Oleh: Faoziduhu | Oktober 19, 2011

PENGAKUAN-PENGAKUAN


Baru-baru ini kita dihebohkan dengan kasus Gayus Tambunan. Seorang pegawai pajak yang ditengarai melakukan korupsi dan pencucian uang. Setelah ditangkap di Sangapura, Gagus dibawa ke Jakarta dan diinterogasi atau disidik di Mabes Polri. Hasil penyidikan itu menurut berita di berbagai media, gayus menyampaikan berbagai pengakuan-pengakuan yang mengejutkan, baik keterlibatan dirinya maupun keterlibatan pejabat-pejabat terkait lainnya dalam permasalahan penyalahgunaan wewenang yang mengarah pada korupsi maupun pencucian uang. Dari pengakuan ini, kemudian muncullah tersangka-tersangka baru yang diindikasikan sebagai sindikat makelar kasus.
Pengakuan adalah sebuah kata kunci dalam sebuah penyelidikan atau penyidikan. Tanpa pengakuan, suatu perkara tidak dapat ditingkatkan ke penuntututan dan seseorang tidak bisa ditingkatkan statusnya dari diindikasikan menjadi tersangka dan selanjutnya menjadi terdakwa. Pengakuan memegang peranan yang sangat penting dalam dunia hokum manapun di dunia ini. Namun pengakuan juga merupakan kata kunci penting dalam dunia rohani, khususnya dalam kekristenan. Di dalam liturgy kita dikenal adanya dua istilah pengakuan.Yang pertama disebut dengan pengakuan dosa dan yang kedua dikenal dengan pengakuan iman.
Kedua-duanya disebut dengan nama pengakuan. Namun makna dan tujuannya berbeda. Pengakuan pertama disebut pengakuan dosa sedangkan yang kedua disebut dengan nama pengakuan iman.Pengakuan dosa diletakkan di awal sedangkan sedangkan pengakuan iman diletakkan menyusul. Pengakuan iman bisa diletakkan ditengah-tengah atau paling belakang setelah khotbah, tergantung denominasi gereja yang mengaturnya. Namun setiap penempatan pengakuan dalam susunan liturgy memiliki makna filosofi tersendiri yang tidak bisa saya jelaskan secara rinci dalam tulisan ini, mengingat keterbatasan tempat.
Baiklah saya akan membahas yang pertama mengenai pengakuan dosa. Jika merujuk kepada Yesaya pasal 6:1-8 yang menjadi dasar liturgi kita hari ini, maka akan sangat jelas bahwa pengakuan dosa adalah merupakan unsur penting dan tidak dapat diabaikan dalam susunan liturgy reformasi. Banyak gereja yang menganggap remeh atau mengabaikan pengakuan dosa dalam susunan liturginya. Mereka berargumen bahwa kita adalah umat yang kudus,umat yang sudah diselamatkan, umat yang sudah dilayakkan oleh Tuhan, umat yang suci.Karena itu tidak tepat kalau kita setiap kali ibadah mohon pengakuan dosa. Seolah-olah kita belum bertobat, belumdiselamatkan belum disucikan. Argument lainnya adalah bahwa pengakuan dosa merupakan bagian dari liturgy gereja katolik . Oleh sebab itu pengakuan dosa tidak perlu dimasukkan dalam susunan liturgy gereja protestan. Alasan terakhir adalah bahwa seolah-olah dengan kita memasukkan unsure pengakuan dosa dalam liturgy kita, maka kita membuka peluang bagi jemaat untuk meremehkan dosa, mengulangi dosa yang sama. Logikanya demikian, kita bebas berbuat dosa, sebab tiap Minggu kita akan mengakui dosa dan mendapatkan pengampunan Tuhan.
Argumen-argumen diatas tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak pengakuan dosa dalam susunan liturgy kita. Memang benar, kita adalah umat yang kudus, kita sudah diselamatkan, kita telah lahir baru. Namun status kita yang baru, tidak menjadikan kita serta merta steril dari dosa. Kenyataan membuktikan bahwa setiap hari ada banyak pelanggaran, ada banyak pengingkaran, ada banyak ketidak taatan yang kita lakukan di hadapan Tuhan. Jika kita menafikan hal itu, maka seperti Yohanes katakana kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Kalau kita tidak menyadari keterbatasan dan kelemahan bahkan dosa kita dan jika kita tidak mengakuinya dengan jujur, maka kita bisa saja seperti gayus yang semula tidak mengakui kesalahannya. Tetapi Yohanes katakana bahwa jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil dan akan mengampuni dosa kita.
Memang benar bahwa pengakuan dosa adalah merupakan bagian dari susunan gereja lama. Namun, tidak berarti bahwa semua hal yang terdapat dalam susunan liturgy gereja lama adalah salah dan harus dibuang. Justru kalau kita jujur, susunan liturgy gereja kita hari ini banyak mengadopsi susunan liturgy gereja katolik. Argument terakhir yang menyatakan bahwa dengan adanya pengakuan dosa, menyebabkan kita meremehkan dosa, adalah sebuah kekeliruan. Pengakuan dosa tidak memilki kolerasi dengan menganggap remeh dosa dan kecenderungan mengulanginya. Memang bisa saja ada orang yang berpikiran demikian. Tetapi pemikiran semacam itu adalah tidak benar. Tuhan adalah Tuhan yang adil dan Ia tidak ingin umatNya mempermainkan anugerahNya yang berlimpah itu. Apa yang ditabur orang itu yang akan dituainya. Setiap dosa sekalipun telah diampuni akan tetap memiliki konsekwensi logis yang ditanggung pelakunya.
Karena, itu jika kita datang e hadapanNya dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan, Tuhan akan menerima kita apa adanya kita. Ia akan mengampuni dan memulihkan kita dari segala dosa kita. Pengakuan dosa adalah merupakan bagian yang sangat terpenting dalam kehidupan kita beriman. Pengakuan dosa bersifat pribadi dan mengikikat antara kita dengan Tuhan. Tuhanlah yang menyelidiki dan menyidik hati manusia yang paling dalam. Roh Kudus berkaya menginsyafkan kita akan pelanggaran dan dosa kita. Jika Tuhan berkerja dalam hati manusia, maka tidak ada yang bakal menggagalkannya.
Pengakuan berikutnya adalah pengakuan iman. Pengakuan iman merupakan sentral dari keyakinan gereja sampai hari ini. Gereja tetap eksis dan melayani dalam tugas perutusannya adalah karena gereja telah merumuskan dengan jelas pengakuan imannya. Ditengah-tengah serangan ajaran sesat, gereja di zaman bapa gereja merumuskan pengakuan iman yang sekarang kita kenal dengan pengakuan iman rasuli. Hingga hari ini, serangan bidat, pengaruh ilah dunia dan pekerjaan iblis dapat membelokkan dan menghancurkan gerejaNya. Jika gereja tidak memiliki dasar yang jelas, maka gereja dapat saja diombang-ambingkan. Pengakuan iman bukanlah sejumlah kalimat yang mengandung unsure magis, juga bukan kalimat-kalimat klise penghias liturgy, tetapi pengakuan iman merupakan penegasan umat Tuhan di segala zaman dan tempat yang mengaku dan percaya.
Sangat disayangkan banyak gereja yang tidak membacakan pengakuan iman atau tidak memasukkan pengakuan iman dalam susunan liturgy gerejanya. Pengakuan iman diabaikan dan dibuang dari susunan liturgy gereja. Mereka berargumen pengakuan iman sudah ketinggalan zaman dan merupakan produk gereja tua. Ada yang beargumen bahwa pengakuan iman tidak alkitabiah sehingga tidak perlu dibacakan dalam ibadah gereja. Bahkan ada yang beranggapan karena pengakuan iman merupakan buatan manusia, maka tidak perlu dibacakan dalam ibadah.
Semua alasan diatas tidak benar dan keliru. Justru gereja yang mengabaikan atau membuang pengakuan iman dari ibadahnya gampang terombang-ambing dan mudah disesatkan. Jika mereka mereka melihat ajaran baru atau pola ibadah baru yang lebih menarik, maka mereka menirunya, tanpa mempertimbangkan apakah itu sesuai dengan Firman Tuhan dan pengakuan iman atau tidak. Sekalipun pengakuan iman telah berabad-abad lamanya namun tetap relevan untuk gereja sampai hari ini. Tidak ada satupun dari kalimat pengakuan iman kita yang dianggap tidak relevan dan ketinggalan zaman. Pangakuan iman selalu berdasar pada Firman Tuhan. Pengakuan iman mengacu kepada Alkitab.karena itu tidak ada alasan mengatakan pengakuan iman tidak Alkitabiah. Memang pengakuan iman dirumuskan oleh manusia, tetapi mereka adalah orang-orang terpilih yang dipakai oleh Tuhan untuk menyusun pengakuan iman sekaligus dipakai Tuhan untuk menjaga kemurnian ajaran gereja di zamannya.
Sekalipun pengakuan iman dan pengakuan dosa menegaskan pengakuan kita hari ini, baik di dalam suasana ibadah maupun juga dalam seluruh perjalanan hidup kita, tetapi unsure-unsur lain dalam liturgy kita sebenarnya mengandung pengakuan-pengakuan. Ambil contoh sedehana misalnya ketika kita kita membahas tentang puji-pujian. Sadar atau tidakketika kita memuji Tuhan, sebenarnya kita sedang mengaku banyak hal berkaitan dengan iman kita, mengaku keberadaan kita yang sebenarnya bahkan mengaku bahwa kita berdosa dan tidak layak menghadap kekudusanNya namun dalam kebaikan dan kasihNya sekali lagi kita mengaku bahwa Ia menerima kita dan memulihkan kita. Pengakuan-pengakuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: