Oleh: Faoziduhu | September 25, 2011

TERKUTUKLAH ORANG YANG MENDEWAKAN MANUSIA


Hukum pertama dari urutan ke-10 hukum adalah “jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3). Aturan atau perintah ini sangat jelas, lugas dan padat. Orang Israel zaman dahulu sudah mengerti maksud dari perintah ini. Ditengah-tengah gempuran tawaran keyakinan lain yang dianut bangsa-bangsa lain, orang Israel bukan tidak mungkin akan tergoda dan terpikat dengan berbagai macam keyakinan kafir yang menarik dan memikat hati. Bangsa-bangsa di luar israel yang bersinggungan langsung dengan sejarah israel pada umumnya adalah penganut Polyteisme. Disamping itu mereka juga berhadapan dan melihat langsung objek keyakinan mereka. allah sembahan mereka adalah allah yang kelihatan. Mereka memiliki patung-patung, benda-benda yang diyakini sebagai ilah yang bisa melindungi dan memberkati mereka. Patung-patung atau berhala-berhala tersebut bisa dianggap sebagai media untuk berhubungan dengan dewa yang tidak kelihatan, namun juga bisa merupakan obyek langsung dari penyembahan mereka. Jadi hukum “jangan ada padamu allah lain di hadapanKu” secara harafiah bisa diartikan jangan ada padamu berhala lain di hadapanKu.
Namun “allah lain” yang dimaksud tidak hanya dipahami sebagai benda-benda mati seperti patung-patung berbagai bentuk, namun ilah yang dimaksud juga bisa menyangkut mahluk yang hidup, yaitu manusia. Ketika orang Israel menetap di Kanaan dan bahkan ketika mereka sudah di pembuangan, bangsa Israel menyaksikan sistem keyakinan agama lain yang dianut bangsa-bangsa di sekitar mereka yang demikian menarik hati. Mereka menyembah raja atau orang-orang sakti yang dianggap memiliki kemampuan ilahi untuk melindungi, menjaga dan memberkati mereka. Anggapan ini tidak hanya disebabkan oleh kedudukan dan kuasa yang dimiliki obyek yang disembah, namun juga adanya keyakinan mitos lain yang menganggap bahwa Raja adalah titisan dewa dari surga, keturunan dewa atau mahluk setengah dewa. Penyembahan kepada raja tidak datang dengan sendirinya. Ada kalanya rakyatlah yang mendewakan rajanya (bd Kis 12:22), namun bisa jadi rajalah yang menganggap dirinya sendiri sebagai ilah (Daniel 6:8-10).
Hukum Tuhan ini tentu juga berlaku bagi orang Kristen sebagai Israel rohani (bd Roma 4:11-12). Bahwa orang Kristen dilarang untuk memiliki “allah lain” selain Allah yang Esa, yang kudus dan benar. Konsekwensi atas pelanggaran hukum ini sangat mengerikan. Allah yang akan membalas dengan kebencian yang sangat besar. Pembalasan ini akan dilampiaskan kepada anak-anak dan bahkan kepada keturunan ke tiga dan keempat. Oleh sebab itu kita tidak boleh menganggap remeh hukum Tuhan yang pertama ini. Mengapa saya katakan demikian, sebab di zaman kita hari ini, “alllah lain” dapat hadir dalam konsep-konsep lain yang baru sama sekali. Kadang tidak terdeteksi dan kadang tidak terasa. Namun ia hadir dan dia dipercayai. Entah disadari atau tidak ada banyak bentuk “ilah lain” yang menjadi rujukan obyek sembahan kita. Salah satu obyek sembahan itu seperti disebut di judul artikel ini adalah manusia. Siapa, bagaimana dan kapan manusia mendewakan sesamanya? Ulasan ini akan saya jelaskan di bawah ini.
Seperti sudah dipaparkan diatas, bahwa manusia mendewakan atau meng-ilahikan sesama atau meng-allahkan dirinya, itu sudah muncul dalam kultur dan keyakinan masyarakat kuno dan bahkan bila ditelisik lebih jauh lagi maka sejak zaman mula-mula, ketika manusia jatuh dalam dosa Iblis telah membisikkan “mantera” sakti tentang “menjadi seperti Allah” kepada manusia pertama (Kejadian 3:5). Kalimat “menjadi seperti Allah” demikian menggoda sehingga wanita pertama “termakan” ucapan iblis yang kemudian memakan buah terlarang itu (kejadian 3:6 perhatikan kalimat “menarik hati karena memberikan pengertian” dan sejajarkan dengan kalimat iblis sebalumnya “kamu akan menjadi seperti Allah tahu tentang yang baik dan yang jahat.”). Pendewaan atau peng-ilahian terhadap manusia merupakan bentuk agama atau penyembahan yang demikian menarik dan unik. Dibandingkan dengan penyembahan kepada benda-benda mati, peng-ilahian manusia sebagai mahluk hidup memiliki keunggulan tersendiri. Pertama, manusia bisa langsung berinteraksi dengan penyembah-penyebahnya. Ia bisa memberikan pertanyaan dan jawaban secara langsung. Kedua, manusia itu hidup sedangkan benda-benda itu jelas mati dan tidak bergerak. Ketiga, manusia itu bisa memberikan perlindungan, pertolongan dengan kuasa yang dimilikinya. Keempat, manusia sebagai obyek sembahan bisa tampil dengan berbagai kemegahan, keagungan dan keindahan yang tentu tidak sama dengan benda-benda yang hanya berharap pada “tangan-tangan” manusia yang mengukir, memperindah dan mempercantik dirinya.
Pedewaan atau pengkultusan terhadap manusia bisa disebabkan dari dua arah. Pertama dari manusia sebagai obyek sembahan tersebut. Ia memang dengan sengaja atau berkeinginan untuk dijadikan “dewa” atau di kultuskan oleh sesamanya (internal). Atau juga bisa dari orang-orang yang secara sadar atau tidak mengkultuskan seseorang yang dianggap memiliki “kelebihan” dan kemudian dianggap mampu menolong dan menyelesaikan permasalahan yang mereka alami atau hadapi (eksternal). Dari kedua arah ini, yang paling dominan adalah dari eksternal. Manusia mengkultuskan sesamanya. Persoalannya, hal apakah yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang mendewakan orang lain? ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Pertama, ketergantungan emosional yang demikian kuat dengan orang yang dikultuskan. Ketergantungan emosional ini bisa disebabkan oleh hubungan atau jasa yang pernah didapatkan dari orang yang dikultuskan. Hubungan dan jasa ini bersifat kontinyu bahkan bisa permanen. Kedua, tingkat pendidikan atau kesadaran intelektual yang rendah dari orang-orang yang mengkultuskan sesamanya. Bisa saja orang tersebut memiliki gelar berderet, namun tanpa kesadaran intelektual, ia bisa terjebak kepada pengkultusan sesama. Masih banyak faktor lain, namun dua faktor inilah yang paling menonjol.
Ketergantungan emosional. Ya, memang dalam relasi-relasi sosial dengan orang lain, terlebih dengan keluarga dekat, bisa saja muncul ketergantungan emosional. Hal sedemikian adalah sesuatu yang wajar. Bahkan jika hal tersebut diperkuat dengan jasa, kebaikan, pertolongan dari orang yang dianggap hebat dan mampu menjawab persoalan hidup, itupun masih dalam batas kewajaran. Namun ketergantungan yang bergeser menjadi ketergantungan yang mutlak dan absolut ini yang patut diwaspadai. Dari memuji menjadi memuja; dari hormat menjadi menyembah ini yang berbahaya. Pengkultusan. Dalam kebudayaan timur, pengkultusan yang didasarkan pada hubungan keluarga sudah biasa terjadi. Bahkan ketika orang yang dikultuskan itu matipun semakin di kultuskan. Namun tren pengkultusan terhadap orang-orang idola ini memang lagi mewabah bahkan ini terjadi di dunia Barat. Masih hangat di telinga kita ketika Oprah Winfrey seorang yang memiliki pengaruh di dunia yang mampu memotivasi banyak orang dalam acara talk shownya mendirikan agama baru yang disebut agama O, dimana Winfrey menjadi Juruselamatnya? Bagaimana bisa para pemirsanya memuja, mengelukan, mengkuti dan bahkan mengakuinya sebagai Juruselamat? Jelas konteksnya di dunia barat yang memiliki kultur nalar ketimbang emosional. Namun itulah yang terjadi pengkultusan kepada manusia bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.
Dalam dunia kekristenan bahkan dalam gereja, sadar atau tidak sering juga banyak orang kristen terjebak dalam pengkultusan pribadi. Fenomena ini biasa terjadi di gereja-gereja yang tidak jelas sistem dan pengelolaan organisasi gerejanya. Gereja dikendalikan, diatur dan dikuasai oleh siapa yang paling “pinter dan berpengaruh” dan sama sekali tidak dikendalikan oleh sistem. Kalaupun ada sistem itu hanya hiasan atau basa-basi saja. Gereja semacam ini tidak hanya rawan pecah karena sangat rapuh, namun juga tanpa sadar akhirnya bisa terjebak dalam dosa pengkultusan. Orang yang berkuasa, yang mengatur bahkan memberi pengaruh terhadap gereja; orang yang diidolakan dan bahkan orang yang dianggap “manusia setengah dewa” inilah yang suatu saat bisa dikultuskan atau diberhalakan. Bisa saja orang yang dikultuskan itu bertindak atas nama Allah atau atas nama kekristenan/gereja namun tetap saja ialah yang dipuja-puja. Saya memberikan contoh dengan fenomena-fenomena demonstrasi muzizat yang sering terjadi belakangan ini. Orang yang lemah imannya, rendah kesadaran intelektualnya bisa saja tidak mencari Tuhan dalam masalah yang dihadapinya tetapi justru mencari “manusia setengah dewa” tadi. Mereka bisa saja tidak bergantung kepada Allah dalam pergumulannya tetapi justru bersandar kepada manusia.
Demikian juga sebagian gereja-gereja yang menyebut dirinya injili namun sebenarnya jauh dari nilai-nilai injili dan jauh dari ketergantungan kepada Allah. (patut digarisbawahi bahwa tidak semua gereja injili demikian). Sebaliknya mereka bergantung kepada tokoh atau figur. Tokoh-tokoh semacam ini dipuji-puji karena kharisma yang luar biasa, sehingga khotbah mereka kelihatan lebih sakti ketimbang orang lain; suara mereka dianggap sebagai “suara nabi” dibandingkan dengan suara hamba Tuhan biasa yang tidak se-kharisma mereka. Perintah mereka dianggap ‘lebih sakti” dibandingkan dengan orang lain. Dari memuji bisa bergeser menjadi memuja. Ini sangat berbahaya sekali. Banyak orang Kristen terjebak dalam pengkultusan pribadi. Bahkan banyak pemimpin Kristen terlena dan akhirnya ikut tersanjung dan “membiarkan” diri mereka dikultuskan oleh orang lain.
Yohanes Calvin adalah tokoh reformasi yang sangat takut dikultuskan oleh jemaat-jemaat Protestan. Itulah sebabnya ia berpesan kepada keluarga dan orang terdekatnya supaya di batu niasan kuburannya jangan dicantumkan namanya. Konon, sampai hari ini kuburan Yohanes Calvin tidak ada yang tau tempatnya. Calvin adalah pemimpin yang waspada, ia tidak ingin terjebak dalam pengkultusan dan ia tidak mau umat Tuhan tergoda untuk mendewakannya. Oleh sebab itu selama hidupnya bahkan ketika ia meninggal dunia ia selalu menjaga supaya semangat dan nilai reformasi tetap terjaga. Gereja-gereja Calvinis atau yang mengaku calvinis juga seharusnya selalu mawas diri supaya dosa mengkultuskan para pemimpin di”enyahkan” jauh-jauh dari gereja Tuhan. Hendaklah kita selalu ingat seruan Yeremia dalam pasal 17:5 yang berkata “terkutuklah orang yang mengandalkan manusia” sebaliknya “diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.”(17:7).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: