Oleh: Faoziduhu | Juni 27, 2011

Sebuah prespektif tentang gerakan pria Sejati


PRIA SEJATI / MAXIMAL
Oleh Pdt. Budi Asali. M.Div
Pendahuluan:
Saya berulangkali diminta untuk membahas ajaran / praktek pria sejati, tetapi selalu saya tolak, karena saya tidak tahu ajaran / prakteknya. Lalubeberapa orang membiayai saya untuk ikut camp pria sejati di Tretestanggal 15‐17 Juli 2010, supaya setelah itu saya bisa membahasnya. Camp ini disebut camp pria maximal, istilahnya dibedakan karena yangini adalah untuk kalangan protestan, dan para pembicaranya juga dalamkalangan protestan.Para pembicara dalam camp itu:
1) Pdt. Johan Gopur dari Singapura. Dia memimpin kira‐kira setengah dari seluruh acara camp.
2) Pdt. Kaleb Kiantoro.
3) Pdt. Hengky Setiawan dari Jakarta.
4) Pdt. Susana, istri dari Pdt. Hengky Setiawan.
Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan:
a) Ada hal‐hal yang tidak saya catat, karena atau pengkhotbahnya berbicara secara tak terarah, atau karena saya tidak mendengar kata‐katanya. Jugakadang‐kadang karena saya tak keburu menulis apa yang diucapkan pengkhotbah.
b) Sekalipun dalam camp ada hal‐hal yang baik, itu bukan yang saya bahas.
Saya membahas kesalahan / kesesatannya! Makanan yang baik / bergizi,
kalau dicampur dengan sedikit racun akan membunuh orang yang
memakannya!
c) Dalam Seminar / Pemahaman Alkitab berseri ini, saya mula‐mula
membahas apa yang saya dengar dalam camp, lalu setelah itu baru saya
membahas apa yang saya baca dalam buku‐buku mereka (ada buku‐buku
yang diberikan dalam camp itu,dan ada yang saya beli sendiri dalam
camp itu).
3
1. Yang saya maksudkan dengan bahan di camp, hanyalah camp yang saya
ikuti di Tretes, tgl 15‐17 Juli 2010. Tentang camp‐camp yang lain, baik
pria sejati maupun pria maximal, saya tidak tahu!
2. Dalam pembahasan ini, saya mula‐mula akan membahas bahan yang
diajarkan dalam camp yang saya ikuti, dan setelah itu baru saya akan
membahas bahan dari buku‐buku mereka. Tetapi supaya pembahasan
tidak bertele‐tele, kalau bahan camp yang saya bahas juga ada di
bukunya, saya akan membahasnya sekaligus dalam pembahasan bahan
camp.
3. Dalam camp saya hanya menemukan hal‐hal yang salah, dan konyol,
tetapi tidak ada yang kesesatan yang fatal. Tetapi kalau dari bukubukunya
saya bukan hanya menemukan kesalahan, tetapi juga
kekonyolan dan kesesatan!
Catatan: khotbah‐khotbah dalam camp, bahannya dan garis besarnya
diambil dari buku (dari buku ‘KESEMPURNAAN SEORANG PRIA’). Jadi,
pengkhotbah dalam camp hanya menambahkan ayat‐ayat sendiri,
contoh‐contoh dan kesaksian pribadi.
4. Buku‐buku yang saya baca adalah:
a. ‘Hikmat Bagi Pria’. Buku ini Editornya adalah Ir. Eddy Leo M. Th. dan
penulisnya adalah 4 orang petinggi dari kalangan pria sejati (kelihatannya
semua dari golongan Kharismatik).
b. ‘Kesempurnaan Seorang Pria’. Buku ini ditulis oleh Edwin Louis Cole.
Banyak bahan yang diajarkan dalam camp yang berasal dari buku ini.
c. ‘Menjadi Pria Sejati’ (Edisi Revisi). Buku ini ditulis oleh Edwin Louis Cole.
Catatan: Edwin Louis Cole adalah pendiri dari CMN (Christian Men’s
Network) pada tahun 1979, dan jaringan yang ia dirikan mempunyai
beban untuk melayani kaum pria, supaya bisa mengalami perubahan
hidup, dipulihkan pernikahannya, pelayanannya, dan sebagainya. Di
Indonesia, pelayanan ini lahir pada tahun 1997 dan baru pada tahun
1999 diresmikan secara internasional di Texas, Amerika Serikat, dengan
Ir. Eddy Leo, M. Th. sebagai ketuanya.
d) Saya berusaha mengelompokkan bahan‐bahan yang saya bahas, tetapi
untuk membuat sistimatika yang baik boleh dikatakan mustahil, karena
baik camp maupun buku‐buku itu kacau balau sistimatikanya.
4
I) Pembahasan tentang bahan camp.
1) Sekalipun katanya camp pria maximal ini adalah dari dan untuk kalangan
protestan, tetapi menurut saya bau dan ajaran Kharismatik tetap cukup
kuat.
Contoh:
a) Pdt. Johan Gopur dari gereja Baptis, tetapi bau kharismatik dalam
ajarannya kuat, seperti: penggunaan istilah ‘inner healing’ (=
penyembuhan batin), ‘Tuhan bicara kepada saya’, ‘saya merasa Roh
Kudus bekerja’, ‘godaan ditolak dengan nama Yesus’, ‘semua sampah
dosa dibuang dalam nama Yesus’, ‘tolak dalam nama Yesus’, ‘tutup pintu
belakang dalam nama Yesus’, ‘adakah roh yang mau mengampuni’,
‘pokok kita benar semua jadi baik, sukses, dsb’.
b) Pengkhotbah berdoa dengan berjalan‐jalan dan mengangkat tangan dan
menggerak‐gerakkan tangan seperti sedang khotbah (Saya buka mata
waktu doa!). Sekalipun yang seperti ini juga ada dalam kalangan
Protestan, tetapi biasanya ini merupakan gaya dari orang‐orang
Kharismatik.
c) Chairman / pemimpin pujian juga berbau kharismatik, menyuruh
menyanyi dengan njoget / menari, gerak dan lagu, diselingi teriakan yes,
yes, yes dsb. Juga diperintahkan untuk berteriak ‘Yes!’ kalau ada yang
mengatakan ‘One, two, three!’. Ini dilakukan bahkan dalam acara
pemberitaan Firman Tuhan! Bagi saya, ini bukan hanya terasa
kampungan, tetapi juga merupakan penghinaan terhadap Firman Tuhan /
pengacauan terhadap pemberitaan Firman Tuhan!
d) Pdt. Johan Gopur memberi cerita: Ada calon kemanten mendustai
pendeta dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah berhubungan
sex. Lalu mereka mendapat banyak persoalan. Setelah bertobat, masalah
demi masalah hilang, dan Tuhan memberkati mereka. Ini merupakan
typical ajaran Kharismatik.
e) Pdt. Johan Gopur mengajar bahwa 3‐4 keturunan bisa dikutuk karena
zinah yang kita lakukan!!! Ini lagi‐lagi merupakan typical ajaran
Kharismatik. Saya tidak tahu dari mana ajaran seperti itu bisa muncul.
Yang jelas Salomo tidak dikutuk karena perzinahan Daud. Ishak juga tidak
dikutuk karena perzinahan Abraham (polygamy), dsb. Mungkin ia
menggunakan Kel 20:4‐6 sebagai dasar, tetapi text itu berbicara tentang
penyembahan berhala, bukan zinah. Juga yg menurun sampai keturunan
ketiga dan keempat itu bukan hukuman / kutukan, tetapi akibat dari
dosa.
f) Jemaat / peserta camp juga banyak yang berbau Kharismatik!! Mereka
mengucapkan ‘amin’, dan bahkan bersorak‐sorak dsb, pada saat khotbah
sedang disampaikan. Bagi saya, ini juga kampungan dan merupakan
penghinaan terhadap Firman Tuhan / pengacauan terhadap pemberitaan
Firman Tuhan.
g) Pada saat Altar Call, banyak yang maju, dan lalu didoakan oleh fasilitator
masing‐masing, sambil dirangkul. Mengapa dan untuk apa? Untuk
membangkitkan emosi?
h) Juga banyak doa dan khotbah yang dilakukan sambil menangis /
setengah menangis. Dalam pandangan saya, ada yang kelihatannya tulus,
tetapi ada yang terlihat dibuat‐buat.
Memang dalam camp pria maximal ini tidak ada bahasa roh, nggeblak,
orang bernubuat, kesembuhan ilahi, dsb. Tetapi menurut saya bau
Kharismatiknya sudah cukup kuat. Kalau camp yang untuk Protestan
seperti ini, bagaimana yang untuk Kharismatik?
Apa yang membahayakan dari camp yang berbau Kharismatik ini adalah:
ini merupakan batu loncatan ke gereja Kharismatik bagi orang‐orang
Protestan ini. Bagi orang Protestan murni, yang terbiasa dengan gaya
Protestan, maka akan terasa aneh dan risih, kalau masuk dalam
kebaktian Kharismatik, dan melihat / mendengar hal‐hal seperti di atas.
Tetapi kalau ia sudah terbiasa dengan bau dan gaya Kharismatik seperti
di atas, maka akan lebih mudah untuk betul‐betul masuk ke dalam gereja
Kharismatik.
Kalau Camp Pria Maximal itu sudah punya bau Kharismatik yang kuat,
apalagi buku‐bukunya. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini dari
buku‐buku mereka:
1. Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
“Selain ada kematian, ada pula ‘roh kematian’. Roh kematian itu mirip dengan
gejala penyakit. Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum
tentu benar‐benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejalagejala
tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal
6
sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala‐gejala tersebut ditolak, disangkal,
dan ditengking, maka gejala‐gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa
pun. ‘Roh kematian’ sering kali hanya berusaha menekan agar manusia tunduk
dan menyerah kepada kematian, namun kalau roh itu diusir dalam nama
Yesus, kematian itu pun tidak akan dapat menelan mangsanya” (hal 82‐83).
“Allah tidak membiarkan Elia mati, tetapi membantunya untuk bangkit kembali.
Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia, lalu memulihkan keadaan
Elia sehingga …” (hal 83‐84).
Tadi katanya ‘roh kematian’ itu harus ditengking kematian itu tidak
menelan mangsanya. Tetapi dalam kasus Elia tanpa penengkingan kok
‘roh kematian’ itu bisa menyingkir???
2. Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
“Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak
dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat
lagi bentuk‐bentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan
yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu
yang mula‐mula diterimanya” (hal 141).
Kelihatannya ia menyerang liturgi kebaktian dari protestan yang memang
lebih formil dari dalam gereja Kharismatik, tetapi saya menganggap katakata
ini sebagai sesuatu yang sinting! Kalau Allah sendiri memberi
peraturan‐peraturan tentang penyembahan, dan itu kita turuti, maka itu
bukan formalitas. Justru dalam kebaktian‐kebaktian Kharismatik, yang
boleh dikatakan tidak punya liturgi, dan pada umumnya doa pengakuan
dosa saja tidak ada, menurut saya itu merupakan sesuatu yang tidak
alkitabiah!
3. Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
“Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup’ (Yohanes 14:6).
Kebenaran merupakan titik tumpu bagi jalan dan juga kehidupan. ‘Jalan’
adalah arah kita dalam kehidupan ini, ‘kebenaran’ adalah dasar moral dan
intelektual untuk kehidupan, sedangkan ‘kehidupan’ adalah buah hubungan
kita dengan Yesus. Semakin banyak kita mendasarkan kehidupan ini kepada
kebenaran, akan semakin baik jalan kita dan semakin luar biasa pula
kehidupan kita” (hal 172).
Rasanya bau ajaran Kharismatik / theologia kemakmuran.
4. Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
“Selanjutnya hikmat Allah itu akan menjadi kunci untuk meraih kemenangan
dalam hampir setiap bidang kehidupan ini” (hal 240).
Lagi‐lagi bau theologia kemakmuran / Kharismatik.
5. Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:
7
“Bagi beberapa hamba Tuhan, kadang‐kadang pelayanan mereka bisa menjadi
berhala bagi mereka. Mereka begitu bertekun terhadapnya, sehingga mereka
tidak mempunyai waktu untuk menyembah Tuhan, berdiam diri di dalam
hadirat‐Nya, dan menghabiskan waktu untuk melayani‐Nya secara pribadi”
(hal 10).
Ini bahasa Kharismatik.
6. Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:
“Ketika saya melihat kelima dosa yang mendasar ini, terlihat dengan jelas dan
mencolok bahwa kelima dosa dasar ini masih menjadi akar penyebab manusia
hidup dengan potensi yang tidak maksimal. Kelima dosa inilah yang menjadi
dasar bagi kegagalan seluruh umat manusia. Allah ingin kita memasuki Tanah
Kanaan, tempat perhentian, berkat, keberhasilan, kemampuan, dan otoritas ‐
Allah ingin kita berada di sana.” (hal 13).
Penafsiran salah, dan bau kharismatik, yang mengajar kalau taat semua
baik / sukses.
7. Dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’:
“Perkataan yang Allah berikan kepada saya ketika saya masih berada di dalam
pesawat menuju retret di Oregon secara spesifik dan langsung tertuju kepada
salah satu dari dosa‐dosa tersebut: berbuat cabul. Hal ini sungguh memiliki
kekuatan dan dampak yang fenomenal. Dua ratus enam puluh lima orang
berlari menuju ke depan panggung dan ingin bertobat di hadapan Allah.
Malam itu, kuasa Allah begitu kuat, tak seorang pun di antara mereka yang
pulang tanpa dijamah atau diubahkan” (hal 14).
Lagi‐lagi bau Kharismatik.
Juga ada banyak kesaksian Edwin Louis Cole bahwa Tuhan memberi
wahyu kepadanya, Tuhan bicara / berbisik kepadanya, dan sebagainya.
Ini semua juga berbau Kharismatik, tetapi ini akan saya bahas secara
terpisah belakangan.
2) Ajaran: Pdt. Kaleb Kiantoro mengajar bahwa kita harus tegas tetapi
lembut.
Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, kata ‘lembut’ atau
‘lemah lembut’ sama sekali tidak berarti seperti kalau kita menggunakan
kata‐kata itu dalam percakapan sehari‐hari, tetapi Pdt. Kaleb
menggunakan kata itu dalam arti seperti itu.
Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’, dikatakan sebagai berikut:
8
“Lemah lembut adalah power under control yang berarti mempunyai kekuatan
tetapi tidak mau membalas dengan kekuatannya” (hal 38).
“Lembut artinya hati yang tidak mudah terluka. Kelembutan adalah kekuatan
seorang pria. Bagaimana menjadi pria yang lembut? Belajarlah pada Yesus, Dia
berkata: ‘Belajarlah padaKu sebab Aku lemah lembut.’ Datanglah pada
salibNya ketika saudara mengalami tekanan. Taatilah FirmanNya dalam
kehidupan saudara sehari‐hari. Niscaya saudara akan mempunyai hati yang
lembut” (hal 102).
Dan dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole berkata sebagai
berikut:
“Kelemahlembutan adalah salah satu buah Roh, yang juga merupakan tanda
kekuatan sejati seorang pria, dan sama sekali bukan tanda kelemahan.
Seorang pria yang mengenal kekuatannya akan mampu bersikap lemah
lembut. Semakin kuat seorang pria, semakin lemah lembutlah ia. Pria yang
merasa tidak aman akan menutupi kekurangan mereka itu dengan bertindak
kasar dan menyakiti orang lain” (hal 328).
Menurut saya kedua kutipan di atas memberikan definisi yang salah
tentang ‘lembut’ atau ‘lemah lembut’.
Kata ‘lemah lembut’ dalam bahasa Yunaninya adalah PRAUS, yang
merupakan suatu kata yang sukar sekali, atau bahkan mustahil, untuk
diterjemahkan, karena baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia
tidak ada kata yang sama artinya dengan PRAUS.
William Barclay memberikan 3 hal untuk menjelaskan arti dari kata
Yunani PRAUS ini:
a) Ia mengatakan bahwa Aristotle sering mendefinisikan suatu sifat di
antara dua sifat yang extrim. Misalnya: murah hati terletak di antara pelit
/ kikir dan boros.
PRAUS terletak diantara ‘marah yang berlebih‐lebihan’ dan ‘tidak
pernah marah’. Jadi, orang yang PRAUS bukannya tidak pernah marah,
juga bukannya marah yang berlebihan, tetapi selalu marah pada saat
yang tepat. Perlu diingat bahwa marah belum tentu merupakan dosa.
Musa disebut sebagai orang yang lemah lembut (Bil 12:3), tetapi ia
pernah marah (Kel 32:19).
Bil 12:3 ‐ “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut (LXX: PRAUS)
hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi”.
9
Kel 32:19 ‐ “Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu
dan melihat orang menari‐nari, maka bangkitlah amarah Musa;
dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki
gunung itu”.
Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Ia menyebut diriNya lemah lembut
(Mat 11:29), tetapi berulang‐ulang Ia marah (Mat 23:13‐36 Yoh 2:13‐
17 Mark 3:5).
Mat 11:29 ‐ “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku
lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.
Mark 3:5 ‐ “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia
memandang sekelilingNya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu:
‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya
itu”.
Yoh 2:13‐17 ‐ “(13) Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus
berangkat ke Yerusalem. (14) Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang‐pedagang
lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar‐penukar uang duduk di situ.
(15) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci
dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar‐penukar
dihamburkanNya ke tanah dan meja‐meja mereka dibalikkanNya. (16) Kepada
pedagang‐pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan
kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’ (17) Maka
teringatlah murid‐muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu
menghanguskan Aku.’”.
Kemarahan yang bersifat egois / selfish anger (misalnya kalau kita marah
karena ada orang berbuat salah kepada kita), jelas adalah kemarahan
yang salah. Tetapi kemarahan yang terjadi pada waktu kita melihat orang
lain ditindas (bdk. 1Sam 11:6), atau pada saat kita melihat suatu dosa,
atau pada saat kita melihat adanya ajaran sesat (Wah 2:2 2Kor 11:4),
jelas merupakan kemarahan yang benar.
1Sam 11:6 ‐ “Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah
atas dia, dan menyala‐nyalalah amarahnya dengan sangat”.
Perhatikan bahwa Roh Allah berkuasa atas Saul, tetapi ia menjadi sangat
marah, karena ada penindasan terhadap orang‐orang Yabesy‐Gilead.
Wah 2:2 ‐ “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun
ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orangorang
jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya
rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati
mereka pendusta”.
10
Jemaat gereja Efesus ini dipuji oleh Tuhan, karena mereka tidak dapat
sabar terhadap orang‐orang jahat / rasul‐rasul palsu.
2Kor 11:4 ‐ “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan
Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada
kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari
pada yang telah kamu terima”.
Sebaliknya, jemaat Korintus dikecam oleh Paulus karena mereka sabar
saja pada waktu ada pengajar‐pengajar sesat.
b) Kata PRAUS juga digunakan terhadap binatang yang sudah dijinakkan /
dikuasai sehingga tunduk sepenuhnya kepada pemilik / majikannya. Jadi
dalam arti yang kedua ini orang yang PRAUS adalah orang dikuasai /
tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.
c) Dalam bahasa Yunani, PRAUS sering dikontraskan dengan sombong. Jadi
PRAUS mengandung arti ‘rendah hati’.
Bdk. Maz 37:11 ‐ “Tetapi orang‐orang yang rendah hati akan mewarisi negeri
dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah‐limpah”.
Mungkin sekali kata ‘lemah lembut’ dalam Yak 1:21 harus diartikan
dalam arti ini.
Yak 1:21 ‐ “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang
begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut (PRAOTES) firman yang
tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu”.
Catatan: yang jelas, kata PRAOTES (ini kata benda, kata sifatnya adalah
PRAUS) di sini tidak mungkin diartikan ‘lemah lembut’ dalam arti yang
biasa kita gunakan dalam percakapan sehari‐hari!
Mungkin untuk menunjukkan bahwa ia mempraktekkan kelemahlembutan
dalam keluarganya, Pdt. Kaleb mengatakan bahwa ia tidak
pernah satu kalipun memukul anaknya! Sebetulnya ini bertentangan
dengan ajarannya sendiri pada saat itu tentang ketegasan dan
kelembutan. Kalau tidak pernah memukul anak, dimana ketegasannya?
Juga ini bertentangan dengan cara yang diberikan dalam Alkitab tentang
pendidikan anak. Bandingkan dengan ayat‐ayat di bawah ini:
Amsal 13:24 ‐ “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa
mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya”.
Amsal 19:18 ‐ “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau
menginginkan kematiannya”.
11
Amsal 22:15 ‐ “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat
didikan akan mengusir itu dari padanya”.
Amsal 23:13‐14 ‐ “(13) Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati
kalau engkau memukulnya dengan rotan. (14) Engkau memukulnya dengan
rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”.
Amsal 29:15 ‐ “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang
dibiarkan mempermalukan ibunya”.
Ibr 12:5‐11 ‐ “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada
kamu seperti kepada anak‐anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan
Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena
Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang
diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah
memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak
dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus
diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak‐anak gampang.
(9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan
mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada
Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita
dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi
Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam
kekudusanNya. (11) Memang tiap‐tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak
mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan
buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih
olehnya”.
3) Ajaran: Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus
adalah hal yang sama.
Ini dituliskan di salah satu spanduk dalam camp. Kalau tidak salah juga
ada pengkhotbah yang mengatakan kata‐kata ini dalam camp tetapi saya
tak mencatatnya, dan kurang ingat, sehingga tidak bisa memastikannya.
Tetapi dalam buku‐bukunya ini dikutip berulang‐ulang / sering sekali.
Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ (Editor Eddy Leo), pada cover buku tertulis
kata‐kata: “MANHOOD AND CHRISTLIKENESS ARE SYNONYMOUS”.
Artinya: “Ke‐pria‐an dan keserupaan dengan Kristus adalah sama” (ini
terjemahan saya sendiri).
Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ (Editor Eddy Leo), pada bagian
Introduction, dikutip kata‐kata dari Edwin Louis Cole sebagai berikut:
12
“Dia (Allah) telah menetapkan saya dengan pelayanan yang berfokus kepada
pria, untuk membawa mereka kepada keserupaan dengan Kristus dan
menjamah mereka dengan kenyataan bahwa ‘Menjadi pria sejati dan
keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama’ (DR Edwin L Cole)”.
Kalau demikian, lalu bagaimana dengan wanita / perempuan? Apakah
mereka tak bisa menyerupai Kristus? Tetapi dalam buku ‘Kesempurnaan
Seorang Pria’ (Edwin Louis Cole) mengatakan sebagai berikut:
“Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang
sama. Begitu juga dengan kata menyerupai Kristus dan wanita yang sempurna.”
(hal 52).
Kalau begitu, maka wanita yang sempurna sama dengan pria yang
sempurna????
Anehnya, dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata sebagai
berikut:
“Kita bisa saja memperoleh kerohanian dari kaum wanita, tetapi kekuatan
selalu datang dari kaum pria. Gereja, keluarga, dan bangsa akan menjadi kuat
bila kaum prianya juga kuat” (hal 59).
Tadi, di hal 52 ia mengatakan pria yang sempurna = keserupaan dengan
Kristus = wanita yang sempurna. Sekarang di hal 59 kok jadi lain???
Tanggapan saya:
Memang setiap orang Kristen, apakah ia laki‐laki atau perempuan, harus
meneladani Kristus. Tetapi tidak setiap apa yang Kristus lakukan, harus
kita teladani. Misalnya, Kristus berpuasa 40 hari 40 malam, Kristus tidak
pernah berpacaran, menikah ataupun mendapatkan keturunan secara
jasmani, ini merupakan hal‐hal yang tidak harus ditiru. Apalagi kalau
Kristus mati di salib menebus dosa kita, itu tentu tidak bisa dan tidak
boleh ditiru.
Jadi, bukan semua yang Kristus lakukan atau tidak lakukan harus
diteladani. Apapun yang Kristus lakukan atau tidak lakukan, harus
dibandingkan dulu dengan seluruh ajaran Alkitab, baru kita memutuskan
apakah itu harus diteladani atau tidak.
Calvin (tentang Yoh 13:14‐15): “It deserves our attention that Christ says
that he gave an example; for we are not at liberty to take all his actions,
without reserve, as subjects of imitation” (= Harus kita perhatikan bahwa
13
Kristus berkata bahwa Ia memberi suatu teladan / contoh; karena kita tidak
boleh menjadikan semua tindakanNya, tanpa kecuali, untuk ditiru).
Charles Hodge, dalam komentarnya tentang 1Kor 11:23 (tentang
Perjamuan Kudus), berkata: “Protestants, however, do not hold that the
church in all ages is bound to do whatever Christ and the apostles did, but only
what they designed should be afterwards done. It is not apostolic example
which is obligatory, but apostolic precept, whether expressed in words or in
examples declared or evinced to be preceptive. The example of Christ in
celebrating the Lord’s supper is binding as to everything which enters into the
nature and significancy of the institution; for those are the very things which
we are commended to do” (= Tetapi orang Protestan, tidak mempercayai
bahwa gereja dalam sepanjang jaman harus melakukan apapun yang
diperbuat oleh Kristus dan rasul‐rasul, tetapi hanya apa yang mereka
maksudkan untuk harus dilakukan setelah itu. Bukanlah teladan / kehidupan
rasul yang merupakan kewajiban, tetapi perintah rasul, baik yang dinyatakan
dalam kata‐kata atau di dalam contoh / teladan yang dinyatakan atau
ditunjukkan secara jelas bahwa itu merupakan perintah. Teladan Kristus dalam
merayakan Perjamuan Kudus, mengikat / merupakan keharusan berkenaan
dengan semua hal yang termasuk dalam inti / sifat dasar dan hal‐hal yang
mempunyai arti dari sakramen itu, karena itu adalah hal‐hal yang harus kita
lakukan) ‐ ‘I & II Corinthians’, hal 223.
Jadi dalam persoalan / urusan pernikahan, kita tidak bisa meneladani
Kristus secara langsung, karena Ia tidak pernah menikah. Yang harus kita
taati adalah firman Tuhan yang berkenaan dengan pernikahan seperti
Ef 5:22‐33 1Pet 3:17 dsb (ini sebetulnya termasuk meneladani Kristus,
karena Ia taat pada firman).
Masih tentang keserupaan dengan Kristus, Edwin Louis Cole juga
mengatakan dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ kata‐kata sebagai
berikut:
“Semakin banyak firman yang ada di dalam hati Anda, Anda akan semakin
menyerupai firman, dengan kata lain semakin menyerupai Kristus” (hal 60).
Ada beberapa hal yang perlu dikomentari tentang kata‐kata ini:
a) Orang Kristen yang mempunyai banyak firman belum tentu akan
menyerupai firman! Dia bisa saja hanya punya pengetahuan tetapi tidak
melakukannya.
14
b) Menyerupai firman = menyerupai Kristus? Ada 2 kemungkinan tentang
apa yang ia maksudkan dengan kata‐kata ini:
1. Orang yang mempunyai firman dan mentaatinya akan makin serupa
dengan Kristus. Kalau ia memaksudkan ini, saya setuju dengan dia.
2. Firman = Kristus. Kalau dilihat dari ajaran‐ajarannya di bagian lain bukubukunya
(yang akan saya bahas belakangan), kelihatannya inilah yang ia
maksudkan. Juga dari kata‐kata ‘menyerupai firman’ rasanya ini yang ia
maksudkan, karena kata‐kata seperti ini tak lazim. Kalau ia memaksudkan
seperti pada point 1. di atas, ia seharusnya mengatakan ‘mentaati
firman’ atau ‘memelihara firman’. Kalau memang ia memaksudkan
seperti point 2. ini, maka ini jelas salah / sesat! Firman (kata‐kata Tuhan)
tidak sama dengan Kristus! Memang ada ayat yang seakan‐akan
mendukung hal ini, yaitu Yoh 1:1, tetapi maksudnya tidak demikian. Ini
juga akan saya bahas belakangan.
4) Ajaran: Satu ons ketaatan lebih berharga dari satu ton doa!
Salah satu spanduk di ruangan camp bertuliskan: “Satu ons ketaatan
lebih berharga dari pada satu ton doa”.
Pdt. Johan Gopur mengajar: Pasir kelihatan padat tetapi sebetulnya
tidak. Mendengar tetapi tidak taat, seperti orang yang membangun
rumah di atas pasir. Dan ia lalu mengutip kata‐kata “satu ons ketaatan
lebih berharga dari pada satu ton doa”.
Dan ia menambahkan: Kita boleh beribu‐ribu kali berdoa, tetapi 1 kali
saja tidak taat, maka itu tak ada gunanya. Taat 1 x lebih berharga dari
pada doa ribuan kali.
Catatan: menurut saya ajaran ini sangat extrim. Tidak ada hari / saat
dimana kita tidak berbuat dosa. Kalau begitu, tidak perlu doa sama sekali
saja, karena toh tidak ada gunanya.
Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’ (Edwin Louis Cole) bahkan
dikatakan: “Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan satu ons keinginan
untuk hidup taat. Setelah Anda mengucapkan semua doa Anda, bila Anda tidak
taat, Anda sedang menyangkal doa-doa Anda itu” (hal 86).
Tanggapan saya:
15
Memang kalau seseorang berdoa tetapi ia sama sekali tidak mau taat,
doanya tidak akan ada gunanya, karena Allah tidak akan
mendengarkannya.
Yes 59:1‐2 ‐ “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk
menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar;
(2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala
kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu,
sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu”.
Yes 1:15 ‐ “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan
memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali‐kali berdoa, Aku tidak
akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.
Maz 66:18 ‐ “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak
mau mendengar”.
Tetapi saya yakin bahwa semua ini ditujukan bagi orang‐orang yang
berdosa tanpa mau bertobat (bersikap tegar tengkuk), bukan untuk
orang‐orang yang jatuh ke dalam dosa karena kelemahannya.
Jadi, bagaimanapun kita tidak bisa / tidak boleh mengatakan bahwa ‘satu
ons ketaatan lebih berharga dari pada satu ton doa’! Kita lebih‐lebih
tidak bisa mengatakan ‘Satu ton doa tidak akan pernah menghasilkan
satu ons keinginan untuk hidup taat’.
Menurut saya, ini merupakan kegilaan dan merupakan suatu penghinaan
terhadap doa! Justru doa menyebabkan kita diberi kekuatan untuk taat,
dan tanpa doa kita tidak akan bisa taat! Kalau doa memang tidak
memberi kita keinginan dan kemampuan untuk taat, lalu untuk apa
dalam Alkitab ada ayat‐ayat di bawah ini?
Mat 6:13 ‐ “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi
lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya
Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama‐lamanya. Amin.]”.
Mat 26:41 ‐ “Berjaga‐jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke
dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.
Luk 21:34‐36 ‐ “(34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta
pora dan kemabukan serta kepentingan‐kepentingan duniawi dan supaya hari
Tuhan jangan dengan tiba‐tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35)
Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga‐jagalah
senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari
semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak
Manusia.’”.
16
Luk 22:40,46 ‐ “(40) Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka:
‘Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.’ … (46) KataNya
kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya
kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.’”.
Kis 4:29‐31 ‐ “(29) Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka
mengancam kami dan berikanlah kepada hamba‐hambaMu keberanian untuk
memberitakan firmanMu. (30) Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan
orang, dan adakanlah tanda‐tanda dan mujizat‐mujizat oleh nama Yesus,
HambaMu yang kudus.’ (31) Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah
tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus,
lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”.
Ef 6:18b‐20 ‐ “(18b) Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga‐jagalah
di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus‐putusnya untuk
segala orang Kudus, (19) juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka
mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku
memberitakan rahasia Injil, (20) yang kulayani sebagai utusan yang
dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya,
sebagaimana seharusnya aku berbicara”.
Fil 4:13 ‐ “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi
kekuatan kepadaku.”.
KJV: ‘I can do all things through Christ which strengtheneth me’ (= Aku
dapat melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan aku).
Juga bandingkan dengan Yoh 15:1‐7 yang menunjukkan bahwa
persekutuan seseorang Kristen dengan Tuhanlah yang membuatnya bisa
berbuah!
Jadi, menurut saya, yang benar adalah: harus ada keseimbangan antara
doa dan ketaatan. Dan kedua hal itu saling mendukung. Orang yang
banyak berdoa akan diberi kekuatan untuk taat, dan orang yang taat
akan menyebabkan ia bisa berdoa dengan lebih baik lagi.
5) Penggunaan ayat Alkitab yang salah / tidak cocok, atau penafsiran ayat
Alkitab yang ngawur, atau ajaran yang tidak ada dasar Alkitabnya.
a) Ajaran: Pdt. Johan Gopur mengatakan bahwa kita harus membuka diri di
hadapan Allah dan manusia.
Text Kitab Suci yang digunakan adalah Ibr 4:14‐16 ‐ “(14) Karena kita
sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit,
yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman
17
kita. (15) Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak
dapat turut merasakan kelemahan‐kelemahan kita, sebaliknya sama dengan
kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (16) Sebab itu marilah kita
dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita
menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat
pertolongan kita pada waktunya”.
Pdt. Johan Gopur berkata: Saya membuka diri di hadapan Tuhan,
sehingga bisa banyak perubahan dalam diri saya. Akan terjadi pemulihan
bagi yang mau membuka diri di hadapan Tuhan. Dulu problem keluarga
saya tutup di depan jemaat. Setan senang, pelayanan tidak maju. Ia
menggunakan Ibr 4:16 di atas sebagai dasar ajarannya.
Tanggapan saya: Ibr 4:16 itu merupakan suatu perintah untuk datang
kepada Allah dalam doa dengan berani, karena kita mempunyai Imam
Besar, yaitu Yesus Kristus (ay 14‐15).
Jadi, ini tak ada hubungannya dengan keterbukaan, baik di hadapan Allah
maupun di hadapan manusia!
b) Pdt. Johan Gopur melanjutkan ajarannya tentang ‘membuka diri’ dan
menggunakan cerita tentang perempuan Samaria dalam Yoh 4.
Perempuan Samaria itu tidak berani ketemu orang. Ia ke sumur pada
siang hari, tidak ada orang. Tetapi dia ketemu Yesus. Setelah itu
perempuan itu berani ketemu banyak orang, dan bicara tentang Yesus.
Keterbukaan kita kepada Tuhan merupakan kunci.
Tanggapan saya: Dalam cerita tentang perempuan Samaria itu, Yesuslah
yang membuka masalahnya / dosanya, bukan ia yang membuka diri /
menceritakan dosa‐dosanya. Terhadap orang banyak ia juga bukan
membuka diri / menceritakan dosanya, tetapi mengarahkan mereka
kepada Yesus.
Yoh 4:16‐19 ‐ “(16) Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, panggillah suamimu dan
datang ke sini.’ (17) Kata perempuan itu: ‘Aku tidak mempunyai suami.’ Kata
Yesus kepadanya: ‘Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, (18)
sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu,
bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.’ (19) Kata perempuan
itu kepadaNya: ‘Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi”.
Di sini Yesus membuka dosa‐dosa perempuan itu.
18
Yoh 4:28‐29,39,42 ‐ “(28) Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya
di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang‐orang yang di situ: (29)
‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu
yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’ … (39) Dan banyak orang
Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepadaNya karena perkataan
perempuan itu, yang bersaksi: ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang
telah kuperbuat.’ … (42) dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami
percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri
telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar‐benar Juruselamat
dunia.’”.
Di sini perempuan itu memang menemui banyak orang, tetapi tujuannya
adalah untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang‐orang Samaria.
Tak ada bagian manapun dalam text itu dimana perempuan itu membuka
diri, baik kepada Yesus maupun kepada orang banyak (Samaria).
c) Pdt. Johan Gopur juga menggunakan Yes 55:1‐2 ‐ “(1) Ayo, hai semua orang
yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai
uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga
anggur dan susu tanpa bayaran! (2) Mengapakah kamu belanjakan uang untuk
sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak
mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan
kamu akan menikmati sajian yang paling lezat”.
Ia mengatakan bahwa ini merupakan ajakan bagi orang yang haus, yang
berdosa, maupun yang sudah kenal Tuhan tetapi banyak dosa ditutupi.
Tanggapan saya: Kalau ayat itu dikatakan sebagai ajakan bagi orang yang
haus, berdosa, untuk datang kepada Tuhan, dan menerima
pengampunan, maka itu benar. Tetapi kalau dikatakan bahwa itu
merupakan ajakan bagi orang yang SUDAH KENAL TUHAN, tetapi banyak
menutupi dosanya, saya menganggap ayatnya sama sekali tidak cocok.
Ayat di atas hanya cocok untuk orang yang belum percaya, dan ayat di
atas tak ada hubungannya dengan dosa yang ditutupi.
Kalau mau menggunakan ayat yang berhubungan dengan orang percaya
yang menutupi dosa maka jauh lebih baik menggunakan Maz 32:1‐5 ‐
“(1) [Dari Daud. Nyanyian pengajaran.] Berbahagialah orang yang diampuni
pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! (2) Berbahagialah manusia, yang
kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! (3)
Selama aku berdiam diri, tulang‐tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh
sepanjang hari; (4) sebab siang malam tanganMu menekan aku dengan berat,
19
sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela (5) Dosaku
kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku
berkata: ‘Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran‐pelanggaranku,’ dan
Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela”.
Kata‐kata ‘berdiam diri’ dalam ay 3a jelas maksudnya adalah ‘tidak
mengaku dosa’. Ini menyebabkan tangan Tuhan menekan dia, sehingga
dia sangat menderita (ay 3b‐4). Tetapi lalu dalam, ay 5a ia
memberitahukan / mengaku dosa / pelanggarannya, dan ini
menyebabkan ia diampuni (ay 5b).
d) Pdt. Johan Gopur mengajar: Kanaan bukan lambang dari surga tetapi
hidup orang Kristen yang maximal.
Ini pasti ia dapatkan dari buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, dimana
Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:
“Tanah Kanaan selalu digunakan Allah sebagai simbol potensi maksimal dari
umat manusia. Tanah Kanaan adalah suatu tempat Allah menggenapi janjijanji‐
Nya di dalam kehidupan kita ‐ tempat Allah memaksimalkan potensi
umat‐Nya, baik secara pribadi maupun bersama. … Di dalam Perjanjian Lama,
Tanah Kanaan adalah tempat yang diinginkan Allah untuk ditempati oleh
bangsa Israel setelah Ia membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir.
Mereka akan hidup dengan iman mereka di sana. Dan, Allah akan menggenapi
janji‐janji‐Nya atas mereka. Saya ingin Anda mengerti bahwa Kanaan adalah
Tanah Perjanjian, tempat di mana Allah menginginkan Anda hidup dengan
iman saat ini. Di tempat itu, Allah akan menggenapi janji‐janji‐Nya atas
kehidupan Anda. Di sana Anda dapat meraih potensi maksimal Anda” (hal 8).
Tanggapan saya:
Perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan merupakan TYPE (bukan
lambang) dari perjalanan orang Kristen ke surga. Dan Kanaan memang
merupakan TYPE dari surga, bukan dari kehidupan orang Kristen yang
maximal. Apa yang ia ajarkan, menurut saya, tak punya dasar Alkitab.
Tetapi apa yang saya ajarkan ada dasarnya, yaitu 2Pet 1:15 ‐ “Tetapi aku
akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat
semuanya itu”.
Perhatikan kata ‘kepergianku’.
KJV/ASV/NKJV: ‘my decease’ (= kematianku).
RSV/NIV/NASB: ‘my departure’ (= keberangkatanku).
20
Kata ‘kepergian’ ini diterjemahkan dari kata Yunani EXODON, dari mana
diturunkan kata EXODUS. Dan ini memang berhubungan dengan
keluarnya Israel dari Mesir (EXODUS).
Vincent (tentang 2Pet 1:15): “‘Decease’ (EXODON ). ‘Exodus’ is a literal
transcript of the word, and is the term used by Luke in his account of the
transfiguration. ‘They spake of his decease.’ It occurs only once elsewhere, Heb
11:22, in the literal sense, the ‘departing or exodus’ of the children of Israel” [=
‘Kematian’ (EXODON). ‘Exodus’ merupakan suatu salinan hurufiah dari kata
itu, dan merupakan istilah yang digunakan oleh Lukas dalam cerita /
laporannya tentang perubahan rupa / pemuliaan. ‘Mereka berbicara tentang
kematianNya’. Kata itu hanya muncul satu kali di tempat lain, Ibr 11:22, dalam
arti yang hurufiah, ‘pemberangkatan atau exodus’ dari anak‐anak Israel].
Catatan: kata ‘transfiguration’ menunjuk pada pemuliaan Yesus di atas
gunung, dimana Ia berubah rupa. Kata ‘transfiguration’ itu sendiri berarti
‘perubahan rupa / bentuk’.
Ibr 11:22 ‐ “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan
tentang keluarnya orang‐orang Israel dan memberi pesan tentang tulangbelulangnya”.
KJV: ‘the departing’ (= keberangkatan).
RSV/NIV/NASB: ‘the exodus’ (= exodus).
ASV/NKJV: ‘the departure’ (= keberangkatan).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Pet 1:15): “The very word EXODON
used in the transfiguration, Moses and Elias conversing about Christ’s decease
(found nowhere else in the New Testament, but Heb. 11:22, ‘the departing of
Israel’ out of Egypt, to which the saints’ deliverance from the bondage of
corruption answers)” [= Kata EXODON digunakan dalam perubahan rupa /
pemuliaan, Musa dan Elia berbicara tentang kematian Kristus (tidak ditemukan
di tempat lain dalam Perjanjian Baru, tetapi Ibr 11:22, ‘kepergian Israel’ keluar
dari Mesir, yang cocok dengan pembebasan orang‐orang kudus dari
perbudakan kejahatan)].
Barclay (tentang 2Pet 1:15): “The picture comes from the journeying of the
patriarchs in the Old Testament. They had no abiding residence but lived in
tents because they were on the way to the Promised Land. The Christian knows
well that his life in this world is not a permanent residence but a journey
towards the world beyond. We get the same idea in verse 15. There Peter
speaks of his approaching death as his EXODOS, his departure. EXODOS is, of
21
course, the word which is used for the departure of the children of Israel from
Egypt, and their setting out to the Promised Land. Peter sees death, not as the
end but as the going out into the Promised Land of God” (= Gambaran itu
datang dari perjalanan dari nenek moyang mereka dalam Perjanjian Lama.
Mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap tetapi hidup / tinggal di kemah
karena mereka sedang dalam perjalanan ke Negeri Perjanjian. Orang Kristen
tahu dengan baik bahwa kehidupannya dalam dunia ini bukanlah suatu
tempat tinggal yang permanen tetapi suatu perjalanan menuju dunia yang
akan datang / alam baka. Kita mendapatkan gagasan yang sama dalam ay 15.
Di sana Petrus berbicara tentang kematiannya yang mendekat sebagai
EXODOS‐nya, keberangkatannya. Tentu saja, EXODOS adalah kata yang
digunakan untuk keberangkatan dari anak‐anak Israel dari Mesir, dan
keberangkatan mereka ke Negeri Perjanjian. Petrus melihat kematian, bukan
sebagai akhir tetapi sebagai keluar menuju Negeri Perjanjian dari Allah) ‐ hal
308.
Kesimpulan: kata Yunani yang digunakan oleh Petrus untuk menunjuk
pada kepergiannya ke surga sama dengan kata Yunani yang digunakan
dalam Ibr 11:22 untuk menunjuk pada kepergian / perjalanan bangsa
Israel dari Mesir ke Kanaan, dan ini merupakan dasar untuk mengatakan
bahwa perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan merupakan TYPE
dari perjalanan orang Kristen di dunia ini menunju ke surga. Dan itu
sekaligus juga menunjukkan bahwa Kanaan adalah TYPE dari surga!
e) Pdt. Johan Gopur mengajar: Lazarus sudah mati 4 hari, dibangkitkan oleh
Yesus. Lazarus keluar, masih terbungkus kain kapan. Sudah hidup tetapi
terbungkus kain kapan. Ini sama seperti orang Kristen yang sudah hidup /
diampuni, tetapi masih ada dosa‐dosa yang masih mengikat kita.
Tanggapan saya: Ini merupakan suatu pengalegorian yang salah! Cerita
sejarah tidak boleh dialegorikan / diartikan sebagai lambang. Disamping,
kalau kain kapan itu simbol dosa, pada waktu kain kapan itu dilepaskan
dari tubuh Lazarus, bagaimana kita mengartikannya? Lazarus menjadi
suci? Dan kalau kain kapan itu simbol dari dosa, mengapa Yesus
bukannya melepaskan sendiri kain kapan itu, tetapi menyuruh orang lain
untuk melepaskannya?
Yoh 11:43‐44 ‐ “(43) Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan
suara keras: ‘Lazarus, marilah ke luar!’ (44) Orang yang telah mati itu datang
ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya
22
tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: ‘Bukalah kain‐kain itu
dan biarkan ia pergi.’”.
Apakah itu berarti bahwa orang / manusia bisa melepaskan orang lain
dari dosa‐dosa mereka sampai orang itu menjadi suci?
f) Pdt. Johan Gopur mengatakan bahwa suami adalah imam dalam
keluarga, dan sebagai imam ia harus berdoa untuk keluarga. Sebagai
dasar Kitab Suci ia memberikan 1Tim 2:8 ‐ “Oleh karena itu aku ingin,
supaya di mana‐mana orang laki‐laki berdoa dengan menadahkan tangan yang
suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”.
Tanggapan saya: Saya tak setuju suami harus menjadi imam. Saya setuju
suami harus berdoa untuk keluarga, tetapi kalau 1Tim 2:8 dipakai sebagai
dasar, itu tidak cocok, karena kontext dari ayat itu sama sekali bukan
keluarga. Baca sendiri kontextnya, dan saudara akan melihat bahwa ayat
ini sama sekali tidak berhubungan dengan keluarga.
g) Pdt. Johan Gopur menggunakan 1Pet 5:8 ‐ “Sadarlah dan berjaga‐jagalah!
Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum‐aum dan
mencari orang yang dapat ditelannya”. Dan ia lalu berkata “Jadi, ada yang tak
bisa ditelan. Yang mana yang bisa ditelan? Yang menyimpan kepahitan /
dendam”.
Tanggapan saya: Ini lagi‐lagi merupakan penggunaan ayat Kitab Suci
seenaknya sendiri, karena ayat ini sama sekali tidak berurusan dengan
kepahitan / dendam.
h) Pdt. Kaleb Kiantoro menggunakan Luk 13:6‐9 ‐ “(6) Lalu Yesus mengatakan
perumpamaan ini: ‘Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun
anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak
menemukannya. (7) Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah
tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak
menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan
percuma! (8) Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku
akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, (9)
mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!’”.
Dan ia lalu mengatakan bahwa tukang kebun ini tegas tetapi lembut!
23
Tanggapan saya: Yang digunakan oleh Pdt. Kaleb Kiantoro adalah suatu
perumpamaan, dan perumpamaan hanya boleh ditafsirkan sesuai
maksud / arah / tujuan dari perumpamaan itu. Di sini maksud / arah /
tujuannya jelas adalah bahwa Tuhan menghendaki adanya buah dalam
kehidupan anak‐anakNya, dan yang tidak berbuah, lambat atau cepat,
akan ditebang. Pada waktu ditafsirkan bahwa tukang kebun itu lembut
tetapi tegas, atau sebaliknya, maka ini merupakan penggunaan ayat /
perumpamaan yang sama sekali tidak seharusnya.
6) Ajaran: dalam ruangan Camp ada spanduk bertuliskan: “Katakanlah kepada
istri anda setiap hari bahwa dia adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk anda
dan bahwa anda mencintainya”.
Saya kira ada pengkhotbah dalam camp yang juga mengatakan hal ini.
Dan dalam buku‐buku mereka hal‐hal seperti ini banyak sekali.
a) Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’:
1. “Ketika istri anda bertanya, ‘Apakah kamu mencintaiku?’ Jawaban yang benar
adalah: ‘Apakah langit masih biru? Apakah air masih basah? Apakah gunung
masih tinggi? Begitulah cintaku padamu!!!’” (hal 17).
Kata‐kata ‘jawaban yang benar’ (yang saya garis‐bawahi) menunjukkan
bahwa jawaban seperti itu mutlak diharuskan. Tetapi bagaimana kalau
ternyata pria itu sudah luntur cintanya? Apakah tetap harus mengatakan
kata‐kata seperti itu? Saya merasa ajaran ini hanya bagus, kalau bisa
diucapkan dengan jujur dan tulus. Dan saya yakin hanya sangat sedikit,
kalau ada, pria / suami yang bisa mengucapkan kata‐kata seperti ini
dengan jujur dan tulus, karena pria / suami bukanlah Tuhan yang tidak
bisa berubah. Tuhan tidak berubah, juga dalam cintaNya kepada kita,
tetapi suami bukan Tuhan. Pria / suami bisa berubah, juga dalam hal
cintanya kepada istrinya! Sekarang, bagaimana kalau sang suami sudah
luntur cintanya? Apakah tetap harus mengatakan kata‐kata seperti itu?
Juga, mengatakan bahwa cintanya kepada istrinya sama seperti warna
biru dari langit dan ketinggian gunung, mengharuskan suami itu menjadi
seorang penyair!
2. “Katakan kepada istri anda setiap hari, bahwa dia adalah hadiah dari Tuhan
buat anda, dan bahwa anda mencintainya” (hal 19).
24
Dan keharusan mengatakan hal seperti itu setiap hari, menyebabkan ia
berdusta setiap hari juga. Bolehkah berdusta untuk kebaikan (white lie /
dusta putih)???
3. “Semakin banyak kita menabur kata‐kata cinta baginya, semakin banyak pula
kita akan menuai keindahan cinta darinya (2Kor 9:6)” (hal 20).
Sekalipun kata‐kata di atas ini tidak salah, tetapi dasar ayat yang
digunakan salah. Ayat ini berurusan dengan persembahan. Untuk
mengetahui hal itu baca ayat ini sekaligus dengan ayat selanjutnya.
2Kor 9:6‐7 ‐ “(6) Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai
sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (7)
Hendaklah masing‐masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan
dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang
memberi dengan sukacita”.
Jadi, penggunaan ayat seperti ini, merupakan penggunaan yang salah
(out of context). Yang dimaksud dengan ‘menabur’ sebetulnya adalah
‘menabur uang’ (memberi persembahan), bukan ‘menabur kata‐kata
cinta’.
Hal lain yang bisa ditekankan dari text itu adalah: apa yang kita tuai tak
selalu hal yang sama dengan apa yang kita tabur. Jadi, menabur uang,
belum tentu menuai uang. Tuhan bisa memberi berkat dalam hal yang
lain.
4. “Kata‐kata positif dan membangun yang diberikan oleh suami bagi istrinya
akan membuat sang istri bertumbuh dan berbuahkan pula hal‐hal yang positif
dan baik pula (Mat 12:33). (RS)” (hal 20).
Catatan: RS adalah Ronny Soedjak, Gembala GPDI Moria, Jatibening,
Bekasi. Coordinator House of Blessing (Pelayanan Keluarga). Pemimpin
Christian Men’s Network di Indonesia (lihat book cover di bagian depan
buku ini).
a. Mari pertama‐tama kita melihat ayat yang ia gunakan sekaligus dengan
kontextnya.
Mat 12:33‐35 ‐ “(33) Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula
buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula
buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. (34) Hai kamu keturunan ular
beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal‐hal yang baik,
sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.
25
(35) Orang yang baik mengeluarkan hal‐hal yang baik dari perbendaharaannya
yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal‐hal yang jahat dari
perbendaharaannya yang jahat”.
Menurut saya text ini / ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya
dengan ajaran Ronny Soedjak di atas. Ini penggunaan ayat Kitab Suci
yang ngawur!
b. Sekalipun kata‐kata positif dari suami merupakan sesuatu yang baik dan
penting bagi istrinya, tetapi untuk membuat istri itu bertumbuh dan
berbuah, yang ia butuhkan adalah kata‐kata Tuhan / Firman Tuhan.
1Pet 2:2‐3 ‐ “(2) Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu
ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu
bertumbuh dan beroleh keselamatan, (3) jika kamu benar‐benar telah
mengecap kebaikan Tuhan”.
Dan ada satu pertanyaan: kalau ada istri yang mempunyai suami yang
brengsek yang tidak pernah memberikan kata‐kata yang positif dan
membangun, tetapi istri ini rajin belajar Firman Tuhan, tidak bisakah ia
bertumbuh dan berbuah?
b) Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, pada bagian ‘Dedikasi’ di awal
buku, DR Edwin Louis Cole juga mengatakan “Kepada istriku, Nancy,
‘Wanita tercantik di bumi ini.’”.
Dalam buku yang sama, pada bagian akhirnya, Edwin Louis Cole berkata
sebagai berikut:
“Istri saya, Nancy, masih menjadi ‘Wanita Tercantik di Bumi Ini’, dan tidak
pernah kehilangan kemampuannya untuk menolong saya. … Kami telah
menikah selama lebih dari lima puluh tahun. Orang‐orang bertanya kepada
saya apakah saya telah menikah dengan orang yang sama selama tahun‐tahun
itu. Jawaban saya selalu sama, ‘TIDAK! Dia adalah seorang yang penuh kasih,
lebih ramah, setia, taat kepada Allah, lebih tulus dibandingkan sebelumnya.
Dia adalah seorang ibu yang luar biasa, istri seorang pelayan, kekasih, dan
orang Kristen terbaik yang pernah saya temui sepanjang hidup saya.’” (hal
176).
Tulus / jujurkah kata‐kata ini? Terus terang, saya meragukan adanya pria
/ suami yang bisa mengatakan hal ini setelah menikah lebih dari 50
tahun. Kalaupun ada, mungkin itu hanya satu dari sejuta! Apalagi kalau
pria / suami itu betul‐betul menganggap istri yang sudah usia 70an tahun
sebagai wanita tercantik di dunia! Ini sangat tidak masuk akal!
26
Juga perhatikan kata‐kata ‘orang Kristen terbaik yang pernah saya temui
sepanjang hidup saya’. Bisakah penilaian seperti ini diterima?
Obyektifkah? Jujur / tuluskah?
Sekarang, dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ ada kata‐kata sebagai berikut:
1. “Pria yang sudah ditebus oleh DARAH YESUS adalah pria yang hidup dalam
terang. Dan ciri dari terang adalah hidup secara terang‐terangan /
keterbukaan. Pengakuan adalah kunci pemulihan. Jangan takut mengaku kalau
memang salah. Akui dan minta maaf” (hal 8).
2. “Kunci utama sebuah komunikasi yang berhasil adalah keterbukaan, sebaliknya
ketertutupan adalah hal yang menghancurkan komunikasi. Para pria,
terbukalah di hadapan Tuhan, keluarga, dan di hadapan orang lain” (hal 36).
Kalau kata‐kata di atas ini saya hubungkan dengan keharusan
menyatakan ‘cinta yang tidak berubah’ kepada istri, apa yang terjadi?
Kata‐kata di atas ini mengatakan kita harus terbuka. Kalau cinta kepada
istri memang sudah berubah / luntur, haruskah tetap menyatakan
cintanya tak berubah (dan dengan demikian bukan saja berdusta, tetapi
juga bersikap tertutup / tidak terbuka), atau mengakui terus terang
kepada istri kalau cintanya sudah luntur?
7) Pdt. Kaleb Kiantoro mengajar: “A child is not likely to find a father in God
unless he finds something of God in his father” (= Seorang anak tidak akan /
kecil kemungkinannya untuk mendapatkan seorang bapa dalam Allah kecuali
ia mendapatkan sesuatu dari Allah dalam bapanya).
Tanggapan saya:
Kalau dikatakan seorang anak harus mendapatkan sesuatu dari Allah
dalam bapa / ayahnya, maka sebetulnya kalau kita bicara secara teologis,
semua anak bisa mendapatkan sesuatu dari Allah dalam diri bapa /
ayahnya, karena bapa / ayahnya adalah gambar dan rupa Allah (biarpun
sudah rusak tetapi tidak musnah!).
Kalau mau dikatakan bahwa anak yang memiliki bapa / ayah yang rusak /
bejat itu tidak menemukan sesuatu apapun dari Allah dalam diri bapa /
ayahnya, dan itu menyebabkan ia tidak bisa / kecil kemungkinannya
untuk mendapatkan seorang bapa dalam Allah, maka apakah itu berarti
bahwa anak dari seorang bapa yang bejat tidak akan / kecil
kemungkinannya untuk percaya kepada Yesus? Menurut saya ini sangat
27
belum tentu! Dalam Alkitabpun sangat banyak orang yang adalah anak
dari orang yang bejat, tetapi bisa percaya dengan sungguh‐sungguh.
Sebaliknya, ada banyak anak dari bapa yang beriman dan saleh, tetapi
ternyata ia menjadi orang yang tidak percaya / orang jahat sampai mati.
8) Ajaran yang berbau kesesatan: orang laki‐laki harus menjadi imam dalam
keluarga!
Pdt. Johan Gopur mengatakan: “Sudahkah kita jadi imam dalam keluarga?
Fungsi imam salah satunya adalah berdoa untuk keluarga. Tuhan pakai kita
sebagai saluran / sumber berkat. Tetapi kalau saluran itu rusak, bagaimana?
Keluarga kacau”.
Ia lalu mengutip 1Tim 2:8 ‐ “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana‐mana
orang laki‐laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan
tanpa perselisihan”.
Catatan: ini kontextnya bukan doa untuk keluarga!
Ajaran bahwa orang laki‐laki harus menjadi imam dalam keluarga juga
banyak tersebar dalam buku‐buku mereka.
Dalam buku ‘Kesempurnaan Seorang Pria’, Edwin Louis Cole berkata:
“Di dalam keluarga Anda haruslah ada seorang imam dan Allah sudah
menentukan hal itu untuk diperankan oleh kaum pria. Entah Anda seorang
murid sekolah Alkitab atau tidak, bila Anda seorang pria, Anda adalah seorang
imam. Anda tetaplah seorang imam, entah Anda mempercayainya,
menerimanya, menghidupinya, atau tidak menghiraukannya. Tugas seorang
imam bukan hanya untuk melayani Tuhan, melainkan juga orang‐orang yang
dipercayakan ke dalam pemeliharaannya. Artinya, seorang pria harus melayani
istri dan anak‐anaknya. … Banyak pria yang gagal memahami bahwa mereka
harus memenuhi tugas pelayanan mereka sebagai seorang imam di dalam
keluarga. … Seorang imam di dalam keluarga harus mau berdoa bagi istrinya”
(hal 61,63).
Catatan: Karena istri bukan imam, jadi istri tidak perlu berdoa untuk
keluarganya?
Dan dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata:
“Karena imam dalam Perjanjian Lama merupakan perantara antara Allah dan
manusia, seorang penengah, yaitu orang yang menyatakan anugerah Allah
kepada umat dan disebut ‘bapak’, maka ayah di dalam rumah bertindak
sebagai ‘imam’ bagi keluarga” (hal 163).
28
Dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut:
“Dalam Matius 7:24‐27 dijelaskan ada 2 macam rumah yang dibangun diatas
dasar yang berbeda. Rumah berbicara tentang kehidupan dimana pria menjadi
imamnya. Pria yang bijaksana (pintar) adalah pria yang mendengar dan
melakukan Firman Tuhan. Pria tersebut membangun kehidupannya dengan
nilai‐nilai dan prinsip‐prinsip yang kuat dari Firman Tuhan.” (hal 2).
Catatan: ini merupakan penafsiran yang ngawur. Perumpamaan ini tak
ada hubungannya dengan ajaran bahwa seorang laki‐laki harus menjadi
imam dalam keluarganya!
Lalu, dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ juga dikatakan sebagai berikut:
“Seorang pria harus terlebih dahulu berfungsi sebagai imam, sebelum ia
berfungsi sebagai nabi” (hal 48).
Lalu, lagi‐lagi dalam buku ‘Hikmat Bagi Pria’ dikatakan sebagai berikut:
“Nabi, imam dan raja: jadilah seorang pria sejati. Seorang pria adalah seorang:
Imam: Yaitu seorang mediator antara Allah dengan keluarganya. Anda tidak
akan pernah bisa membawa Allah kepada keluarga Anda sebelum Anda
membawa keluarga Anda kepada Allah. Nabi: Yaitu seorang yang
menyampaikan suara Allah kepada keluarga. Dia menetapkan standar hidup
keluarganya berdasarkan firman Tuhan. Raja: Yaitu seorang yang mempimpin
(govern), melindungi (guard) dan menuntun (guide) keluarganya. Jika anda
melakukan ketiga fungsi ini, keluarga anda akan menjadi keluarga yang
diberkati Tuhan” (hal 119‐120).
Dan dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, Edwin Louis Cole berkata sebagai
berikut:
“Ketika Kristus datang ke dunia, Dia menyatakan diriNya sebagai nabi, imam,
dan raja. Para ayah juga dipanggil untuk menjadi nabi, imam, dan raja bagi
keluarga mereka. Nabi berbicara sebagai wakil Allah kepada umatNya; imam
berbicara kepada Allah mewakili umat Allah; dan raja memerintah atas dasar
kerelaannya untuk melayani. Para pria dituntut untuk menjalankan ketiga
peranan ini. … Jadi, tanggung jawab seorang pria terhadap keluarganya adalah
mengarahkan, melindungi, dan memperbaiki; memelihara, menghargai,
menegur; menjadi nabi, imam, dan raja. … Seorang pria bisa saja sukses dalam
mengelola usahanya, namun gagal menjadi perantara Allah bagi keluarganya”
(hal 130,131).
29
Lalu dalam buku yang sama Edwin Louis Cole berkata sebagai berikut:
“Seorang ayah harus menjadi kepala dalam keluarga sebagaimana halnya
Kristus adalah kepala bagi jemaatNya. Ia juga harus melayani keluarganya
seperti Kristus melayani jemaatNya, yaitu sebagai nabi, imam, dan raja.
Sebagai nabi, ia menyampaikan perkataan Allah kepada anak‐anaknya.
Sebagai imam, ia berbicara mewakili anak‐anaknya kepada Allah. Sebagai raja,
ia memerintah dan memimpin dengan suatu kerelaan untuk melayani mereka”
(hal 335).
Catatan: tentang nabi, apakah Allah tak bisa bicara kepada anak‐anak
tanpa melalui ayahnya?
Tanggapan saya:
Dalam Alkitab memang ada ayat‐ayat yang seolah‐olah bisa dipakai
sebagai dasar ajaran oleh ajaran ini. Perhatikan ayat‐ayat di bawah ini.
1Pet 2:5,9 ‐ “(5) Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup
untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk
mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan
kepada Allah. …. (9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu
memberitakan perbuatan‐perbuatan yang besar dari Dia, yang telah
memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.
Wah 1:6 ‐ “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi
imam‐imam bagi Allah, BapaNya, ‐ bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai
selama‐lamanya. Amin”.
Wah 5:10 ‐ “Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan
menjadi imam‐imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai
raja di bumi.’”.
Wah 20:6 ‐ “Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam
kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas
mereka, tetapi mereka akan menjadi imam‐imam Allah dan Kristus, dan
mereka akan memerintah sebagai raja bersama‐sama dengan Dia, seribu
tahun lamanya”.
Hal yang pertama dan terutama dalam menafsirkan ayat‐ayat ini adalah:
Kata ‘imam’ dalam semua ayat di atas berlaku untuk semua orang
kristen, bukan yang laki‐laki / suami saja, dan karena itu jelas tidak bisa
dijadikan dasar ajaran mereka bahwa pria / suami harus menjadi imam
dalam keluarga!
30
Semua orang Kristen adalah imam, dalam arti bahwa orang Kristen bisa
langsung datang kepada Allah, dan tidak membutuhkan imam manusia.
Barclay (tentang 1Pet 2:9): “this means that every Christian has the right
of access to God” (= ini berarti bahwa setiap orang Kristen mempunyai
hak masuk kepada Allah) ‐ hal 199.
Bahwa dalam jaman Perjanjian Baru tidak ada lagi imam manusia biasa
seperti dalam Perjanjian Lama terlihat dari:
a) Hanya Yesus yang adalah imam.
Ibr 4:14‐15 ‐ “(14) Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang
telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh
berpegang pada pengakuan iman kita. (15) Sebab Imam Besar yang kita punya,
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahankelemahan
kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak
berbuat dosa”.
Ibr 2:17 ‐ “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan
saudara‐saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas
kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh
bangsa”.
1Tim 2:5 ‐ “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara
antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
b) Tirai Bait Allah sobek pada saat Yesus mati (Mat 27:50‐51).
Mat 27:50‐51 ‐ “(50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu
menyerahkan nyawaNya. (51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari
atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit‐bukit batu
terbelah,”.
Ini merupakan suatu tanda bahwa seluruh Bait Allah dengan korbankorban,
upacara‐upacara, dan imam‐imamnya, harus dibuang!
c) Jabatan Imam, Nabi dan Raja itu hanya untuk Yesus. Tak ada alasan
untuk mengatakan bahwa ketiga jabatan itu juga berlaku untuk semua
orang Kristen, apalagi untuk para pria / suami saja! Mengapa tidak
sekalian mengharuskan para pria / ayah / suami menjadi Juruselamat /
Penebus dosa keluarga?
31
9) Pdt. Hengky Setiawan mengajar: Yang pertamakali makan buah terlarang
memang Hawa, tetapi Ro 5:12 menunjuk kepada Adam, karena Kej 3:6 ‐
Adam bersama‐sama dengan Hawa (kata Ibraninya ‘shoulder to
shoulder’), tetapi ia diam saja. Juga karena perintah larangan makan
diberikan kepada Adam, bukan kepada Hawa.
Tanggapan saya:
a) Ro 5:12 jelas berbicara tentang dosa asal.
Ro 5:12 ‐ “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu
orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar
kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”.
Calvin: “Paul distinctly affirms, that sin extends to all who suffer its
punishment: and this he afterwards more fully declares, when subsequently he
assigns a reason why all the posterity of Adam are subject to the dominion of
death; and it is even this ‐ because we have all, he says, sinned. But ‘to sin’ in
this case, is to become corrupt and vicious; for the natural depravity which we
bring from our mother’s womb, though it brings not forth immediately its own
fruits, is yet sin before God, and deserves his vengeance: and this is that sin
which they call original” (= Paulus dengan jelas menegaskan, bahwa dosa
meluas kepada semua yang mengalami hukumannya: dan sesudahnya ia
dengan lebih penuh / lengkap menyatakan, pada waktu sesudah itu ia
memberikan suatu alasan mengapa semua keturunan Adam tunduk pada
kekuasaan dari kematian; dan itu adalah ini ‐ katanya karena kita semua telah
berdosa. Tetapi ‘berbuat dosa’ dalam kasus ini, artinya menjadi buruk dan
jahat / keji; karena kebejatan alamiah yang kita bawa dari kandungan ibu kita,
sekalipun itu tidak segera menghasilkan buahnya sendiri, tetap adalah dosa di
hadapan Allah, dan layak mendapatkan pembalasanNya: dan ini adalah dosa
yang kita sebut ‘orisinil / asal’).
b) Kata‐kata Pdt. Hengky Setiawan ini salah / ngawur entah dari mana.
Kej 3:6 ‐ “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan
dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi
pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya
juga kepada suaminya yang bersama‐sama dengan dia, dan suaminyapun
memakannya”.
Pdt. Hengky Setiawan mengatakan bahwa arti dari kata bahasa Ibraninya
adalah ‘shoulder to shoulder’ (= bahu membahu / rapat‐rapat). Saya tidak
tahu dari mana ia mendapatkan khayalan ini, tetapi yang jelas kata
32
bahasa Ibraninya sama sekali tidak berarti seperti itu. Kata bahasa
Ibraninya adalah IMMAH, yang artinya ‘with her’ (= dengan dia). Jadi,
pada waktu diterjemahkan ‘bersama‐sama dengan dia’, itu merupakan
terjemahan yang cukup baik / benar.
KJV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘with her’ (= dengan / bersama‐sama dia).
c) Pdt. Hengky Setiawan mengatakan: ‘Adam bersama‐sama dengan Hawa,
tetapi ia diam saja’. Jadi, ia beranggapan bahwa pada waktu setan / ular
menggodanya, Adam ada bersama dengan Hawa.
Hal yang serupa juga diajarkan dalam buku mereka, yang berjudul
‘Hikmat Bagi Pria’:
“Adam tidak bertindak ketika Hawa dibujuk oleh ular untuk memakan buah
pohon terlarang. Adam seharusnya mencegah Hawa memakan buah itu, tetapi
tidak dilakukannya” (hal 114).
Tanggapan saya:
Coba kita perhatikan Kej 3:1‐6.
Kej 3:1‐6 ‐ “(1) Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di
darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan
itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu
makan buahnya, bukan?’ (2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah
pohon‐pohonan dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah
pohon yang ada di tengah‐tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan
ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ (4) Tetapi ular itu berkata kepada
perempuan itu: ‘Sekali‐kali kamu tidak akan mati, (5) tetapi Allah mengetahui,
bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan
menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.’ (6) Perempuan
itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap
kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.
Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga
kepada suaminya yang bersama‐sama dengan dia, dan suaminyapun
memakannya”.
Kalau dilihat ay 1‐6a, hanya ular dan Hawa / perempuan itu yang
dibicarakan. Adam baru muncul dalam ay 6b. Jadi, Alkitab tidak
mengatakan bahwa Adam ada bersama Hawa ketika Hawa digodai setan,
sekalipun bisa saja diartikan demikian dari ay 6. Tetapi ay 6 bisa diartikan
bahwa setelah mengambil dan memakan buah itu, baru Hawa
memberikan kepada Adam ketika ia bersama / bertemu dia. Dan karena
33
itu saya beranggapan bahwa ketika Hawa digoda, ia sendirian, Adam
tidak bersama dia. Setelah ia makan, baru ia menemui Adam dan
memberikan buah itu kepada Adam.
Matthew Henry (tentang Kej 3:1‐5): “The person tempted was the woman,
now alone, and at a distance from her husband, but near the forbidden tree. …
It was his policy to enter into discourse with her when she was alone. … Satan
tempted Eve, that by her he might tempt Adam” [= Orang yang dicobai adalah
si perempuan, sekarang sendirian, dan pada suatu jarak dari suaminya, tetapi
dekat dengan pohon terlarang. … Merupakan politiknya untuk masuk ke
dalam pembicaraan dengan dia (Hawa) pada waktu dia sedang sendirian. …
Iblis menggoda Hawa, supaya olehnya ia bisa menggoda Adam].
Matthew Henry (tentang Kej 3:6): “It is probable that he was not with her
when she was tempted (surely, if he had, he would have interposed to prevent
the sin), but came to her when she had eaten” [= Adalah mungkin bahwa ia
(Adam) tidak bersama dengan dia (Hawa) pada waktu ia dicobai (pasti,
seandainya ia bersamanya, ia sudah akan ikut campur untuk mencegah dosa
itu), tetapi datang kepadanya pada waktu ia telah memakannya].
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kej 3:6): “‘Adam was not deceived’ (1
Tim 2:14), but he ate without seeing the serpent; and after the scene of
deception was past, he yielded to the arguments and solicitations of his wife”
[= ‘Adam tidak ditipu’ (1Tim 2:14), tetapi ia makan tanpa melihat sang ular;
dan setelah adegan penipuan itu sudah berlalu, ia menyerah pada argumentasi
dan permintaan dari istrinya].
1Tim 2:14 ‐ “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah
yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”.
Kata ‘tergoda’ dalam Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘deceived’ (= ditipu).
Kelihatannya, Edwin Louis Cole dalam hal ini mempunyai pandangan
yang benar. Dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, ia berkata:
∙ “Seekor ular ‐ yang merupakan wujud samaran iblis ‐ membujuk Hawa untuk
melintasi satu‐satunya batasan yang ditetapkan Allah baginya dan suaminya.
Ia memakan buah pohon larangan itu. Kemudian, ia melakukan hal yang
secara tragis diulangi terus‐menerus oleh umat manusia ‐ ia mendorong Adam
mengikuti jejaknya dan melakukan kesalahan yang sama. Adam
mendengarkan bujukan Hawa dan melakukannya” (hal 63).
34
∙ “Dalam usahanya menyesatkan manusia, iblis tidak langsung mendatangi
Adam. Ia mendekati Hawa dan menipunya sehingga Hawa terbujuk untuk
makan buah itu” (hal 226).
Jadi, mengapa pandangan Edwin Louis Cole berbeda dengan Pdt. Hengky
Setiawan dan buku ‘Hikmat Bagi Pria’?
d) Sekarang apa sebabnya Ro 5:12 menunjuk kepada Adam, dan bukan
kepada Hawa, padahal Hawa yang lebih dulu makan buah terlarang itu?
Jawabannya bukan seperti yang dikatakan oleh Pdt. Hengky Setiawan,
bahwa karena Adam bersama dengan Hawa pada saat itu, ataupun
karena larangan makan buah itu diberikan kepada Adam, tetapi karena:
1. Adam adalah manusia yang pertama, dan Hawa maupun semua manusia
yang lain berasal dari dia. Adam sebagai manusia pertama merupakan
wakil dari umat manusia, dan karena itu pada waktu ia jatuh, semua
manusia / keturunannya terseret bersama dengan dia.
Kis 17:26 ‐ “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat
manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musimmusim
bagi mereka dan batas‐batas kediaman mereka,”.
Ro 5:15‐19 ‐ “(15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran
Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di
dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya,
yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
(16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab
penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman,
tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan
pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh
satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima
kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa
oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (18) Sebab itu, sama seperti
oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula
oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk
hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah
menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang
menjadi orang benar”.
1Kor 15:21‐22 ‐ “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang
manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang
manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan
dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam
persekutuan dengan Kristus”.
35
2. Adanya ‘covenant’ / perjanjian antara Allah dan Adam.
a. Ada orang‐orang yang menolak adanya covenant / perjanjian antara Allah
dan Adam.
Alasannya:
∙ Tak ada kata ‘covenant’ / perjanjian dalam Kej 1‐3.
Jawab:
Memang kata ‘covenant’ / perjanjian tidak ada, tetapi idenya ada (bdk.
kata ‘Tritunggal’ yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi ide /
ajarannya ada). Disamping, kata itu ada dalam ayat lain yang akan kita
bahas pada point b.di bawah.
∙ Tidak ada persetujuan dari pihak Adam terhadap ‘covenant’ / perjanjian
ini.
Jawab:
Demikian juga waktu Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh (Kej 9)
dan dengan Abraham (Kej 17). Allah dan manusia tidak mengadakan
perjanjian sebagai pihak‐pihak yang sederajat! Allah berdaulat, dan
karena itu Ia menentukan, dan manusia harus menerima!
Ini bedanya ‘covenant’ dengan ‘agreement’. ‘Agreement’ adalah
perjanjian antara 2 pihak yang sederajat, tetapi ‘covenant’ adalah
perjanjian antara 2 pihak yang tidak sederajat.
b. Ayat Kitab Suci yang menunjukkan adanya covenant antara Allah dengan
Adam adalah Hos 6:7 ‐ “Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di
Adam”. Tetapi Kitab Suci Indonesia salah terjemahannya. Terjemahan
sebenarnya dari Hos 6:7 adalah: ‘But they, like Adam, have transgressed
the covenant’ (= Tetapi mereka, seperti Adam, telah melanggar
perjanjian).
Terjemahan ini menunjukkan bahwa Adam memang melanggar
perjanjian (covenant).
Memang ada penafsiran yang berbeda tentang ayat ini:
∙ Ada yang mengartikan ‘di Adam / at Adam’ (Kitab Suci Indonesia / RSV)
dimana Adam adalah nama suatu tempat.
Keberatan terhadap penafsiran ini:
36
* Dalam bahasa Ibrani digunakan kata depan ‘KI’, dan ini tidak bisa
diartikan ‘di / at’. Artinya adalah ‘like / as / seperti’.
* Dalam Kitab Suci tidak pernah diceritakan tentang seseorang yang
berbuat dosa ditempat yang bernama Adam.
∙ Ada yang menterjemahkan ‘like men’ / ‘seperti manusia‐manusia’
(KJV/NKJV).
Keberatannya:
* Dalam bahasa Ibrani digunakan bentuk tunggal sedangkan ‘men’
berbentuk jamak.
* Kalimat Hos 6:7 itu menjadi tidak ada artinya.
Jadi kedua penafsiran di atas ini salah, dan arti yang benar adalah ’like
Adam’ / ‘seperti Adam’ (NIV/NASB/ASV) dan ini membuktikan bahwa ada
‘covenant’ antara Allah dengan Adam.
10) Pdt. Hengky Setiawan mengajar: Mengaku dosa kepada Tuhan dan
sesama. Mengaku dosa kepada sesama tidak menyebabkan dosa
diampuni, tetapi supaya kamu sembuh (bukan secara fisik, tetapi lepas
dari keterikatan dosa, kebiasaan buruk)!! Juga dosa yang melukai tubuh
Kristus. Ia memakai ayat Kis 9 tentang kata‐kata Yesus kepada Paulus
yang menganiaya gereja. Dosa yang melukai tubuh Kristus contohnya:
fitnah, hutang tak dibayar. Ia juga menggunakan Amsal 28:13 ‐ “Siapa
menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa
mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”. Ia juga mengatakan:
Ada 2 dosa yang harus diakui: dosa yang mengikat kita, dan dosa yang
melukai tubuh Kristus.
Tanggapan saya:
a) Sama sekali tidak ada ayat Alkitab yang mengatakan bahwa kalau kita
mengaku dosa kepada sesama (dosa apapun itu adanya), maka kita akan
sembuh (dalam arti bukan secara fisik, tetapi lepas dari keterikatan dosa
/ kebiasaan buruk). Lagi‐lagi ajaran tanpa dasar Alkitab! Siapapun yang
menghormati otoritas Alkitab sebagai Firman Tuhan, harus mengabaikan
ajaran yang tidak punya dasar Alkitab seperti ini!
Tetapi bagaimana dengan Yak 5:14‐16 ‐ “(14) Kalau ada seorang di antara
kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka
37
mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. (15)
Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan
akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu
akan diampuni. (16) Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan
saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan
yakin didoakan, sangat besar kuasanya”.
Kesembuhan yang dibicarakan dalam Yak 5:16 itu jelas merupakan
kesembuhan jasmani, karena kontextnya juga sakit secara jasmani (ay
14‐15). Adanya pengakuan dosa dalam Yak 5:16a kelihatannya
menunjukkan bahwa penyakit itu merupakan hajaran Tuhan karena
orang itu berbuat dosa. Dalam hal ini tidak cukup mengaku dosa kepada
Tuhan, tetapi harus juga kepada sesama, dan baru Tuhan akan mencabut
hajaranNya dengan menyembuhkan orang itu dari penyakit jasmaninya.
Matthew Henry (tentang Yak 5:16): “Indeed, where any are conscious that
their sickness is a vindictive punishment of some particular sin, and they
cannot look for the removal of their sickness without particular applications to
God for the pardon of such a sin, there it may be proper to acknowledge and
tell his case, that those who pray over him may know how to plead rightly for
him. But the confession here required is that of Christians to one another, and
not, as the papists would have it, to a priest. Where persons have injured one
another, acts of injustice must be confessed to those against whom they have
been committed” (= Memang, dimana siapapun menyadari bahwa penyakit
mereka merupakan suatu hukuman yang bersifat pembalasan terhadap dosa
khusus / tertentu, dan mereka tidak bisa mencari pembersihan dari penyakit
mereka tanpa permintaan khusus kepada Allah bagi pengampunan terhadap
dosa seperti itu, di sana adalah benar / tepat untuk mengakui dan
menceritakan kasusnya, supaya mereka yang berdoa atasnya bisa tahu
bagaimana memohon dengan benar untuknya. Tetapi pengakuan yang
diharuskan di sini adalah pengakuan dari orang‐orang Kristen satu kepada
yang lain, dan bukan, seperti para pengikut Paus melakukannya, kepada
seorang imam / pastor. Dimana orang‐orang telah melukai / merugikan satu
sama lain, tindakan‐tindakan ketidak‐adilan harus diakui kepada mereka
terhadap siapa hal itu telah dilakukan).
Barnes’ Notes (tentang Yak 5:16): “This seems primarily to refer to those who
were sick, since it is added, ‘that ye may be healed.’ The fair interpretation is,
that it might be supposed that such confession would contribute to a
restoration to health. The case supposed all along here (see James 5:15) is, that
the sickness referred to had been brought upon the patient for his sins,
38
apparently as a punishment for some particular transgressions. … In such a
case, it is said that if those who were sick would make confession of their sins,
it would, in connection with prayer, be an important means of restoration to
health. The duty inculcated, and which is equally binding on all now, is, that if
we are sick, and are conscious that we have injured any persons, to make
confession to them. … The particular reason for doing it which is here specified
is, that it would contribute to a restoration to health ‐ ‘that ye may be
healed.’” [= Ini kelihatannya terutama menunjuk kepada mereka yang sakit,
karena ditambahkan kata‐kata ‘supaya kamu disembuhkan’. Penafsiran yang
adil adalah, bahwa bisa dianggap bahwa pengakuan seperti itu akan
memberikan sumbangsih pada suatu pemulihan kesehatan. Kasus yang diduga
/ diandaikan di sini (lihat Yak 5:15) adalah, bahwa penyakit yang ditunjuk telah
dibawa kepada pasien itu untuk / karena dosa‐dosanya, kelihatannya sebagai
suatu hukuman untuk beberapa pelanggaran‐pelanggaran tertentu. … Dalam
kasus seperti itu, dikatakan bahwa jika mereka yang sakit mau membuat
pengakuan tentang dosa‐dosa mereka, itu akan, berhubungan dengan doa,
merupakan suatu cara yang penting dari pemulihan pada kesehatan.
Kewajiban yang ditanamkan, dan yang mengikat semua orang secara sama
sekarang, adalah, bahwa jika kita sakit, dan kita menyadari bahwa kita telah
melukai / merugikan siapapun juga, membuat pengakuan kepada mereka. …
Alasan khusus untuk melakukan ini yang dinyatakan di sini adalah, bahwa itu
akan memberikan sumbangsih pada suatu pemulihan pada kesehatan ‐
‘supaya kamu disembuhkan’.].
b) Amsal 28:13 memang berurusan dengan pengakuan dosa, tetapi kepada
Tuhan, dan bukan kepada sesama! Hal ini terlihat dengan lebih jelas lagi
kalau kita juga membaca Amsal 28:14nya.
Amsal 28:13‐14 ‐ “(13) Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan
beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.
(14) Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang
yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka”.
Penghubungan dengan kata‐kata ‘takut akan TUHAN’ (Amsal 28:14a)
jelas menunjukkan bahwa ‘menyembunyikan pelanggaran’ (Amsal
28:13a), ‘mengakui’ (Amsal 28:13b), ataupun ‘mengeraskan hati’ (Amsal
28:14b), semuanya berurusan / berhubungan dengan Tuhan, bukan
dengan manusia!
c) Saya tidak mengerti mengapa untuk dosa melukai tubuh Kristus ia
memberi contoh memfitnah dan hutang yang tidak dibayar. Ini adalah
dosa yang kita lakukan hanya kepada satu dua orang dalam gereja. Itu
39
tidak bisa disebut sebagai tubuh Kristus, paling‐paling bisa disebut
sebagai anggota tubuh Kristus. Ini beda dengan Paulus dalam Kis 9 yang
memang mau menangkap, menyiksa, dan membunuh seadanya orang
Kristen.
d) Tentang dosa apa saja yang harus diakui, saya berpendapat bahwa kita
harus mengakui seadanya dosa kepada Allah. Sedangkan kalau kepada
sesama, hanya dosa‐dosa yang menyakiti / merugikan sesama yang harus
diakui kepada sesama. ‘Dosa yang mengikat kita’, selama itu tidak
merugikan / menyakiti sesama, tak harus diakui kepada sesama.
Mat 5:23‐24 ‐ “(23) Sebab itu, jika engkau mempersembahkan
persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada
dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu di
depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu
kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.
II) Pembahasan tentang buku‐buku.
Sebelum masuk dalam pembahasan buku‐buku mereka, sekali lagi saya
tekankan: dalam camp mereka ada buku‐buku yang dibagikan, dan juga
dalam camp mereka, mereka menjual buku‐buku lain yang berhubungan
dengan ‘pria sejati / maximal’. Kalaupun dalam camp tak ada kesesatan
yang fatal, tetapi dalam buku‐buku mereka ada banyak kesesatan yang
fatal, maka itu tetap merupakan tanggung jawab dari para pengurus /
panitia camp dari pria sejati / maximal! Bukankah ajaran mereka sendiri
mengatakan bahwa pria harus berani bertanggung jawab?
Mat 18:6‐7 ‐ “(6) ‘Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak‐anak
kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan
diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. (7) Celakalah
dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi
celakalah orang yang mengadakannya”.
A) Hal‐hal yang salah dalam persoalan sejarah Alkitab, sejarah gereja,
maupun fakta‐fakta Alkitab.
Dari buku ‘Menjadi Pria Sejati’:
1) “Dikandung oleh Roh Kudus, Yesus lahir ke dunia sebagai ….” (hal
64).
40
Seharusnya bukan ‘dikandung oleh Roh Kudus’ karena ini akan
menunjukkan bahwa Roh Kudusnya yang mengandung! Yang benar
adalah ‘dikandung dari pada / dari Roh Kudus’ (bandingkan dengan 12
Pengakuan Iman Rasuli).
Bdk. Mat 1:18 ‐ “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu
Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh
Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri”.
2) “Kalau kita hanya mempedulikan makanan dan seks, saling menerkam,
sepanjang hidup mengembara tanpa tujuan dan hanya untuk mencari
kesenangan pribadi serta hidup hanya menuruti naluri, maka itu berarti bahwa
kita benar‐benar telah hidup setaraf dengan binatang. Namun, binatang pun
tidak merusak lingkungannya seperti kita. Binatang juga tidak merusak dan
mencemari mental, fisik, dan keadaan sosial seperti yang telah kita lakukan.
Tingkah laku manusia yang semacam itulah yang akhirnya dinilai sejajar
dengan perilaku binatang. Penilaian itu selanjutnya telah melahirkan teori
bahwa umat manusia berasal dari binatang.” (hal 122).
Apa iya teori itu yang melahirkan teori evolusi? Saya sama sekali tidak
percaya! Merupakan sesuatu yang mustahil kalau para ahli ilmu
pengetahuan itu, yang hampir semuanya kafir dan bahkan anti Alkitab /
Kristen, akan begitu rohani dengan memperhatikan perilaku moral
manusia yang menyerupai binatang, atau bahkan lebih buruk dari
binatang. Mereka hanya memperhatikan bentuk yang mirip antara
manusia dengan binatang (kera), dan juga tulang‐tulang / fosil‐fosil yang
mirip.
3) “Pada waktu Samuel mengurapi Daud menjadi raja, Saul menjadi amat
murka” (hal 126).
Ini salah, karena Saul tidak tahu akan pengurapan itu! Pengurapan Daud
oleh Samuel terjadi dalam 1Sam 16, dan dengan perintah Tuhan, hal itu
disembunyikan dari Saul.
1Sam 16:1‐5 ‐ “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Berapa lama lagi
engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas
Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus
engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak‐anaknya telah
Kupilih seorang raja bagiKu.’ (2) Tetapi Samuel berkata: ‘Bagaimana mungkin
aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.’ Firman TUHAN:
‘Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk
41
mempersembahkan korban kepada TUHAN. (3) Kemudian undanglah Isai ke
upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang
harus kauperbuat. Urapilah bagiKu orang yang akan Kusebut kepadamu.’ (4)
Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota
Betlehem. Para tua‐tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar
dan berkata: ‘Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?’ (5) Jawabnya:
‘Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.
Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.’
Kemudian ia menguduskan Isai dan anak‐anaknya yang laki‐laki dan
mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu”.
Setelah Daud mengalahkan Goliat dalam 1Sam 17, ia dipanggil
menghadap Saul, dan dijadikan kepala prajurit (1Sam 18:5). Saul baru
mulai tidak senang kepada Daud karena Daud dipuji lebih dari dirinya
(1Sam 18:6‐dst).
4) “Martin Luther. … Orang‐orang yang mempercayai firman tersebut dan
mengikuti Luther kemudian disebut sebagai ‘kaum Lutheran’, …” (hal 139).
Orang ini tidak mengerti sejarah! Orang Lutheran bukan mengikuti
Martin Luther, tetapi mengikuti Philip Melanchton, pengganti dari Martin
Luther. Karena itu, teologia mereka bukan Calvinist (seperti Luther),
tetapi Arminian (seperti Philip Melanchton)!
5) “Usus buntu, yang menyerap bagi dirinya sendiri seluruh vitalitas yang
sebenarnya dimaksudkan untuk kelangsungan hidup seluruh tubuh, adalah
bagian tubuh manusia yang sering harus dihilangkan demi kesehatan tubuh.
Membiarkan satu anggota tubuh menguasai fungsi anggota‐anggota yang
lainnya adalah tindakan yang dapat mematikan” (hal 109).
Ini ilmu kedokteran dari mana? Usus buntu menyerap bagi dirinya sendiri
seluruh vitalitas yang sebenarnya dimaksudkan untuk kelangsungan
hidup seluruh tubuh? Juga usus buntu (umbai cacing!) kalau dihilangkan,
itu bukan demi kesehatan seluruh tubuh, tetapi karena usus buntu /
umbai cacing itu bermasalah!
6) “Kemudian dengan mengandalkan pengalaman tersebut, mereka menyerbu
kota Ai, namun ternyata justru mengalami kekalahan hebat (Yosua 6‐7).
Penyebabnya adalah: mereka merasa sudah kuat sehingga lupa berdoa” (hal
149).
Ini ngawur / salah. Mereka kalah bukan karena ‘mengandalkan
pengalaman’, dan juga bukan karena ‘merasa sudah kuat sehingga lupa
42
berdoa’! Mereka kalah karena pencurian yang dilakukan oleh Akhan! Ini
dinyatakan secara explicit dalam Yos 7:10‐12 ‐ “(10) Lalu berfirmanlah
TUHAN kepada Yosua: ‘Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian? (11)
Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjianKu yang
Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barangbarang
yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka
menyembunyikannya dan mereka menaruhnya di antara barang‐barangnya.
(12) SEBAB ITU orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya.
Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk
ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang‐barang yang
dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah‐tengahmu”.
7) “Nehemia bersikap loyal terhadap visi untuk membangun kembali tembok dan
Bait Suci di Yerusalem ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan. Ia
membangun Bait Suci itu dengan mempertaruhkan nyawanya; dengan satu
tangannya memegang peralatan dan tangan yang lain memegang senjata.
Meskipun bait itu kemudian dikenal sebagai Bait Zerubabel, namun
penghargaan tetap diberikan kepada Nehemia dan orang‐orang yang setia
menyertainya” (hal 161).
Dia ngawur lagi. Nehemia tidak membangun Bait Suci, tetapi hanya
tembok Yerusalem! Itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
Neh 2:17 ‐ “Berkatalah aku kepada mereka: ‘Kamu lihat kemalangan yang kita
alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu‐pintu gerbangnya
telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita
tidak lagi dicela.’”.
Neh 4:7 ‐ “Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan
orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju
dan bahwa lobang‐lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah
mereka”.
Neh 12:27 ‐ “Pada pentahbisan tembok Yerusalem orang‐orang Lewi dipanggil
dari segala tempat mereka dan dibawa ke Yerusalem untuk mengadakan
pentahbisan yang meriah dengan ucapan syukur dan kidung, dengan ceracap,
gambus dan kecapi”.
Pembangunan kembali Bait Allah dilakukan oleh Zerubabel dan kawankawannya
(baca kitab Ezra 1‐6).
8) “Nabi Natan menegur Raja Daud dengan mengatakan bahwa perzinaannya
dengan Batsyeba merupakan penghujatan bagi nama Yehova” (hal 163).
43
Ini salah. Nabi Natan tak pernah mengatakan bahwa perzinahan Daud
dengan Batsyeba merupakan penghujatan bagi nama Yehovah / TUHAN.
2Sam 12:9 ‐ “Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang
jahat di mataNya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang;
isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh
oleh pedang bani Amon”.
KJV: ‘despised the commandment of the LORD’ (= menganggap hina /
memandang rendah perintah / hukum TUHAN).
RSV/NIV/NASB: ‘despised the word of the LORD’ (= menganggap hina /
memandang rendah firman TUHAN).
Yang paling benar adalah terjemahan RSV/NIV/NASB. Jadi Natan
mengatakan bahwa dengan tindakannya itu Daud memandang rendah
firman Tuhan.
9) “Allah secara langsung memerintahkan Adam untuk tidak menyentuh buah
pohon pengetahuan yang ada di tengah Taman Eden. … Selanjutnya ketika
Adam dan Hawa mendengar suara Allah memanggil mereka di Taman Eden
untuk bersekutu denganNya, mereka pun bersembunyi. Ketika Allah bertanya
kepada Adam, ia mengakui bahwa ia bersembunyi karena merasa bersalah
dan ketakutan. Pertanyaan Allah selanjutnya adalah apakah Adam telah
melanggar perintahNya dan memakan buah itu” (hal 226).
Ia ngawur saja dalam menceritakan. ‘Tidak menyentuh’? Itu kata‐kata
Hawa yang menambahi firman!
Juga Adam tidak pernah mengaku bersalah! Dan kalau Adam sudah
mengaku bersalah, mengapa kemudian ditanya lagi tentang apakah ia
sudah makan buah itu??
Kej 3:2‐3,9‐12 ‐ “(2) Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ‘Buah pohonpohonan
dalam taman ini boleh kami makan, (3) tetapi tentang buah pohon
yang ada di tengah‐tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan
ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.’ … (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil
manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’ (10) Ia
menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku
menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.’ (11)
FirmanNya: ‘Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau
telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau
makan itu?’ (12) Manusia itu menjawab: ‘Perempuan yang Kautempatkan di
sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’”.
44
10) “Allah menghendaki Adam benar‐benar menjadi seorang pria. Oleh karena
itulah Dia mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Adam, ‘Jawab
pertanyaan ini: Engkau memakannya atau tidak?’” (hal 227).
Kapan dan dimana Allah bertanya seperti itu?
11) “Daud, raja Israel, memiliki seorang sahabat dan penasihat terpercaya
bernama Ahitofel (2Samuel 15), yang memiliki hikmat yang luar biasa dan
bertindak sebagai jurubicara Allah” (hal 294)
Ahitofel adalah jurubicara Allah???
Bdk. 2Sam 16:23 ‐ “Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah
sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai
setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom”.
Ini tidak berarti ia jurubicara Allah! Apalagi pada saat itu ia sedang
memberikan nasehat terkutuk kepada Absalom, untuk meniduri istri‐istri
Daud, ayahnya.
12) “Bunuh diri adalah penyebab kematian nomor dua di kalangan anak muda
Amerika” (hal 338).
Apa iya? Kok tak masuk akal.
13) “Menurut penulis tersebut, falsafah bangsa Yunani kuno adalah, ‘Jangan
terlalu membusungkan dada, nanti dewa‐dewa cemburu dan memukulmu
roboh.’ … Saya lebih senang kalau kita membuang dewa‐dewa Yunani kuno itu
dan mencoba Allah yang lain. Allah yang tidak pernah cemburu, … ” (hal 357).
Ini bertentangan dengan dengan:
a) Kel 20:5 ‐ “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya,
sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan
kesalahan bapa kepada anak‐anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan
keempat dari orang‐orang yang membenci Aku”.
b) Kel 34:14 ‐ “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain,
karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu”.
c) Ul 4:24 ‐ “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang
cemburu”.
d) Ul 6:14‐15 ‐ “(14) Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah
bangsa‐bangsa sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang
cemburu di tengah‐tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu,
terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.
45
Apa point / tujuan saya menunjukkan hal‐hal ini? Tujuannya adalah:
kalau orang ini begitu ceroboh dan ngawur dalam fakta‐fakta Alkitab,
fakta‐fakta sejarah, dalam ilmu pengetahuan, dsb, bagaimana mungkin ia
bisa teliti dan benar / nggenah dalam penafsiran dan pengajaran??
B) Ajaran tanpa dasar Alkitab, penggunaan ayat‐ayat yang salah / tidak
cocok, penafsiran yang salah / kacau.
1) “Keharmonisan hubungan otoritas (papa dan mama) akan menciptakan
suasana rukun atau atmosfer kemesraan bagi anak‐anak. Dan Tuhan akan
memerintahkan berkat mengalir atasnya (Mzm 133:1‐3)” (‘Hikmat Bagi Pria’,
hal 22).
Tanggapan saya: lagi‐lagi ini merupakan penggunaan ayat yang out of
context.
Maz 133:1‐3 ‐ “(1) Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan
indahnya, apabila saudara‐saudara diam bersama dengan rukun! (2) Seperti
minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut
Harun dan ke leher jubahnya. (3) Seperti embun gunung Hermon yang turun ke
atas gunung‐gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat,
kehidupan untuk selama‐lamanya”.
Kata ‘saudara‐saudara’ dalam text di atas ini jelas menunjuk kepada
‘saudara‐saudara seiman’, bukan kepada ‘keluarga’, tetapi penulis buku
ini menerapkannya kepada keluarga.
Jamieson, Fausset & Brown: “The children of Israel, being all children of God,
not only by creation, but also by national adoption, were all ‘brethren.’ The
great festivals were designed to be occasions for realizing this brotherhood
and communion of saints” (= Anak‐anak Israel, yang adalah anak‐anak Allah,
bukan hanya oleh penciptaan, tetapi juga oleh pengadopsian nasional, adalah
‘saudara‐saudara’. Pesta‐pesta / perayaan‐perayaan besar dirancang untuk
menjadi peristiwa‐peristiwa untuk merealisasikan persaudaraan ini dan
persekutuan orang‐orang kudus).
2) “Tuhan menginginkan pria memiliki konsistensi, ketegasan dan kekuatan.
Sedangkan wanita adalah utusan atau dutanya Tuhan bagi pria (Kej 2:22);
Tuhan adalah bos atau penguasanya dan wanita mengemban tugas
melaksanakan visi dan misi Tuannya” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 30).
46
Tanggapan saya: Ini ajaran gila! Kalau demikian, wanita ada di atas pria!
Dan ayat yang digunakan sangat tidak cocok!
Kej 2:22 ‐ “Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu,
dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu”.
Dari mana dari ayat seperti ini bisa terlihat kalau perempuan itu utusan /
duta Tuhan bagi pria, ataupun bahwa wanita mengemban tugas
melaksanakan visi dan misi Tuannya?
3) “Kata ‘bapak’ dalam bahasa Aram ditulis dengan kata ‘Abba’, yang artinya
‘Source’ (sumber). Kalau sumbernya baik (Excellent), yang terjadi adalah
dibawahnya (anak‐anaknya) akan baik pula. Tetapi kalau sumbernya teracuni,
maka yang terjadi dibawahnya (orang‐orang yang dia pimpin: keluarga,
masyarakat, bangsa), akan teracuni pula. Ada pepatah yang berkata: ‘Katakan
siapa ayahmu (pemimpinmu) maka saya akan tahu siapa dirimu!’ Jadi anakanak
ataupun rakyat adalah cermin yang sesungguhnya dari ayah mereka atau
pemimpin mereka. Dalam peristiwa Hollocaust (Nazi Jerman), karena
pemimpin yang salah (pria yang jahat) yang bernama Hitler, akibatnya jutaan
orang Yahudi mati dengan sia‐sia di tangan para prajurit Nazi yang telah
dipengaruhi oleh pemimpin mereka. Dalam bukunya yang berjudul ‘Warisan
Abadi’ (terbitan Metanoia), penulis Steven J. Lawson menceritakan tentang
satu pria yang bernama Jonathan Edward (pengobar kebangunan rohani di
AS). Pria yang hidup dengan takut akan Tuhan ini mempunyai 1.200 keturunan
dibawahnya yang menjadi orang‐orang yang luar biasa. Diantara
keturunannya, banyak yang menjadi misionaris‐misionaris yang dipakai Tuhan
luarbiasa, dokter‐dokter spesialis, penulis‐penulis buku yang bermutu, bahkan
salah satu dari keturunan Jonathan Edward ini telah menjadi wakil presiden
AS. Pria yang besar secara karakter, integritas, dan spiritnya, akan melahirkan
gereja yang kuat, gereja yang kuat akan melahirkan kota dan bangsa yang
kuat. Para pria, ditanganmulah terletak kekuatan dan kebesaran atas keluarga,
gereja, dan bangsa.” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 34).
Tanggapan saya:
a) Saya tak pernah tahu bahwa kata ‘Abba’ bisa berarti ‘sumber’, dan dari
Bible Works 7 maupun Vine’s Expository Dictionary of New Testament
Words, hal itu sama sekali tidak terlihat. Arti kata itu adalah ‘bapa’.
Dalam Alkitab, kata ini muncul 3 x, dan semuanya menunjukkan bahwa
artinya adalah ‘bapa’, yaitu:
47
∙ Mark 14:36 ‐ “KataNya: ‘Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu,
ambillah cawan ini dari padaKu, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki,
melainkan apa yang Engkau kehendaki.’”.
∙ Ro 8:15 ‐ “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu
menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu
anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
∙ Gal 4:6 ‐ “Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh
AnakNya ke dalam hati kita, yang berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.
b) Ajaran ini tidak menggunakan dasar Alkitab sama sekali! Sekarang mari
kita perhatikan beberapa hal ini:
1. Kalau bicara tentang sumber teratas / ‘bapa’ teratas kita, maka itu adalah
Adam (Kej 1).
Kis 17:26 ‐ “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat
manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musimmusim
bagi mereka dan batas‐batas kediaman mereka,”.
Dan bukan hanya bahwa sumber / bapa teratas ini rusak karena
kejatuhannya ke dalam dosa, tetapi semua orang sumber / bapa
teratasnya adalah dia (Adam). Lalu mengapa orang‐orang jaman
sekarang ini bisa berbeda‐beda, ada yang beriman maupun kafir, ada
yang pandai maupun bodoh, ada yang sukses maupun gagal, ada yang
kaya maupun miskin dsb?
2. Banyak contoh sebaliknya. Abraham adalah ‘pria yang agung / hebat’,
bukan? Bagaimana dengan keturunannya, khususnya yang dari Ismael
ataupun dari Esau? Daud adalah pria yang hebat bukan? Bagaimana
dengan Absalom, Adonia, dan Amnon? Yesus adalah ‘pria yang terhebat’,
bukan? Juga, bagaimana dengan Yudas Iskariot? Pemimpinnya adalah
Yesus yang maha suci, tetapi bagaimana kehidupan Yudas Iskariot?
c) Saya ingin membahas contoh yang ia berikan tentang Jonathan Edward.
Ia, sebagai seorang ahli theologia Reformed, adalah orang yang hebat
dalam hal rohani, bukan? Kalau dari keturunannya ada misionarismisionaris,
maka ini cocok dengan jalan pemikiran dari penulis ini. Tetapi
kalau dikatakan bahwa dari keturunannya ada dokter‐dokter spesialis,
penulis‐penulis buku‐buku yang bermutu (ini buku rohani atau sekuler?),
dan wakil presiden, maka contoh‐contoh ini adalah ‘hebat secara
sekuler’, dan karena itu sama sekali tidak cocok dengan Jonathan Edward
yang hebat secara rohani!
48
Jadi, kelihatannya penulis di atas mencampur‐adukkan kesuksesan rohani
dan sekuler / duniawi. Menganut Theologia Kemakmuran?
d) Sekarang kita soroti kata‐kata “Pria yang besar secara karakter, integritas,
dan spiritnya, akan melahirkan gereja yang kuat, gereja yang kuat akan
melahirkan kota dan bangsa yang kuat”.
Saya beranggapan bahwa dalam negara dimana Kristen merupakan
agama minoritas, ini sangat tidak pasti. Sekalipun ada pendeta yang
hebat, membentuk gereja yang hebat, tetapi pengaruhnya atas kota,
bangsa dan negara akan sangat kecil!
e) Sekarang kita soroti kalimat terakhir yaitu: “Para pria, ditanganmulah
terletak kekuatan dan kebesaran atas keluarga, gereja, dan bangsa”.
Kata‐kata ini tidak Alkitabiah! Tidak ada apapun yang tergantung kita,
dan tidak ada apapun yang ada di tangan kita. Semua tergantung Tuhan
dan penetapanNya, dan karena itu semua terletak di tangan Tuhan. Coba
bandingkan dengan ayat‐ayat ini:
∙ Ef 1:4‐5 ‐ “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia
dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih
Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anakanakNya,
sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.
∙ Maz 75:7‐8 ‐ “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang
gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim:
direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain”.
∙ Amsal 16:9 ‐ “Hati manusia memikir‐mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang
menentukan arah langkahnya”.
∙ Yer 10:23 ‐ “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk
menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk
menetapkan langkahnya”.
∙ Amsal 19:21 ‐ “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan
TUHANlah yang terlaksana”.
∙ Pkh 7:14 ‐ “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah,
bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya
manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”.
∙ Yes 45:6b‐7 ‐ “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan
terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan
nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.
∙ Mat 10:29‐30 ‐ “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun
seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu.
(30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.
49
∙ Yak 4:13‐16 ‐ “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok
kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan
berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang
akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang
sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika
Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ (16) Tetapi
sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan
yang demikian adalah salah”.
4) “Pria yang sudah ditebus oleh DARAH YESUS adalah pria yang hidup dalam
terang. Dan ciri dari terang adalah hidup secara terang‐terangan /
keterbukaan. Pengakuan adalah kunci pemulihan. Jangan takut mengaku kalau
memang salah. Akui dan minta maaf” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 8).
“Kunci utama sebuah komunikasi yang berhasil adalah keterbukaan,
sebaliknya ketertutupan adalah hal yang menghancurkan komunikasi. Para
pria, terbukalah di hadapan Tuhan, keluarga, dan di hadapan orang lain”
(‘Hikmat Bagi Pria’, hal 36).
Tanggapan saya: penulis ini mengatakan bahwa ‘ciri dari terang adalah
hidup secara terang‐terangan / keterbukaan’. Mana dasar Alkitabnya?
Kalau dalam Alkitab, orang yang adalah anak terang, diharuskan hidup
dalam terang (hidup saleh), dalam arti tidak ikut dalam perbuatan
kegelapan / dosa, sebaliknya menelanjangi perbuatan‐perbuatan itu
(menyatakan dosa). Ini berbeda dengan hidup secara terang‐terangan /
keterbukaan.
Ef 5:8‐13 ‐ “(8) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang
kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak‐anak
terang, (9) karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan
kebenaran, (10) dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (11) Janganlah
turut mengambil bagian dalam perbuatan‐perbuatan kegelapan yang tidak
berbuahkan apa‐apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan‐perbuatan itu.
(12) Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempattempat
yang tersembunyi telah memalukan. (13) Tetapi segala sesuatu yang
sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang
nampak adalah terang”.
Mat 5:14‐16 ‐ “(14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan
pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian
sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah
50
hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’”.
Memang dalam hal‐hal tertentu orang Kristen harus cukup mempunyai
keterbukaan. Tetapi pertanyaannya adalah: seterbuka apa? Jujur tidak
berarti harus membuka semua rahasia kita!
Contoh:
a) 1Sam 16:1‐5 ‐ “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Berapa lama lagi
engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas
Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus
engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak‐anaknya telah
Kupilih seorang raja bagiKu.’ (2) Tetapi Samuel berkata: ‘Bagaimana mungkin
aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.’ Firman TUHAN:
‘Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk
mempersembahkan korban kepada TUHAN. (3) Kemudian undanglah Isai ke
upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang
harus kauperbuat. Urapilah bagiKu orang yang akan Kusebut kepadamu.’ (4)
Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota
Betlehem. Para tua‐tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar
dan berkata: ‘Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?’ (5) Jawabnya:
‘Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.
Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.’
Kemudian ia menguduskan Isai dan anak‐anaknya yang laki‐laki dan
mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu”.
Tuhan sendiri tidak menyuruh Samuel bersikap terbuka! Tetapi perlu
dicamkan bahwa memberitakan setengah kebenaran seperti ini hanya
boleh dilakukan terhadap orang‐orang jahat yang memang tidak berhak
mendapatkan / mengetahui kebenaran.
b) Yesus dari semula tahu kalau Yudas Iskariot akan mengkhianati Dia, tetapi
Ia tidak pernah ‘terbuka’ dalam hal itu!
Yoh 6:64 ‐ “Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.’ Sebab Yesus tahu dari
semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia”.
Tetapi Ia tak pernah terbuka dalam hal itu, sehingga sampai
pengkhianatan itu terjadi, tak seorang muridpun tahu akan hal itu.
51
Catatan: saya sering mendengar bahwa dalam camp‐camp yang mereka
adakan, para pria diajarkan untuk mengakui perzinahan mereka kepada
istri mereka, dan bahkan harus mengakuinya di depan umum. Dalam
camp pria maximal yang saya ikuti hal itu tidak pernah dinyatakan secara
explicit. Memang disuruh terbuka, tetapi tidak pernah dikatakan bahwa
harus mengakui perzinahan kepada istri / umum. Mungkin ada
perbedaan antara camp yang saya ikuti dan camp‐camp yang lain.
Saya sendiri tidak pernah setuju kalau pria harus mengakui perzinahan
seperti itu. Kalau ia berzinah dan istri / umum tidak mengetahui hal itu, ia
cukup mengaku dosa kepada Tuhan, dan bertobat dari perzinahannya.
Mengakui kepada istri, menurut saya, hanya akan menyebabkan istri
sangat sakit hati. Dan perlu diingat bahwa dalam kasus seperti itu, istri
boleh menceraikan suaminya dan lalu kawin lagi. Jadi, pengakuan seperti
itu membuka jalan bagi perceraian!
Mat 19:9 ‐ “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan
isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah.’”.
Mat 5:32 ‐ “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan
isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa
yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
5) “Bila Tuhan memulihkan seorang pria bagi keluarganya, Dia juga
menyelamatkan seluruh keluarganya. Bila keluarga terselamatkan, berarti
bangsa juga telah terselamatkan” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 77).
Tanggapan saya:
Ini ajaran sesat dan tolol, dan mana dasar Alkitabnya? Mungkinkah
Kis 16:31 yang ada dalam pikirannya?
Kis 16:31 ‐ “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan
engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.
Ayat ini sama sekali tidak cocok, karena arti ayatnya bukan demikian.
Alkitab tidak pernah mengajar bahwa keselamatan bisa ‘borongan’
seperti itu! Kita tidak bisa ‘nunut’ iman dari orang tua kita! Baik iman
maupun keselamatan merupakan persoalan individuil / pribadi.
Contoh: Abraham selamat, mengapa Hagar dan Ismael tidak? Ishak
selamat, mengapa Esau tidak? Daud selamat, mengapa Absalom tidak?
52
Jadi, ayat itu harus diartikan sebagai berikut: percayalah kepada Tuhan
Yesus Kristus dan kamu akan selamat. Untuk keluargamu, mereka juga
harus percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka akan selamat.
Kalau dikatakan bahwa berdasarkan ayat ini, satu orang selamat maka
keluarganya akan selamat, itu sudah salah. Lebih‐lebih kalau dikatakan
seluruh bangsa selamat! Ini betul‐betul merupakan kegilaan!
6) “Alkitab berkata bahwa Yesus belajar taat untuk mencapai kesempurnaanNya
sebagai manusia” (‘Hikmat Bagi Pria’, hal 82).
Kata‐kata ini muncul berkenaan dengan Ibr 5:8‐9 ‐ “(8) Dan sekalipun Ia
adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya, (9)
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan
yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya”.
Tanggapan saya:
Apakah Yesus dikatakan belajar taat untuk mencapai kesempurnaanNya
sebagai manusia? Ayatnya sendiri tidak mengatakan hal itu, lalu dari
mana si penulis menyimpulkan hal itu?
Kontext dari ayat ini (Ibr 5) adalah Yesus sebagai Imam Besar.
Ibr 5:1‐10 ‐ “(1) Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia,
ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia
mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. (2) Ia harus dapat
mengerti orang‐orang yang jahil dan orang‐orang yang sesat, karena ia sendiri
penuh dengan kelemahan, (3) yang mengharuskannya untuk
mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga
bagi dirinya sendiri. (4) Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu
bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah
terjadi dengan Harun. (5) Demikian pula Kristus tidak memuliakan diriNya
sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang
berfirman kepadaNya: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari
ini’, (6) sebagaimana firmanNya dalam suatu nas lain: ‘Engkau adalah Imam
untuk selama‐lamanya, menurut peraturan Melkisedek.’ (7) Dalam hidupNya
sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan
ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari
maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan. (8) Dan sekalipun Ia
adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya, (9)
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan
yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya, (10) dan Ia dipanggil
menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek”.
53
Jadi, yang dimaksudkan dengan kata ‘kesempurnaan’ dalam Ibr 5:9
adalah kesempurnaanNya sebagai Imam Besar. Dengan Ia rela menderita
dan mati untuk menebus dosa kita, maka Ia menjadi Imam Besar yang
sempurna bagi kita! Sebaliknya, tanpa korban diriNya sendiri itu, Yesus
tidak bisa menjadi Imam Besar bagi kita!
Adam Clarke: “he was made perfect as a high priest by offering himself a
sacrifice for sin, Heb 8:3” (= Ia dibuat sempurna sebagai seorang Imam Besar
dengan mempersembahkan diriNya sebagai suatu korban untuk dosa, Ibr 8:3).
Ibr 8:3 ‐ “Sebab setiap Imam Besar ditetapkan untuk mempersembahkan
korban dan persembahan dan karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu
untuk dipersembahkan”.
7) “Pada masa pemerintahan para hakim, umat Israel pernah dipimpin oleh
Gideon yang kemudian mati dan meninggalkan 70 orang anak. Salah satunya
bernama Yotam (Hakim‐hakim 9:7‐15). Para pemuka warga saat itu
menobatkan Abimelekh, saudara tiri Yotam, menjadi raja dan mendorong
Abimelekh untuk membunuh semua saudaranya demi mempertahankan
takhtanya. Tetapi, Yotam berhasil lolos. Setelah mendengar kabar tentang
kematian saudara‐saudaranya itu, Yotam pergi ke Gunung Gerizim dan berdiri
di atasnya, lalu menegur tindakan warga kota Sikhem dengan cara
menyampaikan perumpamaan tentang semak duri. Dalam perumpamaan itu
dikisahkan bahwa pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur semuanya
menolak untuk menjadi raja karena pohon‐pohon tersebut sudah cukup puas
dengan keadaan mereka. Pohon‐pohon itu kemudian meminta semak duri
menjadi raja mereka. Semak duri mengabulkan permintaan mereka dan
dengan angkuhnya mengajukan suatu tuntutan yang jauh melampaui nilai
dirinya yang sebenarnya. Ia menuntut agar pohon‐pohon lain itu merendahkan
diri dan datang membungkuk di bawah naungannya. Jika pohon‐pohon itu
tidak bersedia, maka akan keluar api dari semak duri itu dan membakar habis
semua pohon itu. Yotam memakai perumpamaan di atas untuk
menyampaikan nubuat atas Abimelekh dan para pendukungnya. Abimelekh
yang saat itu telah dinobatkan menjadi raja dinubuatkan bahwa akhirnya ia
justru akan menjadi musuh warga kota Sikhem karena ia beserta para
pendukungnya tidak memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi
pemimpin yang baik. Perumpamaan tersebut menggambarkan tentang orang
berkualitas tinggi yang sebenarnya pantas menjadi pemimpin ternyata tidak
bersedia untuk memimpin dan mengabdi kepada masyarakat karena mereka
sudah puas dengan dirinya dan ingin mempertahankan kekayaan serta
kedudukan mereka. Sekarang ini pun kita banyak menjumpai orang‐orang
54
dengan kemampuan yang hebat yang tidak bersedia mengabdi kepada
masyarakat. Akhirnya, kursi kepemimpinan yang kosong itu diduduki oleh
orang‐orang ambisius yang sebenarnya tidak memiliki kualitas apa pun, dan
dengan sombongnya mereka mengajukan berbagai tuntutan kepada
masyarakat yang sebenarnya harus diabdi dan dilayaninya” (‘Menjadi Pria
Sejati’, hal 14‐15).
Tanggapan saya:
Hak 9:1‐20 ‐ “(1) Adapun Abimelekh bin Yerubaal pergi ke Sikhem kepada
saudara‐saudara ibunya dan berkata kepada mereka dan kepada seluruh kaum
dari pihak keluarga ibunya: (2) ‘Tolong katakan kepada seluruh warga kota
Sikhem: Manakah yang lebih baik bagimu: tujuh puluh orang memerintah
kamu, yaitu semua anak Yerubaal, atau satu orang? Dan ingat juga, bahwa aku
darah dagingmu.’ (3) Lalu saudara‐saudara ibunya mengatakan hal ihwalnya
kepada seluruh warga kota Sikhem, maka condonglah hati orang‐orang itu
untuk mengikuti Abimelekh, sebab kata mereka: ‘Memang ia saudara kita.’ (4)
Sesudah itu mereka memberikan kepadanya tujuh puluh uang perak dari kuil
Baal‐Berit, lalu Abimelekh memberi perak itu sebagai upah kepada petualangpetualang
dan orang‐orang nekat supaya mengikuti dia. (5) Ia pergi ke rumah
ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara‐saudaranya, anak‐anak Yerubaal,
tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal
tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri. (6) Kemudian berkumpullah
seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet‐Milo; mereka pergi menobatkan
Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di
Sikhem. (7) Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung
Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada
mereka: ‘Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan
mendengarkan kamu juga. (8) Sekali peristiwa pohon‐pohon pergi mengurapi
yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun:
Jadilah raja atas kami! (9) Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka:
Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah
dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon‐pohon? (10) Lalu kata pohonpohon
itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! (11) Tetapi jawab
pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan
buah‐buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon‐pohon? (12) Lalu
kata pohon‐pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami!
(13) Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku
meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia,
dan pergi melayang di atas pohon‐pohon? (14) Lalu kata segala pohon itu
kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! (15) Jawab semak duri itu
kepada pohon‐pohon itu: Jika kamu sungguh‐sungguh mau mengurapi aku
55
menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika
tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon‐pohon
aras yang di gunung Libanon. (16) Maka sekarang, jika kamu berlaku setia dan
tulus ikhlas dengan membuat Abimelekh menjadi raja, dan jika kamu berbuat
yang baik kepada Yerubaal dan kepada keturunannya dan jika kamu
membalaskan kepadanya seimbang dengan jasanya ‐ (17) bukankah ayahku
telah berperang membela kamu dan menyabung nyawanya, dan telah
melepaskan kamu dari tangan orang Midian, (18) padahal kamu sekarang
memberontak terhadap keturunan ayahku dan membunuh anak‐anaknya,
tujuh puluh orang banyaknya, di atas satu batu, serta membuat Abimelekh
anak seorang budaknya perempuan menjadi raja atas warga kota Sikhem,
karena ia saudaramu ‐ (19) jadi jika kamu pada hari ini berlaku setia dan tulus
ikhlas kepada Yerubaal dan keturunannya, maka silakanlah kamu bersukacita
atas Abimelekh dan silakanlah ia bersukacita atas kamu. (20) Tetapi jika tidak
demikian, maka biarlah api keluar dari pada Abimelekh dan memakan habis
warga kota Sikhem dan juga Bet‐Milo, dan biarlah api keluar dari pada warga
kota Sikhem dan juga dari Bet‐Milo dan memakan habis Abimelekh.’”.
a) Perhatikan bahwa penceritaannya saja sudah memberikan fakta‐fakta
yang salah. Kesalahannya adalah:
1. Penulis di atas mengatakan bahwa pengangkatan Abimelekh menjadi raja
mendorongnya untuk membunuh saudara‐saudaranya. Ini salah, karena
Abimelekh sudah mempunyai rencana lebih dulu untuk membasmi
saudara‐saudaranya (ay 2). Lalu ay 3 menunjukkan warga Sikhem
condong kepada dia. Lalu ay 5 Abimelekh membunuh saudarasaudaranya,
dan baru dalam ay 6 ia dinobatkan menjadi raja.
2. Kata‐kata “Jika pohon‐pohon itu tidak bersedia, maka akan keluar api dari
semak duri itu dan membakar habis semua pohon itu”, kelihatannya
menunjukkan bahwa api itu akan membakar pohon‐pohon yang tidak
mau dijadikan raja itu (zaitun, ara, anggur), padahal kalau dilihat dari text
Alkitabnya, yang terbakar adalah pohon‐pohon aras di gunung Lebanon
(ay 15).
b) Penafsirannya.
Pada bagian yang saya beri garis bawah ganda, terlihat bahwa Edwin
Louis Cole menyalahkan pohon zaitun, ara, anggur, karena mereka tidak
mau dijadikan raja. Benarkah penafsirannya? Bandingkan dengan katakata
Albert Barnes di bawah ini.
56
Barnes’ Notes (tentang Hak 9:14): “The application is obvious. The noble
Gideon and his worthy sons had declined the proffered kingdom. The vile,
base‐born Abimelech had accepted it, and his act would turn out to the mutual
ruin of himself and his subjects” (= Penerapannya jelas. Gideon yang mulia dan
anak‐anaknya yang layak / berharga telah menolak kerajaan yang diajukan.
Abimelekh yang keji / hina, dilahirkan dengan hina, telah menerimanya, dan
tindakannya akan menghasilkan kehancuran bersama dari dirinya sendiri dan
para bawahannya).
Matthew Henry: “when the trees were disposed to choose a king the
government was offered to those valuable trees the olive, the fig‐tree, and the
vine, but they refused it, choosing rather to serve than rule, to do good than
bear sway. … He hereby applauds the generous modesty of Gideon, and the
other judges who were before him, and perhaps of the sons of Gideon, who
had declined accepting the state and power of kings when they might have
had them, and likewise shows that it is in general the temper of all wise and
good men to decline preferment and to choose rather to be useful than to be
great” (= pada waktu pohon‐pohon mengatur untuk memilih seorang raja,
pemerintahan ditawarkan kepada pohon‐pohon yang berhrga itu, pohon
zaitun, pohon ara, dan pohon anggur, tetapi mereka menolaknya, dan
sebaliknya lebih memilih untuk melayani dari pada memerintah, melakukan
yang baik dari pada mengemban kekuasaan. … Dengan ini ia menghargai
kesederhanaan / kerendahan hati yang banyak sekali dari Gideon, dan hakimhakim
yang lain sebelum dia, dan mungkin anak‐anak Gideon, yang telah
menolak untuk menerima negara dan kekuasaan dari raja‐raja pada waktu
mereka bisa mendapatkannya, dan juga menunjukkan bahwa itu secara umum
merupakan sifat / watak dari semua orang‐orang yang bijaksana dan baik
untuk menolak kedudukan yang lebih tinggi dan sebaliknya lebih memilih
untuk menjadi berguna dari pada untuk menjadi besar).
Saya setuju dengan kedua penafsir di atas, dan saya berpendapat bahwa
mereka tidak mau karena mereka tahu bahwa mereka mempunyai tugas
/ kegunaan lain yang lebih mulia. Dan penolakan ini justru merupakan
tindakan yang benar.
Ada orang yang mengatakan: “If God calls you to be a preacher, do not stoop
down to be a king!” (= Jika Allah memanggilmu untuk menjadi seorang
pengkhotbah, janganlah merendahkan diri untuk menjadi seorang raja).
Bandingkan dengan pendeta‐pendeta yang mau meninggalkan
kependetaan mereka karena menjadi caleg!
57
8) “Ketika kami pulang malam itu, saya masih ingat bahwa saya sempat meninju
setir mobil dengan perasaan kecewa dan duka. Nancy bertanya mengapa saya
berbuat demikian dan saya utarakan penyebabnya, ‘Mereka semua berbicara
tentang rumah baru, kapal layar, dan olahraga yang dinikmati anak‐anaknya ‐
namun tidak seorang anak pun yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat.
Mereka mengganti keselamatan dengan kebudayaan.’ Penggantian semacam
ini bukanlah hal yang baru. Pada masa raja‐raja Israel, anak Salomo, Raja
Rehabeam, melakukan suatu kompromi yang akhirnya melemahkan
bangsanya sendiri sehingga musuh‐musuh berhasil menyerang Bait Allah dan
menjarah semua perisai emas yang disimpan di sana. Rehabeam kemudian
mengganti perisai emas itu dengan perisai tembaga (2Tawarikh 12:9‐10). Ada
suatu pelajaran yang dapat kita tarik dari sini. Hal itu melambangkan
penggantian keilahian dengan kemanusiawian, iman dengan perbuatan, halhal
yang terbaik dari yang cukup baik, kebenaran dengan kehormatan”
(‘Menjadi Pria Sejati’, hal 32).
Tanggapan saya:
Ini pengalegorian yang tidak pada tempatnya! Cerita sejarah tidak boleh
diartikan secara alegoris / lambang! Dan kalau perisai emas
melambangkan keilahian, pada waktu perisai emas itu dijarah oleh para
musuh, itu melambangkan apa? Keilahian dijarah? Iman dijarah? Hal‐hal
yang terbaik dijarah? Kebenaran dijarah?
9) “Dengan mengangkat tongkatnya, Musa memuliakan Allah dan menggenapi
pekerjaanNya di muka bumi ini. Tetapi ketika ia melemparkannya, tongkat itu
pun berubah menjadi ular. Demikian pula roh yang terdapat dalam diri
manusia. Apabila roh tersebut berada dalam genggaman kuasa Roh Kudus dan
otoritas firman Tuhan, ia akan mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Namun,
apabila kita tidak dikuasai oleh Roh Kudus, maka pikiran, hati, dan kehendak
kita pun akan ‘lepas kendali’, tidak terkuasai dan kita pun kembali pada tabiat
lama yang keinginannya selalu bertentangan dengan keinginan Allah”
(‘Menjadi Pria Sejati’, hal 71‐72).
Tanggapan saya:
Ini lagi‐lagi merupakan pengalegorian yang tidak pada tempatnya! Cerita
sejarah tidak boleh diartikan secara alegoris / lambang! Kelihatannya ia
melambangkan tongkat Musa sebagai roh manusia, dan tangan Musa
sebagai genggaman kuasa Roh Kudus dan otoritas firman Tuhan. Dengan
58
hak / otoritas apa / siapa Edwin Louis Cole melambangkan seperti itu?
Menurut saya, inilah contoh dari penafsiran yang ‘lepas kendali’!
10) “Pada saat ‘Yobel’, utang‐utang dihapuskan, tanah dipulihkan, dan orangorang
berkesempatan untuk memulai sesuatu dari awal kembali (Imamat 25:8‐
55). Pengampunan semacam itu adalah lambang kematian dan kebangkitan”
(‘Menjadi Pria Sejati’, hal 82).
Tanggapan saya:
Tahun Yobel merupakan lambang kematian dan kebangkitan? Ini lagi‐lagi
merupakan suatu pengalegorian yang tidak pada tempatnya!
11) “Selain ada kematian, ada pula ‘roh kematian’. Roh kematian itu mirip dengan
gejala penyakit. Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum
tentu benar‐benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejalagejala
tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal
sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala‐gejala tersebut ditolak, disangkal,
dan ditengking, maka gejala‐gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa
pun. ‘Roh kematian’ sering kali hanya berusaha menekan agar manusia tunduk
dan menyerah kepada kematian, namun kalau roh itu diusir dalam nama
Yesus, kematian itu pun tidak akan dapat menelan mangsanya” (‘Menjadi Pria
Sejati’, hal 82‐83).
“Allah tidak membiarkan Elia mati, tetapi membantunya untuk bangkit
kembali. Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia, lalu
memulihkan keadaan Elia sehingga …” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 83‐84).
Tanggapan saya:
a) Ini betul‐betul merupakan ‘ajaran baru’! ‘Roh kematian’?
b) Ia mengatakan ‘roh kematian itu mirip dengan gejala penyakit’. Mirip berarti
tidak sama. tetapi dalam pembahasan selanjutnya, ia menyamakan
kedua hal itu.
c) Ia mengatakan ‘Orang yang baru mengalami gejala suatu penyakit belum
tentu benar‐benar menderita penyakit tersebut, karena sering kali gejalagejala
tersebut hanya mendorong orang merasa bahwa dirinya sakit, padahal
sesungguhnya ia tidak sakit. Kalau gejala‐gejala tersebut ditolak, disangkal,
dan ditengking, maka gejala‐gejala itu tidak akan mendatangkan pengaruh apa
pun’.
Saya pikir orang ini IQnya rendah sehingga kata‐katanya saling
bertentangan satu sama lain. Kalau gejala itu bukan penyakit, dan orang
59
yang mengalami gejala itu sebetulnya tidak sakit, lalu untuk apa gejala itu
ditolak, disangkal, ditengking dan sebagainya? Kalau memang tidak sakit,
biarkan saja!
d) Alkitab bagian mana yang mengajar kita untuk ‘menengking penyakit’?
Memang kalau setan merasuk seseorang dan menimbulkan penyakit,
yang seperti itu bisa ditengking setannya. Kalau setan itu keluar,
penyakitnya sembuh. Tetapi penyakit biasa, yang tidak ditimbulkan oleh
setan yang merasuk, tidak bisa ditengking! Tak ada ayat Alkitab manapun
yang mengajar kita menengking penyakit.
e) Di Alkitab sebelah mana ada ajaran tentang menengking roh kematian?
Dan ia mengajar untuk menengking roh kematian itu dalam nama Yesus.
Itu berarti ia menganggap roh kematian itu adalah setan atau dari setan.
Apakah setan bisa membunuh siapapun tanpa ijin Tuhan? Dan kalau
Tuhan ijinkan ia membunuh, bisakah hal itu ditengking untuk
menggagalkan hal itu? Betul‐betul suatu kegilaan!
f) Kalau semua orang menengking roh kematian, sehingga semua orang
tidak mati‐mati, apakah semua orang akan hidup kekal di dunia ini? Lalu
bagaimana dengan Ro 6:23 yang mengatakan ‘upah dosa ialah maut’?
g) Dalam kasus Elia, mengapa tanpa penengkingan roh kematian, Elia tetap
tidak jadi mati? Juga perlu dicamkan bahwa Elia tidak sakit, ia hanya ingin
mati karena merasa pelayanannya gagal (1Raja 19:1‐4). Lalu untuk apa
Allah membuat roh kematian menyingkir dari diri Elia?
12) “Meskipun Paulus sudah terlepas dari belenggu dosa, namun bayangan masa
lalunya masih terus mengikutinya. Pada masa ia sedang gencar‐gencarnya
menganiaya orang Kristen, ia telah memerintahkan agar mereka dipenjarakan,
dibunuh, atau dilempari batu. Setelah menjadi orang percaya, ia melakukan
ibadah bersama‐sama dengan kaum ibu yang menjadi janda karena kebencian
Paulus dahulu terhadap orang Kristen, dan dengan bapak‐bapak yang anaknya
mati akibat penganiayaan yang dilakukannya. Rasa bersalah dari masa lalunya
itu merupakan beban yang terlalu berat untuk ditanggungnya. Ia
membandingkan dirinya dengan orang‐orang yang dihakimi karena bersalah
melakukan pembunuhan yang direncanakan. Pada waktu itu hukuman yang
dijatuhkan bagi orang‐orang yang terbukti secara sengaja merencanakan dan
melakukan pembunuhan terasa tidak lazim bagi kita, namun benar‐benar
sepadan dengan kejahatan yang telah diperbuat, yaitu mayat korban
pembunuhan akan diikatkan dengan rantai pada tubuh orang yang telah
membunuhnya, sehingga ke mana pun pembunuh itu pergi, ia terpaksa
menyeret‐nyeret mayat itu. Dengan sendirinya pembunuh itu akan dikucilkan
60
oleh masyarakat, sehingga akan sulit baginya untuk tetap bertahan hidup. …
Begitulah Paulus menggambarkan keadaan dirinya, di mana ia merasa seolaholah
dosa, rasa bersalah, dan aib dari masa lalunya itu diikatkan dengan rantai
pada dirinya. Semuanya itu menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk
ditanggung, dan kalau tidak dilepaskan, beban itu akhirnya akan
membunuhnya. Tetapi, kemudian ia mendapatkan kebebasan dari semua
belenggu masa lalunya itu. Adapun kebebasan itu ia peroleh dari sumber yang
juga telah memberitakan kabar keselamatan bagi dirinya. Ia ingin seluruh
dunia mengetahui hal ini, maka ia menulis, ‘Syukurlah kepada Allah oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita.’ Ia sudah bebas!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 84‐85).
Tanggapan saya:
a) Seluruh kontext sama sekali tidak berbicara tentang bayangan kesalahan
masa lalu Paulus, tetapi dosa‐dosa yang saat itu tetap ia perbuat.
Perhatikan sendiri seluruh kontext di bawah ini, adakah sedikit saja yang
berhubungan dengan dosa‐dosa pada masa lalu dari Paulus?
Ro 7:13‐26 ‐ “(13) Jika demikian, adakah yang baik itu menjadi kematian
bagiku? Sekali‐kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa ia adalah dosa, maka
dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku,
supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa. (14)
Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat
daging, terjual di bawah kuasa dosa. (15) Sebab apa yang aku perbuat, aku
tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi
apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (16) Jadi jika aku perbuat apa
yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. (17)
Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di
dalam aku. (18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku
sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di
dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang
aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak
aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (20) Jadi jika aku berbuat
apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya,
tetapi dosa yang diam di dalam aku. (21) Demikianlah aku dapati hukum ini:
jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22)
Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di dalam
anggota‐anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan
hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada
di dalam anggota‐anggota tubuhku. (24) Aku, manusia celaka! Siapakah yang
akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (25) Syukur kepada Allah! oleh
61
Yesus Kristus, Tuhan kita. (26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum
Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa”.
b) Saya pernah membaca tentang hukuman seperti yang diceritakan oleh
Edwin Louis Cole, dimana orang dijatuhi hukuman dengan suatu mayat
yang diikatkan pada tubuhnya. Tetapi mayat itu bukan orang yang
dibunuh oleh orang yang dijatuhi hukuman itu! Disamping, apakah
Paulus memang memaksudkan hukuman seperti itu, merupakan sesuatu
yang sedikitnya perlu disangsikan, dan menurut saya pasti salah!
Bandingkan dengan kata‐kata dari beberapa penafsir di bawah ini
tentang hal itu.
Calvin (tentang Ro 7:24): “By the ‘body of death’ he means the whole mass of
sin, or those ingredients of which the whole man is composed; except that in
him there remained only relics, by the captive bonds of which he was held” (=
Dengan ‘tubuh maut’ ia memaksudkan seluruh massa dosa, atau bahan‐bahan
/ unsur‐unsur yang membentuk seluruh manusia; kecuali bahwa dalam dia
tersisa hanya peninggalan‐peninggalan, oleh ikatan tahanan yang menahan
dia).
Barnes’ Notes (tentang Ro 7:24): “It indicates, … An earnest wish to be
delivered from it. Some have supposed that he refers to a custom practiced by
ancient tyrants, of binding a dead body to a captive as a punishment, and
compelling him to drag the cumbersome and offensive burden with him
wherever he went. I do not see any evidence that the apostle had this in view.
But such a fact may be used as a striking and perhaps not improper illustration
of the meaning of the apostle here. No strength of words could express deeper
feeling; none more feelingly indicate the necessity of the grace of God to
accomplish that to which the unaided human powers are incompetent” (= Itu
menunjukkan, … Suatu keinginan yang sungguh‐sungguh untuk dibebaskan
darinya. Sebagian orang menganggap bahwa ia menunjuk pada suatu
kebiasaan yang dipraktekkan oleh tiran‐tiran kuno, dengan mengikatkan
mayat pada seorang tahanan / tawanan sebagai suatu hukuman, dan
memaksanya untuk menyeret beban yang berat / tidak mengenakkan dan
menjijikkan bersamanya kemanapun ia pergi. Saya tidak melihat bukti apapun
bahwa sang rasul mempunyai hal ini dalam pandangannya. Tetapi fakta
seperti itu bisa digunakan sebagai ilustrasi yang menyolok dan mungkin benar
tentang arti dari sang rasul di sini. Tidak ada kekuatan kata‐kata yang bisa
menyatakan perasaan yang lebih dalam; tidak ada yang dengan lebih
berperasaan menunjukkan keperluan / kebutuhan terhadap kasih karunia
62
Allah untuk mencapai hal itu yang tidak mampu dilakukan oleh kekuatan
manusia tanpa bantuan).
William Hendriksen: “With that in mind he yearns to be rescued from ‘this body
of death,’ that is, from the body in its present condition, subject to the ravages
of sin and death. He knows that as long as he lives in this present ‘body of
humiliation’ (Phil. 3:21) the terrible struggle will be continued. But once the life
in that body ceases, the state of sinless glory will commence; first for the soul,
then also for the body” [= Dengan itu dalam pikirannya ia merindukan untuk
ditolong dari ‘tubuh maut ini’, artinya, dari tubuh dalam kondisi sekarang ini,
yang tunduk pada kerusakan dari dosa dan kematian. Ia tahu bahwa selama ia
hidup dalam ‘tubuh kehinaan’ sekarang ini (Fil 3:21) pergumulan yang dahsyat
/ mengerikan akan berlanjut. Tetapi sekali kehidupan dalam tubuh itu
berakhir, keadaan dari kemuliaan tanpa dosa akan mulai; pertama‐tama untuk
jiwa, lalu juga untuk tubuh] ‐ ‘Romans’, hal 237‐238.
13) “Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar dan keserupaan
moralnya, Dia memperlengkapi kita dengan lima kemampuan yang
memungkinkan kita menjalani kehidupan yang serupa dengan kehidupan
Kristus. Dengan demikian Allah telah mencurahkan sebagian keunggulan sorga
ke bumi ini. Kelima kemampuan itu adalah:
(1) Kemampuan untuk mengetahui kebenaran
(2) Kemampuan untuk mengenali keutamaan moral
(3) Kekuatan untuk melakukan kehendak kita
(4) Daya cipta melalui perkataan kita
(5) Hak dan kemampuan untuk berkembang biak” (‘Menjadi Pria Sejati’,
hal 94).
Tanggapan saya:
a) Ajaran ini tak ada dasar Alkitabnya sama sekali!
b) Keserupaan moral? Sekalipun memang tak ada keseragaman pandangan
dalam hal‐hal apa saja yang termasuk dalam gambar dan rupa Allah
dalam diri kita, tetapi jelas bahwa gambar dan rupa Allah dalam diri
manusia bukan hanya keserupaan moral. Keserupaan moral mungkin
memang ada, seperti kesucian / kebenaran yang ada dalam diri manusia
ketika pertama diciptakan. Tetapi juga ada hal‐hal lain, seperti manusia
adalah makhluk berakal, makhluk rohani, dan bersifat kekal. Dan hal‐hal
ini jelas buka keserupaan moral dengan Allah!
c) Apa maksudnya dengan kata‐kata ‘daya cipta melalui perkataan kita’? Lagilagi
‘ajaran baru’.
63
d) Ia mengatakan lima kemampuan ini ‘memungkinkan kita menjalani
kehidupan yang serupa dengan kehidupan Kristus’. Padahal hal kelima
adalah ‘Hak dan kemampuan untuk berkembang biak’. Apa urusannya
hal kelima itu dengan keserupaan dengan kehidupan Kristus, yang
notabene tak pernah menikah, apalagi berkembang biak?
e) Ia juga mengatakan bahwa ‘Dengan demikian Allah telah mencurahkan
sebagian keunggulan sorga ke bumi ini’.
Kalau ini dihubungkan dengan hal kelima lagi, maka akan menjadi
lelucon, karena akan berarti bahwa hak dan kemampuan untuk
berkembang biak merupakan keunggulan sorga! Makhluk yang mana di
sorga yang berkembang biak??
14) “Yesus berkata, ‘Dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada’ (Lukas
12:34). Setelah menyadari bahwa orang yang harus membayar untuk
mendapatkan sesuatu akan menjadi jauh lebih berminat pada hal yang
dibayarnya daripada sekadar menjadi penonton, maka kami pun menarik
biaya pendaftaran untuk kegiatan yang kami laksanakan. Hasilnya memang
terlihat nyata karena kini kaum pria yang mengikuti acara kami itu dapat
bertahan mengikuti seluruh kegiatan hingga selesai dan mereka tetap hadir
sekalipun cuaca sangat buruk. Uang pendaftaran itu bagi mereka menjadi
suatu harta yang mereka tanamkan dalam kegiatan‐kegiatan kami, sehingga
hati mereka pun berada dalam pertemuan itu. Prinsip itu sekaligus juga
mengajarkan bahwa Anda tidak mungkin membangun sebuah jemaat apabila
anggota‐anggotanya tidak mau membayar persepuluhan atau menanamkan
uang mereka dalam pekerjaan Allah tersebut. Karena mereka tidak
menanamkan harta mereka di situ, hati mereka pun tidak berada di tempat
itu” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 107).
Tanggapan saya:
a) Kata‐kata Yesus dalam Luk 12:34 hanya mengkontraskan harta yang
terletak di surga atau di dunia. Lihat kontextnya!
Luk 12:33‐34 ‐ “(33) Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah
bagimu pundi‐pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang
tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan
ngengat. (34) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.’”.
b) Kata‐kata ‘Prinsip itu sekaligus juga mengajarkan bahwa Anda tidak mungkin
membangun sebuah jemaat apabila anggota‐anggotanya tidak mau membayar
persepuluhan atau menanamkan uang mereka dalam pekerjaan Allah
tersebut. Karena mereka tidak menanamkan harta mereka di situ, hati mereka
64
pun tidak berada di tempat itu’ merupakan ajaran baru tentang alasan
memberi persembahan persepuluhan! Dari Alkitab bagian mana ini
diambil?
c) Kalau yang dikatakan oleh Edwin Louis Cole di atas itu memang benar,
mengapa hanya menekankan uang pendaftaran dan persembahan
persepuluhan? Mengapa tidak sekalian mengharuskan orang yang mau
menjadi anggota suatu gereja / dibaptis membayar uang pangkal?
Bukankah lebih‐lebih lagi hatinya akan ada di gereja itu untuk selamalamanya?
d) Bagaimana ajaran Edwin Louis Cole ini bisa diharmoniskan dengan ayatayat
di bawah ini?
∙ 2Raja 5:16‐17 ‐ “(16) Tetapi Elisa menjawab: ‘Demi TUHAN yang hidup, yang
di hadapanNya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima
apa‐apa.’ Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia
tetap menolak. (17) Akhirnya berkatalah Naaman: ‘Jikalau demikian, biarlah
diberikan kepada hambamu ini tanah sebanyak muatan sepasang bagal, sebab
hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan korban bakaran atau korban
sembelihan kepada allah lain kecuali kepada TUHAN”.
∙ Mat 10:8 ‐ “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah
orang kusta; usirlah setan‐setan. Kamu telah memperolehnya dengan cumacuma,
karena itu berikanlah pula dengan cuma‐cuma”.
∙ Kis 8:18‐21 ‐ “(18) Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi
oleh karena rasul‐rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang
kepada mereka, (19) serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu,
supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh
menerima Roh Kudus.’ (20) Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah
kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka,
bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (21) Tidak ada
bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan
Allah”.
∙ 1Kor 9:12,15,18 ‐ “(12) Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan
hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar?
Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung
segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan
Injil Kristus. … (15) Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hakhak
itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga
demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku
tidak dapat ditiadakan siapapun juga! … (18) Kalau demikian apakah upahku?
Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa
aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil”.
65
∙ 2Kor 11:7 ‐ “Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk
meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan
cuma‐cuma?”.
e) Tuhan memberikan keselamatan secara cuma‐cuma kepada kita
(Yes 55:1 Ro 3:24). Kalau begitu, Tuhan tidak bijaksana, karena kita pasti
tidak akan menghargai keselamatan itu! Hati kita pasti tidak akan ada di
sana. Seharusnya Tuhan menyuruh kita membayar, tetapi seandainya Ia
melakukan hal ini, semua kita akan masuk neraka karena tidak
seorangpun dari kita mempunyai apapun untuk membayar / membeli
keselamatan! Atau mungkin seharusnya Tuhan merestui penjualan surat
pengampunan dosa pada jaman Martin Luther. Dan bersamaan dengan
itu, Tuhan harus menyatakan Martin Luther, yang mempercayai
pembenaran hanya oleh iman, sebagai orang sesat / bidat!
f) Sebetulnya saya tidak menentang adanya uang pendaftaran dalam acara
seperti itu, karena memang ada biaya‐biaya yang harus dikeluarkan
untuk acara tersebut. Tetapi kata‐kata Edwin Louis Cole bahwa ‘Uang
pendaftaran itu bagi mereka menjadi suatu harta yang mereka tanamkan
dalam kegiatan‐kegiatan kami, sehingga hati mereka pun berada dalam
pertemuan itu’ merupakan alasan yang omong kosong! Menurut saya,
alasan sebenarnya adalah, karena orang‐orang itu sudah membayar,
maka mereka merasa rugi kalau tidak datang!
15) “Suatu keluarga seharusnya menjalani proses pemuridan berdasarkan pola
yang alkitabiah, yaitu: gembala sidang memuridkan kaum pria (ayah) dan para
ayah memuridkan keluarganya. Namun, selama dua generasi terakhir ini para
gembala telah mengajar para ayah untuk membawa keluarganya ke gereja dan
gereja kemudian mengambil alih tanggung jawab untuk memuridkan keluarga
melalui sekolah Minggu, kegiatan remaja, pendalaman Alkitab kaum wanita,
dan berbagai kegiatan lainnya. Dengan demikian, gembala menjadi ayah
angkat bagi setiap anggota keluarga yang mengunjungi gereja. Beban ini tentu
saja terlalu berat untuk ditanggung oleh satu orang saja” (‘Menjadi Pria Sejati’,
hal 112).
Tanggapan saya:
a) Mana dasar Alkitabnya? Tanpa dasar Alkitab, ia mengajar sedemikian
rupa sehingga memberikan penekanan yang extrim terhadap kaum pria!
Dan Edwin Louis Cole menyebutnya sebagai ‘pola yang Alkitabiah’!
66
b) Saya tidak mengerti apa yang Edwin Louis Cole kehendaki dengan ajaran
sintingnya ini. Lalu menurut dia seharusnya bagaimana? Hanya para pria
yang boleh ke gereja? Lalu para pria mengajar istri dan anak‐anaknya di
rumah? Memang tidak salah kalau suami / ayah mengajar istri dan anakanaknya.
Tetapi kalau dikatakan bahwa istri dan anak‐anak itu tidak
boleh belajar langsung di gereja, itu bertentangan dengan banyak ayat
Alkitab seperti:
∙ Neh 8:3‐4 ‐ “(3) Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra
membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki‐laki maupun
perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. (4) Ia
membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu
gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki‐laki dan perempuan
dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat
mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu”.
∙ Ezra 10:1 ‐ “Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis
dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah
orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki‐laki, perempuan dan anak‐anak.
Orang‐orang itu menangis keras‐keras”.
∙ Mat 14:21 ‐ “Yang ikut makan kira‐kira lima ribu laki‐laki, tidak termasuk
perempuan dan anak‐anak”.
∙ Mat 19:13‐14 ‐ “(13) Lalu orang membawa anak‐anak kecil kepada Yesus,
supaya Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan mendoakan mereka; akan
tetapi murid‐muridNya memarahi orang‐orang itu. (14) Tetapi Yesus berkata:
‘Biarkanlah anak‐anak itu, janganlah menghalang‐halangi mereka datang
kepadaKu; sebab orang‐orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan
Sorga.’”.
∙ 1Tim 5:1‐2 ‐ “(1) Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan
tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang‐orang muda sebagai saudaramu, (2)
perempuan‐perempuan tua sebagai ibu dan perempuan‐perempuan muda
sebagai adikmu dengan penuh kemurnian”.
Catatan: bukan para suami yang disuruh menegor perempuanperempuan
itu, tetapi Timotius. Ini tidak mungkin kalau para perempuan
itu tidak ke gereja.
∙ 2Tim 1:5 ‐ “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang
pertama‐tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan
yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”.
Catatan: dalam keluarga Timotius, yang kristen duluan justru adalah
nenek dan ibunya. Mungkinkah kakek dan ayahnya, yang adalah orang
kafir, yang mengajarkan kekristenan kepada Timotius?
67
∙ Yesus pada usia 12 tahun belajar di Bait Allah (Luk 2:41‐47); apakah Yusuf
tidak memuridkan keluarganya, dan apakah Yesus salah karena tidak
belajar dari Yusuf?
16) “Menggali sumur melambangkan bahwa kedua keturunan Abraham tersebut
perlu melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan ayah mereka agar mereka
dapat memenuhi persyaratan seperti yang dimiliki ayah mereka, yaitu
persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin” (‘Menjadi Pria
Sejati’, hal 127).
Tanggapan saya:
Saya bosan terhadap pengalegorian‐pengalegorian tolol seperti ini. Kalau
‘menggali sumur’ bisa ditafsirkan seperti ini, itu juga bisa ditafsirkan apa
saja. Dan kalau demikian, dari ayat manapun kita bisa mendapatkan
ajaran yang bagaimanapun!
17) “Adapun orang yang memiliki hak untuk memberikan suaranya namun tidak
menggunakan haknya itu sebenarnya sama saja dengan berbuat kejahatan.
Dalam perumpamaan tentang talenta, Yesus menyebut hamba yang tidak
melakukan apa‐apa itu sebagai orang yang jahat, malas, lamban, dan kurang
ajar” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).
Tanggapan saya:
a) Pertama‐tama mari kita baca perumpamaan tentang talenta itu.
Mat 25:26‐30 ‐ “(26) Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat
dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku
tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? (27)
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang
menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan
bunganya. (28) Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah
kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. (29) Karena setiap orang
yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi
siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari
padanya. (30) Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam
kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.
Hanya menceritakan fakta‐fakta Alkitab saja, Edwin Louis Cole, yang
bergelar Doktor ini, tidak becus! Yesus hanya mengatakan hamba itu
sebagai ‘jahat, malas, dan tidak berguna’; tidak pernah ada kata‐kata
68
‘lamban’, apalagi ‘kurang ajar’. Menurut saya istilah ‘hamba yang kurang
ajar’ itu lebih cocok untuk diterapkan terhadap diri Edwin Louis Cole
sendiri!
b) Yang ia maksudkan dengan ‘memberikan suaranya’ adalah memberikan
suara dalam pemilihan umum dalam kalangan politik. Jadi, ia
menggunakan text Alkitab itu untuk melarang / menyalahkan orangorang
yang masuk ‘golput’!
Dalam perumpamaan itu, ‘talenta’ menunjuk pada segala sesuatu yang
Tuhan berikan kepada kita, yang bisa kita gunakan untuk kemuliaanNya.
Kalau pemberian suara yang kita lakukan memang bisa berguna untuk
kemuliaan Tuhan, maka memang kita harus memberikan suara kita.
Tetapi bagaimana kalau calon‐calon yang ada semuanya tidak ada yang
nggenah, atau semuanya tidak kita ketahui nggenah atau tidaknya? Ini
merupakan kasus yang banyak terjadi di negara kita! Apakah kita harus
secara membabi buta tetap memberikan suara kita untuk orang‐orang
yang tidak kita ketahui?
18) “Allah secara langsung menugaskan Adam untuk membimbing, mengawasi,
dan memerintah bumi beserta proses perkembang‐biakannya. Ketika Hawa
diciptakan dan kemudian terbentuk sebuah keluarga, maka Adam pun
bertugas mengurus seluruh keluarganya. Adapun tugas tersebut juga
mencakup tiga tanggung jawab serupa: membimbing, mengawasi,
memerintah” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).
Tangapan saya:
a) Dia membalik urut‐urutannya, karena dalam Kej 1:26‐27 Allah
menciptakan manusia (laki‐laki dan perempuan / Adam dan Hawa), dan
baru dalam Kej 1:28 Allah menyuruh MEREKA berdua untuk berkembang
biak dan memenuhi dan menaklukkan bumi.
b) Jadi, tak bisa ditafsirkan bahwa Adam bertugas membimbing, mengawasi,
memerintah Hawa!
c) Kata‐kata ‘membimbing, mengawasi dan memerintah’ itu muncul dari
mana?
19) “Dalam Efesus 5:28‐29 ketiga tanggung jawab itu disebut sebagai: mengasihi,
mengasuh, merawat, mengarahkan, melindungi, memperbaiki. Memelihara,
menghargai, menegur” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 129).
69
Tanggapan saya:
Ef 5:28‐29 ‐ “(28) Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti
tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
(29) Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi
mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat”.
Hanya tiga kata pertama yang ada, lalu kata‐kata ‘mengarahkan,
melindungi, memperbaiki, memelihara, menghargai, menegur’ muncul
dari mana? Edwin Louis Cole dengan seenaknya menambahi Alkitab.
Mungkin ia perlu membaca ayat‐ayat di bawah ini:
∙ Ul 4:2 ‐ “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan
janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada
perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu”.
∙ Ul 12:32 ‐ “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan
dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya”.
∙ Amsal 30:6 ‐ “Jangan menambahi firmanNya, supaya engkau tidak ditegurNya
dan dianggap pendusta”.
∙ Wah 22:18‐19 ‐ “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar
perkataan‐perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan
sesuatu kepada perkataan‐perkataan ini, maka Allah akan menambahkan
kepadanya malapetaka‐malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan
jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan‐perkataan dari kitab
nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan
dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
20) “Sedangkan firman mengenai kuasa (Kisah Para Rasul 1:8) disampaikan
kepada gerakan Pentakosta. … Dan firman tentang pembaruan (Roma 12:1‐2)
diberikan kepada gerakan Kharismatik” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 139).
Catatan: sebelum bagian ini Edwin Louis Cole mengatakan bahwa Allah
memberikan firman kepada Martin Luther, dan lalu juga kepada John
Wesley, lalu memberikan firman yang menyulut gerakan Kekudusan
(Holiness movement).
Tanggapan saya:
a) Ini omongan apa? Orang‐orang / kelompok‐kelompok yang ia bicarakan
semua berbeda, dan bahkan bertentangan, dalam ajaran theologianya.
Misalnya, Luther bisa dianggap mempunyai ajaran Reformed / Calvinist
(sekalipun Luther memang ada sebelum Calvin, tetapi maksud saya
ajarannya dalam hal itu sama), sedangkan John Wesley jelas adalah
70
seorang Arminian. Dan keduanya berbeda lagi dengan Pentakosta /
Kharismatik. Mungkinkah semua ajaran yang berbeda / bertentangan itu
semuanya datang dari Tuhan? Omong kosong! Dua yang berbeda, apalagi
yang bertentangan, tidak mungkin keduanya datang dari Tuhan, kecuali
Tuhan bicara dengan lidah bercabang. Mengapa tidak sekalian saja
mengatakan bahwa agama‐agama lain juga merupakan firman yang
datang dari Tuhan?
b) Dan perhatikan ayat‐ayat yang ia gunakan; apa urusannya ayat‐ayat itu
dengan omongannya?
1. Kis 1:8 ‐ “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas
kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan
Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.
2. Ro 12:1‐2 ‐ “(1) Karena itu, saudara‐saudara, demi kemurahan Allah aku
menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu
adalah ibadahmu yang sejati. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan
dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna”.
Hanya karena dalam Kis 1:8 ada kata ‘kuasa’, maka ia menjadikan ayat ini
sebagai dasar bahwa Tuhan memberikan firman mengenai kuasa kepada
golongan Pentakosta? Dan hanya karena dalam Ro 12:1‐2 ada kata
‘pembaharuan’, ia mengatakan bahwa firman tentang pembaruan
diberikan kepada golongan Kharismatik? Ada 3 hal yang ingin saya
berikan sebagai komentar tentang bagian ini:
a. ‘Kuasa’ dalam Kis 1:8 itu diberikan kepada semua orang kristen yang sejati
pada saat itu dan selanjutnya. Bagaimana mungkin Edwin Louis Cole
menerapkannya hanya kepada golongan Pentakosta?
b. Berbeda dengan Kis 1:8 dimana ‘kuasa’ itu memang diberikan oleh Tuhan,
maka dalam Ro 12:2 ‘pembaharuan’ itu diperintahkan oleh Allah untuk
kita usahakan! Dan ini lagi‐lagi merupakan perintah Tuhan untuk semua
orang kristen yang sejati. Lalu bagaimana mungkin ini diartikan sebagai
‘firman tentang pembaruan yang diberikan kepada gerakan
Kharismatik’?
c. Lalu bagaimana dengan Yoh 13:27b dimana Yesus berkata kepada Yudas
Iskariot: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.”?
71
Kalau mau mengikuti jalan pikiran yang gila dari Edwin Louis Cole, ini
pasti merupakan firman dari Tuhan kepada golongan Anti Kristus atau
Satanisme!
21) “Dalam hubungan antar manusia, formalitas menjadi pertanda adanya jarak
dalam hubungan tersebut, sebab dalam hubungan yang intim tidak terdapat
lagi bentuk‐bentuk formalitas. Jadi, semakin formal bentuk penyembahan
yang dilakukan, semakin jauh pula jarak antara si penyembah dengan wahyu
yang mula‐mula diterimanya” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 141).
Tanggapan saya:
a) Hubungan antar manusia, yang memang setingkat, tidak bisa
dianalogikan dengan hubungan antara manusia dengan Penciptanya!!!
b) Bahkan dalam hubungan antar manusiapun tidak bisa dimutlakkan bahwa
‘formalitas menjadi pertanda adanya jarak dalam hubungan tersebut’.
Mengapa? Karena kalau demikian, maka hubungan yang dekat akan
membuang semua kesopanan. Anak boleh saja kurang ajar terhadap
orang tuanya, karena dekat dengan mereka!
c) Apa yang ia maksud dengan ‘jarak antara si penyembah dengan wahyu
yang mula‐mula diterimanya’?
22) ‘Percayakanlah itu kepada orang‐orang yang dapat dipercayai (bahasa Inggris:
setia) yang juga cakap mengajar orang lain’ (2 Timotius 2:2). Ini adalah suatu
prinsip pemuridan yang terdapat dalam Alkitab. Namun, manusia secara salah
telah memutarbalikkan prinsip itu menjadi: ‘Percayakanlah kepada orang yang
cakap yang nantinya akan setia.’ Padahal, yang diandalkan oleh Allah adalah
karakter, bukan talenta” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 153).
Tanggapan saya:
a) Lagi‐lagi ngawur! Memang karakter penting tetapi talenta (atau lebih
tepat ‘karunia’) juga penting. Kata‐kata ‘cakap mengajar orang lain’
dalam 2Tim 2:2b jelas menunjuk pada ‘karunia’!
Dan Edwin Louis Cole mengatakan dalam buku yang sama (‘Menjadi Pria
Sejati’, hal 213) sebagai berikut: “Beberapa tahun yang lalu saya
berkesempatan untuk bergabung dengan suatu kelompok pelayanan radio
Kristen. Sewaktu pertama kali dimulai, orang‐orang yang berminat dan ikut
bergabung dengan pelayanan itu adalah orang‐orang yang sungguh‐sungguh
72
mengasihi Allah, namun sangat kurang keahliannya dalam bidang media
komunikasi baik secara tehnis maupun teoritis. Mereka adalah orang‐orang
rohani yang tekun berdoa, baik, penuh iman, dan sangat bergairah untuk
bekerja secara sukarela. Namun, ketika sudah semakin berkembang,
pelayanan itu membutuhkan ketrampilan dan kemampuan untuk berproduksi,
bukan hanya kemampuan untuk berdoa. Pada saat itulah timbul suatu bahaya
karena selama beberapa waktu, seiring dengan semakin berkembangnya
pelayanan itu, ketekunan berdoa tersebut belum juga digantikan dengan
kemampuan untuk berproduksi. Padahal sesungguhnya diperlukan suatu
keseimbangan dalam hal ini”.
Kata‐kata Edwin Louis Cole di sini jelas bertentangan dengan katakatanya
dalam kutipan yang di atas.
b) Edwin Louis Cole mengatakan ‘yang diandalkan oleh Allah adalah
karakter, bukan talenta’.
Allah yang maha kuasa tidak mengandalkan siapapun juga! Kalau ia
membutuhkan orang yang mempunyai karakter tertentu, Ia membentuk
orang itu sehingga cocok dengan kemauannya. Memang ada ayat‐ayat
yang kelihatannya menunjukkan bahwa Allah memilih orang‐orang yang
hidup sesuai kehendaknya, seperti misalnya Daud.
Bdk. 1Sam 16:6‐7 ‐ “(6) Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab,
lalu pikirnya: ‘Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapiNya.’
(7) Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya
atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat
manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi
TUHAN melihat hati.’”.
Tetapi siapa yang membentuk Daud menjadi orang yang seperti? Jelas
Tuhan sendiri, bukan? Jadi, ayat ini hanya menceritakan dari sudut
pandang manusia. Dari sudut pandang Tuhan, Ia memilih orang itu sejak
dunia belum dijadikan, lalu Ia mempersiapkan orang‐orang itu untuk
menjadi orang‐orang yang cocok yang kehendakNya. Perhatikan 2 text di
bawah ini dengan penafsiran Calvin tentangnya.
Yer 1:4‐5 ‐ “(4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: (5) ‘Sebelum Aku
membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan
sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku
telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa‐bangsa.’”.
Kalau Yeremia telah ditetapkan sebagai nabi sebelum ia dilahirkan,
bagaimana mungkin Tuhan memilihnya berdasarkan karakternya?
73
Bandingkan dengan kata‐kata / komentar Calvin tentang ayat ini di
bawah ini
Calvin (tentang Yer 1:5): “it was not in thy power to bring with thee a
qualification for the prophetic office, I formed thee not only a man, but a
prophet” (= bukanlah dalam kuasamu untuk membawa bersamamu suatu
kwalifikasi untuk jabatan nabi, Aku membentuk engkau bukan hanya sebagai
manusia, tetapi sebagai seorang nabi).
Gal 1:15‐16 ‐ “(15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan
ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan menyatakan
AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa‐bangsa
bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada
manusia”.
Catatan: kata ‘memilih’ dalam Kitab Suci bahasa Inggris diterjemahkan
‘separated’ / ‘set apart’ (= memisahkan).
Calvin (tentang Gal 1:15): “‘Who had separated me.’ This separation was the
purpose of God, by which Paul was appointed to the apostolic office, before he
knew that he was born. The calling followed afterwards at the proper time,
when the Lord made known his will concerning him, and commanded him to
proceed to the work. God had, no doubt, decreed, before the foundation of the
world, what he would do with regard to every one of us, and had assigned to
every one, by his secret counsel, his respective place” (= ‘Yang telah
memisahkan aku’. Pemisahan ini merupakan tujuan / rencana dari Allah,
dengan mana Paulus ditetapkan pada jabatan rasul, sebelum ia tahu bahwa ia
dilahirkan. Panggilan menyusul belakangan pada waktu yang tepat, pada
waktu Tuhan menyatakan kehendakNya berkenaan dengan dia, dan
memerintahkan dia untuk memulai pekerjaan. Tak diragukan bahwa Allah
menetapkan, sebelum dunia dijadikan, apa yang akan Ia lakukan berkenaan
dengan setiap orang dari kita, dan telah menetapkan bagi setiap orang, oleh
rencana rahasiaNya, tempatnya masing‐masing).
Calvin (tentang Gal 1:15): “The word of the Lord which came to Jeremiah,
though expressed a little differently from this passage, has entirely the same
meaning. … Before they even existed, Jeremiah had been set apart to the
office of a prophet, and Paul to that of an apostle; but he is said to separate us
from the womb, because the design of our being sent into the world is, that he
may accomplish, in us, what he has decreed. The calling is delayed till its
proper time, when God has prepared us for the office which he commands us
74
to undertake. … he was ordained an apostle, not because by his own industry
he had fitted himself for undertaking so high an office, or because God had
accounted him worthy of having it bestowed upon him, but because, before he
was born, he had been set apart by the secret purpose of God.” (= Firman
Tuhan yang datang kepada Yeremia, sekalipun dinyatakan secara agak
berbeda dari text ini, sepenuhnya mempunyai arti yang sama. … Bahkan
sebelum mereka ada, Yeremia telah dipisahkan pada jabatan / tugas seorang
nabi, dan Paulus pada jabatan / tugas seorang rasul; tetapi Ia dikatakan
memisahkan kita sejak dalam kandungan, karena rancangan dari pengiriman
kita ke dalam dunia adalah, supaya Ia bisa mengerjakan di dalam kita apa yang
telah Ia tetapkan. Panggilan ditunda sampai waktunya yang tepat, pada waktu
Allah mempersiapkan kita untuk jabatan / tugas yang Ia perintahkan kepada
kita untuk dikerjakan. … ia ditahbiskan sebagai seorang rasul, bukan karena
oleh kerajinannya sendiri ia telah membuat dirinya sendiri cocok untuk
mengerjakan tugas / jabatan yang begitu tinggi, atau karena Allah
menganggapnya layak untuk memberikan tugas / jabatan itu kepadanya,
tetapi karena sebelum ia dilahirkan, ia telah dipisahkan oleh rencana rahasia
Allah).
23) “Yesus juga mengatakan, ‘Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain,
siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?’ (Lukas 16:12)”
(‘Menjadi Pria Sejati’, hal 157).
Tanggapan saya:
Luk 16:12 ‐ “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah
yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”.
Dalam ayat ini ada 2 istilah yaitu ‘harta orang lain’ (yang menunjuk pada
uang / harta yang ada pada kita) dan ‘hartamu sendiri’ (yang menunjuk
pada kekayaan rohani / harta surgawi).
Calvin: “By the expression, ‘what belongs to another,’ he means what is not
within man; for God does not bestow riches upon us on condition that we shall
be attached to them, but makes us stewards of them in such a manner, that
they may not bind us with their chains. And, indeed, it is impossible that our
minds should be free and disengaged for dwelling in heaven, if we did not look
upon every thing that is in the world as ‘belonging to another.’ ‘Who shall
entrust to you what is your own?’ Spiritual riches, on the other hand, which
relate to a future life, are pronounced by him to be our own, because the
enjoyment of them is everlasting” (= Dengan ungkapan, ‘apa yang merupakan
milik orang lain’, Ia memaksudkan apa yang tidak ada di dalam manusia;
karena Allah tidak memberikan kekayaan kepada kita pada kondisi dimana
75
kita terikat kepadanya, tetapi membuat kita pengurus dari kekayaan dengan
suatu cara, sehingga kekayaan itu tidak mengikat kita dengan rantainya. Dan
memang, adalah tidak mungkin bahwa pikiran kita bebas dan lepas untuk
tinggal di surga, jika kita tidak memandang segala sesuatu dalam dunia sebagai
‘milik orang lain’. ‘Siapa yang akan mempercayakan kepadamu apa yang
merupakan milikmu sendiri?’ Kekayaan rohani, di sisi lain, yang berhubungan
dengan kehidupan yang akan datang, diumumkan / dinyatakan olehNya
sebagai milik kita sendiri, karena penikmatan darinya adalah kekal).
Tetapi penerapan yang diberikan oleh Edwin Louis Cole terhadap ayat ini
dalam hal 157‐160 betul‐betul kacau balau. Karena terlalu panjang, maka
contoh‐contoh ini akan saya ceritakan secara ringkas dengan kata‐kata
saya sendiri:
a) Dalam contoh tentang orang bernama Stephen King (hal 157‐158) ia
menghurufiahkan kata‐kata ‘harta orang lain’ maupun ‘hartamu sendiri’.
Jadi, keduanya menunjuk pada harta duniawi.
b) Lalu dalam contoh tentang orang bernama Bill (hal 158‐159) ia
menafsirkan ‘setia dalam harta orang lain’ sebagai kesetiaan Bill
terhadap gembalanya, dan ‘hartamu sendiri’ sebagai kesuksesan Bill
sebagai gembala sidang.
c) Lalu dalam kasus seorang pria yang tak disebutkan namanya (hal 159) ia
menafsirkan ‘harta orang lain’ sebagai anak tiri orang tersebut yang ia
perlakukan secara berbeda dengan anak kandungnya sendiri, dan ini
disebut sebagai ‘tidak setia dengan harta orang lain’! Sikap ini
menyebabkan hubungan orang itu dengan dua anak kandungnya sendiri,
yang ia anggap sebagai ‘hartamu sendiri’, menjadi berantakan.
d) Dan dalam kasus seorang pria lain (hal 159‐160), yang bekerja pada
bossnya, keinginannya untuk memiliki bisnis sendiri, dianggap sebagai
‘ketidak‐setiaan terhadap harta orang lain’, dan itu menyebabkan ia
tidak bisa mempunyai bisnis sendiri. Pria itu lalu memutuskan untuk
berusaha menjadi karyawan terbaik bagi bossnya, dan ia yakin bahwa
dengan demikian, ia pasti akan mempunyai bisnis sendiri!
24) “Pendurhakaan bukanlah pekerjaan Iblis seperti anggapan sejumlah orang,
melainkan perbuatan manusia yang tabiatnya lepas dari kendali Roh Kudus”
(‘Menjadi Pria Sejati’, hal 164).
Tanggapan saya:
76
a) Lagi‐lagi ajaran tanpa dasar Alkitab.
b) Sekarang bandingkan kata‐katanya di atas dengan ceritanya di bawah ini.
“Dalam sebuah pertemuan hamba‐hamba Tuhan di New York, saya berbicara
tentang dosa pendurhakaan ini serta sifat dan akibatnya yang mengerikan.
Sewaktu pertemuan itu berakhir, seorang pria datang mendekat, merangkul
saya, lalu menangis sambil berbisik, ‘Saya tidak mengetahuinya.’ Setelah
tenang kembali, ia pun menceritakan rahasianya. ‘Sekitar sepuluh bulan yang
lalu, seorang saudara seiman dari gereja yang biasa saya kunjungi dulu
menelpon saya dan bertanya apakah saya mau bekerja sama dengannya
dalam gereja baru yang dirintisnya.’ ‘Ia adalah seorang wakil gembala sewaktu
saya pertama kali mengenalnya, dan hubungan kami cukuplah akrab, maka
saya pun mengatakan, saya akan datang dan membantu. Sekitar empat bulan
yang lalu saya melihat adanya perubahan dalam diri anak‐anak perempuan
saya dan tiga bulan yang lalu saya merasakan mereka mulai sering
memberontak. Sebelumnya mereka tidak pernah bersikap seperti itu, dan saya
tidak bisa memperkirakan penyebabnya.’ ‘Kemudian, seminggu yang lalu istri
saya mulai menyinggung tentang perceraian, padahal selama ini saya sudah
berusaha semampu saya untuk menjadi suami, ayah, dan anggota gereja yang
baik, tetapi ternyata hidup saya malah hancur berantakan. Hari ini, sewaktu
saya mendengar Anda berbicara tentang pendurhakaan, saya benar‐benar
tertempelak. Gembala yang saya bantu itu sebenarnya merintis jemaatnya
dengan mengumpulkan ‘pecahan’ dari jemaat tempat ia semula menjadi wakil
gembala.’ ‘Waktu itu saya tidak memandangnya sebagai masalah yang penting
karena kejadian seperti itu seringkali kita jumpai. Namun, sekarang saya
menyadari bahwa ia menyimpan roh pendurhakaan sewaktu meninggalkan
gerejanya yang semula itu. Maka, ketika saya membawa keluarga saya ke
dalam jemaat itu, mereka pun terpengaruh oleh rohnya, dan sikap
memberontaknya itu pun merasuk ke dalam hati keluarga saya.’ Setelah saya
menyampaikan kisah pria itu, ada orang lain yang menulis, ‘Saya menulis
kepada Anda karena selama empat tahun yang terasa amat panjang ini saya
telah mencari‐cari jawaban atas suatu persoalan. Pada tahun 1987 saya
berhenti dari tugas penggembalaan saya karena istri dan keluarga saya tidak
tahan lagi. Setelah kami pergi kami mendapati bahwa kami telah membawa
sekelompok orang, beserta dengan wakil gembala mereka yang memisahkan
diri dari jemaat lain.’ ‘Saya akhirnya bersedia menggembalakan mereka,
namun berbagai persoalan mulai muncul di rumah kami. Anak perempuan
saya berpisah dengan suaminya, anak lelaki tertua saya memiliki masalah
dengan istrinya. Kehidupan saya sedemikian merosotnya. Saya lalu
meninggalkan gereja dan pelayanan dengan perasaan gagal dan bertanya77
tanya apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri saya.’ ‘Hari ini ketika saya
mendengar Anda menceritakan tentang pria di New York yang menderita
akibat roh pendurhakaan dalam diri gembala yang diikutinya itu, saya sadar
bahwa saya juga mengalami hal yang sama. Saya telah menghimpun orangorang
yang memberontak dan, bukannya saya berhasil menolong mereka,
justru mereka hampir menghancurkan saya.’ ‘Hari ini saya bertobat,
mengampuni mereka dan wakil gembala yang telah menjerumuskan saya ke
dalam kekacauan ini, dan berdoa bersama istri saya … Sekarang saya tidak
sabar lagi untuk segera melayani anggota keluarga saya yang lain. Terima
kasih.’” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal 167‐169).
Ada 2 hal yang ingin saya soroti:
1. Sekarang ia mengatakan ‘roh pendurhakaan’? Jadi setan ikut campur,
bukan?
2. Tidakkah aneh kalau ayahnya yang bersalah, melakukan pendurhakaan,
dan anak‐anaknya yang mengalami kekacauan dalam rumah tangga
mereka?
Berkenaan dengan kata‐kata Edwin Louis Cole di sini, saya ingin bertanya
kepada para pendukung gerakan pria sejati / maximal, yang
‘memberontak’ terhadap pendeta / gerejanya: anda setuju kata‐kata
Edwin Louis Cole di atas ini atau tidak?
a. Kalau anda tidak setuju, untuk apa anda mengikuti orang yang ajarannya
tidak anda setujui?
b. Kalau anda setuju, maka itu berarti anda punya roh pendurhakaan yang
dikatakan oleh Edwin Louis Cole, bukan? Maukah anda bertobat?
c) Lalu dalam buku ‘Menjadi Pria Sejati’, hal 169, Edwin Louis Cole
mengatakan “Kalau Anda telah menjadi korban pendurhakaan, terlibat di
dalamnya, dan tercemari olehnya, maka dalam nama Allah, usirlah roh itu dari
kehidupan Anda!”.
Lagi‐lagi ada 2 hal yang ingin saya soroti dari kutipan ini:
1. Kalau ia menyuruh untuk mengusir roh itu, maka roh itu pasti menunjuk
kepada setan. Lagi‐lagi bertentangan dengan apa yang ia katakan di atas
bahwa ‘pendurhakaan bukanlah pekerjaan Iblis’.
78
2. Usir dalam nama Allah? Dimana dalam Alkitab kita diajar untuk mengusir
setan dalam nama Allah? Dan nama Allah yang mana? YHWH / Yahweh?
Kita selalu mengusir ‘dalam / demi nama Yesus’ karena Alkitab mengajar
demikian!
Luk 10:17 ‐ “Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan
berkata: ‘Tuhan, juga setan‐setan takluk kepada kami demi namaMu.’”.
Kis 16:18 ‐ “Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus
tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu:
‘Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.’
Seketika itu juga keluarlah roh itu”.
Kis 19:13 ‐ “Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri
itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh
jahat dengan berseru, katanya: ‘Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus
yang diberitakan oleh Paulus.’”.
Catatan: dalam ayat terakhir ini memang yang mempraktekkan hal itu
adalah orang‐orang yang tidak percaya, tetapi mereka melakukan itu
karena mereka meniru Paulus. Jadi, ini menunjukkan bahwa Paulus
memang mempraktekkan pengusiran setan demi nama Yesus.
3. Alkitab hanya mengajar kita mengusir setan yang merasuk seseorang
(Kis 16:18), atau yang memanifestasikan dirinya secara supranatural
(Mat 4:10). Kita tidak pernah diberi otoritas untuk mengusir /
menengking setan yang menggoda kita dengan cara biasa / bukan secara
supranatural. Untuk yang ini apa yang harus kita lakukan? Perhatikan 2
text Alkitab di bawah ini.
Yak 4:7 ‐ “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan
lari dari padamu!”.
1Pet 5:8‐10 ‐ “(8) Sadarlah dan berjaga‐jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan
keliling sama seperti singa yang mengaum‐aum dan mencari orang yang dapat
ditelannya. (9) Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu,
bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang
sama. (10) Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil
kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi,
meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita
seketika lamanya”.
Kedua text di atas tidak menyuruh kita menengking / mengusir setan
pada saat ia menggoda kita dengan cara biasa / bukan secara
supranatural. Karena itu, saya tidak setuju dengan praktek pengusiran
setan pada waktu ia menggoda kita untuk berzinah, marah, mencuri dan
79
sebagainya. Bahkan saya juga tidak setuju praktek mengusir setan dari
ruangan kebaktian, yang banyak dilakukan bahkan oleh orang‐orang
Protestan!
25) “Peganglah kebenaran erat‐erat, bukan sebagai milik Anda, melainkan sebagai
juruselamat, tuan, dan gembala Anda. Kebenaran adalah perisai dan kekuatan
Anda. Kebenaran adalah salah satu ‘perlengkapan senjata Allah’ untuk
melawan ‘bapa segala dusta’. Hanya kebenaran yang dapat mengalahkan
dusta. Kebenaran adalah alat untuk bertahan dan sekaligus menyerang dalam
setiap pertempuran yang harus kita hadapi. Kebenaran membela dirinya
sendiri, dan kebenaran itu kekal. Orang berusaha membunuh Kebenaran
dengan cara menyalibkanNya, namun Kebenaran bangkit kembali pada hari
ketiga, dan Kebenaran itu tetap hidup selamanya!” (‘Menjadi Pria Sejati’, hal
185).
Tanggapan saya:
Kebenaran = juruselamat, tuan, gembala? Ini betul‐betul omongan yang
sangat tolol! Sekalipun Yesus adalah kebenaran (Yoh 14:6), dan Yesus
juga adalah Juruselamat, Tuan / Tuhan, dan Gembala, tetapi kita tidak
bisa mengatakan bahwa Kebenaran adalah Juruselamat, Tuan / Tuhan,
ataupun Gembala!
Lebih‐lebih mengatakan bahwa ‘Orang berusaha membunuh Kebenaran
dengan cara menyalibkanNya, namun Kebenaran bangkit kembali pada hari
ketiga, dan Kebenaran itu tetap hidup selamanya!’.
Mengacau‐balaukan / mencampur‐adukkan ‘Yesus’ dan ‘kebenaran’ jelas
merupakan sesuatu yang salah. Semut itu binatang tetapi kita tidak bisa
mengatakan bahwa binatang itu semut. Demikian juga sekalipun Yesus
adalah kebenaran, kita tidak bisa mengatakan bahwa kebenaran adalah
Yesus.
Kalau kita mau mengikuti pencampur‐adukkan yang dilakukan oleh
Edwin Louis Cole terhadap ‘Yesus’ dan ‘kebenaran’ ini maka bisa muncul
ajaran sebagai berikut: Yesus juga mengatakan bahwa Ia adalah jalan
(Yoh 14:6), dan Ia adalah pintu (Yoh 10:7), dan Ia adalah roti hidup
(Yoh 6:35). Jadi, jalan, pintu dan roti, juga adalah Juruselamat, Tuan /
Tuhan, dan Gembala! Orang juga berusaha membunuh jalan, pintu dan
roti dengan menyalibkannya, namun jalan, pintu dan roti itu bangkit
kembali dan hidup selama‐lamanya! Ini menjadi lelucon yang konyol!


Responses

  1. komentar dari orang yang belum mengenal Allah……..mengenal Allah itu butuh pewahyuan….bukan mengandalkan otak anda yang sangat kecil itu bro

    • Menggunakan kalimat yang kurang sopan sudah menunjukan siapa kita termasuk kapasitas kerja otak kita. Jadi lebih baik berikanlah argumen bantahan yang benar, sistematik terhadap tulisan saya supaya menunjukan bahwa anda berwawasan luas dan berotak cerdas. Tq

    • Terima kasih atas pujian anda yang sangat tajam. Saya berpendapat bahwa anda seorang yang sangat cepat menghakimi orang lain. Anda perlu belajar menerima pendapat orang lain, mendiskusikan ketidak setujuan anda atas tulisan saya dan tidak langsung mengemukakan pendapat hati anda. Saya tidak menegerti maksud anda dengan kalimat mengemal allah butuh pewahyuan. Apakah setiap hari anda menerima wahyu Allah sama seperti penulis penulis Alkitab yang menerima wahyu? Kalau memang demikian, jauh lebih indah jika anda menuliskan wahyu wahyu tersebut dalam sebuah kitab untuk menjadi kitab suci baru bagi kita. Maafkan otak saya terlalu kecil memahami anda apalagi memahami wahyu Allah yang tertulis dalam kitab suci. Otak saya juga terlalu kecil memahami Allah, sejauh saya hanya bisa memahaminya dengan benar melalui kitab suci. GBU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: