Oleh: Faoziduhu | Juni 24, 2011

ALLAH YANG BEKERJA SECARA PRODUKTIF DAN KREATIF (Kejadian 1:31-2:1-7)


Di sebuah kota bernama Chi hidup seorang bernama Tung kuo Chang yang memiliki sangat banyak cita-cita, diantara cita-citanya itu adalah memiliki 10.000 tael emas. Seorang muridnya, yang mengetahui cita-cita nya itu, meminta agar ia juga mendapat bagian sejumlah uang, sebab dirinya sangat miskin. Tetapi tuang Chan ini dengan tegas menolakn permintaan itu. “enak saja, aku membutuhkan uang itu untuk menyogok agar bisa mendapat jabatan dalam pemerintahan.” Meskipun berkali-kali memohon supaya mendapatkan bagian dari apa yang di cita-citakan itu, tuan Chan tetap saja menolak untuk memberikannya. Muridnya itu menjadi sangat tersinggung dan marah. Ia pun pergi meninggalkan kota Chi. Sebelum berangkat ia berkata kepada gurunya itu “karena saya tidak mendapat bagian dari harta yang tuan cita-citakan itu, saya lebih baik mencarinya sendiri di suatu tempat. Mungkin saya akan menemukan harta itu lebih cepat dari pada tuan.
Saudara, dari anekdot ini kita belajar beberapa hal. Pertama, tentang orang yang punya cita-cita yang besar tetapi hanya sekedar cita-cita. Keinginan dan cita-cita itu hanya sampai pada cita-cita saja. Tidak dilaksanakan atau tidak dikerjakan. Kedua, orang ini dengan temannya sudah bertengkar duluan untuk sesuatu yang belum di dapat atau belum dikerjakan. Ketiga anekdot ini mengajarkan kita tentang pentingnya bertindak, pentingnya bekerja. Bekerja lebih penting ketimbang sekedar bermimpi, bercita-cita atau berkeinginan saja.
Saudara, salah satu yang Tuhan harapkan dari hidup kita selama kita di dunia ini adalah bekerja. Bekerja adalah salah satu bentuk kesaksian kita ditengah-tengah dunia ini. Ketika Paulus berbicara tentang manusia baru atau manusia yang sudah lahir baru dalam Efesus 4:28, Paulus mengatakan “Orang yang mencuri janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan segala sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Di bagian yang lain Firman Tuhan juga berkata “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10) Oleh sebab itu bekerja atau pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan orang Kristen.
Dasar teologis atau dasar ajaran Firman Tuhan yang paling penting dalam bekerja adalah terletak pada Allah sendiri. Dalam nast yang barusan kita baca tadi, menjadi jelas kepada kita, siapakah Allah dan apakah yang dikehendaki oleh Allah dari kehidupan kita sebagai umatNya. Melalui nast ini, kita melihat ada beberapa pelajaran penting tentang Allah.
I. Allah kita adalah Allah yang bekerja (ayat 2-3).
Jika kita membaca pasal 1 dan pasal 2 secara keseluruhan, maka kita akan begitu kagum dengan cara Allah menciptakan pekerjaanNya. Allah menciptakan dunia dan segala isinya adalah dengan FirmanNya. Secara khusus manusia diciptakan dengan cara membentuknya dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam hidungnya (2:7). Proses penciptaan dunia dan segala isinya termasuk manusia adalah disebut sebagai sebuah pekerjaan Allah yang luar biasa. Kata pekerjaanNya diulangi 3 kali dalam ayat 3 dan 4. Dengan demikian menjadi jelas kepada kita tidak hanya bagaimana cara Allah bekerja, tetapi juga melalui nast ini kita mengenal siapakah Allah kita.
Allah kita adalah Allah yang bekerja. Jika dia adalah Allah yang bekerja, maka ini menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang aktif, Allah yang bergerak dan juga Allah yang dinamis. Yang paling penting dari semua itu adalah bahwa jika, Allah kita adalah Allah yang bekerja, maka Ia adalah Allah yang hidup. Ia bukan Allah yang mati. Inilah yang membedakan Allah kita dengan Illah atau berhala lain yang disembah oleh orang diluar umat Tuhan. Illah lain atau berhala lain adalah Illah yang mati. Segala bentuk berhala seperti patung dari kayu, pohon besar, batu besar, gunung, sungai atau apapun berhala-berhala umat lainnya adalah illah yang mati. Illah yang tidak bisa atau tidak mampu melakukan apa-apa. Allah kita adalah Allah yang hidup yang terus bekerja dan berkarya di tengah-tengah segala ciptaanNya.
Jika Allah kita adalah Allah yang bekerja, maka Ia tentunya mengharapkan umatNya juga adalah umat yang bekerja. Ketika Tuhan menempatkan manusia di taman Eden, Tuhan menginginkan manusia tidak diam tetapi mengusahan dan memelihara taman itu. Artinya Allah menginginkan umatNya itu bekerja (Kejadian 2:15)- Intinya adalah bahwa manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, seharusnya juga belajar untuk bekerja di tengah-tengah dunia ini.
Sangat disayangkan hari ini banyak orang yang sudah percaya-sudah Kristen- yang katanya telah dipulihkan dari dosa memiliki pemahaman yang salah tentang bekerja. Bagi sebagian orang Kristen, bekerja adalah duniawi, bekerja itu sia-sia, bekerja itu selalu berkonotasi dengan dosa, bekerja itu lebih rendah nilainya dibandingkan dengan pelayanan di gereja. Karena itu tidak usah bekerja.
Hari ini banyak orang yang keliru menilai, Seolah-olah di mata Tuhan yang lebih berharga adalah menjadi pendeta, penginjil tetapi menjadi pedagang, menjadi guru, petani, nelayan itu tidak berharga dimata Tuhan. Seolah-olah Tuhan hanya meminta pertanggung jawaban dari para rohaniwan saja sedangkan profesi lainnya tidak perlu bertanggung jawab kepada Allah. Ini adalah konsep yang salah bahkan sangat berbahaya sekali. Suatu hari ada orang berkata demikian kepada saya “Pak, enak ya jadi hamba Tuhan. Itu pekerjaan paling baik, paling suci. Itukan pekerjaan akhirat.” Saudara ini salah kaprah sekali. Apakah ketika Allah bekerja menciptakan bumi itu pekerjaan rohani atau bukan? Semua pekerjaan itu sama penting dihadapan Tuhan.
Sangat disayangkan banyak orang Kristen hari ini sering merohanikan kemalasan mereka dengan ayat-ayat Firman Tuhan. Alasannya Tuhan akan segera datang, karena itu tidak usah bekerja. Berdoa dan baca Firman Tuhan saja. Itu sudah cukup. Semuanya akan lenyap dan binasa. Karena itu untuk apa bekerja. Firman Tuhan dengan tegas berkata, bahwa orang yang macam ini wajib dikucilkan dari jemaat (2 Tes 3:14). Oleh sebab itu tidak ada alasan apapun untuk tidak bekerja.
Seoramg sersan berteriak kepada pasukannya. “saya punya pekerjaan yang mudah dan menyenangkan untuk para pemalas. Jadi siapa yang merasa dirinya orang yang laing malas di dunia maju ke depan.” Perintah komandan. Dengan serentak seluruh pasukan maju ke depan, kecuali satu orang. “Kenapa kamu tidak maju ke depan seperti prajurit yang lain, prajurit?’tanya sersan dengan marah. “malas” jawab prajurit itu dengan santai. Apakah anda seorang pekerja atau seorang yang malas?

II. Allah kita adalah Allah yang menyelesaikan pekerjaanNya dengan baik. (ayat 2)
Mari kita melihat sekali lagi dengan teliti ayat yang ke-2. dalam ayat 2 dikatakan bahwa Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dilakukanNya. Tetapi tidak hanya itu pekerjaan yang diselesaikan itu adalah sebuah pekerjaan yang begitu baik. Saudara, kata baik atau pekerjaan Allah yang baik diulangi sebanyak 7 kali. Pada kali yang ke tujuh dikatakan “sungguh amat baik.” Artinya semua yang dikerjakakan Tuhan itu sungguh amat baik. Ini luar biasa. Allah ketika bekerja, Ia memberikan kita sebuah teladan pekerjaan yang baik. Ia tidak hanya menghasilkan sebuah karya yang baik tetapi juga Ia melakukanNya dengan baik. Tetapi lebih tinggi dari itu, segala sesuatu yang baik itu diselesaikan olehNya. Artinya dengan tuntas, Ia mengakhiri pekerjaanNya.
Sdr bagi saya, ayat-ayat ini luar biasa sekali. Saya berkali-kali membaca ayat-ayat ini. Ada sebuah berkat rohani yang tersembunyi bagi saya dan bagi saudara dalam ayat-ayat ini. Jikalau Tuhan bekerja dengan baik dan menghasilkan sebuah pekerjaan yang baik, tentunya Tuhan juga menginginkan kita melakukan hal yang sedemikian. Hari ini banyak orang Kristen yang tidak bisa bekerja dengan baik. Bekerja dengan asal-asalan, bekerja tidak dengan sungguh-sungguh. Yang penting bekerja. Yang penting saya dapat gaji, persoalan bekerjanya baik atau tidak, itu persoalan lain. Saya mau Tanya hari, ini berapa jam saudara tidur dalam 24 jam? 6-7 jam tiap hari? Lalu ketika saudara tidak tidur apa yang saudara kerjakan atau lakukan? Apakah saudara buang-buang waktu? Saya dulu waktu masih kecil sering melihat banyak bapak-bapak yang suka duduk di warung kopi ngobrol ngalor ngidul, bahas porkas. Tetapi istrinya bekerja banting tulang cari kayu, pulang rumah jaga anak lagi. Tetapi hari ini saya banyak lihat suami-suami bekerja keras, sangat keras tetapi istri ngapain? Nonton sinetron. Hari ini banyak orang Kristen banyak yang tidak bisa menghasilkan sebuah pekerjaan yang baik. Kualitas perkerjaan yang dihasilkan sangat buruk, tidak bermutu. Tentunya ini tidak bisa menjadi keskasian bagi orang lain.
Pada suatu hari ada dua orang ibu ketemu dan mereka ngobrol “apa pekerjaan suamimu?” Tanya temannya itu. “oh, ia seorang ahli.” Jawab ibu itu. “maksudnya, ahli apa?” Tanya temannya penasaran. “wah sulit ya menjelaskannya. Pokoknya kalau wanita yang mengerjakan pekerjaan itu, biasanya disebut “ngomel” Yah.. pekerjaan suami saya ngomel-ngomel. Sdr, ini bukan sebuah pekerjaan apalagi pekerjaan yang baik. Tuhan ingin kita memiliki kualitas hidup yang baik. Tidak hanya berkualitas dalam karakter kita saja, tetapi juga di dalam kita bekerja. Sebab bekerja adalah sebuah tugas yang mulia yang Tuhan percayakan kepada kita. Sudahkah kita bekerja seperti Allah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: