Oleh: Faoziduhu | Juli 20, 2011

APAKAH ANDA BISA DIPERCAYA? (Membangun hubungan antara perkataan dan tanggung jawab)


Setiap kita yang mengikuti perkembangan dunia melalaui media massa pasti masih ingat dengan janji yang pernah diucapkan oleh Obama, ketika ia melakukan kampanye pemilihan presiden Amerika beberapa tahun lalu. Salah satunya adalah menutup penjara di Guantanamo dan penarikan pasukan Amerika dari Irak. Hanya dalam hitungan hari setelah menjabat di gedung putih, Obama langsung mengambil langkah-langkah strategis untuk mewujudkan apa yang pernah ia janjikan kepada rakyat Amerika dan dunia. Sikap dan tindakan Obama bisa menimbulkan pro dan kontra. Sebab dilihat dari waktu Obama yang masih baru mulai memerintah dengan tindakannya yang dengan segera mewujudkan janjinya itu, bisa memunculkan kesan sikap obama yang terburu-buru atau kejar target. Bukankah seperti biasanya, kalau seseorang baru mulai memerintah, langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan konsolidasi ke dalam dahulu, baru kemudian menyusun dan melaksanakan program-program pemerintahan?
Terlepas dari itu semua, saya melihat Obama adalah sosok pribadi yang konsisten dengan apa yang ia katakan dan janjikan. Ia mencoba membuktikan bahwa dirinya bukanlah pribadi yang asal ngomong, asal mengumbar janji. Tetapi figure pemimpin yang ingat dan menempati perkataannya sendiri. Sikap Obama menunjukkan karakter pemimpin yang bertanggung jawab. Kita masih menunggu langkah kebijakan Obama selanjutnya. Apakah apa yang pernah ia katakan benar-benar terwujud? Saya tidak mengajak kita untuk memikirkan Obama lebih jauh, namun saya ingin kita memikirkan bagaimana dengan diri kita sendiri, entah sebagai umat Tuhan, entah kita sebagai pemimpin gereja. Adakah kita juga menjadi orang Kristen yang dapat merangkai hubungan antara perkataan dan tanggung jawab kita dengan apa yang kita katakan?
Kalau kita mau jujur, banyak orang Kristen dan juga pemimpin Kristen yang tidak konsisten dengan perkataan atau janji-janjinya. Ini memang merupakan tantangan yang sulit bagi kita orang percaya. Saya pernah melihat seseorang pernah berjanji mendukung atau mau ambil bagian dalam pelayanan tertentu di lingkup gereja. Memang pada awalnya ia begitu semangat mewujudkan komitmen dan janjinya, namun dalam perjalanan waktu, ketika ia mulai merasakan tantangan pelayanan, ketika masalah datang, ketika konflik dengan sesama pelayan terjadi, dengan diam-diam ia mundur dari pelayanan. Ketika saya masih pemuda, saya mengenal sosok seorang hamba Tuhan yang begitu setia melayani Tuhan, namun dia punya kelemahan dalam satu hal. Ia jarang sekali menempati janjinya. Setiap kali pertemuan dengan hamba Tuhan tersebut, dengan gampangnya ia mengobral janji akan melakukan ini dan mendukung itu, namun buktinya, dalam perjalanan waktu, janji itu hanyalah janji kosong, seperti pepatah mengatakan tong kosong nyaring bunyinya.
Saya katakan memang ini tidak gampang. Setiap kita bisa saja melakukan hal yang sama, berjanji tetapi tidak menempati, berkata-kata tetapi tidak melakukan. Jangan lihat kiri atau kanan, jangan menghakimi si dia memang demikian. Tidak, setiap kita berpotensi untuk ingkar janji, berpotensi untuk tidak bertanggung jawab dengan apa yang kita katakan. Oleh sebab itu jangan lihat orang lain, tetapi lihatlah diri sendiri. Sebelum saya menuliskan beberapa point penting tentang bagaimana kita perlu belajar bertanggung jawab dengan apa yang kita ucapkan. Ada baiknya terlebih dahulu, kita meneliti penyebab mengapa ada orang yang sering ingkar janji, mengapa ada orang yang menghianati kata-katanya sendiri? Paling tidak ada beberapa alasan.
Pertama, mungkin ketika orang itu bicara, ia tidak memikirkan dampak, akibat, resiko atau konsekwensi dari apa yang ia katakan. Kebanyakan dari kita, kalau bicara sering terlalu cepat dan tanpa dipikir atau dipertimbangkan dengan matang.. Para ahli ilmu jiwa pernah mengemukakan bahwa dari keempat macam temperamen manusia, temperamen sanguine memiliki ciri lebih cepat berkata-kata tanpa dipikir atau melalui proses nalar lebih dahulu. Namun terlepas dari itu semua, setiap kita, apapun golongan temperamennya, berpotensi untuk gagal dalam mempertanggung jawabkan apa yang kita pernah ucapkan. Factor yang memegang peranan penting dalam hal ini adalah emosi. Emosi telah mengalahkan nalar kita. Emosi telah mendorong kita menyampaikan sesuatu tanpa melalui seleksi nalar kita. Saya tidak mengatakan bahwa emosi tidak penting. Tidak! emosi sangat penting, namun ketika kita menyampaikan sesuatu tertutama yang berkaitan dengan janji, komitmen atau pernyataan-pernyataan kita sebaiknya melibatkan dua hal. Emosi dan juga nalar kita.
Kedua, keegoisan kita. Pada umumnya ketika kita berkata-kata, entah itu menyangkut komitmen pribadi, komitmen bersama, janji pribadi atau apapun juga yang berkaitan dengan kata-kata kita, sudah dipastikan menyangkut pihak-pihak lain diluar diri kita. Bisa orang lain, bisa alam apalagi tentunya Tuhan kita. Pada dasarnya apa yang kita katakan itu selalu mengikat atau wajib dipertanggung jawabkan. Dan orang yang meminta pertanggung jawaban itu adalah pihak-pihak di luar diri kita. Memang sifat mengikat ini ada yang dibuat lebih formal dengan dituliskan dan ditetapkan menjadi sebuah tulisan berkekuatan hukum, namun lebih banyak sifat mengikat ini dibuat dalam bentuk lisan dan dibangun diatas dasar saling mempercayai. Salah satu contoh misalnya, kalau seorang ayah mengatakan bahwa kalau anaknya berprestasi disekolah, maka anaknya akan dibelikan sepeda. Walaupun perkataan ayahnya itu tidak diikat dalam bentuk sebuah pernyataan tertulis yang berkekuatan hukum, namun sebenarnya perkataannya itu telah diikat oleh keyakinan dan kepercayaan anaknya bahwa pada waktunya nanti bila ia berprestasi, ayahnya akan membelikannya sepeda. Disini kita melihat perkataan ayahnya “sudah diikat,” menyangkut pihak-pihak luar yakni anaknya dan tentunya wajib ditepati (dipertanggung jawabkan).
Namun masalahnya, bagaimana jika anaknya berprestasi tetapi ayahnya tidak menempati janji? Saya sangat yakin si ayah memiliki seribu alasan untuk tidak menempati janjinya. Mulai dari alasan rasional sampai yang irasional. Kadangkala alasan-alasan ini telah mengalahkan pertanggung jawaban si ayah untuk menempati janjinya dan si anak entah dengan menggerutu atau dengan kesadaran menerima keputusan si ayah yang tidak memberikannya sepeda. Sebenarnya alasan-alasan yang dikemukakan si ayah hanyalah pembungkus dari ego si ayah. Si ayah hanya mementingkan dirinya sendiri, asumsi-asumsinya sendiri dan melalaikan tanggung jawabnya untuk menempati janji.
Kebanyakan dari kita juga bisa demikian. Karena ego, kita akhirnya menolak mempertanggung jawabkan apa yang pernah kita katakan. Saya ambil contoh, misalnya seseorang yang berkomitmen untuk mau terlibat dalam sebuah organisasi Kristen. Pada awalnya memang ia terlihat begitu bersemangat membuktikan komitmennya, organisasi Kristen tersebut mulai berkembang dan mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Tetapi ketika ia mulai tidak senang dengan seseorang dalam organisasi tersebut, secara perlahan-lahan ia mengundurkan diri. Akhirnya organisasi itu berjalan di tempat dan sulit berkembang. Organisasi kehilangan seseorang yang memiliki sumber daya bagus.dan dari jauh orang tersebut melihat dan menertawakan “kebangkrutan”organisasi tersebut. Dari kisah ini, kita melihat bahwa pertama, ego orang tersebut telah mengalahkan tanggung jawabnya terhadap komitmen yang pernah ia buat. Egonya terbungkus dengan “ketidak senangannya” terhadap seseorang di organisasi tersebut. Kedua, orang tersebut tidak menyadari bahwa komitmen (perkataan atau janji) awalnya telah melibatkan banyak orang. Sehingga ketika ia mengundurkan diri, akibatnya orang lain (termasuk organisiasi) ikut dirugikan. Ketiga, ia tidak menyadari bahwa komitmen awalnya itu bersifat mengikat (meskipun tidak tertulis) dan berakibat kepada konsekwensi-konsekwensi dimana pada masa-masa mendatang ia di anggap sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, tidak konsisten dan tidak bertanggung jawab bukan?.
Penyebab ketiga adalah Faktor kebiasaan. Ke-inkonsistenan seseorang terhadap apa yang di ucapkan bisa juga disebabkan karena factor kebiasaan atau adat istiadat. Dalam masyarakat tertentu, dimana perasaan tanggung jawab menduduki peringkat terendah, ke-inkonsistenan adalah sesuatu yang biasa kita jumpai dan hal itu dianggap lumrah. Rendahnya tanggung jawab bisa menjadi sesuatu yang sistemik dan merata dalam komunita masyarakat tertentu. Sehingga kalau ada orang yang bertanggung jawab, kalau ada orang yang konsisten dan kalau ada orang yang tepat janji justru dianggap aneh karena diluar kebiasaan masyarakat tersebut. Salah satu contoh, di sebuah daerah yang masyarakatnya memiliki tanggung jawab rendah, tiba-tiba seorang pejabat pemerintahnya mengundurkan diri karena pernah berjanji bahwa akan meletakkan jabatan jika sewaktu-waktu ia bertindak salah, namun justru pengunduran dirinya dianggap aneh dan tidak biasa. Rendahnya tanggung jawab yang tersistem dan merata (baca: berjamaah) tidak hanya kita temukan dalam satu komunita masyarakat. Namun kita juga bisa lihat di gereja. Suatu gereja yang pemimpin dan anggota-anggotanya memiliki rasa tanggung jawab yang rendah, akan sangat sulit untuk maju, sebab pemimpin dan jemaatnya banyak yang inkonsiten, tidak tepat janji, tidak bisa dipercaya, tidak mampu mempertanggung jawabkan apa yang pernah diucapkan dan seterusnya.
Dari pada kita lebih banyak bicara tentang penyebab kurangnya tanggung jawab banyak orang dalam kaitan dengan apa yang dikatakan, ada baiknya sekarang kita beralih ke poin yang lebih penting. Yaitu solusi bagaimana menjadi jemaat dan pemimpin yang bisa dipercaya, konsisten, tepat janji, dan perkataannya dapat dipertanggung jawabkan. Untuk menjawab ini dari tinjauan Alkitabiah mungkin akan dikupas lebih dalam melalui khotbah Minggu ini. Namun paling tidak ada beberapa tips yang saya usulkan untuk kita pikirkan dan laksanakan bersama, tidak hanya demi kemajuan gereja, kemajuan pribadi, tetapi juga kemajuan kita dibidang-bidang lain kehidupan kita.
Pertama, berhati-hatilah dalam berkata-kata. Berhati-hati bukan berarti kita menjadi orang yang pelit bicara atau menjadi orang yang tidak suka dan takut bicara. Namun menjadi orang yang bijaksana dalam berbicara. Apalagi jika kita mengatakan sebuah komitmen atau janji atau persetujuan kita. terhadap sesuatu, terhadap sesama dan terlebih terhadap Tuhan. Pertimbangkan baik-baik konsekwensi dan tanggung jawab yang anda pikul dengan apa yang anda janjikan atau katakan. Berhati-hatilah dengan emosi anda dan berhati-hatipula dengan nalar anda. Jangan sampai salah satunya mendominasi. Lebih dari itu, mintalah pimpinan Roh Kudus yang memampukan anda untuk berkata-kata yang bijak dimana perlu dan kapan perlu.
Kedua, kembangkan kebiasaan mengutamakan kepentingan bersama dan menundukkan keegoisan kita. Perhatikan bahwa apa yang kita katakan selalu berhubungan dengan pihak lain di luar kita. Pikirkan akibat-akibat yang timbul jika kita tidak konsisten, jika kita ingkar janji, jika kita tidak bertanggung jawab dengan apa yang kita katakana. Pertimbangkan dampaknya buat orang lain dan juga dampaknya bagi kita sendiri.
Ketiga, kembangkan budaya tanggung jawab dilingkungan manapun kita berada. Bagaimana caranya? Mulailah dari diri sendiri. Berilah contoh kepada komunita kita, sadarkan mereka akan pengaruh positif bila kita menjadi orang yang bertanggung jawab dengan apa yang kita perkatakan. Sehingga dengan orang lain diyakinkan akan teladan kita dan akibat-akibat konstruktif yang ditimbulkannya, kebiasaan jelek komunita kita akan berubah. Selamat berkata-kata dan selamat bertanggung jawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: