Oleh: Faoziduhu | Juni 30, 2011

PUAS ATAU TIDAK PUAS, BERSYUKUR ATAU TIDAK BERSYUKUR


Kedua kalimat judul diatas, mengandung makna yang tiap-tiap kalimatnya saling bertolak belakang. Di satu sisi ada puas dan bersyukur sedangkan disisi yang lain ada tidak puas dan tidak bersyukur. Hidup kita memang sering kali bergerak kearah dua sisi ini ketika kita melihat diri kita atau ketika menilai hal-hal yang terjadi atau sudah kita lakukan dalam hidup kita. Orang tua bisa puas melihat prestasi anaknya disekolah, namun dilain waktu ia bisa marah dan merasa kecewa dengan prestasi anaknya. Seorang pimpinan dalam sebuah perusahaan bisa puas dengan kinerja bawahannya, namun di lain waktu ia bisa mengomel dengan hasil kinerja bawahannya yang merugikan perusahaan. Kita juga bisa puas dan bisa tidak puas ketika menilai sesuatu. Mungkin ketika kita di gereja, kita merasa puas tetapi ketika kita sudah di rumah kita bisa menjadi tidak puas dengan segala yang kita lihat dan alami. Jadi sebenarnya hidup kita itu selalu bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Dari puas ke tidak puas demikan sebaliknya.
Berbicara tentang puas dan tidak puas ini memang relative. Misalnya ketika kita menilai diri kita jelek dibandingkan dengan orang lain. Wajahnya kok lebih ganteng dari pada saya sedangkan wajah saya kok pas-pasan. Kenapa sih dia lebih keren, lebih gagah, atau bagi wanita, kenapa dia lebih ideal dibandingkan dengan saya. Kalau sudah demikian kita bisa menjadi tidak puas dengan penampilan kita. Namun penilaian kita belum tentu sama dengan penilaian orang lain. Kita mungkin berkata wajah kita jelek tetapi menurut orang lain wajah kita “lumayan” dan orang puas dengan penampilan kita. Sebuah penilaian yang berujung pada puas atau tidak puas, itu bergantung pada tiap-tiap orang dan penilaian seseorang selalu di pengaruhi oleh berbagai factor, baik itu pandangan hidup, keyakinan, etika atau ada istiadat dan berbagai factor lainnya.
Misalnya, nona-nona disini senang memakai krim pemutih supaya kulit sawo matang berubah menjadi putih atau kuning langsat. Dan kalau sudah punya kulit yang putih menjadi senang dan puas. Padahal nona-nona di Eropa yang kulitnya putih justru sengaja berjemur dan menggosok tubuhnya dengan tan lotion supaya kelihatan berwarna sawo matang. Disini wanita takut kegemukan, padahal di kepulauan pasifik wanita justru saling berlomba untuk menjadi lebih gemuk. Kita ingin gigi kita tampak putih, padahal di pedalam Afrika orang sengaja mengunyah akar-akar tertentu supaya gigi menjadi kuning. Yang berambut hitam ingin pirang sedangkan yang berambut pirang ingin hitam. Yang pendek ingin jangkung dan yang jangkung ingin pendek. Jadi semua serba relative.
Penilaian terhadap puas atau tidak puas tidak hanya dalam aspek fisik tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya. Misalnya soal kepopuleran. Kita tidak puas sebab dia lebih popular sedangkan kita tidak. Soal kekayaan. Kenapa dia lebih kaya sedangan saya tidak. Dia punya ini dan itu sedangkan saya tidak. Dia bisa pergi kemana dia suka karena ada uang sedangkan saya tidak. Penilaian semacam ini bisa saja membuat kita menjadi tidak puas. Soal kepintaran. Mengapa dia lebih pintar dibandingkan dengan saya. Saya sudah belajar dengan keras tetapi dia lebih pintar dari pada saya. Apalagi jika dia dengan gampangnya mendapatkan point lebih tinggi tanpa harus belajar atau bekerja keras seperti saya. Masih banyak aspek-aspek lain yang saya tidak perlu sebutkan disini.
Di gereja juga bisa terjadi demikian. Jujur saja, ketika kita masuk ke gereja, kita pasti menilai atau membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita melihat penampilan orang lain lebih modis, lebih keren dan lebih-lebih yang lain dibandingkan dengan kita. Kita melihat orang lain bisa menyanyi lebih baik dari pada kita, kita melihat orang lain bisa berdoa dengan baik dibandingkan diri kita, kita melihat orang lain bisa memimpin dibandingkan kita, kita melihat orang lain lebih supel dibandingkan dengan kita, kita melihat orang lain lebih rohani dari pada kita, kita melihat orang lain punya talenta yang lebih banyak dibandingkan dengan kita. Dia bisa nyanyi, bisa doa, bisa music, tetapi saya bisa apa? Cuma bisa datang tok. Kalau sudah demikian, kita menjadi tidak puas dengan diri kita
Nah.. kalau sudah tidak puas, pasti sulit untuk mengucap syukur bukan? Bersyukur atau tidak bersyukur itu tergantung dari puas tidaknya kita terhadap sesuatu. Memang ada orang yang tidak bisa bersyukur meskipun ia sebenarnya ia puas atau sebaliknya ada orang yang bersyukur meskipun sebenarnya ia tidak puas. Namun prosentasinya sedikit. Umumnya, orang bersyukur kalau ia merasa puas dengan apa yang dialaminya. Jadi biasanya puas selalu bergandengan dengan syukur dan tidak puas selalu bersama dengan tidak bersyukur.
Saya sangat yakin, bahwa dalam diri kita selalu ada keinginan untuk selalu berada dalam keadaan puas atau berada di kutub/sisi kepuasan. Siapa diantara saudara yang ingin tidak puas? Tentu kita semua pingin selalu puas bukan? Paling tidak sering puas bukan? Nah, oleh sebab itu, bagaimana caranya supaya kita selalu merasa puas dalam hidup kita? Untuk menjawab ini, bukan soal yang mudah. Sebab sekali lagi soal puas atau tidak puas untuk tiap orang cenderung relative. Saya pernah bertanya kepada beberapa orang yang menurut saya bisa memberikan penilaian yang objektif dan tepat terhadap sebuah khotbah seseorang. Tiap-tiap orang jawabannya berbeda-beda. Ada yang puas dan ada yang tidak puas. Mengapa bisa demikian? Karena ranah penilaian kita itu bukan bersifat kuantitatif tetapi kualitatif. Kepuasan terhadap sesuatu yang relative akan selalu bernilai kualitatif. Jadi serba repot.
Namun, tidak masalah. Kita mencoba menjawab pertanyaan diatas dengan berpedoman pada suatu asumsi bahwa ketidak puasan bisa dirubah menjadi kepuasan dan kepuasan bisa diubah menjadi sebuah ketidak puasan. Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa merubah perasaan kita terhadap sesuatu yang kita anggap memuaskan atau tidak memuaskan? Pertama-tama biasakan berpikiran positif. Berpikiran positif sangat menolong didalam kita menilai sesuatu. Kalau pikiran kita negatf, maka sekalipun objek nilai itu sebenarnya positif bisa saja menjadi negative. Misalnya, kalau saya tidak suka dengan seseorang, maka saya selalu memandang apa yang dia lalukan selalu negative. Sekalipun ia telah melakukan sesuatu yang mendatangkan kepuasan, tetapi saya tetap merasa tidak puas, sebab saya punya pandangan negative terhadap orang tersebut.
Kedua, tanamkan pandanga nilai yang baik dalam diri kita. Pandangan nilai ini bisa bersumber dari Injil, dari tradisi atau norma yang baik. Apa itu pandangan nilai? Pandangan nilai adalah sebuah cara pandang kita terhadap sesuatu. Cara pandang si A belum tentu sama dengan cara pandang si B. Cara pandang masing-masing orang sangat dipengaruhi oleh tatanan nilai yang sudah dibangun berdasarkan hal-hal yang saya sebutkan diatas. Misalnya, kalau kita orang Kristen yang tekun membaca Alkitab, maka hidup kita dibangun dengan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam Alkitab. Oleh sebab itu penilaian kita terhadap sesuatu hal bisa berbeda dengan penilaian orang Kristen yang malas baca Alkitab. Apalagi dengan mereka yang sama sekali bukan Kristen.
Saya akan memberikan contoh, misalnya soal kasih. Injil yang kita baca mengajarkan kita sebuah tatanan nilai yang baik bahwa kita harus mengasihi musuh kita. Orang yang tidak membaca injil pasti tidak memiliki tatanan nilai tersebut. Maka ketika suatu ketika saudara disakiti dan justru saudara membalasnya dengan kebaikan dan kasih, maka saudara menilai hal itu memuaskan saudara. Sedangkan bagi orang yang tidak membangun hidupnya dengan tatanan nilai semacam itu tidak akan puas. Kenapa kejahatan dibalas dengan kebaikan? Mengapa caci maki dibalas dengan berkat. Orang yang punya tata nilai yang berbeda pasti tidak akan puas dengan hal itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: