Oleh: Faoziduhu | Agustus 29, 2011

KEMERDEKAAN KRISTEN YANG TERAMPAS


Kemerdekaan dalam arti yang paling hakiki adalah terbebas dari segala bentuk penindasan, perbudakan dan perhambaan. Termasuk di dalamnya kemerdekaan dari penindasan yang tidak kelihatan, perbudakan yang tidak terang-terangan maupun perhambaan yang terselubung. Kemerdekaan itu tidak hanya diartikan bebas dari penjajahan secara fisik namun juga kemerdekaan menyangkut masalah rohani atau Teologis. Bahkan juga bisa diartikan kemerdekaan dalam arti yang lebih luas lagi yakni kemerdekaan dibidang psikis, kemerdekaan dalam moralitas dan etis. Jadi kemerdekaan itu bisa dilihat dari segala sisi. Masalahnya kemerdekaan mana yang paling penting manusia perlu miliki dan alami? Menurut saya, kemerdekaan secara rohani atau teologis adalah kemerdekaan yang paling mendasar dan yang paling penting. Sebab kemerdekaan rohani itu menyangkut hidup hari ini dan hidup di akhirat nanti. Kemerdekaan rohani menyangkut jiwa atau nyawa seseorang. Namun hal ini tidak berarti bahwa kemerdekaan dalam bentuk atau sisi lain tidak penting. Menurut saya kemerdekaan secara holistik adalah sangat penting. Namun kemerdekaan secara rohani adalah terpenting.
Kemerdekaan rohani yang saya maksud adalah dimerdekakan dari perhambaan dosa. Menerima keselamatan yang pasti di dalam Kristus Yesus dan menjadi anak-anakNya. Namun kemerdekaan semacam ini perlu diikuti oleh sebuah kesadaran dan perilaku hidup sebagai kaum atau umat yang sudah benar-benar merdeka (1 Petrus 1:18-19). Masalahnya, seringkali banyak orang yang menyebut dirinya Kristen, sudah dibabtis bahkan mengaku sudah lahir baru, namun masih hidup dalam perilaku dan tabiat atau keadaan yang lama, sebagai orang yang diperhamba oleh dosa. Banyak dari mereka yang belum sadar bahwa sekarang mereka sudah dimerdekakan dan bukan umat terjajah lagi. Contoh paling gampang menjelaskan hal ini adalah bangsa Israel (Keluaran 12:41). Kisah pembebasan Israel yang demikian heroik, yang dilakukan Allah sendiri sehingga mereka medeka dari penjajahan dan perbudakan di Mesir tidak serta merta membuat umat itu hidup dalam kesadaran merdeka, memiliki mentalitas orang merdeka dan hidup sebagai orang yang benar-benar merdeka.
Sebagai bangsa yang sudah lepas dari penjajahan, mereka masih menunjukkan adat atau kebiasaan mereka sebagai bangsa yang terjajah. Mereka masih memiliki mentalitas sebagai umat yang dijajah. Lihat saja umpatan-umpatan mereka ketika menghadapi tantangan dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Bukankah mereka berkata “Sebab lebih baik bagi kami bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini?” (Kel 14:11-12; 16:3; Bil 21:5; Bukankah ini pernyataan-pernyataan orang yang bermental terjajah? Mereka lebih menyukai hidup terjajah dari pada merdeka dengan segala tantangannya. Lihat saja perilaku mereka yang masih menyembah baal, berhala-berhala yang menjijikkan hati Tuhan sebagaimana mereka mengenal segala bentuk penyembahan semacam itu ketika mereka masih di Mesir? Lihat saja bagaimana mereka demikian takut, ragu dan bimbang menghadapi berbagai persoalan hidup dalam perjalanan tersebut sehingga kadangkala mereka tidak mengandalkan dan bersandar kepada Tuhan? Pantas saja Tuhan mengizinkan mereka melewati padang gurun selama empat puluh tahun lamanya. Tuhan hendak mendidik umatNya melalui padang belantara dan proses yang demikian lama untuk menyadarkan mereka bahwa mereka benar-benar sudah merdeka dan mereka perlu hidup dengan mentalitas dan perilaku sebagai umat Allah yang merdeka dimana mereka hanya bisa hidup bergantung pada Allah, bersandar pada Allah dan di dalam Allah saja.
Israel adalah gambaran yang sangat jelas tentang kehidupan sebagian orang Kristen hari ini sebagai Israel rohani, keturunan Abraham secara rohani (Roma 4:16-17). Mereka masih hidup dalam mentalitas dan perilaku sebagai orang terjajah. Padahal dimana-mana mereka mengaku bahwa mereka sudah dimerdekakan oleh Allah dari dosa dan kuasa maut. Sekalipun mereka memiliki identitas Kristen, hidup dalam simbol-simbol ke Kristenan dan bahkan tekun dalam berbagai aktivitas kegerejaan yang menunjukkan bahwa mereka sudah merdeka dari dosa, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Ada banyak contoh-contoh praktis yang membuktikan hal ini. Rasul Paulus bertahun-tahun berjuang menyadarkan orang Kristen mula-mula untuk meninggalkan mentalitas dan perilaku hidup sebagai orang terjajah. Perjuangan Paulus ini bisa terlihat dari surat-suratnya yang membentang dari surat Roma hingga Filemon (misalnya Roma pasal 6-7; I Korintus pasal 8). Bahkan dalam gereja mula-mula, Paulus dengan Barnabas harus menghadapi debat teologis dengan orang-orang yang memiliki mentalitas dan perilaku hidup semacam ini (Kisah Rasul 15).
Paling tidak ada dua contoh yang menjadi isu penting pembicaraan paulus dalam suratnya dan juga perjuangannya yang demikian gigih dan dicatat oleh Lukas dalam Kisah para rasul, yakni adat-istiadat dan keyakinan tahayul. Adat istiadat berhubungan erat dengan masa lalu keyakinan Yudaisme dan tahayul berhubungan erat dengan masa lalu keyakinan Yunani. Meskipun demikian bukan bebarti tidak ada kombinasi diantara keduanya yang diyakini oleh orang-orang di dunia Helenis saat itu. Paulus dengan tegas menolak tradisi sunat (Kisah Rasul 15:2; 1 kor 7:19) demikian juga tradisi yang berkenaan dengan soal makanan, entah itu dengan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala (1 Kor 8:6-8; 10:27-31) maupun soal makanan haram dan tidak haram (1 Tim 4:3 bd Kisah rasul 11:5-10). Bagi Paulus kemerdekaan dalam Kristus telah benar-benar membuat umat Tuhan terbebas dari segala bentuk perhambaan tradisi atau adat-istiadat Yahudi semacam ini (Kolose 2:16). Di dalam kekristenan sudah tidak ada lagi Sunat dan sudah tidak ada lagi masalah yang berkenaan dengan makanan. Orang Kristen merdeka dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala bahkan merdeka dari segala aturan yang berkaitan dengan makanan haram-tidak haram sebagaimana keyakinan Yahudi. Memang dalam konteks tertentu Paulus mengingatkan orang percaya untuk bijaksana dalam menggunakan kebebasan/kemerdekaan mereka itu untuk bisa membangun orang lain. Bahkan kalau perlu mengorbankan kebebasan mereka demi orang-orang kristen yang lemah imannya dan belum mencapai taraf kedewasaan iman sebagaimana seharusnya (1 Kor 8:9). Kepada orang Yunani, Paulus juga mengecam keyakinan mereka kepada tahayul, filsafat kosong dan dongeng yang memenjarakan pemikiran, mentalitas dan kehidupan orang Kristen (Kolose 2:8). Di dalam Yesus, orang percaya benar-benar sudah merdeka dari segala keyakinan yang mengikat dan menyengsarakan semacam itu. Kepada jemaat Galatia, paulus berkata “supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” ( Galatia 5:1; 1 Petrus 2:9).
Sama seperti jemaat mula-mula, masih banyak orang Kristen yang terpenjara oleh adat-istiadat dan kepercayaan tahayul yang terbawa dari keyakinan mereka sebelumnya. Mereka lebih mempercayai mitos, lebih mempercayai apa katanya kakek saya/nenek moyang saya, bahkan adat istiadat yang jelas-jelas bertentang dengan Firman Tuhan. Yang ironis, seringkali mereka menggunakan atau mengklaim pernyataan kitab suci yang sebenarnya di dasarkan pada tafsiran yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan untuk membenarkan keyakinan mereka. Saya akan langsung memberikan contoh-contoh dalam kehidupan praktis, misalnya kepercayaan dalam menghitung hari (hari baik-hari buruk), kepercayaan kepada ramalan-ramalan perbintangan, tata cara tertentu dalam peristiwa kelahiran, penikahan dan kematian dimana ada ritual yang bersifat tahayul yang harus di lakukan. Jika tidak dilakukan maka diyakini akan mendatangkan malapetaka dan musibah bagi yang melanggar maupun juga orang-orang disekitar atau orang-orang terdekat. Ada-istiadat kafir semacam ini masih sulit dihilangkan dan sangat mengikat kehidupan sebagian orang Kristen. Bahkan ada yang sebelumnya tidak tau sama sekali menjadi ikut-ikutan mentaati dan melakukan adat-istiadat tersebut karena dipengaruhi, ditakut-takuti dan bahkan diancam oleh orang lain.
Belum lagi keyakinan-keyakinan yang masih didasarkan kepada kepercayaan lama atau keyakinan Yudaisme yang masuk dalam gereja, misalnya soal-soal yang berkaitan dengan makanan. Sampai hari ini masalah makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dan makan darah (yang sudah dimasak tententunya) menjadi polemik yang berkepanjangan diantara orang percaya. Bahkan ada yang mengharamkan makan makanan tertentu yang diyakini dilarang dalam iman Kristen. Padahal masalah ini sudah tuntas dalam ajaran Tuhan Yesus (Matius 15:11) dan juga Paulus yang berabad-abad lalu sudah menegaskan mengenai kemerdekaan dalam hal makanan. Bahwa orang percaya memiliki kebebasan dalam memakan makanan apapun dan dalam kekristenan tidak mengenal hukum makanan yang haram dan tidak haram. Yang aneh dan menggelikan adalah banyak orang Kristen yang merasa lebih pintar dari Paulus dan merasa berotoritas lebih daripada Tuhan Yesus sehingga mereka berani mengklaim ada makanan yang haram dan tidak haram.
Belum lagi keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan simbol-simbol dalam gereja yang sering dikait-kaitkan dengan tahayul dan kepercayaan mistis yang memasung kemerdekaan Kristen kita. Misalnya salib yang diyakini mampu mengusis setan, gambar Yesus (katanya demikian) yang diyakini mampu membuat hati kita menjadi tenang ketika kita memandang wajah gambarnya, Alkitab yang diyakini mampu menyembuhkan kalau diletakkan di samping orang sakit, bahkan Alkitab dimasukkan dalam peti dan dibawa serta dengan orang yang sudah meninggal. Demikian juga halnya dengan keyakinan tahayul akan roti dan anggur yang diyakini mampu mengusir penyakit dan masalah, sehingga sebagian orang kristen dengan sembunyi-sembunyi membawa pulang anggur dan roti tersebut. Belum lagi dengan fenomena minyak urapan yang sangat booming dan diminati banyak orang yang haus akan kepastian penyelesaian masalah-masalah hidup dan masih banyak lagi yang lain.
Bertolak dari contoh-contoh keyakinan akan tahayul dan adat istiadat diatas, kita patut bercermin dari kehidupan orang israel. Memang mengubah paradigma, mengubah kebiasaan, mengubah mental, bahkan mengubah hidup seseorang dari paradigma, kebiasaan dan mental terjajah kepada mental orang merdeka dibutuhkan proses. Orang Israel diajar bertahun-tahun untuk meninggalkan keyakinan dan tradisi lama mereka kepada keyakinan dan tradisi baru sebagai umat Tuhan. Dari bersandar pada tahayul dan para baal berpindah kepada bersandar pada Yahweh; dari adat istiadat lama kepada kemerdekaan yang sebenarnya. Demikian juga dengan orang Kristen, butuh proses untuk berubah. Caranya dengan bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan. Tanpa itu, orang kristen tetap dalam kehidupan lama, bermental terjajah. Diperbudak oleh adat dan tahayul. Orang Israel yang terus mengeraskan hati, masih terus menikmati kehidupan yang lama, adatnya yang dulu, keyakinan tahayulnya, kepercayaan berhalanya dan bahkan tidak mau bertobat akhinya akan binasa. Demikian juga halnya dengan orang Kristen yang tidak mau bertobat dan terus menerus hidup dalam keadaan terjajah, menderita dan sengsara karena kepercayaan tahayul dan ikatan adat-istiadatnya. Bahkan jika ia belum sungguh-sungguh ber-iman kepada Yesus Kristus yang sudah memerdekaan itu, ia akan binasa. Bagaimana dengan anda?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: