Oleh: Faoziduhu | Agustus 22, 2011

MENGEJAR KETERTINGGALAN (Sebuah refleksi kemerdekaan dan peranan orang Kristen dalam bernegara)


Negara kita genap berusia 66 tahun beberapa hari yang lalu. Masyarakat menyambut kemeriahan kemerdekaan dengan gembira. Sekalipun tidak seramai tahun-tahun lalu, namun HUT kemerdekaan tidaklah kehilangan sukacita dan kegembiraan yang terlihat dari berbagai atribut bendera, umbul-umbul, hiasan-hiasan dan lambang-lambang kemerdekaan lainnya. Dirgahayu Republik Indonesia.
Memang negara ini telah memerdekakan dirinya dari penjajah puluhan tahun silam. Kalau disandingkan dengan usia manusia, maka negara ini sudah “berusia kakek-nenek,” sehingga tentu layak disegani, dihormati oleh negara-negara lain yang usia kemerdekaannya lebih muda. Namun hal ini seringkali tidak terlihat dalam percaturan di tingkat regional dan internasional. Negara-negara yang usia kemerdekaannya lebih muda sering mengabaikan/meremehkan negara yang tidak hanya sudah “berusia” ini tetapi juga penduduknya terbanyak di Asia tenggara dan tanahnya terluas di Asia tenggara. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin banyak faktor bisa menyebabkan hal tersebut terjadi.
Namun alasan utama yang tidak dapat kita kesampingkan adalah karena memang negara ini telah “tertinggal” dalam banyak hal dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya. Tertinggal dalam hal apa? Banyak. Tertinggal dalam penegakkan hukum. Utamanya menindak para koruptor. Tertinggal dalam ekonomi. Sekalipun Indonesia lebih dahulu merdeka dari negara-negara persemakmuran, namun diluar dugaan ekonomi bekas negara jajahan Inggris itu melesit jauh meninggalkan Indonesia. Tertinggal dalam pendidikan dan kebudayaan. Bangsa kita sering kebakaran jenggot bila mendengar klaim item-item budaya dari negara lain, padahal item budaya tersebut dari Indonesia. Pertanyaannya mengapa warisan budaya semacam “lagu, batik, wayang” tidak dari dulu patenkan? Demikian juga halnya dengan pendidikan. Tengok saja sekarang para pelajar dan mahasiswa negara kita yang lebih memilih studi di negara tetangga bila punya dana yang cukup ketimbang di negara sendiri. Mengapa? Hal ini berarti pendidikan kita sudah tertinggal di banding negara tetangga.
Belum lagi masalah yang berkaitan dengan pemerataan pembangunan. Jelas kita masih tertinggal. Pemerataan pembangunan antar wilayah sangat timpang, seperti antara langit dan bumi. Pembangunan di pulau Papua dengan pulau lainnya sangat jauh berbeda. Di Papua, masyarakatnya masih primitf. Terbukti masih banyak yang memakai koteka dan hidup kanibal. Sementara di daerah lainnya masyarakatnya sudah sangat posmodern. Belum lagi ketertinggalan dibidang kesehatan dan bidang lainnya.
Persoalan ketertinggalan ini memang menjadi masalah bersama. Diakui atau tidak, kita juga sedikit banyak memberikan kontribusi bagi ketertinggalan kita diberbagai bidang kehidupan. Sebagai bagian hakiki dari kehidupan bangsa, sebagai elemen dalam bernegara, umat Kristen turut mengalami masalah ketertinggalan, sedikit banyak menjadi penyebab ketertinggalan itu. Oleh sebab itu, sebagai gereja dan orang Kristen sekaligus sebagai anak bangsa, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di tengah kehidupan berbangsa-bernegara ini. Orang Percaya tidak boleh diam dan berpangku tangan melihat keterbelakangan dan ketertinggalan ini. Segala daya upaya serta peran gereja/orang Kristen dalam pembangunan bangsa harus lebih digiatkan dan ditingkatkan. Sudah saatnya orang Kristen tidak hanya bicara soal akhir zaman, kiamat dan lebih banyak berkiprah secara eksklusif di intern orang percaya.
Orang Kristen di utus ke dalam dunia (negara) yang didiaminya. Artinya kita diutus ke dalam dunia hari ini bukan dunia nanti. Dunia hari ini yang penuh dengan berbagai persoalan. Kita perlu bicara, memikirkan dan berperan dalam negara yang jauh tertinggal ini. Oleh sebab itu beberapa hal perlu menjadi bahan pertimbangan dan pemikiran untuk orang percaya bisa diwujudkan. Pertama, menjadi yang terdepan dalam menegakkan dan mentaati hukum. Orang Kristen jangan larut dalam pelanggaran demi pelanggaran hukum yang katanya sudah membudaya dalam hidup berbangsa. Mulailah dengan ketaatan yang sangat sederhana misalnya mentaati rambu lalu lintas, memakai helm dan memakai sabuk pengaman bila berkendaraan. Jika kita setia dan mentaati hal-hal yang sederhana dan kecil semacam ini, maka lambat laun kitapun akan terbiasa setia mentaati berbagai peraturan yang lebih sulit dan berat lainnya.
Kedua, orang Kristen dalam tugas perutusannya perlu berperan lebih holistik lagi yakni dengan masuk ke dalam berbagai sisi profesi kehidupan. Paradigma lama, dimana orang kristen hanya mau mengambil profesi “aman” seperti pendeta, dokter, insinyur pembangunan, guru, pedagang harus ditinggalkan. Orang kristen harus masuk ke dalam segala lini profesi. Menjadi politikus, polisi, tentara, pegawai pajak, pegawai kantor pemerintah, perawat dan seterusnya. Dengan demikian peranan kita akan lebih nyata, terasa dan bisa menjadi pionir dalam segala lini profesi. Tentu ini tugas dan sekaligus harapan kita bagi generasi muda Kristen. Mereka perlu belajar dengan keras, mempersiapkan diri tidak hanya untuk sebuah cita-cita kelak menjadi kaya, sukses dan punya uang banyak. Namun juga untuk tujuan yang lebih mulia memperbaiki bangsa, memajukan bangsa dan menjadi berkat bagi bangsa ini.
Ketiga, orang Kristen harus memiliki produktifitas dan kualitas kerja yang baik. Disinilah peranan dan sekaligus keteladanan orang Kristen harus dapat ditampilkan. Semangat orang-orang reformasi mula-mula dalam produktifitas dan kualitas kerja yang menyebabkan negara semacam Eropa barat dan Amerika menjadi demikian maju dibandingkan Eropa Timur dan Amerika latin, patut kita tiru. Orang percaya tidak hanya masuk di segala lini profesi namun juga produktif dan berkualitas disana. Apa gunanya orang Kristen menjadi pejabat, menjadi penegak hukum, menjadi dokter, menjadi pelayan masyarakat, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Malah sebaliknya membuat masalah di tempat kerja. Memang orang percaya tidak bisa berjuang sendiri membangun bangsa dan mengejar ketertinggalan. Perlu bergandengan tangan dengan elemen bangsa lainnya untuk menghadirkan sejahtera di bumi persada ini. Dirgahayu Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: