istri, Tuhan sedang melatih kepekaan saya terhadap mereka-mereka yang mengalami hal yang sama.
Memang tidak serta merta orang yang pernah mengalami penderitaan akan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Kadangkala ini butuh waktu yang cukup lama untuk menyadarkan kita akan hal itu. Kita sering memandang penderitaan hidup bukan sebagai sekolah tetapi sebagai neraka, sebagai aib, sebagai kutuk yang sebisa mungkin jauh dari hidup kita. Ketika kitapun akhirnya atau pernah menagalaminya, kita berusaha untuk melupakannya atau menganggap hal itu adalah pengalaman pribadi kita sendiri dan tidak ada kaitannya dengan pengalaman penderitaan orang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: