Oleh: Faoziduhu | Juli 3, 2011

DARI PADA SAKIT HATI LEBIH BAIK SAKIT GIGI INI (lebih baik mencegah dari pada mengobati/menyembuhkan)*


Penikmat music dangdut pasti ingat dengan lagu ini. Saya lupa siapa yang mempopulerkannya, namun lagu ini pernah menjadi popular sekitar lima atau tujuh tahun lalu. Lagu yang bertutur tentang percintaan sepasang sejoli yang salah satunya menjadi sakit hati oleh perilaku pasangannya. Sakit hati digambarkan seperti api atau tertusuk duri yang sangat tajam dan menyakitkan. Itu sebabnya ia memilih lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati. Bagi penyair sakit hati lebih menyakitkan dari pada sakit gigi. Mengapa sakit hati dibandingkan dengan sakit gigi? Ini memang menarik.
Anda pernah sakit gigi? Saya rasa hampir semua orang pernah sakit gigi. Sakit gigi itu jelas tidak mengenakkan. Orang kalau sakit gigi pasti wajahnya cemberut karena sakit, kepala cekot-cekot, malas untuk diajak bicara, maunya jangan diganggu atau diajak ngomong bahkan ada yang memilih untuk menyendiri. Saya punya teman yang sakit gigi, pernah terpancing emosi dan memukul orang lain gara-gara diajak bercanda. Lebih menyakitkan lagi, konon, gigi yang sakit tidak bisa dicabut ketika sedang sakit, sehingga menunggu sakitnya reda dulu. Pokoknya sakit gigi itu tidak mengenakkan. Orang kalau sakit gigi pasti tidak bisa makan, apalagi makan yang enak-enak. Ada orang yang sakit gigi ngomel-ngomel atau marah-marah terus sepanjang hari. Ngomel kepada sesama manusia, kepada binatang, juga kepada benda-benda mati.
Supaya orang tidak sakit gigi, maka sekarang orang sangat rajin merawat dan memeriksakan gigi ke dokter. Ada yang sampai tiap minggu konsultasi ke dokter gigi. Ada yang dicabut, ditembel, dibersihkan dan lain sebagainya. Mumpung belum sakit, lebih baik melakukan tindakan pencegahan. Intinya orang sama sekali tidak ingin sakit gigi.
Nah, sekalipun sakit gigi itu menyakitkan, jauh lebih sakit lagi, sakit hati. Memang sakit lever itu menakutkan dan mengerikan. Tetapi bukan sakit hati yang dimaksud disini. Sakit hati yang saya maksud adalah sakit jiwani atau sakit bathiniah. Jangan salah paham dulu. Yang dimaksud dengan sakit jiwani disini bukanlah sakit gila atau kurang waras sehingga perlu penanganan khusus. Namun yang dimaksud disini adalah gangguan dalam bathin kita ketika diusik oleh pihak-pihak dari luar atau sengaja kita ciptakan sendiri. Apa maksudnya diusik oleh pihak-pihak dari luar?
Sadar atau tidak jiwa kita ini selalu memberikan respons terhadap stimulus yang datang dari luar diri kita. Rangsangan yang saya maksud bisa negative dan bisa positif. Secara umum jiwa kita bereaksi dalam bentuk empat perasaan yang disebut, takut, gembira, sedih dan marah. Jika kita diancam oleh orang lain, maka kita memberikan reaksi dengan perasaan takut. JIka kita memenangkan lotre arisan maka kita gembira. Jika kita ditinggal oleh orang yang kita kasihi, maka perasaan kita memberikan respons dengan berduka atau bersedih. Sebaliknya jika harga diri kita diinjak-injak maka kita bersepons dengan marah. Tiap-tiap orang ketika memberika respon terhadap suatu stimulus yang sama bisa berbeda-beda. Misalnya si A dan si B diancam atau diteror. Si A memberikan reaksi taku tetapi belum tentu dengan si B. demikian seterusnya.
Namun gangguan bathin juga bisa disebabkan oleh anggapan-anggapan atau praduga-praduga yang kita ciptakan sendiri. Misalnya kalau saudara seorang yang memiliki berat 75 kilogram dengan tinggi 150 centi meter. Melihat postur tubuh yang tidak porposional ini anda lalu menciptakan sebuah image bahwa anda jelek atau tidak cantik. Akibatnya perasaan anda menjadi begitu terganggu. Anda tidak nyaman dengan tubuh anda. Anda bertumbuh menjadi pribadi yang sulit bergaul karena anggapan-anggapan tadi. Jadi image yang telah anda ciptakan menyebabkan perasaan anda memberikan respon dengan takut atau sedih. Saya tidak menampik anggapan bahwa tubuh yang tidak proposional berbahaya bagi kesehatan. Itu memang benar. Namun, anggapan bahwa gemuk itu jelek itu sangat keliru. Hukum mana yang mengatakan bahwa gemuk jelek? Ada orang yang menyukai wanita atau pria yang gemuk. Bahkan ada kontes kecantikan di Negara tertentu yang menjadikan kegemukan sebagai ukurannya. Jadi, kalau gemuk itu cantik.
Kita juga bisa menciptakan image atau anggapan-anggapan keliru terhadap sesuatu yang mengakibatkan jiwa kita menjadi sakit. Misalnya masalah-masalah negative yang kita hadapi, kemudian kita besar-besarkan sehingga menjadikan bathin kita sendiri tertekan. Misalnya, seorang istri yang sangat pecemburu. Kalau suaminya pergi ke kantor, ia awasi terus. Ia sering ke kantor atau menelepon ke tempat kerja sekedar memastikan apakah suaminya bekerja atau tidak. Bahkan ada yang sampai menyelidiki atau melakukan investigasi terhadap pasangannya karena terlalu curiga. Kalau suaminya tidak terdeteksi, maka kecuriaannya semakin bertambah-tambah. Kecurigaan atau kecemburuan adalah image yang kita ciptakan sendiri. Image itu kemudian melahirkan sebuah respons ketakutan dan kemarahan dalam diri kita.
Respons perasaan yang negative terhadap stimulus maupun image kita sendiri, jika dibiarkan dan tidak disembuhkan, maka akan mendatangkan luka yang semakin parah. Kemarahan bisa berubah menjadi dendam. Ketakutan bisa berubah menjadi pribadi yang introvert. Demikian seterusnya. Jadi, sebenarnya luka-luka bathin yang yang mendalam itu tidak disebabkan oleh stimulus negative dari luar tetapi lebih banyak respon negative yang belum terselesaikan yang dipelihara dan dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan sehingga semakin bertambah besar atau menyebabkan luka yang semakin besar.
Oleh sebab itu sama seperti orang yang tidak ingin sakit gigi mereka merawat dan memeriksakan giginya dengan baik sebagai tindakan pencegahan demikian juga halnya dengan jiwa atau bathin kita. Pagi ini kita mendengar khotbah tentang penyembuhan luka bathin. Tindakan Penyembuhan dilakukan biasanya ketika jiwa ini sudah terganggu atau mengalami luka. Saya tidak akan membahas hal itu lebih luas, biar pak Eddy Tendean (Ku 1) dan bu Erna (Ku2) yang menguraikannya. Tetapi saya mengajak kita memikirkan sebuah tindakan pencegahan, sebelum luka bathin itu muncul. Bagaimana caranya? Bagaimana pencegahannya?
Kali ini saya tidak akan mengajak kita melakukan analisis biblika tentang hal ini, namun saya mengajak kita memikirkan dan mencoba mempraktekkan beberapa tindakan pencegahan supaya bathin kita ini tidak sampai mengalami luka. Sebelum saya menguraikan hal itu, saya mengajak kita lebih dahulu menyadari adanya dua fakta yang tidak dapat kita hindari dari kehidupan kita. Fakta pertama adalah bahwa stimulus atau rangsangan positif-negatif akan selalu kita hadapi tiap hari bahkan bisa jadi tiap menit. Sebagai mahluk social, kita banyak berjumpa dengan orang yang berbeda karakter, latar belakang, keinginan dan pandangan hidup. Dalam komunikasi social inilah aspek jiwa kita ikut “bermain.” Jadi tidak hanya rasio atau nalar kita saja, tetapi juga perasaan kita. Contohnya kita mendengar orang lain berbicara. Pembicaraan bisa hangat, bersahabat, bisa juga menjadi begitu dingin dan penuh permusuhan. Kata-kata bisa halus dan penuh tata karma dan bisa pula kasar dan tidak etis. Nah, dalam percakapan-percakapan social semacam itulah, perasaan kita bisa memberikan respons. Bisa marah, gembira dan yang lainnya. Masalhnya, kita tidak bisa menutup mulut orang atau melarang orang berbicara. Kalau semua orang diam dan kita saja yang bicara. Komunikasi tidak jalan. Ini baru salah satu contoh, belum yang lainnya.
Fakta kedua adalah, sebagai manusia yang diciptakan ber-akal. Kita sering memakai akal kita untuk menciptakan sebuah anggapan-anggapan/image yang negative yang pada gilirannya menyengsarakan kita. Ini memang manusiawi sekali. Manusia memang mahluk yang memliki kemampuan berkhayal, berimajinasi dan bisa berpikir jauh ke depan. Namun masalahnya, keunggulan ini bisa jadi sebuah bom yang mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri. Kita tidak bisa menghalangi otak kita berimprovisasi terhadap banyak hal, termasuk hal-hal yang belum terjadi atau hal-hal yang tidak mungkin terjadi. Namun, pikiran kita sewaktu-waktu bisa “memenjarakan” jiwa kita. Dan hal itu terlihat dari contoh yang saya sudah sebutkan diatas tadi.
Sekarang apa tipsnya? Pertama, berusahalah untuk menyadari kedua fakta diatas dan bersyukurlah. Sadari bahwa kita tidak bisa menyingkir dari pergaulan social dan kemampuan akal kita. Syukuri bahwa kita adalah makhluk social sekaligus sebagai mahluk ber-akal. Kedua, biasakan berpikir positif dalam menanggapi sesuatu. Cara berpikir kita itu sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Namun salah satunya adalah kebiasaan yang dibentuk oleh masa lalu. Ada orang yang dibentuk menjadi pribadi yang suka berpikir negative demikianpula sebaliknya. Oleh sebab itu latih dan kembangkanlah cara berpikir positif. Tetapi tidak hanya positif namun positif-kritis. Berpikir jika hanya positif tanpa kritis, akan membahayakan diri kita. Kita tidak bisa waspada dan berhati-hati. Oleh sebab itu berpikir kritis penting.
Ketiga, milikilah hubungan yang baik dengan Tuhan. Baca Firman Tuhan dan berdoa. Dengan membaca Firman Tuhan kita di ingatkan untuk hidup seturut kehendaknya. Kita diajar dengan FirmanNya untuk mau mengasihi, memaafkan-mengampuni dan juga melupakan kesalahan orang lain. Namun kita juga perlu kehidupan doa yang baik. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Dengan doa kita bisa menyampaikan, mengutarakan respon-respon kita yang positif dan negative terhadap segala stimulus maupun image kita kepada Tuhan seraya memohon kekuatan untuk dapat mengatasinya dengan baik sehingga tidak berkembang menjadi luka-luka bathin yang mendalam. Dengan memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, kita bertumbuh menjadi orang yang tangguh menghadapi tantangan dan himpitan hidup.
Keempat, milikilah sifat rendah hati. Kenalilah identitas anda. Siapakah anda? Anda adalah milik Kristus yang sudah ditebus dan sekarang sedang dalam proses menjadi serupa Kristus. Salah satu teladan yang baik yang kita lihat dan contoh dari Kristus adalah kerendahan hati. Tuhan Yesus secara manusia tidak menyimpan kesalahan orang lain atau dendam dengan orang lain. Padahal kita tahu tiap hari ia menerima makian, hinaan dan fitnahan dari kaum agamawan. Tetapi Yesus tidak dendam dan sakit hati. Mengapa bisa demikian? Sebab ia rendah hati. Perhatikan dan baca kembali surat Filipi pasal dua yang berbicara tentang hal ini. Kalau kita memiliki sifat rendah hati. Maka kita akan dengan mudah mau memberikan reaksi emosi terhadap stimulus ataupun image kita sendiri. Saya pernah menerima perkataan yang nadanya penghinaan terhadap diri saya. Waktu mendengar kata-kata tajam tersebut, perasaan saya member respon dengan marah. Untung kemarahan tidak berkembang menjadi dendam, karena saya melihat diri saya. Siapakah saya. Saya hanyalah seorang hamba yang sama seperti Kristus. Kesadaran seperti itulah yang memampukan saya bersikap rendah hati menghadapi hinaan dan menyelamatkan saya dari korban dendam. Selamat mencoba.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: