Oleh: Faoziduhu | Juli 5, 2011

Iman dan doa


Pada suatu ketika puluhan tahun yang silam di pedalaman Afrika. Di sebuah klinik sekaligus sebuah panti asuhan, para perawat bersama dengan seorang dokter yang juga seorang misionaris sedang berusaha menyelamatkan seorang ibu yang hendak melahirkan. Perjuangan mereka selama beberapa jam tidak maksimal. Sang anak berhasil diselamatkan tetapi ibunya meninggal dunia. Sekarang para perawat berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga si bayi agar tetap hangat dan sehat. Namun tiba-tiba seorang perawat melaporkan bahwa botol karet tempat menyimpan air panas pecah. Padahal botol karet tersebut adalah botol terakhir yang dimiliki klinik sederhana di pedalaman Afrika tersebut. Entah mengapa botol tersebut bisa pecah. Mungkin karena botol tersebut diisi air yang terlalu panas sehingga botol karet tersebut pecah. Padahal pada masa itu botol tempat menyimpan minuman hangat sangat penting, terutama bagi seorang bayi.
Sang dokter mengajak perawat dan anak-anak panti untuk berdoa. Salah seorang anak yang berumur 10 tahun berdoa dengan kata-kata yang sederhana. “Tuhan Yesus dengarlah doakau. Tuhan tolong kirim botol minuman supaya bayi kecil kami selamat. Hari ini ya Tuhan, jangan besok. Kalau besok, bayi kami tidak akan tertolong.” Doa anak kecil yang polos dan sederhana ini, sedikit membuat sang dokter tersenyum. Anak kecil ini melanjutkan “Tuhan Yesus, kirimin aku sebuah boneka juga ya.” Dokter dengan keras berkata “amin” untuk meneguhkan doa anak ini. Namun entah mengapa di dalam hatinya yang paling dalam muncul keraguan. Tentang jawaban doa anak itu. Bagaimana mungkin hari itu ada botol minuman yang sangat mereka butuhkan. Untuk mengirim kebutuhan medis dan bekal hidup mereka saja membutuhkan waktu berbulan-bulan dari Amerika. Namun entah mengapa kata-kata “amin” terucap di bibirnya.
Sore harinya, pengantar barang datang dengan membawa kiriman dua parsel besar yang ditujukan kepada panti itu. Dokter, perawat dan anak-anak panti bergembira. Pada waktu parcel di buka. Mula-mula paling atas adalah obat-obatan. Tetapi yang membuat mereka kaget dalam parcel itu ada botol karet minuman yang mereka butuhkan. Dan yang lebih kaget lagi ternyata dalam parcel itu terdapat sebuah boneka kecil. Di parcel itu tertulis data pengiriman. Dikirim oleh sebuah sekolah dari Amerika lima bulan yang lalu. “dokter, bolehkah saya membawa boneka kecil ini kepada bayi kecil, supaya saya memberitahukan dia bahwa Tuhan Yesus mendengar doa kita? Dengan mata berkaca-kaca sambil menganggukkan kepala, sang dokter mengiyakan permintaan anak tersebut.
Potret kisah sang dokter dan para penghuni panti adalah juga merupakan gambaran kehidupan kita hari ini. Ketika kita berada dalam masalah yang sulit dan saat itu kita berdoa, sementara mulut kita mengakui kemahakuasaan Tuhan, namun jauh dalam hati kita yang paling dalam terbersit keragu-raguan apakah Dia mampu dan sanggup menolong kita. Akal kita jauh lebih kuat mempengaruhi kita ketimbang iman kita. Mari kita melihat pengalaman yang luar biasa ini. Jauh sebelum anak 10 tahun ini berdoa, Tuhan sudah menyediakannya. Artinya Tuhan sudah menjawab doanya jauh sebelum ia memanjatkannya. Demikian juga kita. Tuhan tahu apa kebutuhn kita dan Tuhan telah telah menyediakannya sebelum kita memintanya.
Kita mungkin terkesan dengan kisah doa anak kecil ini. Sebuah doa dengan iman yang luar biasa. Hal ini memang benar. Doanya di jawab karena imannya kepada Yesus. Namun masalahnya iman macam apa yang dimaksud disini. Apakah iman disini menunjuk kepada kemampuan pribadi manusia? Seringkali kita mengaitkan iman dan doa itu dengan kehebatan dan kerohanian manusia yang seolah-olah luar biasa. Jadi factor antroposentris (kemanusiaan) lebih dominan. Lihat saja pengakuan banyak orang bahwa doa pendeta lebih manjur dari pada doa jemaat, sebab secara rohani pendeta lebih rohani atau lebih dekat kepada Tuhan ketimbang jemaat biasa. Seringkalipula iman dan doa dikaitkan dengan kemampuan untuk “memaksa” Tuhan mengikuti apa yang kita minta dan inginkan. Saya pernah mendengar istilah “mengepung Tuhan.” Jadi doa dengan iman yang dimaksud disini adalah doa orang banyak yang seolah-olah Tuhan terjepit dengan doa yang keras, yang panjang dan dilakukan banyak orang. Akhirnya karena Tuhan sudah terjepit dengan doa yang begitu banyak akhirnya Tuhan terpaksa mengabulkannya. Jadi menurut anggapan ini, usaha manusialah yang berperan dan inilah iman.
Pertanyaannya, apakah benar demikian? Apakah iman berkaitan dengan kemampuan manusia? Sepanjang kita mempelajari Alkitab tidak pernah kita mendapatkan ajaran bahwa doa di dengar karena usaha manusia. Sama sekali tidak. Jadi pandangan diatas sebenarnya salah. Bahkan salah besar. Pertama-tama, kita perlu tahu bahwa Iman itu sebenarnya berasal dari Allah. Tuhanlah yang memberikan kita iman. Tuhanlah yang menggerakkan atau memantapkan kita sehingga kita yakin dan percaya. Kedua, iman sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kedaulatan dan kemurahan hati Allah. Jadi bukan karena kemampuan manusia “memaksa Tuhan.” Tetapi semua karena kedaulatanNya. Kalau kita membaca kisah 2 orang buta yang disembuh Yesus( matius 9:27-28). Tuhan menyebut mereka memiliki iman sehingga penyakit mereka sembuh. Namun iman yang bagaimana? Kalau kita melihat perikop itu jelas terlihat ketika Tuhan bertanya : “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Perhatikan jawaban mereka. Mereka tidak langsung berkata “kami percaya.” Namun mereka terlebih dahulu mengaku bahwa Ia adalah Tuhan. Ini menarik. Sebab, pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan keyakinan bahwa Yesus dapat membuat muzizat adalah dua hal yang berbeda. Kalau 2 orang buta ini hanya sekedar percaya bahwa Yesus dapat membuat muzizat, maka hal itu sama saja dengan menyamakan Tuhan dengan nabi-nabi yang dapat membuat muzizat. Bahkan nabi palsu pun dapat membuat muzizat (Mat 24:24). Namun 2 orang buta memiliki iman yang benar. Mereka tidak hanya percaya/yakin bahwa Yesus mampu sembuhkan mereka (buat muzizat) tetapi lebih dari itu mereka mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas diri mereka
Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan adalah sebuah kunci dari iman. Kalau kita mengakui bahwa Ia Tuhan, berarti kita tunduk dan taat kepada apa yang Tuhan mau. Dengan kata lain. Kalau kita menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan, bukan semata-mata menurut keinginan kita, waktu kita dan bahkan cara kita. Sebab jika demikian, maka kita seolah-olah memaksa Tuhan mengikuti apa yang kita mau. Namun iman yang benar adalah tunduk pada keinginan, waktu dan cara Tuhan. Bukankah hal itu yang jauh lebih indah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: