Oleh: Faoziduhu | Agustus 6, 2011

BELAJAR DARI TOKOH-TOKO ALKITAB


Kalau kita belajar dari para tokoh Alkitab, memang banyak hal yang dapat kita teladani, kita tiru dan bahkan beberapa hal justru dijadikan acuan bagi kehidupan kekristenan kita. Seringkali khotbah tentang tokoh menarik untuk disimak dan disukai oleh jemaat. Bahkan nama tokoh tersebut menjadi tema sebuah khotbah. Ketimbang khotbah tentang syair, nubuatan, surat-surat apalagi khotbah doktrin, khotbah tokoh jauh lebih disukai jemaat. Sebab khotbah tokoh selalu mengandung beberapa hal.
Pertama, khotbah tokoh pasti bersinggungan dengan cerita atau narasi. Khotbah cerita memang paling disukai, terutama para pendengar yang hidup di Asia seperti kita. Coba saya beri contoh, kalau khotbah tidak ada ilustrasinya, kalau tidak ada cerita lucunya, maka jemaat pasti sudah ngantuk-ngantuk dan mencap khotbahnya tidak bermutu. Namun kalau khotbahnya ada cerita (baca: ilustrasi), dan dibumbui dengan humor, maka pasti si pengkhotbah laris manis. Jadi focus jemaat untuk mendengar firman sekarang sudah bergeser dari focus kepada belajar prinsip-prinsip iman kepada ilustrasi. Cobalah adakan sekali-sekali observasi, tanyakan kepada jemaat, kira-kira hal apakah yang dia dapatkan setelah mendengar khotbah. Pasti jawabannya ilustrasinya yang lucu dan bukan inti dari khotbah.
Maka pengkhotbah narasi masa kini, demi menyenangkan pendengarnya, sudah tidak focus pada inti khotbah, tetapi lebih berat pada ilustrasi, cerita, kesaksian hidup dan dibumbui dengan humor-humor yang bisa membuat jemaat terpingkal-pingkal. Tentu pengkhotbah demikian akan diundang lagi, sebab bisa membuat jemaat tidak tertidur selama khotbah. Namun kalau pengkhotbahnya lebih banyak berbicara doktrin, prinsip-prinsip hidup beriman biasanya jarang diundang dan tidak laku di pasaran pendengar. Dengan kata lain, khotbah-khotbah sekarang ini, terutama khotbah narasi, sudah bergeser dari Teosentris kepada antroposentris. Yang penting khotbhanya menghibur jemaat. Yang penting khotbhanya lucu, yang penting khotbahnya tidak bikin tidur. Itu yang paling penting. Saya tidak katakan ilustrasi tidak penting, humor tidak penting. Tidak!
Ilustrasi, cerita dan humor penting dalam khotbah. Tetapi ketiganya jangan menggeser sesuatu yang lebih penting dalam khotbah yakni berita atau inti khotbah yang hendak disampaikan. Jadi penting jemaat perhatikan hal ini. Jika selama ini motivasi anda untuk mendengar khotbah hanya supaya ketawa, dihibur dan dengar ilustrasi. Bertobatlah!! Motivasi anda sudah tidak benar dan sudah bergeser dari apa yang Allah harapkan dari anda, yaitu mendengarkan Dia berbicara kepada anda apa adanya.
Kedua, khotbah tokoh biasanya berbicara keadaan yang nyata, yang rill. Apa adanya. Berbicara tentang manusia sama seperti kita. Dengan kata lain, ketika kita mendengar khotbah tokoh, kita langsung tertarik mendengarnya. Bukankah tokoh tersebut seperti kita juga. Manusia juga. Tidak lebih bukan. Yang istimewa mungkin cuma keteladanan yang ditunjukkannya. Mungkin kalau kita mendengar khotbah tentang keteladanan Tuhan Yesus, kita bisa beralasan demikian, Yesuskan Tuhan, Yesuskan sempurna. Saya kan bukan Tuhan, saya kan tidak sempurna. Namun jika tokoh manusia seperti kita yang diceritakan, maka tidak ada alasan untuk berkata, saya tidak bisa seperti dia. Memang khotbah tokoh selalu menarik.
Namun kalau kita mendengar khotbah tentang tokoh Alkitab, kita harus mengingat beberapa hal penting dan sangat mendasar. Pertama, inti berita khotbah bukanlah tokoh tersebut. Sehebat-hebatnya, tokoh tersebut, tetapi tokoh sentral yang sebenarnya diberitakan Alkitab bukanlah tokoh itu, tetapi Allah. Alkitab adalah buku tentang Allah, menceritakan tentang Allah, karyaNya, kasihNya, kemuliaanNya dan anugerahNya kepada kita. Para tokoh dalam Alkitab hanyalah pelengkap dan bukan inti berita khotbah. Karena itu, salah kalau kita berkata ”saya sudah mendengar khotbah tentang Petrus dan seterusnya.” Yang benar adalah, saya sudah mendengar khotbah tentang Allah yang menganugerahi Petrus keselamatan.” jadi fokusnya tetap Allah.
Kedua, sehebat-hebatnya tokoh yang diceritakan, mereka tetap manusia biasa yang tidak sempurna. Mereka juga manusia lemah seperti kita. Mereka pernah gagal, pernah ”jatuh” dalam berbagai dosa, pernah ingkar, pernah ”jauh” dari Tuhan. Siapapun dia. Untungnya Alkitab dengan jelas membeberkan kelemahan sekaligus kelebihan; kegagalan sekaligus keberhasilan dari tokoh-tokoh tersebut. Karena itu ketika kita membaca Alkitab, kita jangan hanya melihat satu bagian saya. Di bagian Alkitab lainnya pasti diceritakan sisi lain kehidupan tokoh tersebut. Saya ambil contoh, tokoh-tokoh orang beriman yang dikisahkan dalam kitab Ibrani 11. Kalau kita Cuma membaca dan melihat Ibrani 11, kita bisa mendewakan tokoh-tokoh terebut, namun kalau kita membaca bagian Alkitab yang lain, maka berita tentang tokoh-tokoh tersebut menjadi berimbang. Kita mungkin kagum dengan iman mereka dalam Ibrani 11 tetapi kita akan sangat terkejut membaca sisi buruk dari kegagalan hidup mereka yang di catat di kitab lainnya.
Ketiga, ketika kita mendengar khotbah tentang tokoh kita diingatkan bahwa tokoh-tokoh tersebut adalah cermin dari kehidupan kita. Mereka merupakan gambaran dari kehidupan kita yang memberikan tanggapan atau respons terhadap karya dan anugerah Allah. Tokoh-tokoh Alkitab yang diceritakan dalam Alkitab, menggambarkan hidup kita yang seringkali terlibat dalam sebuah ketegangan relasi dengan Allah. Kadang dekat bahkan terlalu dekat dan juga kadangkala jauh bahkan terlalu jauh dari Allah. Tokoh-tokoh dalam Alkitab menggambarkan kehidupan kita yang dulunya tidak memiliki hubungan atau putus hubungan dengan Allah oleh karena dosa, namun karena rahmadNya, hubungan itu dipulihkan kembali anakNya. Saya tidak katakan bahwa para tokoh dalam Alkitab hanyalah penggambaran dan karena itu cerita tentang mereka hanyalah dongeng. Tidak! saya tidak katakan demikian. Kisah tokoh-tokoh dalam Alkitab adalah benar-benar fakta yang pernah terjadi dalam sejarah.
Oleh sebab itu, para pembaca Alkitab perlu belajar dari keberhasilan, ketaatan, ketekunan, iman, pengharapan yang ditunjukkan para tokoh Alkitab. Para pembaca Alkitab juga hendaknya perlu menghindari atau menjauh dari kegagalan, pembangkangan, ketidaktaatan dan dosa yang ditunjukkan para tokoh. Pelajaran-pelajaran berharga dari berbagai sisi kehidupan para tokoh ini hanya bisa kita dapatkan jika kita pertama-tama memohon pimpinan Tuhan ketika membaca Alkitab. Roh Kudus memberikan kita tuntunan sehingga dapat menggali ”makna” dan ”berkat rohani” dari cerita para tokoh. Tetapi tidak hanya itu, didikan dan ajaran berharga dari berbagai kisah para tokoh Alkitab juga bisa kita dapatkan ketika kita membaca Alkitab dengan benar. Banyak orang membaca dan menafsirkan Alkitab dengan keliru bahkan menyesatkan. Akibatnya mereka tidak mendapatkan apa-apa bahkan bisa saja mereka mendapatkan ”pesan” yang keliru ketika membaca Alkitab. Tokoh-tokoh yang menyebarkan ajaran bidat dalam sejarah gereja, berangkat dari cara membaca dan menafsirkan Alkitab secara serampangan dan keliru. Oleh sebab itu, kita membutuhkan buku-buku penafsiran, buku-buku hermeneutik bahkan buku-buku dogmatik yang sesuai dengan ajaran gereja yang kita anut supaya bisa menolong kita menafsirkan cerita narasi Alkitab dengan baik dan bertanggung jawab. Selamat mendengarkan cerita tentang Allah melalui kisah tokoh-tokoh Alkitab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: