Oleh: Faoziduhu | Juni 27, 2011

AKU BEKERJA SEGIAT-GIATNYA BAGI TUHAN


Sunting
AKU BEKERJA SEGIAT-GIATNYA BAGI TUHAN
oleh Faozi Lahagu pada 27 November 2010 jam 13:50

Di manakah kalimat ini muncul dalam Alkitab. Orang yang rajin membaca kitab suci , akan dengan segera mengetahui dimana kalimat seperti itu ditemukan dalam Alkitab. Ya. Pernyataan “aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan” dikatakan oleh nabi Elia. Seorang Nabi yang namanya harum dan besar dalam Perjanjian Lama. Kalau kita membaca sekilas pernyataan Elia ini, seolah-olah Elia membanggakan dirinya yang telah bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan. Apakah perkataan Elia ini hanya sekedar perkatan omong kosong? Tidak. Jika kita membaca catatan tentang kehidupan dan pelayanan nabi Elia yang membentang dari I raja-raja pasal 17 sampai dengan II Raja-raja pasal 2, maka kita bisa simpulkan bahwa pernyataan Elia tersebut bukanlah isapan jempol semata.

Elia adalah seorang nabi yang berjuang sendiri menghadapi gempuran nabi-nabi Palsu dan pemerintah dibawah pemerintahan Ahab di bawah bayang-bayang istrinya Izebel. Elia melayani dan bekerja mati-matian menegakkan nama Tuhan di tengah-tengah umat Tuhan yang sudah dibengkokkan menyembah berhala-berhala asing. Elia melayani Tuhan ditengah-tengah masa krisis Israel yang disebabkan ketegartengkukan bangsa itu. Elia melayani dengan gagah berani menentang nabi Baal dan menentang Ahab raja Israel. Ia berani berbeda dan rela menanggung resiko akibat menentang arus zamannya. Kegigihan nabi Elia selalu disertai oleh Tuhan. Pada zamannya, Tuhan memberkati pelayanan Elia, sehingga pertarungannya melawan musuh-musuhnya disertai dengan tanda-tanda dan muzizat-muzizat yang luar biasa.

Namun ditengah-tengah kegigihan dan sekaligus kebesaran nama Nabi Elia itu, terjadilah suatu peristiwa kontradiktif. Seolah-olah seperti sebuah sinetron. Tiba-tiba, antiklimaks peristiwa terjadi. Elia menjadi begitu takut, nyalinya ciut,bahkan ia meninggalkan tugasnya dengan melarikan diri ke padang gurun dan yang lebih ironis , ia ingin nyawanya dicabut saja. Bayangkan Elia yang pemberani itu menjadi pengecut, seorang yang giat melayani menjadi begitu lemah dan putus asa. Semua disebabkan oleh pernyataan perempuan bernama Izebel. Memang sumpah Izebel sangat ampuh sehingga Elia menjadi begitu takut. Elia tidak kuat menghadapi tantangan dan ancaman seorang wanita bernama Izebel.

Itulah sebabnya ketika Allah menyatakan diriNya di gunung Horeb, Elia curhat kepada Tuhan “aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan.” Jadi ini bukan pernyataan membanggakan diri tapi pernyataan keluhan dihadapan Tuhan. Elia menyadari dirinya berjuang sendiri dalam melayani dan sekarang dirinya terancam akan dihabisi oleh istri raja. Dengan kata lain, Elia sebenarnya hendak mengatakan demikian, “Tuhan Engkau tau bahwa aku sebenarnya bekerja dengan giat bagiMu, namun mengapa aku harus menghadapi tantangan (ancaman) seberat ini?” sebuah pernyataan yang menurut saya sangat manusiawi sekali. Bukankah kitapun sering mengalami apa yang dialami oleh Elia?

Bukankah ketika kita melayani dan bekerja dengan giat bagi Tuhan, tantangan bukan semakin berkurang namun semakin banyak? Kesulitan dan cobaan semakin banyak menghadang? Bukankah ketika kita makin rajin dan tekun melayani masalah semakin banyak menumpuk? Bukankah kalau kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang kelihatan surang setia dan kurang tekun, namun masalahnya tidak sebanyak yang kita alami? Mengapa? Pertanyaan paradox semacam ini banyak menggangu pikiran kita bukan? Elia akhirnya menemukan jawaban yang menekan jiwanya dalam pengembaraan di padang gurun hingga di Horeb. Memang Tuhan tidak memberikan sebuah pernyataan-pernyataan yang membangkitkan semangat, tidak ada muzizat yang dengan cepat membereskan masalah Elia. Namun tindakan Allah kepada Elia di padang gurun dan di Horeb menunjukkan bagaimana Allah menyadarkan dan memulihkan keadaan Elia. Di padang gurun Allah memberi makan kepada Elia, di gunung Horeb, Allah menyatakan diri kepadanya dengan bunyi angin sepoi-sepoi. Kalau kita melihat kisah ini seolah-olah semuanya berjalan alami. Setelah Allah menyatakan diri kepada Elia dan Elia curhat kepada Allah, kemudian Allah memberikan perintah lagi kepadanya supaya ia kembali melayani. Sepertinya tidak ada yang istimewa dalam peristiwa ini bukan?

Namun sebenarnya ada yang luar biasa dibalik kisah yang tampak biasa-biasa saja ini. Pertama, Elia disadarkan bahwa ia sebenarnya tidak sendiri dalammelayani. Ada Tuhan yang menyertai pelayanannya. Kedua, Elia memerlukan peneguhan kembali dari Tuhan akan panggilan dan pelayanannya. Peneguhan itu ia dapatkan dalam perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, bukan dalam hiruk pikuk dan kesibukan pelayanan, namun dalam keheningan, dalam kesendirian, dalam angin sepoi-sepoi. Oleh sebab itu, Elia diijinkan untuk sejenak berhenti dari kesibukan dan berjumpa dengan Allah melalui hubungan komunikasi yang demikian intim dan dekat. Masalah memang tidak diangkat dari hidup Elia. Sama seperti kita juga selalu menghadapi banyak persoalan di dunia ini termasuk dalam pelayanan. Namun Tuhan memberikan kesegaran, kekuatan, perlindungan,penyertaan bahkan pemulihan menghadapi berbagai tekanan dan tantangan hidup, termasuk pelayanan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: