Oleh: Faoziduhu | Juli 22, 2011

APAKAH BAHASA ROH BISA MENJADI UKURAN TINGKAT KEROHANIAN SESEORANG?


Pada suatu pagi Minggu seseorang jemaat tamu beribadah di sebuah gereja reformed. Orang tersebut disambut dengan baik oleh petugas penyambutan jemaat ketika memasuki gereja, disambut lagi dengan tepuk tangan ketika ia diperkenalkan oleh pembaca warta jemaat. Namun wajah orang tersebut jelas-jelas menunjukkan wajah yang cemberut dan tidak sejahtera ketika kebaktian telah selesai. Kebetulan hari itu di gereja diadakan acara ramah tamah/tea time di gereja, sehingga jemaat tidak buru-buru pulang. Orang baru inipun dengan agak terpaksa memenuhi ajakan beberapa jemaat untuk mengikuti tea time tersebut sambil mengajaknya ngobrol. Orang ini baru pindah dari kota lain karena tugas kerja. Ia hendak mencari tempat kebaktian yang baru yang menurutnya cocok dan nyaman untuk beribadah. Namun orang ini tidak bisa menahan isi hatinya untuk sedikit berkomentar tentang ibadah yang baru saja ia ikuti. Di hadapan beberapa jemaat yang berdiri disitu sambil minum teh dan menikmati sedikit makanan ringan ia berkomentar “saya heran disini kok tidak ada bahasa Rohnya ya? Setau saya kalau dalam gereja tidak bahasa rohnya, itu pertanda gereja tersebut sudah tidak sehat secara rohani.” Kelihatannya wajahnya sangat serius dan sedikit menunjukkan kekesalan ketika ia mengatakan perkataan tersebut. Kontan saja jemaat yang lagi ngobrol dengannya terkejut dan heran dengan pernyataan orang baru tersebut.
Benarkah jika tidak ada bahasa roh dalam ibadah sebuah gereja menjadi pertanda gereja tersebut tidak rohani. Pertanyaan ini jika kita perluas dan perdalam menjadi apakah bahasa roh bisa menjadi ukuran seseorang atau suatu gereja disebut rohani atau tidak? Bagi orang reformed pertanyaan ini mungkin sebuah pertanyaan yang lucu dan menggelikan. Namun mungkin sulit untuk dijawab secara Teologis atau Alkitabiah. Oleh sebab itu saya mencoba mengupas sekaligus menjawab pertanyaan ini secara tegas berdasarkan Firman Tuhan. Bukan berdasarkan apa yang dikatakan manusia, sekalipun dia seorang pengkhotbah terkenal dan hebat. Bukan berdasarkan tradisi. Sekalipun memang tradisi bisa dipertahankan jika sesuai kebenaran Firman Tuhan. Namun jika tidak, maka tradisi yang buruk harus dienyahkan dari sebuah ibadah gerejawi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh para reformator kita. Semua tradisi yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan, tanpa ampun disingkirkan dari ibadah maupun dari gereja. Untuk bisa menolong kita membahas masalah ini, maka saya mengajak kita membaca tulisan Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus yang membentang dari pasal 12 sampai dengan pasal 14. Bahkan kalau kita membaca surat Paulus yang pertama ini aromanya atau “bau pembicaraannya” memang demikian terasa mengenai bahasa Roh. Kiranya tulisan ini akan menjawab kebingungan kita mengenai bahasa Roh sekaligus menegaskan sikap kita terhadapnya. Saya pikir, masalah ini penting sekali ketika kita berjumpa dengan aliran-aliran yang berbeda dalam wadah oikumenis sekaligus memberikan jawaban kepada jemaat yang sering “disesatkan” dengan pernyataan-pernyatan bahwa Bahasa Roh merupakan standard kerohanian seorang Kristen.
Bahasa Roh adalah karunia rohani yang diberikan Roh Kudus kepada orang percaya (12:10). Bahasa roh merupakan salah satu dari sekian banyak karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus kepada jemaat (12:7-10). Karunia-karunia tersebut diberikan menurut kehendak Roh Kudus dan bukan kehendak manusia. Jadi manusia tidak bisa memaksakan hendak untuk memperoleh karunia tertentu. Karunia-karunia diberikan berdasarkan kedaulatan Roh Kudus sendiri (12:11,18). Tidak semua orang dalam satu jemaat memiliki karunia yang sama. Misalnya satu gereja semua jemaatnya memiliki karunia berbahasa roh (12:29-30 bd 12:17). Semua karunia-karunia yang berbeda-beda ini dipergunakan untuk saling melengkapi (12:21) dan memperhatikan (12:25) demi tujuan utama yaitu agar jemaat dibangun rohaninya(14:12, 26). Maka tujuan utama pemberian karunia ini adalah agar melaluinya jemaat bertumbuh dalam iman.
Masalahnya bahasa roh merupakan karunia yang paling unik, sebab bahasa roh tidak akan mungkin dapat dimengerti kecuali ada yang menafsirkannya. Bahasa Roh tanpa penafsir akan menjadi kata-kata yang sia-sia diucapkan di udara (14:9) dan bahkan bisa menimbulkan salah paham dikalangan orang yang tidak beriman yang menyangka orang yang berbahasa roh itu gila (14:23). Oleh sebab itu bahasa roh membutuhkan penafsir (14:13). Jika dalam jemaat tidak ada yang menafsirkannya, maka Paulus menyarankan supaya orang tersebut berdiam diri (14:28) sebab tanpa penafsir, maka bahasa Roh tersebut hanya berguna bagi dirinya sendiri (4,28). Berbahasa roh tanpa penafsir sama sekali tidak berguna bagi orang lain. Itulah sebabnya Paulus menyebut bahasa roh sebagai tanda bagi orang yang tidak beriman (14:22). Paulus sendiri juga mempunyai karunia berbahasa roh (14:18), namun Paulus lebih suka mengucapkan bahasa yang mudah dimengerti dan yang membangun jemaat ketimbang bahasa roh yang tidak bisa dimengerti (14:18). Sekalipun jemaat Korintus demikian mengagungkan bahasa Roh ini, namun bagi Paulus karunia bernubuat lebih berharga dari pada bahasa roh. Dengan kata lain maksud Paulus adalah karunia yang bermanfaat bagi orang lain, jauh lebih berharga dari pada karunia yang hanya berdampak pada diri sendiri.
Yang menarik, ketika Paulus berbicara mengenai karunia-karunia, tiba-tiba di tengah-tengah pembicaraan, Paulus mengalihkan percakapan kepada topik kasih. Mengapa Paulus menyinggung kasih ketika berbicara karunia-karunia. Dan yang lebih menarik lagi karunia-karunia yang sering disebutkan dalam pasal 13 adalah bahasa roh (ayat 1,8). Dalam pasal 13 ini Paulus menekankan bahwa karunia-karunia dan khususnya bahasa roh tidak akan ada gunanya jika tidak ada kasih (ayat 1-3). Kasih adalah salah satu dari buah Roh (Galatia 5:22). Lebih dari itu, kasih adalah salah satu dari sifat Allah yang agung. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa Allah itu sendiri adalah kasih (1 Yoh 4:8). Banyak makna yang terkandung dalam bagian ini. Karunia-karunia sebagai sesuatu yang demikian diagung-agungkan jemaat Korintus tidak akan ada faedah, tidak berguna dan sama sekali tidak bermakna jika tidak ada kasih di dalamnya. Bagian ini dapat ditafsirkan berdasarkan berbagai aspek. Pertama, karunia tanpa buah roh tidak ada gunanya. Kedua, karunia tanpa Allah yang adalah kasih di dalamnya juga tidak akan ada maknanya sama sekali. Di dalam ayat 8-12 Paulus menyampaikan pernyataan yang mengejutkan mengenai karunia, termasuk bahasa roh. Paulus dengan tegas berkata bahwa bahasa roh akan berhenti (13:8) namun kasih tidak akan berkesudahan. Semua karunia bersifat fana dan akan berakhir namun kasih itu kekal. Banyak penafsir mencoba memahami bagian ini sebagai sebuah sindiran kepada jemaat Korintus yang demikian mengagungkan karunia-karunia utamanya bahasa roh (ingat bahwa sepanjang pasal 12-14, paulus lebih banyak biacara mengenai Bahasaa Roh).
Bertolak dari fakta-fakta Alkitabiah diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa roh bukan merupakan ukuran atau standard pertumbuhan kerohanian seseorang. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, dalam jemaat tidak semua orang memiliki karunia bahasa roh. Bahasa Roh adalah karunia yang diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan kehendak Roh Kudus (12:11,18). Ingat bahwa dalam sebuah jemaat tidak semua memiliki karunia yang sama (12:29-30). Kedua, Bahasa roh tanpa kasih tidak akan ada maknanya. Sekalipun orang tersebut dapat berbicara beribu-ribu kata dalam bahasa roh namun tanpa kasih, ia seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Oleh sebab itu kalau dalam sebuah jemaat ada orang yang berbahasa roh, maka tidak secara otomatis orang tersebut kita sebut imannya atau rohaninya bertumbuh. Sebab tanpa kasih bahasa roh tidak akan ada gunanya. Ketiga, ketika Paulus berbicara mengenai karunia, Paulus sedang berbicara mengenai instrumen bagaimana jemaat bisa dibangun atau bertumbuh. Jadi karunia bukanlah ukuran namun instrumen atau alat supaya jemaat dibangun rohaninya.
Bagaimanakah implikasi dari kesimpulan ini? Pertama, melalui pernyataan Firman Tuhan ini, mengingatkan kita supaya tidak menjadi minder kalau tidak memiliki karunia bahasa roh. Kalau anda tidak bisa berbahasa Roh itu tidak berarti anda tidak rohani. Ukuran pertumbuhan rohani ditentukan seberapa jauh kita membaca dan merenungkan serta melakukan Firman Tuhan dalam hidup kita. Jadi bukan soal karunia termasuk karunia bahasa roh. Kedua, melalui pernyataan Firman Tuhan ini kita mendapat penegasan bahwa orang yang tidak memiliki karunia Bahasa Roh tidak berarti tidak memiliki Roh Kudus dalam hatinya. Banyak orang dengan konyol mengemukakan gagasan gila bahwa orang yang tidak berbahasa roh tidak dipenuhi Roh Kudus dan belum dibabtis dalam Roh. Bahkan lebih konyol lagi mereka mengklaim bahwa dengan bahasa roh, doanya lebih di dengar, penyembahan dan ibadah lebih berkenan kepada Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: