Oleh: Faoziduhu | Juli 13, 2011

MENJADI ORANG YANG MURAH HATI Luk 6:36 , Mat 5:7


“Hendaklah kamu murah hati,
sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Berbahagialah orang yang murah hatinya,
karena mereka akan beroleh kemurahan.

Pendahuluan :
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. “Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut. “Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi.Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.”Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.” “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.” Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.
Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Saudara, dari kisah ini kita melihat sebuah pelajaran yang sangat penting tentang kemurahan hati. Tuan dan Nyona Stanford mengharapkan kemurahan hati pimpinan Harvard untuk mendapat izin membangun gedung untuk mengenang anaknya yang sudah meninggal. Tetapi jangankan mendapat izin, simpati pun tidak. Yang diterima justru omelan dan penghinaan. Saya mau katakan bahwa hari inipun sangat sulit kita jumpai orang yang murah hatinya. Termasuk orang Kristen.
Sebenarnya apa itu murah hati? Murah hati bukan berarti hati kita mau dijual atau diobral dengan harga yang murah. Kata murah hati berasal dari kata yunani eleemon yang berarti sebuah sikap penuh kasih sayang yang diwujudkan dengan suka berbuat baik dan memberikan yang baik kepada orang lain. Namun karena Alkitab kita berasal dari bahasa Ibrani dan Yunani, maka kata kemurahan juga berasal dari kata khesed yang artinya jauh lebih dalam lagi. Kata khesed adalah sebuah kemampuan untuk menempatkan diri benar-benar dia dalam pribadi orang lain, sehingga kita dapat melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, memikirkan sesuatu dengan pikirannya dan merasakan sesuatu dengan perasaannya. Jadi khesed bukan sekedar simpati tetapi empati. Nah dari simpai, empati inilah lahir aksi, tindakan untuk mengasihi orang lain.

HENDAKLAH KAMU MURAH HATI
Di dalam Lukas 6:36, Tuhan Yesus berpesan ”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Kata hendaklah, bukanlah sebuah permintaan, harapan atau sebuah pilihan untuk ya atau tidak, tetapi sebuah perintah buat kita. Tuhan Yesus memerintahkan kita dengan jelas supaya kita memiliki sifat murah hati. Saudara mungkin pernah mendengar peribahasa demikian ”buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya.” apa maksudnya? Maksudnya bahwa sifat dan kebiasaan seorang anak pasti tidak jauh beda dari orang tuanya. Kita juga demikian, sebagai anak Tuhan sifat dan gaya hidup kita seharusnya tidak berbeda dari bapa kita di sorga. Jika Bapa kita murah hati, maka kitapun seharusnya memiliki sifat murah hati.
Tuhan sudah memberikan segala-galanya bagi kita. Ia memberikan kita alam dan ciptaanya yang sempurna, ia memberikan kita pertolongan dan perlindungan, Ia memelihara hidup kita. Bahkan anak-Nya stu-satunyapun diberikannya bagi kita. Sdr, ini bukti kemurahan hati Allah. Pada suatu hari seorang murid SD yang tubuhnya sudah cukup besar dibawa oleh gurunya menghadap kepala sekolah. Anak itu tidak memperlihatkan wajah ketakutan sama sekali. ”sudah berapa kali kamu ke sini.” ”sudah puluhan kali pak.” Kepala sekolah melanjutkan ”kamu tahu bahwa setiap kali kmu ke sini, kamu selalu dihukum karena kenakalanmu.” si anak menjawab dengan enteng ”ia, saya tahu bahwa saya akan dihukum. Tetapi ketahuilah saya tidak pernah takut, meskipun saya dihukum berkali-kali dan dengan cara apapun.”
Kepala sekolah menoleh ke arah si guru dan bertanya ”apa yang dilakukannya kali ini?” si guru menjawab ”ia berkelahi lagi, ia menarik si tomy kecil dan memasukkanya ke dalam kotak pasir.” ” apa yang si tomy lakukan kepadamu, sehingga engkau marah?” tanya kepala sekolah. ”ia memang tidak melakukan apa-apa. Namun saya tidak suka caranya memandang saya, sama sepereti anda menandang saya. Jika seandainya ada kotak pasir disini, sayapun ingin memasukkan kepala anda ke kotak pasir itu.” teriaknya dengan geram. Si guru menjadi sangat marah tetapi kepala sekolah itu melarangnya melakukan sesuatu. ”hari ini kamu harus belajar arti sebuah kemurahan. ‘Kemurahan’ adalah ‘Kebaikan yang tidak sepantasnya diberikan’. Kamu tidak pantas untuk mendapatkannya, hal itu adalah hadiah dan selalu diberikan dengan cuma-cuma. ‘Kemurahan’ berarti kamu tidak akan mendapat apa yang sepantasnya kamu terima.” Anak itu bertanya ”apakah itu berarti bahap tidak akan menghukum saya? Tanya anak itu Si anak menyelidiki wajah Kepala Sekolah, “Tidak ada hukuman sama sekali? Meskipun saya sudah menyakiti si Tommy dan memasukkan kepalanya ke kotak pasir? “Oh, hukuman pasti ada. Apa yang kamu lakukan itu salah dan perbuatan kita selalu ad konsekuensinya. Hukumannya ada. ‘Kemurahan’ bukan alasan untuk melakukan hal yang salah.” “Tuh kan ,” dengus si anak saat dia menyerahkan tangannya untuk dipukul “Ayo, lakukan saja sekarang.”Kepala Sekolah mengangguk kepada Guru. “Tolong bawa ke sini ikat pinggangnya.” Si Guru memberikan ikat pinggang kepada Kepala Sekolah, yang kemudian melipatnya dengan hati-hati, dan menyerahkannya kembali ke si Guru. Dia memandang si anak saat berkata, “Hitung pukulan-pukulannya.” Dia keluar dari belakang mejanya dan berjalan lurus ke arah si anak. Dengan lembut ditekuknya tangan si anak yang terjulur ke depan untuk menunggu pukulan-pukulan tersebut. Lalu dia berbalik ke arah si Guru dengan menjulurkan tangannya sendiri. Satu kata keluar dari mulutnya dengan pelan. “Mulai.” Ikat pinggang itu melecut tangan Kepala Sekolah yang terjulur. Krek! Anak kecil itu meloncat 2 meter ke udara. Wajahnya diliputi kekejutan. “Satu,” bisiknya. Krek! “Dua.” Suaranya naik satu oktaf. Krek! “Tiga.” Dia tidak dapat mempercayai hal ini. Krek! “Empat.” Air mata mulai menggenangi mata si pemberontak cilik. “OK, stop! Sudah cukup!” Krek! Ikat pinggang melecut tangan yang saat itu sudah mati rasa. Krek! Si anak meringis tiap kali lecutan menghantam, air mata kini mengaliri wajahnya. Krek! Krek! “Tolong berhenti,” ratap si bekas pemberontak, “Stop! Saya yang lakukan kenakalan itu, saya yang harusnya dilecut. Stop! Tolong hentikan.” Tetap saja lecutan demi lecutan datang, Krek! Krek!, yang satu menyusul yang sebelumnya. Akhirnya berakhir juga semuanya. Kepala Sekolah berdiri dengan kening yang berkilauan oleh keringat dan butiran keringat menetes dari wajahnya. Dia berlutut dengan perlahan-lahan. Dia mempelajari wajah si anak sesaat, lalu mengulurkan tangannya yang bengkak untuk mengelus wajah si anak yang tengah menangis. Lalu dia mengucapkan kata ini dengan lembut, “Kemurahan.” Itulah yang Yesus telah perbuat untuk kita.
Kalau Tuhan sudah memberikan segala-galanya bagi kita karena kemuranNya, Tuhanpun ingin kita memiliki kemurahan hati. Kemurahan hati di dalam menolong orang lain di dalam mengasihi orang lain. Termasuk yang tidak kalah penting di dalam kemurahan hati kita di dalam mendukung pekerjaan Tuhan. Kalau saya mau jujur, seringkali kita kurang memiliki kasih, simpati, empati dan aksi di dalam mendukung pekerjaan Tuhan. Kalau kita memberikan persembahan kita misalnya. Seringkali, itu hanya sekedar kewajiban sebagai anggota gereja saja. Saya mau katakan kalau kita memberi kepada Tuhan sebagai kewajiban itu benar, tetapi tidak cukup kewajiban. Kalau kewajiban pasti rasanya berat.
Namun Tuhan ingin kita memiliki kasih, simpati, empati dan aksi ketika kita memberikan persembahan kita kepada Tuhan. Inilah jiwa dan esensi dari kemurahan hati. Kalau kita punya kasih kepada Tuhan dan pekerjaanNya maka kita akan dengan aktif. Tanpa di dorong tanpa dipaksa-paksa karena kasih kita mendukung pekerjaan Tuhan. Pernahkah saudara melihat ada orang yang jatuh cinta sampai harus di dorong dan dipaksa-paksa untuk berpacaran. Saya rasa tidak. Kalaupun ada pasti manusia aneh. Kalau ada kasih pasti berusaha mewujudkan kasihnya kepada orang yang dikasihinya. Demikian juga kita dengan pekerjaan Tuhan. Tanpa dipaksa dan tanpa di dorong.
Seringkali kita tidak merasa sebagai bagian dari pekerjaan Tuhan. Kita sering menganggap itu urusan orang lain, itu pekerjaan orang lain. Ini juga merupakan ciri orang yang tidak ada simpati dan empatinya. Kalau sudah membantu dan memberikan persembahan dirasa sudah cukup. Selebihnya itu urusan orang lain. Teman saya seorang hamba Tuhan pernah cerita bahwa ia sering kewalahan kalau mereka ada sebuah acara atau kegiatan. Telepon yang masuk isinya tanya apa yang bisa saya bantu. Apakah saya perlu bawa ini, apakah perlu siapkan ini, Apakah dananya cukup? Saya pikir ini sikap simpati dan empati. Inilah jiwa kemurahan hati. Dan jiwa semacam ini perlu kita tumbuh kembangkan dalam kehidupan kita begreja menuju gereja yang sehat.
BERKAT TUHAN BAGI ORANG YANG MURAH HATI
Di dalam 9 ucapan berbahagia yang disebutkan Tuhan Yesus, kemurahan hati termasuk dalam kelompok penyebab orang berbahagia. Dikatakan bahwa ”berbahagialah orang yang murah hatinya.” Orang yang murah hati akan mengalami kebahagiaan. Apa itu kebahagiaan. Kebagaiaan adalah sebuah suasana atau bentuk kepuasan yang dialami seseorang. Kebahagiaan seseorang tidak diukur oleh jabatan, kekayaan, pendidikan. Tetapi apakah orang itu puas atau tidak. Orang yang puas pasti hatinya senang dan jiwanya diliputi oleh kegembiraan. Dan dalam nast ini dikatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang murah hatinya.
Banyak orang tidak memiliki jiwa murah hati, karena terfokus pada diri sendiri. Nanti kalau murah hati segala sesuatu yang saya punya akan habis. Nanti kalau saya murah hati kebutuhan saya tidak cukup. Nanti kalau murah hati saya bisa rugi. Ilustrasi : Pada suatu ketika suatu keluarga baru pindahan dari kota lain bermaksud mencari gereja tempat mereka beribadah. Maka mereka keliling dari gereja satu ke gereja lain. Di tiap gereja mereka tanya ”apa sih keistimewaan gereja ini.” gereja pertama yang dikunjungi menjawab ”paduan suaranya bagus.” tetapi mereka tidak tertarik. Gereja B menjawab ”pelayanan ibadahnya bagus.” mereka juga tidak tertarik. Gereja C menjawab khotbahnya bagus. Itupun tidak pada suatu ketika di gereja C mereka bertanya apa istimewanya gereja ini. Lalu dijawab ”o, gereja ini perpuluhannya Cuma 5 %.” langsung saja mereka mendaftar menjadi anggota gereja tersebut.
Orang bisa berpikiran negatif terhadap kemurahan hati. Orang banyak berpikir bahwa kalau berpusat pada diri sendiri, kalau mengutamakan diri sendiri nanti akan mengalami kebahagiaan. Saya mau katakan belum tentu. Justru saya melihat bahwa orang yang murah hati selalu puas dalam hidupnya. Mereka selalu berbahagia, bersukacita dan bergembira dalam hidupnya.
Di GKI Samanhudi jakarta, ada kisah yang selalu dikenang oleh jemaat tersebut tentang sosok seorang ibu yang bernama ibu Tiong Tjeng. Ibu ini melayani di gereja sebagai pengurus diakoni gereja. Ketika ibu ini berusia setengah baya, suaminya bekerja sebagai tukang pos. Anak mereka 12 orang dan mereka tinggal di sebuah gang bernama gang madat sempit dan gelap. Ibu Tiong Tjeng ini orangnya pendiam namun suka menolong. Sifatnya yang suka menolong tidak hanya ketika ia mengurus diakonia tetapi jauh sebelum itu. Ia terkenal sebagai sosok yang murah hati. Ibu Tiong Tjeng ini juga suka mengurus kematian di gerejanya dan tanpa membeda-bedakan miskin kaya ia urus kematiannya dengan baik.
Dalam pelayanannya kepada keluarga-keluarga kurang mampu, ia menggerakkan atau melibatkan anak-anaknya. Ia sering menyuruh anak-anaknya mengantar beras, kecap, gula. Mengajak mereka kerja bakti memperbaiki rumah jemaat yang rusak dan berbagai kegiatan lainnya. Perhatian dan kasih ibu Tiong Tjeng ini terus ditunjukkan walaupun ia tidak mengurus diakonia gereja bahkan ketika ia jatuh sakit dan selama beberapa tahun ia terbaring di rumah sakit. Ia terus mempedulikan orang lain dan mendukung pekerjaan Tuhan. Setiap kali pendetanya datang, ibu Tiong Tjeng ini tanya bagaimana keadaan gereja, tanya keadaan mama sang pendeta yang juga kebetulan sakit. Beberapa waktu kemudian pada usia 58 tahun ibu Tiong Tjeng ini meninggal dunia. Walaupun ibu ini sudah tiada, namun banyak orang mengenang dia sebagai seorang ibu yang tidak suka bicara tetapi banyak berbuat. Tidak hanya itu ia dikenal begitu berbahagia dalam hidupnya (cerita ini dikutip dari buku Seri selamat)
Sdr, Akitab tidak hanya menjanjikan kebahagiaan bagi orang yang murah hati. Dalam ayat 7b dikatakan bahwa mereka akan beroleh kemurahan. Banyak orang salah menafsirkan bagian ini. Mereka berpikir kalau murah hati terhadap orang lain maka orang lain akan bermurah hati terhadap mereka. Ini keliru. Maksud dari kalimat ini adalah bahwa Allahpun akan bermurah hati kepada kita. Jadi bukan manusia. Namun Tuhanlah yang bermurah hati kepada kita. Ini berkat yang luar biasa saudara. Kalau kita murah hati maka kita akan mendapat kemurahan hati Allah. Bagi saya kemurahan hati manusia itu adalah sesuatu yang baik kita dapatkan tetapi kemurahan hati Allah jauh lebih besar lagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: