Oleh: Faoziduhu | Juni 30, 2011

ANUGERAH DI TEPI KOLAM BETESDA (Sebuah refleksi atas Yohanes 5:1-9)


Siapa diantara kita yang pengen sakit? Saya yakin tidak ada seorangpun yang ingin sakit, bahkan sakit yang paling ringanpun. Kalau kita sakit aktivitas kita pasti akan terganggu, akan merepotkan diri kita sendiri dan orang lain dan yang pasti akan mengeluarkan biaya untuk beli obat, bayar dokter atau perawatan di rumah sakit. Kalaupun ada lagu yang mengatakan lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, toh sakit gigi tidak menyenangkan. Sakit gigi tetap merupakan pilihan yang menyakitkan. Oleh sebab itu penyakit kalau bisa dijauhkan dari hidup kita.
Sangat disayangkan kalau hari ini ada orang yang pura-pura sakit. Apakah anda pernah ketemu atau melihat orang yang pura-pura sakit? Ya, memang ada orang bisa bersandiwara, seolah-olah mereka sakit. Tujuannya supaya mereka mendapatkan perhatian dan belas kasihan orang lain. Orang semacam ini bisa dengan gampang kita temukan di pinggir-pinggir jalan atau mampir di rumah kita untuk minta sedekah.
Tetapi bagaimana kalau sudah terlanjur sakit? Kalau sudah begitu, saya juga yakin orang yang jatuh sakit tersebut akan berusaha untuk sembuh. Tidak ada orang yang menyukai sakit, betah sakit, apalagi hobi dengan sakit. Kalau bisa cepat-cepat sembuh. Segala cara pasti dilakukan bahkan sampai yang tidak masuk akalpun kadangkala dilakukan demi kesembuhan dari sakit. Kalau orang yang memiliki kemampuan financial pasti akan mengeluarkan uang seberapapun untuk bisa mendapatkan kesembuhan. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak punya kemampuan apalagi tidak ada yang menolong?
Orang seperti itu kita bisa temukan di tepi kolam Betesda sekitar dua ribu tahun yang lalu. Keampuhan kolam siloam memang tidak lagi diragukan. Banyak orang sakit berduyun-duyun dibawa ke kolam itu untuk disembuhkan. Alkitab mencatat bahwa sewaktu-waktu malaikat Tuhan turun kekolam itu dan menggoncangkan airnya dan barangsiapa yang terdahulu masuk kedalamnya sesudah goncangan itu menjadi sembuh apapun penyakitnya.
Mengingat kedatangan malaikat hanya sewaktu-waktu dan hanya orang yang terdahulu masuk yang sembuh, maka “peristiwa penyembuhan” menjadi sangat terbatas. Hanya orang yang cepat masuk yang sembuh. Saya bisa membayangkan bagaimana orang berdesak-desakkan dan saling mendahului ketika air itu bergoncang. Orang yang kalah cepat pasti akan kecewa dan mereka harus menunggu lagi kapan malaikat Tuhan turun menggoncangkan air itu. Oleh sebab itu di dekat kolam ada serambi-serambi yang dipakai sebagai tempat “transit” sementara sebelum mereka berjuang masuk kolam.
Hal yang sama dialami oleh seorang yang sudah tigapuluh delapan tahun sakit. Kita tidak tahu berapa lama ia di kolam itu dan apa jenis sakitnya. Namun yang jelas sakit yang dialaminya pasti telah membuatnya sangat menderita. Kalau kita sakit satu hari saja, kita sudah banyak mengeluh apalagi dengan orang yang berpuluh tahun bergelut dengan sakit. Kita bisa membayangkan orang tersebut mungkin sudah putus asa dan sudah tidak lagi tidak memikirkan sebuah “mimpi” untuk bisa sembuh. Tetapi kalau kita melihat jawabannya terhadap pertanyaan Yesus jelas menunjukkan bahwa orang itu tidak putus asa. Ia selalu dan terus berjuang dengan segala macam cara walaupun tidak ada yang menolong menurunkannya ke kolam itu untuk bisa sembuh. Ia tetap kalah cepat dari yang lainnya.
Arti betesda yaitu rumah anugerah. Namun tidak semua orang mendapat anugerah di kolam itu, termasuk orang yang sudah tigapuluh delapan sakit itu. Sampai pada suatu saat dia berjumpa dengan Yesus yang mampu memberikan dia anugerah yang sejati. Ketika itu, Yesus singgah di kolam betseda dan berjumpa dengan orang itu. Dalam ayat enam ada tiga hal yang kita perhatikan dengan sikap Yesus ketika berjumpa orang sakit itu. Pertama, disebut ia melihat orang itu terbaring sakit. Yesus tidak menutup mata, Yesus tidak membuang muka atau pura-pura tidak melihat orang itu. Yohanes mencatat bahwa Yesus melihat orang itu. Orang lain mungkin tidak ada yang pernah melihat orang ini apalagi menolongnya. Tidak ada yang pernah memperhatikannya atau sekedar memandang kepadanya.
Di dunia yang serba individualistis ini, kitapun banyak menemukan orang yang susah seperti orang sakit ini. Mereka tidak memiliki teman, tidak punya penolong. Tidak ada yang melihat kepada mereka. Mereka memerlukan pertolongan dan perhatian namun tidak ada yang peduli. Jangankan menolong melihat sajapun tidak. Semangat individualistis menyebabkan orang tidak lagi berempati apalagi “teposeliro” dengan orang lain. Banyak orang hanya memperhatikan diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Orang Kristenpun demikian, gerejapun bisa menjadi individualistis. Gereja yang seharusnya menjadi saksi dan garam, menjadi “tangan Tuhan” dalam dunia ini ternyata juga telah menjadi ekslusif. Maka jangan heran jika ada yang berkata “tidak ada Tuhan di gereja itu.” Jika saudara hari ini susah bahkan sakit seperti orang ini; bila saudara tidak ada yang menolong, tidak ada yang melihat saudara tetapi ada Tuhan yang melihat penderitaan saudara.
Kedua, Yesus dikatakan mengetahui keadaannya. Dalam keMahatahuanNya, Yesus mengetahui secara lengkap dan menyeluruh keberadaan orang sakit ini. Ia tidak hanya melihat tetapi juga tahu keadaannya, baik bathinnya maupun fisiknya. Kalau orang-orang lain disekelilingnya tidak mau tahu dengan keadaannya, namun Yesus tahu kesusahan dan kesulitannya. Seringkali di gereja juga kita menemukan banyak orang yang tidak mau tau satu dengan yang lain. Kalau ada jemaat yang sakit apalagi kedukaan yang datang bisa diitung dengan jari. Apalagi kalau yang lagi susah adalah orang yang “tidak punya.” Pasti tidak ada yang mau tahu. Saya sering iri dengan kegiatan ibu-ibu di lingkungan RT-RW tempat kami tinggal. Kalau ada yang sakit apalagi sedang susah biasanya dikunjungi oleh ibu-ibu. Nah, kalau perkumpulan social bisa mempraktekkan karaktek kristus saja mengapa orang Kristen atau jemaat tidak? Kalau kita mendengar ada orang berdukacita, “boro-boro” datang, mau tau atau pengen tahu saja tidak. Bagaimana karakter Kristen bisa kita nyatakan dalam hidup kita kalau begitu? Namun tidak semua orang Kristen begitu.
Ketiga, yang terakhir adalah Yesus menyapa orang sakit itu. Yesus bertanya kepadanya “maukah engkau sembuh?” sebuah pertanyaan yang kelihatannya “bodoh.” Dengan kata lain sudah tahu kok nanya. Tetapi itu bukan sembarang pertanyaan. Pertanyaan itu mengandung sebuah ujian. Apakah orang itu masih ada semangat dan kemauan untuk pulih atau disembuhkan. Ternyata jawabannya sangat mengejutkan. Dari jawaban orang tersebut jelas tersirat bahwa dalam dirinya masih tersimpan sebuah “mimpi” untuk sembuh dan ia telah dan terus berjuang mewujudkan mimpi itu. Hanya saja sampai sekarang ia selalu gagal untuk mendahului yang lain masuk kolam dan sembuh. Ada beberapa makna yang dalam yang terkandung dalam point ke tiga ini. Pertama, Yesus tidak hanya melihat, mengetahui keadaan orang ini, tetapi ia juga mau menyapa, berbicara kepadanya. Inilah pelayanan yang sempurna. Pelayanan yang berangkat dari kepedulian, jiwa yang altruis dan itu ditindaklanjuti dengan tindakan praktis. Ia menyapanya. Tuhan juga sering menyapa kita ketika kita susah dan berbeban berat, ketika kita sakit dan membawa berbagai persoalan hidup. Ia menyapa kita melalui FirmanNya. FirmanNya demikian dahsyat dan ajaib. Ia membangkitkan kembali pengharapan dan semangat yang patah. Ia membimbing dan menuntun, menguatkan dan mengokohkan hidup kita.
Kedua, pertanyaan Yesus merupakan sebuah rahasia bagi proses penyembuhannya. Kesembuhan yang akhirnya dialami oleh orang ini memang mutlak karena kedaulatan Allah tetapi kemauan orang ini untuk sembuh juga tidak boleh kita abaikan. Ini tidak bicara keselamatan. Ini bicara proses menyelesaikan sebuah masalah. Apakah orang ini mau atau tidak keluar dari masalah hidupnya. Apakah orang ini mau atau tidak sembuh dari sakitnya. Ternyata Ia memang ada tekad dan kemauan untuk sembuh. Dan akhirnya ia mengalami muzizat Tuhan. JIka kolam bertesda tidak bias memberikan dia anugerah, tetapi Yesus telah memberikan dia anugerah yang sejati. Kesembuhan dan sekaligus keselamatan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: