Oleh: Faoziduhu | Juli 2, 2011

KAPAN KITA MERASA PUAS?


Tiga puluh li sebelah barat sebuah kota terdapat gunung yang bernama Hofu dan dibawahnya berdiri sebuah kuil yang dibangun sebagai pengabdian terhadap Wang Po. Tidak seorangpun tahu kapan wanita tua itu hidup. Menurut cerita yang tersebar, wanita tersebut mencari nafkah dengan menjual minuman anggur dan pada masa hidupnya ada seorang pendeta Tao yang sering mengunjungi tokonya dan minum anggur tanpa membayar. Tetapi tampaknya wanita tua itu tidak peduli.
Suatu hari pendeta tersebut berkata kepadanya:”selama ini saya tidak pernah membayar anggur yang saya minum dan sebagai gantinya saya akan membuatkanmu sebuah sumur” maka pendeta itu mulai menggali sebuah sumur dan ternyata semur tersebut berisi air anggur yang rasanya sangat lezat. “ini merupakan bayaran saya untuk bberapa minuman anggur yang saya minum dulu.” Kata pendeta. Setelah itu iapun menghilang.
Wanita tua itu tidak perlu lagi memasak anggur sendiri. Tetapi ia hanya cukup menjualnya langsung dari sumur kepada para pembeli, yang mengatakan bahwa anggurnya lebih enak dari pada yang pernah mereka minum.Para pelanggan itu memadati tokonya dan dalam waktu tiga hari ia menjadi sangat kaya. Nah, pada saat pendeta itu datang lagi berkunjung, wanita tua itu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada si pendeta.
“apakah anggurnya enak?” Tanya pendeta. “sangat enak.” Jawab wanita itu. “hanya saja tidak mengandung ampas yang bisa kita berikan kepada babi.” Pendeta itu tertawa dan menulis kata-kata di dinding seperti berikut ini:
Langit nan tinggi
Tetapi lebih tinggi hasrat manusia
Meski sudah menjuan air sumur sebagai minuman anggur
Tetap saja mengeluh karena tidak mengandung ampas buat babinya.
Sang pendeta itupun pergi dan sumur itu tidak lagi berisi anggur.
Kisah si pendeta dan Wang Po mengandung pelajaran yang penting dan mendalam tentang kepuasan. Manusia yang normal jiwa dan raganya selalu ingin dipuaskan atau selalu ingin puas. Diapuaskan dalam segala hal. Puas dalam Batiniah maupun puas dalam hal lahiriah. Namun masalahnya, manusia itu tidak pernah mengalami kepuasan. Manusia jarang sekali yang merasa puas dalam hidupnya ataupun puas dalam segala sesuatu. Buktinya, manusia selalu ingin lebih lagi, lebih lagi. Bertambah lagi, tambah lagi demikian seterusnya. Kalau seseorang ingin punya sepeda pancal, lalu dia bekerja keras dan akhirnya bisa membeli sepeda pancal. Tetapikemudian ia tidak puas. Ia ingin juga membeli sepeda motor. Bekerja lagi hingga bisa membeli sepeda motor. Kurang puas lagi. Pengen beli mobil. Demikian seterusnya sampai bisa membeli pesawat sendiri.
Sebenarnya ketidak puasan tidak selalu berkonotasi atau berdampak negative. Ketidakpuasan bisa menjadi daya dorong bagi tiap orang untuk maju. Untuk bertambah lebih baik, bertambah lebih sejahtera, bertambah lebih kreatif, bertambah lebih ulet dalam bekerja. Ketidapuasan menjadi pemicu lahirnya mimpi, angan-angan atau keinginan terhadap sesuatu hal. Tadi saya sudah memberikan contoh. Ketidakpuasan bisa membuat dan memacu orang untu bekerja keras, bisa memacu orang untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya dan akhirnya bisa menjadikan seseorang lebih meningkat sejahteranya dibandingkan dengan sebelumnya.
Mungkin anda berkata saya sering merasa puas, terutama ketika bekerja. Tetapi ketika hasil perkerjaan saya itu dibandingkan dengan orang lain, saya menjadi tidak puas dengan hasil kerja saya. Apakah dengan demikian saya tergolong orang yang kita bicarakan hari ini? Orang yang tidak puas? Memang kepuasan bisa sementara waktu. Sebentar puas sebentar kemudian untuk hal itu bisa menjadi tidak puas. Namun jarang kita mengalami dari tidak puas untuk satu hal kemudian berubah menjadi puas. Misalnya saudara membeli baju di supermarket. Setelah pulang kerumah saudara melihat baju yang saudara beli ada sobekan kecil yang saudara tidak lihat ketika di supermarket. Saudara menjadi tidak puas bukan. Tetapi ketika kita melihat ada baju yang lebih jelek dari baju yang kita beli tadi, apakah saudara menjadi puas? Karena baju saudara yang kurang memuaskan itu sedikit lebih baik dari baju lain itu? Tentu tidak bukan? Saudara tetap akan tidak puas.
Lain lagi jika saudara membeli baju yang tidak sobek, begitu sempurna dan saudara merasa puas bukan? Tetapi jika kita melihat orang lain memakai baju yang bahannya sama, warnanya sama tetapi modelnya menurut kita lebih baik dari yang kita beli, kita (atau sebagian dari kita) bisa menjadi tidak puas dengan baju yang telah kita beli bukan? Jadi sebenarnya, kecenderungan kita sebagai manusia adalah tidak puas. Kalaupun kita puas itu hanya sebentar. Begitu mulai ada pembanding, begitu mulai bosan kita bisa saja menjadi tidak puas
Mengapa orang banyak yang tidak puas dalam hidupnya? Pertama, karena memang sejak kecil sudah terkondisikan atau terbiasa tidak puas. Jika kita lahir dalam keluarga yang jarang sekali menerima pujian, maka kita memang terpola sejak usia dini maka kelak kita menjadi orang yang tidak pernah puas. Kedua, jika kita tidak memiliki ukuran atau target-target yang pasti dalam hidupkita,entah ketika bekerja, berkeluarga dan melayani, maka kita tidak pernah merasa puas. Bagaimana kita puas, jika kita tidak memiliki standard sebuah kepuasan. Seseorang yang menetapkan target-target dalam hidup, bisa mengukur dengan objektif dan akurat puas tidaknya dia ketika mengerjakan,mengalami atau menerima suatu hal. Ketiga, kita sering membandingkan atau menghadapi pembanding lain seperti contoh yang saya sebutkan diatas tadi. Jadi mungkin kita sudah memenuhi target-target kita,tetapi menghadapi pembanding lain, kepuasankita bisa berubah menjadi ketidakpuasan.
Jika ketidakpuasan memiliki dampak positif yakni membangun dan memacu untuk lebih maju. Ketidak puasan ternyata juga memiliki pengaruh negative. Apakah itu?pertama, orang yang tidak pernah puas menjadi orang yang tidak bisa bersyukur. Kalau kita tidak pernah puas dalam hidup kita, bisa jadi kita tidak bisa berterima kasih atau bersyukur untuk sesuatu yang sudah kita dapatkan atau alami. Kedua, Orang yang tidak pernah puas selalu mengeluh, mengomel dan tidak pernah bahagia hidupnya. Hidup orang semacam ini pasti tidak ada sukacitanya. Ketiga, orang yang tidak puas, cenderung berpikiran negative. Ia bisa saja menyalahkan orang lain, bahkan bisa menyalahkan dirinya, menyalahkan keadaan bahkan bisa menyalahkan dirinya sendiri. Keempat, ketidakpuasan bisa membuat tulang-tulang kita lemah.Artinya ketidakpuasan bisa menyebabkan munculnya berbagai penyakit.Penyakit yang ringan sampai yang kronis.
Kalau demikian bagaimana kita mengembangkan kepuasan dalam hidupkita? Pertama, buatlah target-target terukur dan akurat,sehingga kita bisa menentukan apakah kita sebenarnya pantas untu puas, atau kita sadar bahwa ketidakpuasankita sebenarnya tidak beralasan. Kedua, selalu berpikir positif. Kalaupun target-target tidak tercapai, kita jangan putus asa. Lihat hal-hal baik apa yang sudah tercapai . dan lihat yang belum. Jangan menggeneralisasikan.target yang belum dicapai dianggap sebagai kegagalan total, padahal ada item target lain yang sudah memenuhi. Ketiga,kembangkan kebiasaan mengucap syukur. Bersyukurlah untuk sesuatu yang telah ada lakukan,dapatkan,alami dan itu akan membuat kita dipenuhi sukacita dan bahagia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: