Oleh: Faoziduhu | Juli 8, 2011

APAKAH CARA MEMBABTIS DENGAN PERCIK ITU ALKITABIAH?


Sebuah pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang yang menyudutkan protestan (istilah protestan yang dimaksud disini adalah gereja arus utama) adalah mengenai cara babtisan. Seolah-olah babtisan dengan cara percik adalah sesuatu yang menyesatkan dan tidak Alkitabiah. Itulah sebabnya jemaat protestan yang “hijrah” ke kaum kharismatik biasanya diwajibkan untuk di babtis ulang kembali. Seolah-olah babtisan yang sudah dilakukan di gereja protestan kurang berkhasiat atau dianggap tidak Alkitabiah. Dengan berbagai argumen yang meyakinkan maka babtisan ulang dengan diselamkan diwajibkan bagi mereka yang baru “bertobat” dari protestan ke kharismatik. Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah topik pertanyaan yang hangat dipertanyakan kepada saya ataupun mungkin pernah dipertanyakan kepada anda. Pertama, apakah babtisan percik Alkitabiah? Kedua, apakah diperbolehkan seorang Kristen dibabtis berkali-kali.
Sebelum saya menjawab hal ini dengan tegas, saya akan mengajak kita melihat dari sudut padang historis-teologis terlebih dahulu praktek dan cara babtisan dalam dunia Israel dan kemudian dunia kekristenan. Sambil menelusuri latar belakang sejarah, kita juga melihat dasar teologis yang melatar belakangi cara dan praktek babtisan tersebut. Kemudian dengan jernih-obyektif kita mencoba melihat apakah babtisan percik Alkiktabiah dan apakah seseorang diperbolehkan dibabtiskan berkali-kali.
Dalam Perjanjian Lama, orang Israel tidak mengenal apa itu babtisan. Orang Israel dewasa maupun anak-anak sama sekali tidak dibabtis. Tetapi dalam PL ada sebuah tanda yang menunjukkan seseorang menjadi bagian dari umat Tuhan yaitu, sunat. Oleh sebab itu anak-anak Israel disunat ketika masih anak-anak (balita) sebagai tanda bahwa mereka menjadi bagian dari umat Tuhan (Kejadian 17:12). Sekalipun dikalangan umat israel tidak mengenal babtisan, namun bagi mereka yang berasal dari bangsa lain (luar israel) yang ingin menjadi umat Tuhan, mereka wajib dibabtiskan. Mereka yang berasal dari bangsa lain dan kemudian menjadi umat Tuhan ini disebut proselit.
Babtisan sebagai tanda pertobatan, pertama kali diperkenalkan oleh Yohanes. Yesus sendiri tidak membabtis orang dengan cara selam. Namun Yesus membabtis dengan Roh Kudus (Luk 3:16). Mengenai apakah maksud dan makna babtisan Roh Kudus tidak akan dibahas disini. Cara babtisan yang dipakai oleh Yohenes ini adalah dengan diselamkan. Yesus sendiri dibabtis oleh Yohanes di sungai Yordan. Gereja mula-mula kemudian mempraktekkan babtisan sebagai tanda seseorang percaya kepada Yesus dan menjadi kristen (Kisah rasul 2:38,41; 8:38; 10:48; 16:33). Penegasan mengenai pentingnya babtisan ini diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk dilakukan oleh gereja (Matius 28:19). Jika babtisan Yohanes merupakan tanda pertobatan, maka babtisan Kristen lebih dari sekedar sebuah pertobatan. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Kolose menegaskan hubungan antara sunat dan babtisan. Sunat dalam masyarakat israel adalah tanda seseorang terhisab dalam ikatan perjanjian dengan Allah, dimana mereka menjadi umatNya dan Ia menjadi Allah mereka. Namun dalam kekristenan sunat sudah diganti dengan Babtisan (Kolose 2:11-13). Sekalipun sunat sudah diganti dengan babtisan, namun makna sunat tentu masih berlaku dalam babtisan. Sehingga dengan demikian babtisan tidak hanya dipahami sebagai tanda pertobatan, namun juga merupakan tanda seseorang menjadi bagian dalam ikatan perjanjian dengan Tuhan. Babtisan adalah tanda seseorang menjadi umat tebusan Allah. Itu sebabnya anak-anak yang berasal dari keluarga Kristen yang sudah seyogyanya merupakan bagian dari anggota Kerajaan Allah wajib untuk di babtiskan (ingat bahwa sunat dalam kehidupan orang Israel dilakukan pada waktu anak-anak).
Nah, jika babtisan sangat penting bagi orang Kristen sama seperti sunat bagi orang israel, maka bagaimana caranya babtisan itu dilaksanakan. Kalau melihat cara Yohanes membabtis, maka jelas bahwa babtisan dilakukan dengan cara diselamkan. Namun apakah semua cara babtisan dalam Alkitab dilakukan dengan cara selam? Tidak jelas. Ketika Petrus membabtis tiga ribu orang percaya di Yerusalem tidak ada penjelasan apakah dibabtis dengan cara selam atau dengan cara dipercik/dibasuh. Demikian juga ketika Kornelius dan keluarganya dibabtis tidak jelas dilakukan dengan cara bagaimana. Bahkan kalau kita membaca konteks peristiwa pembabtisan kepala penjara dan keluarganya oleh Paulus (Kis 16:33), jelas mengindikasikan bahwa mereka dibabtis tidak dengan cara selam. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Lukas bahwa “seketika itu juga..ia dan keluarganya dibabtis.” Jika melihat konteks peristiwa itu, maka jelas terjadi di sebuah rumah dan bukan di sebuah sungai atau kolam. Pembabtisan terjadi di rumah. Sesuatu hal yang sulit dan mustahil jika waktu itu dalam keadaan genting Paulus membawa mereka keluar mencari air yang cukup banyak untuk menyelamkan mereka. Jika kita melihat konteks peristiwa itu, kepala penjara sedang membasuh luka-luka Paulus dan Silas dengan air, maka apakah tidak ada kemungkinan kepala penjara dan keluarganya dengan segera dibabtis dengan cara dibasuh/dipercik dengan air? Kemungkinan besar mengarah kearah pendapat itu.
Dari uraian kisah-kisah di Perjanjian Baru menjadi jelas kepada kita bahwa cara babtisan yang dipraktekkan jemaat mula-mula tidak melulu dengan diselamkan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri tidak pernah menyuruh gerejaNya membatis dengan selam. Yesus hanya berkata “dan Babtiskanlah mereka…” Jika melihat arti kata babtisan dari kata Yunani babtiso, maka pengertiannya tidak hanya diselamkan saja tetapi kata babtiso juga dapat diterjemahkan dengan dibasuhkan. Jadi menjadi jelas bahwa babtisan tidak harus dilakukan dengan cara selam saja namun juga bisa dilakukan dengan cara di basuh atau dipercik. Dalam perkembangan gereja yang semakin luas, maka dibutuhkan cara-cara yang bijaksana untuk membabtis seseorang yang baru percaya. Misalnya mereka yang sedang sakit keras dan kemudian meminta dibabtiskan. Didalam kita Didakhe yang merupakan catatan penting sejarah gereja sekitar tahun 100-200 dicatat bahwa babtisan dengan cara percik adalah sesuatu yang biasa dilakukan. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa orang percaya yang berada dalam kondisi sakit keras dan ingin dibabtis mustahil dibabtis dengan selam. Maka orang tersebut dibabtis dengan cara percik. Demikian juga untuk kondisi tertentu dimana air sangat sulit didapatkan (secara khusus di daerah ekstrim atau pada musim tertentu), orang percaya dibabtis dengan cara percik/dibasuh. Terlebih lagi ketika Kekristenan menjadi agama negara di imperium Romawi dan pemerintah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menjadi kristen. Maka pada saat itu tempat-tempat pembabtisan penuh sesak dan sangat sulit dibabtis dengan cara selam. Oleh sebab itu cara babtisan dengan percik adalah pilihan utama saat itu. Salah satu alasan yang mengemuka adalah faktor ke-efektifan.
Namun bukan hanya sekedar masalah keefektifan, babtisan dengan percik bukanlah suatu cara alternatif terakhir, namun merupakan cara gereja yang menjadi aturan yang berlaku di gereja yang sudah makin establis. Gereja Katolik kemudian menegaskan tentang tata cara babtisan percik sebagai cara yang lazim dilakukan gereja. Cara babtisan dengan percik ini kemudian diteruskan oleh para reformator utama, seperti Luther, Zwingli dan Yohanes Calvin. Gereja-gereja protestan pada umumnya meneruskan cara babtisan dengan percik. Sekali lagi cara percik, bukan hanya sebagai alternativ atau situasional namun juga lebih disebabkan alasan teologis seperti sudah saya jelaskan diatas.
Oleh karena bayi/anak-anak Kristen seharusnya dibabtis (sebagaimana anak-anak Israel yang disunat ketika mereka masih kanak-kanak) sebagai tanda terhisab dalam perjanjian dengan Tuhan dan dengan demikian mereka menjadi bagian dari umat Allah. Maka adalah sesuatu hal yang tidak mungkin kalau anak-anak/bayi dibabtiskan dengan cara selam bukan? Oleh sebab itu, bagi anak-anak yang akan dibabtis sangat realistis jika mereka dibabtiskan dengan dibasuh atau dipercik. Istilah dipercik atau dibasuh sebenarnya meminjam istilah penyucian dalam PL. Ketika seorang imam memercikkan darah anak domba sebagai tanda penyucian dari dosa. Pembasuhan juga memiliki makna yang sama. Membersihkan atau menyucikan dari segala kenajisan dan dosa.
Jika babtisan percik sudah dipraktekkan sejak zaman rasul dan babtisan dengan cara ini menjadi sah dalam sakramentum kita, maka bagaimana dengan babtisan selam. Babtisan selam dan babtisan percik sama-sama sah dan diakui. Pada umumnya gereja protestan tidak mempermasalahkan (dengan kata lain mengakui) seseorang yang dulunya dibabtis dengan cara selam kemudian pindah menjadi bagian dalam gereja arus utama. Yang paling penting dan mendasar adalah, Pertama. Apakah orang tersebut dibabtis dalam nama Tritunggal? Dibabtis dalam nama apa adalah penting. Mengingat babtisan merupakan tanda seseorang percaya dan/atau menjadi bagian dalam umat Tuhan. Kepada siapa orang tersebut percaya? Kepada siapa orang tersebut mengaku? Ini menjadi dasar penting. Kedua, apakah memakai media air? Mengingat kata babtiso adalah diselam atau dibasuh/dipercik, maka akan tidak logis jika memakai media lain. Misalnya bendera atau media-media lainnya. Namun patut diingat, bahwa bukan air yang menyucikan kita dari dosa. Hanya darah Yesus yang membasuh dosa kita. Dalam Katekismus Heidelberg tertulis demikian “Allah mempunyai alasan yang baik untuk kata-kata ini. Ia ingin mengajar kita bahwa darah dan Roh Kristus membersihkan dosa-dosa kita sama seperti air menyuci kotoran dari tubuh kita” (Minggu 27. PJ 73). Ketiga, babtisan tidak menyelamatkan dan tidak membawa orang ke sorga. Babtisan sekalipun penting namun hanyalah sebagai tanda (cap/meterai) yang meneguhkan dan bersifat “pernyataan/proklamasi” di depan orang banyak. Keempat, babtisan tidak punya nilai magis. Banyak orang salah mengerti mengenai babtisan. Seolah-olah dengan dibabtisnya seseorang, maka masalah di dunia akan beres, semakin kaya, penyakit sembuh dan berbagai kepercayaan tahayul lainnya. Perhatikan bahwa anggapan ini sirik dan merupakan penghinaan kepada makna babtisan yang sebenarnya.
Bertolak dari paparan diatas kita tiba pada kesimpulan. Pertama, babtisan percik sah dan memiliki dasar teologis Alkitabiah. Kedua, jika babtisan percik sah, maka implikasinya tidak perlu ada babtisan ulang. Babtisan ulang mengindikasikan beberapa hal. Pertama, seolah-olah membuktikan bahwa kita pernah mutrad dan meninggalkan iman kita, seolah-olah membuktikan bahwa kita pernah menyangkal dan menghianatiNya. Kedua, babtisan ulang seolah-olah membuktikan bahwa kita menganggap remeh peristiwa sakramen babtisan yang dilakukan atas nama Tritunggal yang kudus. Ketiga, babtisan ulang membuktikan bahwa kita sangat dangkal memahami berita Alkitab mengenai makna babtisan. Keempat, babtisan ulang menegaskan bahwa kita lebih mengutamakan cara babtisan dari pada makna. Babtisan ulang juga menunjukkan bahwa kita lebih mengutamakan model babtisan dari pada tujuan babtisan yang sesungguhnya. Seolah-olah cara dan model lah yang menentukan.


Responses

  1. Baptisan artinya diselam dan bahasa Yunaninya adalah baptizo. Perintah Allah ini tidak boleh diubah dengan percik atau ditetesi air. orang yang sudah dirantis atau dipercik belum tentu sudah dibabtis. memang baptisan tidak menyelamatkan sesuai dengan Mat.3:11. tetapi ingat Tuhan tidak pernah menyuruh untuk memercik atau menetesi air melainkan Allah hanya berkata pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridku dan siapa yang percaya baptislah mereka Mat.28:19-20. oleh sebab itu saya menyatakan bahwa pengajaran ini tidak sesuai dengan kebenaran perintah Tuhan karena perintah Tuhan diabaikan dan seolah olah percik benar. saya memberikan sebuah contoh ilustrasi : kalau misalnya anda menyuruh orang mengirim surat kepada presiden dan dengan tegas anda berkata bahwa surat itu harus Presiden yang menerimannya tetapi orang yang kamu suruh ternyata tidak melakukan perintah anda. melainkan surat yang penting itu diberikan kepada satpamnya presiden . bagaimana perasaan anda setelah mendengar dari orang yang anda suruh suratnya diserahkan kepada satpam Presiden. Pasti anda marah bukan? lebih lagi Tuhan Kita Adalah yang Maha Suci.

    • Maafkan saya baru membalas. Maaf karena kesibukan, sehingga selama beberapa lama saya tidak melihat komentar yang masuk. Saya coba komentari pendapat anda. Anda mengatakan demikian “Babtisan artinya diselam dan bahasa Yunaninya Babtiszo.” Pernyataan anda benar tetapi sempit. Kalau kita membavca berbagai literatur Yunani, maka kita menemukan bahwa babtis itu tidak hanya diartikan diselam tetapi juga di basuh. Dibasuh itu tidak harus membutuhkan berkubik-kubik air. Orang bisa membasuh dirinya hanya dengan sedikit air. Yang paling penting dari babtisan bukan soal banyaknya air. Ingat bahwa banyaknya air tidak menyelamatkan. air yang digunakan dalam babtisan adalah simbol. Jadi kita jangan terjebak kepada banyaknya air. Kalau seseorang berkata harus diselam, berarti ia harus butuh air yang banyak. Alangkah sangat bersalahnya kita memaksakan seorang wanita haid, orang yang sekarat, atau orang yang di padang pasir atau daerah kutub harus dibabtiskan dengan diselam, karena kita menganut paham, harus diselam dan air harus banyak. Selanjutnya anda berkata “tetapi ingat Tuhan tidak pernah menyuruh kita untuk memercik atau menetesi air.” Saya juga mau berkata demikian ingat Tuhan juga tidak pernah menyuruh kita menyelamkan seseorang. Ingat bahwa dalam Alkitab, tidak ada kata menyelamkan atau memercik atau menetesi. Yang ada adalah membabtis. Kitab Matius berbunyi “dan babtiskanlah mereka” jadi bukan “dan selamkanlah mereka.” Kalau kita menerima pengertian babtis sebagai selam dan membasuh(percik), maka kita berdua tidak ada masalah. berarti membabtis=menyelamkan=memercik. selanjutnya anda berkata “oleh sebab itu saya menyatakan bahwa pengajaran ini tidak sesuai dengan kebenaran perintah Tuhan.” saya coba memberikan beberapa komentar. Pertama, kita (saya dan anda) tidak memiliki hak memberikan penilaian sebuah pengajaran ini benar atau salah. Yang menguji sebuah pengajaran adalah Alkitab sendiri. Kedua,kalaupun kita memberikan pendapat yang mungkin berbeda dengan orang lain, sebaiknya harus memiliki landasan Alkitab yang jelas dan benar. selanjutnya mengomentari ilustrasi anda di alinea terakhir “pasti anda marah bukan?” kalau kita mempersonifikasikan anda dengan Tuhan, berarti kesimpulan anda babtisan percik membuat Tuhan murka. Sampai saat ini, mulai dari zaman PB gereja tetap melaksanakan tugas membabtis dengan percik (juga dengan selam), saya tidak pernah melihat atau merasakan Tuhan murka terhadap gereja. Sebagai penutup. saya tetap pada pendapat semula bahwa babtisan percik dan selam sama-sama Alkitabiah. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: