Oleh: Faoziduhu | Juni 22, 2011

LABORA DAN MENTALITAS KERJA KITA


Saya sangat senang menyanyikan lagu yang berjudul “beri terbaikmu.” Tidak hanya karena melodi dan iramanya yang menarik, tetapi juga saya sangat suka dengan syairnya. Coba lihat beberapa kalimat dalam lagu ini
Dengar seruanNya bri terbaikmu rendah atau tinggi Ia melihat
Kerja semampumu tak menuntut tak perlu dipuji Dia yang tahu
Semua kerja diberkatiNya, Dia nau kita berhati sungguh
Meski yang kau mampu tak berarti melayanilah Dia sekuatmu.
Lagu ini, sepintas seperti lagu persembahan. Apalagi kalau melihat judulnya. Namun sebenarnya lagu ini berbicara lebih luas dari sekedar memberi persembahan. Lagu ini mendorong kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan melalui pekerjaan kita dan juga pelayanan kita. Lagu yang dikarang oleh Grant C Tullar ini menegaskan bahwa kita dipanggil untuk bekerja, bukan asal bekerja. Bekerja dengan mentalitas sedemikian pasti disertai oleh Tuhan.
Berbicara tentang berkat Tuhan dan semangat dalam bekerja, tidak dapat dipisahkan dari hubungan antara yang rohaniah dan yang jasmaniah. Hubungan antara spiritualitas dan juga etos kerja. Dalam hal ini kita mungkin ingat dengan sebuah semboyan yang populer dalam bahasa latin “Ora et Labora.” Semboyan ini sudah banyak dikenal orang, namun sayang banyak yang tidak mengerti dengan dalam apakah makna yang terkandung didalam istilah itu. Orang hanya tahu bahwa Ora et Labora artinya berdoa dan bekerja. Itu sudah cukup.
Namun Ora et Labora sebenarnya tidak hanya kita pahami sekedar berdoa dan bekerja. Tidak, tidak hanya itu. Sebenarnya labora bukan Cuma berarti bekerja. Namun labora sebenarnya berarti bekerja dengan sangat keras. Dari kata labora ini muncullah istilah laborious yang artinya rajin atau menyediakan banyak waktu.
Di dalam Alkitab, bekerja keras merupakan sesuatu yang sangat kontras atau bertolak belakang dari kemalasan. Kemalasan bukan sekedar sikap atau sifat jelek manusia tetapi Alkitab menganggap bahwa kemalasan adalah kejahatan dan dosa. Oleh sebab itu orang yang malas perlu bertobat dan menjadi orang yang senang bekerja keras. Inilah yang disebut dengan kebajikan. Di dalam Amsal 6:9-10 dikatakan ”Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk berbaring…”
Pada waktu gereja protestan lahir di abad pertengahan, boleh dikatakan itulah awal dari kebangkitan semangat dan etos kerja yang sangat tinggi. Mengapa bisa demikian? Pertama, saat itu orang protestan telah menghidupkan sebuah kebiasaan membaca Alkitab. Kebiasaan yang baik ini kemudian membawa dampak pada semngat kerja dan etos kerja orang protestan. Bekerja keras bagi mereka adalah merupakan kebajikan yang Alkitabiah. Kedua, situasi keadaan waktu itu, dimana mereka sangat minoritas, sehingga mereka terdesak hidupnya. Adakalanya mereka harus mengungsi, menyembunyikan diri atau bertahan hidup. Dalam situasi demikian, muncullah mentalitas kerja keras, ulet dan hemat.
Seperti juga yang umum kita ketahui, bahwa orang yang berada dalam keadaan yang sulit, susah dan terjepit bisa melahirkan dua kemungkinan mentalitas hidup. Yang pertama bersifat negatif. Misalnya kehilangan pengharapan, sering nekad dan menghalalkan segala cara untuk hidup dan bahkan ada juga yang menjadi bertambah malas dan tidak bisa berhemat. Kedua, kesulitan dan kesusahan hidup dapat memunculkan sikap positif yakni mentalitas kuat, kerja keras, ulet dan hemat. Dengan diterangi oleh Firman Tuhan, orang protestan dalam kesulitan mereka melahirkan sebuah gaya hidup dan mentalitas yang suka bekerja keras.
Pengaruh Firman Tuhan terhadap mentalitas kerja keras tersebut dibuktikan oleh seorang teolog sekaligus ahli sejarah dan ahli hukum dagang bernama Max Weber dalam bukunya yang terkenal berjudul ”Die Protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus.” Max Weber menjelaskan bahwa mentalitas kerja keras yang ditunjukkan oleh negara-negara seperti jerman, Inggris dan Amerika serikat adalah merupakan ciri dari ajaran gereja Protestan yang memang mayoritas di negara-negara tersebut. Akibatnya, negara-negara tersebut muncul sebagai tiga negara maju pada abad yang lampau. Bagi Weber, ajaran Protestan telah menimbulkan dampak pada perilaku kerja. Perlu diketahui bahwa orang yang pertama kali mempopulerkan dan menterjemahkan buku Max Weber ini di Indonesia adalah Bung Hatta.
Mentalitas kerja keras dikalangan orang protestan memunculkan beberapa hal. Pertama, inovasi kerja. Mereka bekerja tidak lagi merupakan bagian atau tunduk pada rutinitas kerja, tetapi merupakan bagian dari kreativitas, terus berinovasi dan melakukan pembaharuan demi pembaharuan dalam kerja. Kedua, Efisiensi dalam penggunaan waktu. Mencapai hasil yang optimal dalam waktu yang minimal. Dan inilah yang kita bisa lihat dalam pengaturan jam-jam kerja di negera-negera maju yang lebih memperhatikan kualitas kerja dalam jam-jam yang terbatas atau minimal. Ketiga, Spesialisasi. Orang tidak bisa menjadi ahli untuk semua bidang pekerjaan. Dia hanya menjadi ahli dalam satu atau bidang tertentu saja dan tidak untuk semuanya. Meskipun ahli dalam satu atau dua bidang, tetapi spesialisasi keahlian ini menghasilkan sebuah mutu kerja yang sangat tinggi. Spesialisasi membuat orang lebih terfokus dan bisa mencurahkan perhatian penuh dibidang kerjanya. Ada satu istilah yang dipakai untuk spesialisasi ini yakni Non mutla, sed multum yang artinya bukan yang banyak itu berarti baik, tetapi yang baik itu berarti banyak.
Bagaimanakah dengan mentalitas kerja kita hari ini? Apakah jiwa dan semangat protestantisme itu masih membara dalam hidup kita sehingga kita menjadi pekerja yang keras, bukan sembarang pekerja dan bukan pula sembarang bekerja? Adakah kita menjadi berkat dilingkungan kita bekerja? Adakah kita bekerja dengan motivasi yang sempit? Atau kita bekerja dengan motivasi yang benar? Adakah kesulitan kerja yang kita hadapi membawa nampak negatif ataukah justru positif?
Adakah kita bekerja dengan kreatif dan berinovasi? Atau pikiran dan jiwa kita terikat dengan rutinitas kerja yang itu-itu saja, sehingga yang kita hasilkan dari pekerjaan kita belum maksimal? Entah itu kita sebagai pimpinan ataupun kita sebagai bawahan. Adakah kita telah memaksimalkan waktu yang kita miliki dengan kualitas kerja yang memadai? Ataukah lebih banyak waktu kerja tetapi dengan kualitas kerja yang sangat minim? Entah itu dengan enam hari kerja atau lima hari kerja bahkan empat hari kerja sekalipun. Entah itu dengan delapan jam atau sembilan jam atau sepuluh jam kerja sekalipun. Adakah jam-jam itu terisi dengan kualitas kerja yang menghasilkan sesuatu yang maksimal? Memang perlu pengaturan, sistem dan juga motivasi kerja, disamping perlunya pendidikan dan ketrampilan yang memadai dari seorang pekerja, sehingga bisa bekerja berkualitas dengan waktu yang minimal.
Adakah kita juga bekerja dengan dengan spesialisasi kerja yang teruji dan mumpuni? Atau bekerja dengan serampangan dan tidak fokus? Memang sekarang ini, agak sulit kalau kita hanya mengerjakan satu bidang kerja saja. Disamping persaingan usaha dan kerja yang keras tetapi juga tuntutan hidup yang semakin besar, kadangkala banyak orang tidak bisa spesial untuk suatu bidang kerja. Walaupun demikian, prinsip spesialisasi tidak boleh kita abaikan. Bolehlah kita melakukan pekerjaan lain sebagai ”sampingan” namun tidak boleh mengabaikan pekerjaan spesialisasi kita. Kalaupun kita mengejakan pekerjaan ”sampingan” diluar spesialisasi kerja kita, namun saya menganjurkan supaya kita lebih berhati-hati. Libatkanlah orang lain yang telah memiliki pendidikan, ketrampilan dan pengalaman dibidang pekerjaan ”sampingan” yang kita geluti. Namun saya pikir kalau toh kita tetap konsisten dengan spesialisasi kerja kita, namun kalau di ”bumbui” dengan inovasi, kreativitas dan etos kerja yang bermutu, saya rasa hasilnya mungkin jauh lebih besar dari pada yang kita pernah bayangkan.

bekerja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: