Oleh: Faoziduhu | Juni 21, 2011

KRISTUS DAN PEKERJAAN


Bagaimanakah hubungan antara Kristus dan Pekerjaan? Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya bukan? Walaupun belum pernah kita pikirkan namun, sebenarnya kita sudah memiliki jawaban-jawaban berupa konsep-konsep tersendiri tentang hubungan antara Kristus dengan Pekerjaan. Jawaban atau konsep semacam ini, sangat mempengaruhi kita didalam kita bekerja, entah di dalam cara kita bekerja maupun hasil-hasil yang kita dapatkan di dalam pekerjaan. Dari uraian saya berikutnya saudara akan lebih memahami maksud saya ini.
Untuk dapat menjelaskan hubungan antara Kristus dan Pekerjaan, saya akan memakai pendekatan yang dipakai oleh Richard Niebuhr. Richard Niebuhr adalah seorang pemikir di era 70-an yang luar biasa yang pernah mencoba memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang selama berabad-abad di perdebatkan oleh orang Kristen tentang hubungan antara Kristus dan Kebudayaan. Buku yang berjudul Christ and Culture tersebut terbit pada tahun 1951 dan menjadi buku yang begitu populer di masyarakat dan dilingkungan akademisi. Pendekatan Neigbhour inilah yang kemudian sering dipakai di dalam usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti halnya juga hubungan antara kristus dan pekerjaan.
Namun sebelum kita membahas lebih jauh, saya akan menjelaskan apa yang Niebuhr paparkan dalam bukunya tentang hubungan Kristus dan Kebudayaan. Saya mengutip dua buku penting sebagai sumber. Pertama tulisan Niebuhr sendiri dan kedua bukunya Bapak Emmanuel Gerrit Singgih. Sekitar tahun 60-an orang kristen mulai mengevaluasi kembali warisan kebudayaan dan juga warisan iman yang mereka miliki. Bagaimanakah hubungan antara Kristus dengan kebudayaan atau bagaimanakah hubungan antara iman kristen dengan kebudayaan. Pandangan Niebuhr selanjutnya membagi sikap orang kristen terhadap kebudayaan menjadi lima sikap.
Sikap yang pertama adalah menolak kebudayaan. Iman kristen atau kristus bertentangan dengan kebudayaan. Kebudayaan berasal dari bawah, dari dunia dan bahkan dari setan. Sedangkan iman kristen itu berasal dari sorga. Bahkan berasal dari Tuhan. Pandangan ini sangat mencela kebudayaan dan menganggap kebudayaan adalah buatan setan dan harus ditinggalkan. Pandangan inilah yang juga dipakai oleh sebagian misionaris barat ketika memberitakan injil kepada suku-suku dengan kebudayaan yang primitif. Bagi para misionaris, begitu orang-orang suku menjadi Kristen, mereka harus meninggalkan kebudayaan mereka yang lama, sebab kebudayaan mereka adalah buatan setan dan kemudian mereka beralih kepada iman dalam kristus.
Perubahan, peralihan atau lebih tepat penanggalan kebudayaan lama ini harus ditandai dengan tata cara dan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Kebiasaan hidup atau gaya hidup secara iman Kristen yang baru itu memakai kebiasaan orang Eropa. Misalnya, kalau dulu orang memakai baju adat atau simbol-simbol adat, maka itu dianggap buatan setan dan harus ditinggalkan. Kalau dulu orang suku mengadakan pesta adat atau festifal kebudayaan, maka itu harus ditinggalkan sebab itu kafir dan haram hukumnya. Demikian juga denga para pemimpin rohaninya. Seorang pendeta dari suku tertentu, kalau berkhotbah tidak boleh pake baju adat sukunya, sebab itu dianggap kafir. Tetapi pendeta tersebut sekarang harus memakai baju hitam atau pake jas dan dasi kalau khotbah. Ini baru iman kristen. Jadi, bagi sebagian misionaris barat, kebudayaan setempat adalah buatan iblis, sementara kebudayaan barat adalah buatan Tuhan. Pandangan yang menentang kebudayaan ini oleh pak Singgih disebut pandangan radikal.
Pandangan kedua adalah bersikap menerima kebudayaan. Atau bersikap positif terhadap kebudayaan. Menurut pandangan ini, tidak ada pertentangan antara kristus atau iman dengan kebudayaan. Kebudayaan dihargai, dijunjung tinggi bahkan juga kebudayaan diterima dalam kekristenan. Menurut pandangan ini, kristus bukan hanya mesias yang dijanjikan tetapi juga mesias dari janji atau harapan yang da di dalam masyarakat. Pandangan semacam ini telah ada sejak zaman Bapa gereja seperti Clemens hingga zaman Albrecht Ritschl di jerman pada abad-19. pandangan kedua ini sering disebut pandangan akomodatif.
Pandangan ketiga adalah sikap yang beranggapan bahwa iman maupun kebudayaan yang keduanya diterima dan seharusnya saling mengisi. Ini disebut pandangan sintetik. Menurut pandangan ini manusia mempunyai kodratnya sebagai manusia. Dalam rangka kodratnya ini manusia membangun dan memperkembangkan budayanya termasuk adat istiadatnya. Tetapi, disamping itu manusia mengenal juga hal yang adikodrati. Iman membawa hal yang adikodrati untuk melengkapi dan menyempurnakan apa yang adikodrati. Iman mengatasi budaya, tetapi iman tidak bisa menghapus budaya, tetapi budaya diintegrasikan kedalam iman.
Pandangan keempat yang disebut pandangan dualistik adalah sebuah pandangan yang mengakui bahwa manusia hidup di dua dunia. Seperti binatang amfibi yang bisa hidup di air dan bisa hidup di darat. Dunia yang pertama adalah dunia Kerajaan Allah, dunia iman atau dunia kristus. Sedangkan dunia yang kedua adalah dunia masyarakat, dunia kebudayaan. Orang kristen biasanya bisa hidup di dua dunia yang berbeda ini. Orang kristen adalah warga kerajaan Allah yang beriman sekaligus juga warga masyarakat yang berbudaya. Namun dua dunia ini berbeda sama sekali dan tidak bisa terkait satu sama lain. Pandangan ini kemudian mempengaruhi sikap hidup sebagian orang. Misalnya kalau di gereja dia begitu baik, santun dan memenuhi semua tuntutan hukum Tuhan, tetapi ketika dia kembali dalam masyarakat dengan budaya termasuk kebiasaannya, maka ia akan bersikap berbeda sama sekali. Ia menjadi orang yang jahat dan bengis kepada orang lain.
Pandangan terakhir disebut pandangan transformatif. Pandangan ini beranggapan bahwa kebudayaan sudah tercemari oleh dosa. Oleh sebab itu, kebudayaan perlu dicerahi atau diterangi oleh Firman Tuhan. Meskipun banyak kebudayaan lama yang tetap dipertahankan, tetapi kebudayaan semacam itu telah diterangi oleh Iman kristen. Sehingga kebudayaan itu tetap bertahan. Kebudayaan menurut pandangan ini harus ditrasformasi, diseleksi dan disaring dari sudut pandangan iman. Iman harus menjadi warna atau nafas dari kebudayaan. Salah satu contoh sikap transformatif adalah perayaan imlek. Bagi pandangan radikal, imlek adalah sebuah perayaan yang dilarang di dalam gereja dan tidak boleh dirayakan oleh orang kristen, sebab perayaan semacam itu kafir dan dianggap berasal dari setan. Sedangkan pandangan transformatif bersikap lain. Pandangan ini pertama-tama melihat perayaan ini dari sudut pandangan Iman kristen, mengkritisinya dan melakukan sebuah transforamasi di dalamnya, sehingga muncullah sebuah perayaan ”imlek ala kristiani.” kebudayaan tetap dipertahankan tetapi dengan nilai-nilai yang baru. Baju, warna dan berbagai simbol-simbol yang lama tetap dipertahankan tetapi dengan makna atau dengan maksud yang baru.
Pandangan transformatif berbeda dengan pandangan akomodatif. Pandangan akomodatif itu menerima ”mentah-mentah” kebudayaan. Tetapi pandangan Transformatif melakukan sebuah pengujian dan sebuah transformasi nilai atau makna sehingga warisan budaya tetap dipertahankan tetapi dengan isi atau nilai iman kristen. Akibatnya, orang-orang kristen baru dari suku tertentu tidak akan terasing dari kebudayaannya, dunianya dan masyarakatnya yang lama. Hal yang sama juga kita bisa lihat misalnya dalam kebudayaan Jawa. Nama Tuhan memakai kata gusti. Kata gusti tetap dipertahankan tetapi dengan makna atau nilai yang baru. Dahulu gusti ditunjukkan kepada raja yang dianggap sebagai titisan para dewa tetapi sekarang gusti adalah sebuah nama untuk Tuhan.
Bertolak dari pendekatan Niebuhr ini kemudian saya mengajak kita melihat bagaimana hubungan antara kristus atau Iman kristen dengan Pekerjaan. Semoga uraian ini akan memperluas wawasan dan sekligus memperdalam pemahaman kita tentang ketegangan hubungan antara iman kristen dan pekerjaan. Sikap pertama adalah bahwa iman Kristen menolak pekerjaan. Sikap seperti ini dilatar belakangi oleh sebuah pandangan bahwa pekerjaan adalah akibat dari dosa. Pekerjaan dianggap sebagai sebuah hukuman yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Ayat yang sering dipakai untuk mendukung pandangan ini adalah Kejadian 3:17-19. dalam ayat itu Tuhan menghukum Adam yang telah jatuh dalam dosa dan juga Tuhan mengutuk tanah karena dosa manusia itu. Adam akan bekerja dengan keras ditanah yang dikutuk Tuhan untuk mencukupi hidupnya dan keluarganya. Jadi bekerja adalah akibat dari dosa bekerja adalah sebuah hukuman dari Tuhan.
Pandangan ini semakin dikuatkan dengan pernyataan Alkitab dalam kejadian 3:23. Bahwa sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia diusir dari taman Eden supaya manusia itu dapat mengusahakan tanah darimana ia diambil. Sekali lagi ayat ini seolah-olah menunjukkan bahwa pekerjaan adalah akibat dari pelanggaran manusia terhadap perintah Allah. Di taman Eden manusia sebenarnya tidak perlu bekerja. Segala sesuatu telah disediakan oleh Allah. Manusia tinggal menikmati apa yang ada di taman itu. Manusia Cuma makan, tidur dan melayani Allah. Tetapi setelah itu mereka diusir keluar dari taman itu untuk bekerja.
Namun apakah pandangan ini bisa dipertanggung jawabkan secara Alkitabiah? Ternyata tidak. Bahkan pandangan ini menyesatkan dan berbahaya. Kalau kita membaca Alkitab secara keseluruhan dan dengan teliti, maka kita menemukan bahwa perintah bekerja sudah diberikan oleh Allah jauh sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ada banyak bukti-bukti Alkitab yang menjelaskan hal ini. Pertama, Kejadian 1:27. Dalam ayat itu dijelaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan teladan Allah supaya mereka berkuasa atas segala ciptaan Allah. Perhatikan ayat ini baik-baik. Manusia diciptakan menurut gambar dan teladan Allah. Allah adalah pribadi yang bekerja dan hal ini terlihat dalam pekerjaanNya mencipta dunia, menebus ciptaaNya dan memelihara ciptaanNya. Karena itu manusia sebagai peta dan teladan Allah seharusnya juga adalah mahluk yang bekerja seperti Allah. Inilah yang disebut dengan kodrat manusia.
Jika manusia tidak bekerja maka ia menyangkali kodratnya yang mulia sebagai peta dan teladan Allah. Ia tidak ada bedanya dengan mahluk lain yang tidak segambar dengan Allah. Perhatikan kembali ayat ini. Didalamnya terkandung sebuah maksud penciptaan, yakni supaya manusia berkuasa atas segala ciptaan. Berkuasa disini tidak hanya mengandung hak tetapi juga kewajiban. Manusia berhak mengelola alam dan hal itu hanya bisa dimungkinkan ketika manusia melakukan kewajibannya dengan bekerja di alam itu sendiri.
Kedua, kejadian 1:28. Ayat 28 ini berisi sebuah perintah, sebuah mandat kepada manusia ciptaan Allah. Perhatikan ada beberapa kata penting di ayat tersebut. Taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dan seterusnya. Perhatikan, ini adalah sebuah perintah penting kepada manusia. Kalau kita membaca Matius 28:19-20, disana Tuhan memberikan amanat agung untuk memberitakan Injil. Maka dalam PL kita juga menemukan sebuah amanat yang tidak boleh diabaikan, yaitu untuk menaklukkan dan menguasai segala ciptaan. Permasalahannya, bagaimana kita bisa melakukan hal itu jika kita pasif dan diam-diam saja. Mustahil. Oleh sebab itu manusia harus bekerja supaya amanat yang mulia ini dapat terwujud.
Ketiga, Kejadian 2:15. dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia ditempatkan oleh Tuhan untuk memelihara dan mengusahakan taman itu. Memelihara dan mengusahakan berarti bekerja. Mengusahakan supaya tanaman-tanaman di taman itu berkembang dengan cara menabur benih, atau dengan membajak supaya tanaman berkembang dengan baik. Memelihara supaya tanaman-tanaman dalam taman itu bertumbuh dengan sehat. Sama persis dengan pekerjaan seorang petani atau pekerja di kebun yang sering kita lihat hari ini. Tidak ada bedanya. Ayat ini bukan sebuah perumpamaan, bukan kiasan juga bukan dongeng. Tetapi benar-benar terjadi. Perintah yang rill dalam dunia yang nyata bukan khayalan atau mimpi. Eden bukan sebuah kamuflase tetapi sebuah tempat yang benar-benar ada dan di dalamnya manusia bekerja. Jadi tidak benar pandangan bahwa di taman eden manusia tidak bekerja. Manusia Cuma makan, tidur dan senang-senang. Itu pandangan sesat. Manusia diperintahkan bekerja ditaman eden. Lebih penting lagi manusia sudah mendapat mandat bekerja sebelum kisah kejadian 3 yakni catatan tentang manusia yang jatuh dalam dosa. Sekali lagi bekerja bukan upah dosa, bukan akibat dosa, tetapi amanat yang mulia dari Allah untuk semua manusia.
Sikap yang menolak pekerjaan tidak hanya dilatar belakangi oleh pemahaman bahwa pekerjaan adalah akibat kejatuhan manusia dalam dosa, tetapi juga bahwa pekerjaan itu sendiri adalah bersifat duniawi. Karena bersifat duniawi, maka pekerjaan berasal dari setan dari iblis. Walaupun tidak ada ayat-ayat yang mendukung pandangan ini, namun tetap ayat-ayat yang saya sebutkan diatas tadi dijadikan referensi. Bahwa karena bekerja adalah akibat dosa, maka sebenarnya segala sesuatu yang berkaitan dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa dianggap sebagai dosa itu sendiri. Jadi bekerja adalah dosa. Itu duniawi dan harus dienyahkan dari hidup orang beriman.
Pandangan yang menolak pekerjaan juga dilatar belakangi pemahaman bahwa pekerjaan kita di dunia ini adalah fana. Semua akan berakhir sia-sia (Pengkhotbah 4:7-14). Segala sesuatu akan binasa (Yohanes 6:27). Pandangan ini semakin diperkuat dengan doktrin atau pengajaran tentang akhir zaman. Bahwa Tuhan akan segera datang. Kedatangan Tuhan seperti pencuri, karena itu kita wajib berjaga-jaga terus menerus. Oleh karena itu orang beriman tidak perlu atau tidak boleh berkerja. Untuk apa bekerja, sebentar lagi Tuhan akan datang dan segalanya akan binasa. Ini adalah sebuah pandangan klasik dan telah muncul pada zaman gereja mula-mula. Sebagian orang di Tesalonika beranggapan bahwa Tuhan akan segera datang dan segala sesuatu akhirnya akan binasa (1 Tesalonika 4:13-18; 5 bandingkan 2 Tesalonika 3). Karena itu mereka men-tabukan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan. Pekerjaan dianggap berhubungan dengan kekayaan dan karena kekayaan akan binasa, maka pekerjaanpun akan binasa. Karena itu orang percaya haram hukumnya kalau bekerja.
Sebenarnya pandangan sebagian jemaat di Tesalonika, mewakili pandangan jemaat kristen pada waktu itu dan juga pada masa kini, yang keliru memahami maksud Alkitab sebenarnya tentang kefanaan, kesia-siaan dan juga doktrin kedatangan Tuhan kembali. Alkitab memang menegaskan bahwa dunia dan segala isinya yang tercemar oleh dosa akan binasa. Tidak ada yang bernilai kekal dalam dunia ini, baik harta, kedudukan maupun pekerjaan kita, kecuali Firman Allah. Segala sesuatu memang berakhir dengan sia-sia. Alkitab juga menegaskan bahwa kedatangan Tuhan akan segera, dan karena itu kita perlu mawas diri dan berjaga-jaga dalam iman. Tetapi ayat-ayat ini tidak bermaksud mengajarkan kita untuk benci pekerjaan, menjauhi atau menolak pekerjaan. Paulus kembali ”memarahi” jemaat Tealonika yang mensalah tafsirkan ajaran akhir zaman. Paulus bahkan melarang makan orang-orang yang tidak bekerja. Orang Kristen dipanggil untuk bekerja. Panggilan ini tidak hanya di perdengarkan dalam PL tetapi juga di dalam PB. Ada banyak bukti-bukti ayat yang menjelaskan hal ini. Misalnya Kis 20:35, Filipi 1:22; 1 tes 2:9; Ef 4:28, 1 Kor 3:13.
Orang yang menganut sikap pertama, yakni menolak pekerjaan tidak hanya kita temukan dalam zaman PB, zaman gereja mula-mula tetapi kita juga bisa temukan dalam diri orang Kristen hari ini. Karena mereka menolak pekerjaan, maka mereka memilih untuk menarik diri dari lingkungan masyarakat, menyendiri, beraskese, sebagian memilih melakukan aktifitas-aktifitas meditasi dan ritual-ritual keagamaan. Saya tidak katakan bahwa semua orang yang bertapa atau beraskese, menjauhi lingkungan masyarakat punya pandangan benci dengan pekerjaan. Saya cukup salut dan kagum dengan para rahib atau romo-romo di pertapaan tertentu. Mereka tidak hanya membangun spiritualitas diri mereka dengan umat yang digembalakan tetapi mereka juga bekerja. Coba lihat di tempat pertapaan para rahib pasti ada perkebunan, peternakan yang semuanya dikerjaklan oleh para rahib atau romo.
Bagaimana dengan mereka yang disebut rohaniwan. Setiap orang yang terpanggil secara khusus di bidang kerohanian juga disebut sebuah pekerjaan. Jadi para rohaniwan itu bukan pengangguran. Mereka juga bekerja secara khusus dibidang mereka. Mengajar, mempersiapkan pengajaran, mengawasi pengajaran, menggembalakan domba-domba Allah dan juga mendidik jemaat dalam kebenaran. Jadi rohaniwan tidak anti dengan pekerjaan sebab mereka sendiri adalah seorang pekerja. Walaupun sebagian rohaniwan yang keliru memahami Alkitab mengajarkan jemaatnya supaya membenci pekerjaan yang dianggap berasal dari setan.
Yang ironis adalah orang yang menolak atau benci dengan pekerjaan, justru hidup dari hasil pekerjaan orang lain. Mereka bergantung kepada orang lain. Aneh memang. Orang yang benci pekerjaan membuka tangan untuk menerima bantuan atau pertolongan dari orang yang berkerja. Meskipun mereka menganggap bahwa bekerja adalah dosa dan harus dijauhi. Seharusnya mereka konsisten dengan sikapnya. Jika menolak bekerja mereka juga seharusnya menolak pemberian dari hasil pekerjaan orang lain. Mengapa mereka bisa menolak pekerjaan disatu pihak tetapi dipihak yang lain menerima hasil-hasil pekerjaan orang lain?. Paling tidak ada beberapa alasan. Pertama, mereka beranggapan bahwa yang penting mereka tidak bekerja. Orang lain yang bekerja. Jadi orang lain yang berdosa karena bekerja sedangkan mereka tidak. Kedua, mereka beranggapan bahwa menerima pemberian orang lain yang merupakan hasil sebuah pekerjaan adalah bukti pemeriharaan Allah atas hidup mereka. Itulah muzizat. Ketiga, mereka berpikir bahwa kalau mereka tidak menerima pemberian orang lain sebagai hasil sebuah pekerjaan, mereka tidak bisa hidup.
Sekarang kita masuk dalam sikap atau pandangan yang kedua tentang hubungan antara Kristus dan pekerjaan. Atau dengan kata lain, mari kita membahas pandangan sebagian orang Kristen yang lain lagi tentang pekerjaan. Bagimana cara mereka menghubungkan antara iman kristen dengan pekerjaan. Nah.. sebelum saya lebih jauh menjelaskan pandangan ini, saya akan menguraikan lebih dahulu filosofi atau kerangka berpikir apa yang melatar belakangi sikap atau pandangan yang kedua ini.
Pada abad ke-18, muncullah sebuah paham baru atau filosofi baru yang sangat mempengaruhi dunia pada zaman itu bahkan sampai pada masa kini. Paham ini disebut liberalisme atau juga disebut modernisme. Modernisme atau liberalisme merupakan kelanjutan terhadap paham rasionalisme yang telah lebih dahulu berkembang dan menguasai cara berpikir, gaya hidup bahkan juga keagamaan manusia pada masa itu. Setiap zaman memang selalu memunculkan sebuah paham-paham atau isme-isme baru yang merupakan kounter (perlawanan) terhadap paham-paham yang berkembang sebelumnya. .
Paham liberalisme ini dikembangkan oleh tokoh bernama Friedrich Schleiermacher (1768-1834) yang juga sering disebut sebagai bapak liberalisme. Paham liberalisme adalah sebuah fiolosofi yang mencoba menfasirkan ulang dan juga mengubah iman Kristen dengan menggunakan asumsi-asumsi yang tidak Alkitabiah yang ditarik dari dunia sekuler. Sebagai contoh, dalam paham ini Yesus ditafsirkan sebagai manusia biasa atau seseorang yang memiliki kesadaran ilahi yang tertinggi dan dipanggil untuk menjadi contoh yang baik bagi semua orang Kristen. Dalam paham liberalisme, Yesus bukan Tuhan. Sebab Tuhan secara akali tidak mungkin menjadi manusia. Paham liberalisme juga menolak Alkitab sebagai Firman Allah. Alkitab hanyalah sebuah produk pengalaman religius bangsa Israel dan orang kristen mula-mula semata.
Paham liberalisme ini kemudian menafsirkan ulang seluruh kebenaran atau ajaran Alkitab dan disesuaikan dengan rasionalitas manusia dan juga penafsiran subyektif manusia. Kita tidak bisa membahas hal ini secara keseluruhan, karena kalau dibahas semuanya, maka tidak akan cukup satu buku untuk menguraikannya. Kita akan membahas salah satu bagian saja yang berkaitan dengan judul artikel ini yakni tentang pekerjaan. Nah ada satu kata kunci yang seringakali dipakai sebagai dasar teologis bagi kaum liberalis untuk mendukung pandangan mereka tentang pekerjaan, yaitu kata ibadah. Menurut paham liberalisme, ibadahku adalah pekerjaanku. Paham ini didasarkan kepada ayat Firman Tuhan dalam Roma 12:1 dan Yakobus 1:27. Dalam kedua ayat itu kita menemukan bahwa Paulus dan Yakobus mendefenisikan ibadah itu sebagai tubuh kita yang tidak bercacat cela dalam arti rohani, cara hidup kita yang berkenan kepada Allah dan tindakan positif kita sehari-hari terhadap orang lain. Dalam hal ini Paulus dan Yakobus memiliki pandangan yang sama bahwa ibadah itu merupakan rangkaian dari keseluruhan hidup kita.
Oleh sebab itu paham liberalisme mencoba menafsirkan kedua ayat penting ini dengan menyatakan bahwa ibadah yang sebenarnya bukanlah pergi ke gereja, memuji Tuhan, berdoa, mendengar Firman dan memberi persembahan. Sekali lagi menurut paham ini, ibadah bukanlah aktifitas religius atau aktifitas spiritual yang bersifat seremonial belaka tetapi bagaimana caranya kita hidup dan bagaimana kita memaknai hidup kita dengan memuliakan Allah. Atau lebih khusus dalam kaitannya dengan pekerjaan, bagaimana kita bekerja, berkarya dan berbuat sesuatu yang mendatangkan damai dan sejahtera dalam dunia ini. Jadi sebenarnya ibadah yang sesungguhnya adalah pekerjaan kita. Oleh sebab itu, ke gereja tidak penting, doa, baca Firman tidak penting. Yang lebih penting atau paling penting adalah bekerja. Sebab ibadahku adalah pekerjaanku. Kalau kita bekerja dengan baik, bekerja serius, bekerja dengan jujur, bekerja dengan gigih, bekerja dengan inovatif dan kreatif, bekerja mendatangkan damai dan sejahtera maka itu sebenarnya itulah ibadah yang sejati.
Defenisi ini selanjutnya diperkuat dengan pernyataan-pernyataan nabi-nabi Tuhan dalam PL yang sangat mencela ibadah orang israel yang bersifat ritualisme. Tetapi sebenarnya penuh dengan kemunafikan. Mereka beribadah di rumah Tuhan tetapi hati mereka tidak (Yesaya 29:13 bd 2 Tim 3:5). Mereka menjalankan semua ritualitas keagamaan tetapi hidup mereka tercemar. Mereka saling berkelahi dan berbantah (Yesaya 58:4). Pandangan ini juga diperkuat dengan kecaman Tuhan Yesus yang sangat berani dan terkenal dalam perjanjian baru (Matius 23). Dalam pasal itu Tuhan Yesus dengan keras mengecam ibadah Ahli Taurat yang penuh dengan kebusukan. Ibarat sebuah kuburan yang diluarnya dilabur putih tetapi didalamnya penuh dengan tulang belulang dan berbagai macam kotoran (ayat 27). Dengan dukungan ayat-ayat demikian, para penganut liberalisme mencoba menafsirkan ulang kembali tentang apakah arti ibadah yang sebenarnya. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa ibadahku adalah pekerjaanku.
Paham seperti ini sangat mempengaruhi kehidupan orang Kristen zaman itu, termasuk bagaimana orang kristen menghubungkan antara iman mereka dengan pekerjaan mereka. Jangan heran pengaruh liberalisme memang menghasilkan orang-orang yang gila bekerja tetapi mengabaikan ibadah ke gereja. Sejak itu, gereja-gereja di Eropah yang sangat dipengaruhi oleh paham liberalisme mulai ditinggalkan kosong melompong. Gereja dianggap sebuah kuburan yang luarnya indah tetapi sebenarnya isinya tulang belulang. Gereja dianggap penuh kemunafikan dan mereka beralih kepada sebuah pemahaman yang lebih radikal bahwa gereja yang sesungguhnya adalah aktifitas hidup kita termasuk pekerjaan kita. Gereja dianggap ketinggalan zaman tidak masuk akal dan bahkan tidak mampu menjawab berbagai persoalan-persoalan kehidupan manusia yang terus berkembang dan sangat rasional. Kalaupun gedung gereja dipertahankan sampai hari ini, itu tidak lain hanya sekedar peninggalan sejarah (baca:musium) untuk mengingatkan umat kristen bahwa mereka pernah terjebak dalam sebuah kebodohan yang sangat irasional. Bahkan kalaupun ada orang-orang tua yang bisa dihitung dengan jari mendatangi gereja, itupun hanya sekedar aktifitas sosial, penekanannya kepada moralitas semata dan mereka mengumpulkan uang untuk sekedar membiayai pendeta, membiayai perawatan museum gereja mereka yang kuno dan juga mendukung aksi sosial di negara-negara miskin dan berkembang. Itu saja.
Paham liberalisme semakin mencengkeram sendi-sendi kehidupan orang kristen dan melemahkan iman ortodoksi (yang sesungguhnya) mula-mula, dengan semakin terlihatnya hasil-hasil dari liberalisme dan modernitas. Kita harus mengakui bahwa modernisme telah mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan dari segi ekonomi, sosial-politik dan keamanan. Negara-negara yang menganut paham liberalisme kebanyak menganut sebuah sistem ekonomi yang disebut kapitalisme yang terbukti membuat negara-negara barat sangat maju dan makmur. Sebaliknya disisi yang lain kemakmuran dan kemajuan mengakibatkan kemunduran dibidang religius. Bagi sebagian besar orang-orang yang sudah makmur berkat liberalisme dan kapitalisme, hal-hal yang religius dan spiritual sudah tidak penting bahkan di hina dan dianggap remeh. Tuhan sudah tidak diperlukan, agama ditinggalkan dan gereja kosong .
Latar belakang inilah yang menyebabkan kita sampai pada pandangan yang kedua, yakni menerima pekerjaan. Jika pandangan pertama, menolak dengan radikal pekerjaan. Maka sikap yang kedua menerima bahkan menyamakan iman kristen dengan pekerjaan. Hampir tidak ada batas antara iman kristen dan pekerjaan. Semua serba kabur. Semangat liberalisme yang mengabaikan aspek religius menyebabkan kapitalisme ekonomi menjadi kebablasan. Tidak ada batas, tidak ada regulasi dan bahkan juga tidak ada perasaan tanggungjawab secara religius dalam arti bahwa pekerjaan dan aktivitas ekonomi harus dipertanggung jawabkan suatu saat nanti kepada Tuhan. Akibatnya kita bisa lihat dengan krisis eknomi dunia yang sudah dua kali terjadi dalam sejarah ekonomi dunia.
Bagaimana kita menyikapi sikap yang kedua yang juga tidak kalah ekstrim seperti sikap pertama yang sudah saya jelaskan Minggu lalu? Pertama-tama harus kita mengakui bahwa ibadah tidak dapat diartikan dalam arti sempit, sekedar aktivitas religius kita di gereja dan juga berbagai kegiatan-kegiatan rohani yang sering kita sebut pelayanan gerejawi. Ibadah meliputi seluruh aktivitas hidup kita. Tetapi mendefenisikan ibadah cukup sebagai pekerjaan itu juga tidak benar. Sama tidak benarnya dengan mendefenisikan ibadah cukup aktifitas religius saja. Dengan kata lain ibadah yang sesungguhnya meliputi aktivitas religius (1 Tim 4:7, Ibr 12:28, Luk 7:42, Maz 100), aktivitas dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari bahkan seluruh kegiatan hidup kita seumur hidup kita (Titus 2:3; 12).
Kecaman-kecaman yang nabi-nabi PL dan juga Tuhan Yesus sendiri sampaikan tidak serta merta dijadikan alasan untuk meniadakan ibadah religius kita. Ucapan-ucapan yang sangat keras itu bukan bermaksud menghilangkan ibadah di gereja tetapi memberikan koreksi supaya ibadah religius kita seperti ke gereja, baca Firman, doa, puasa dan sebagainya dilakukan dengan tulus, hati yang murni dan juga harus diimbangi dengan bagaimana kita memperhatikan sesama dan bagaimana kita hidup dengan benar di dunia yang Tuhan ciptakan ini. Ibadah religius kita tidak boleh kita abaikan. Penulis ibrani berpesan ”janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita.” (Ibrani 10:25) Sebab pertemuan mendatangkan manfaat penting bagi kita. Paulus juga berpesan bahwa iman itu bisa bertumbuh dari pendengaran akan Firman Allah (Roma 10:17). Jadi aktivitas ibadah religius kita seperti ke gereja dan baca Firman Tuhan sangat penting sebab itu perintah Tuhan dan juga sekaligus menolong kita untuk tetap di dalam rule (batas) yang diinginkan oleh Tuhan. Saya akan uraikan bagian ini lebih lengkap pada sikap kelima yang kita akan bahas tiga Minggu lagi.
Memang liberalisme dan modernitas menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran. Negara-negara yang justru agamanya kuat, sangat lambat dalam kemajuan dan lambat dalam menikmati kemakmuran. Tetapi kalau kita menyelidiki sejarah gereja dengan cermat, maka kita melihat bahwa apabila orang kristen mengerti dan menerapkan ajaran Firman Tuhan dengan benar dan tepat, maka tidak mustahil orang kristen akan juga mengalami syalom Tuhan dibumi ini dimana kesejahteraan dan kemakmuran akan tercipta. Yang saya maksud disini bukan kesejahteraan dan kemakmuran yang mengorbankan aspek religius. Tetapi bagaimana keduanya bisa berjalan bersama. Orang kristen menjalankan kegiatan ibadah religiusnya, orang Kristen bekerja dengan giat dan akhirnya orang kristen menikmati hasilnya. Kapan itu terjadi dalam sejarah? Pernah! Setelah zaman reformasi, negara-negara dibawah pengaruh Calvinisme berusaha mempertahankan religiutas atau kegiatan rohani mereka dengan baik. Dibawah pimpinan Calvin dan penerusnya, jemaat tetap giat dalam beribadat kepada Allah. Tetapi mereka juga adalah orang-orang yang tidak hanya giat di gereja tetapi juga giat bekerja, sehingga sebenarnya kemakmuran dan kesejahteraan bukanlah hasil produk liberalisme tetapi sebenarnya hasil produk Calvinisme reformatoris yang telah mincul dan berakar kuat jauh sebelum liberalisme dan modernisme ada.
Sistem kapitalisme modern yang di dalamnya menekankan pada etos kerja yang tinggi, tanggung jawab dalam waktu dan kerja, mutu kerja yang baik, semangat untuk suka menambung dan hidup sederhana, kejujuran dan juga persaingan yang sehat dalam bekerja sebenarnya tidak lahir dari liberalisme tetapi sudah ada sejak reformasi bergulir. Calvinismelah yang memberi pengaruh terhadap munculnya kapitalisme (pandangan yang didasarkan pada sebuah penelitian ini dikemukakan pertama kali oleh Abraham Kuyper seorang teolog, pendeta sekaligus perdana mentri Belanda beberapa puluh tahun yang silam). Jadi sebenarnya kapitalisme itu baik. Namun kemudian kapitalisme menjadi buruk dan disalahgunakan dengan munculnya liberalisme. Kapitalisme menjadi terlalu bebas dan kebablasan. Akhirnya krisis melanda dunia. Minta maaf kalau uraian ini sedikit berat. Tetapi saya mencoba untuk membahasakannya dengan sesederhana mungkin. Disisi yang lain pengaruh Calvinisme kama kelamaan semakin pudar oleh semakin gemerlapnya pengaruh liberalisme.
Disinilah perlu ditekankan sebuah pemahaman penting bahwa kesejahteraan dan kemakmuran yang dihasilkan oleh Calvinsme seharusnya tidak menyebabkan orang melupakan Tuhan atau mengabaikan aspek religius. Seseorang yang percaya dan taat pada Firman Allah (hal ini merupakan ciri penting dalam ajaran Calvinisme) tetap mengembalikan kemakmuran dan sejahtera itu untuk memuliakan Allah. Ingat kemakmuran yang dimaksud disini bukan teologi kemakmuran atau teologi sukses. Ini harus dibedakan. Teologi sukses mengajarkan bahwa kekayaan itu diperoleh tanpa harus bekerja. Jadi seperti berjudi. Saya memberi sepuluh ribu dan muzizat terjadi saya akan pulang dengan seratus ribu. Kemakmuran dan kesejahteraan yang dilahirkan dari pengaruh Calvinisme adalah sebuah hasil yang diperoleh dari kerja keras. Yang tidak bekerja dan malas akan susah dan jauh dari sejahtera. Tetapi yang bekerja keras akan menuai hasilnya.
Kita sudah membahas dua pandangan kristen yang saling bertolak belakang tentang pekerjaan. Yang pertama sangat anti dengan pekerjaan sedangkan kelompok yang kedua menerima pekerjaan tanpa syarat. Sekarang saya akan menguraikan pandangan kelompok orang Kristen yang ketiga tentang pekerjaan. Dengan tetap berpedoman kepada pendekatan yang dipakai Niebuhr (hal ini sudah saya jelaskan pada bagian pertama), kita bisa menyimpulkan bahwa ada kelompok orang kristen yang bisa mengakui dan menerima keduanya, yakni iman dan pekerjaan. Dalam pandangan ini, Iman Kristen diletakkan diatas pekerjaan. Iman tidak menghapus pekerjaan, melainkan pekerjaan diintegrasikan dalam iman. Dengan kata lain, keduanya diterima dan keduanya saling mengisi satu sama lainnya.
Jadi, menurut pandangan ini, iman Kristen penting dan pekerjaan juga sangat penting. Ibaratnya ada dua kutub yang berseberangan dan pandangan ini berada di tengah-tengahnya. Orang yang memiliki pandangan ini, beranggapan bahwa iman kristen adalah sesuatu yang wajib diperhatikan, diyakini dan menjadi pegangan dalam hidup. Tetapi bekerja juga merupakan perwujudan iman itu sendiri. Iman tidak akan berguna jika tidak dilakukan atau dikerjakan. Iman tidak akan penting jika tidak diperlihatkan dalam kerja. Sebaliknya pekerjaan tidak penting, kalau tidak di nafasi oleh iman itu sendiri. Jadi sebuah pekerjaan memerlukan Roh yang mengisinya yaitu iman itu sendiri.
Hanya saja dalam pandangan ini, karena bersifat sintetik, maka seringkali kutub yang satu mengalahkan kutub yang lain. Dengan kata yang lain, iman dapat dikorbankan untuk sebuah pekerjaan sedangkan dilain waktu pekerjaan bisa dikorbankan demi iman. Keduanya telah melebur dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Akibatnya kadang-kadang yang lebih menonjol adalah pekerjaannya sedangkan imannya sama sekali tidak kelihatan. Sebaliknya kadang-kadang yang lebih menonjol adalah imannya sedangkan pekerjaannya sama sekali tidak kelihatan. Jadi kelompok yang menganut pandangan sintetik masih terbagi dalam beberapa sub kelompok. Ada yang lebih mementingkan iman dan mengorbankan pekerjaan sedangkan yang lain justru lebih mementingkan pekerjaaan dan mengorbankan iman.
Bagaimana kita menyingkapi pandangan ketiga ini? Menurut saya pandangan ini sudah cukup baik. Tetapi yang kita perlu waspadai adalah ketika terjadi peleburan antara iman dan pekerjaan. Ketika iman dikorbankan demi sebuah pekerjaan, sebab pekerjaan dianggap telah melebur dalam iman demikianpula sebaliknya. Saya akan memberikan sebuah contoh misalnya, ketika perang salib terjadi dalam sejarah gereja. Pada saat itu gereja sedang membutuhkan tenaga yang yang cukup banyak dan rela berkorban untuk bisa ditugaskan sebagai prajurit dalam perang salib. Maka bagaimana caranya gereja dapat menyediakan dengan cepat tenaga-tenaga yang siap menjalankan tugas atau pekerjaan itu? Sejarah mencatat bahwa gereja kemudian mengeluarkan sebuah surat penting yang berkaitan dengan iman. Bahwa orang yang mau menjadi prajurid salib, akan dibebaskan dari api penyucian. Dengan kata lain, prinsip-prinsip iman dikorbankan demi sebuah misi, demi sebuah tugas atau demi sebuah pekerjaan. Jadi ini pandangan yang cukup berbahaya dan wajib kita waspadai.
Sikap keempat sering disebut sikap dualistik. Sikap ini berpandangan bahwa iman merupakan sesuatu yang penting, pekerjaanpun juga penting. Tetapi iman dan pekerjaan tidak berkaitan satu sama lainnya. Jadi pandangan keempat ini bertolak belakang dengan pandangan ketiga yang meleburkan iman dan pekerjaan. Orang-orang yang memiliki sikap ketiga, biasanya bisa berubah-ubah. Kalau di gereja, orang seperti ini bisa kelihatan sangat baik, sangat rohani dan kudus. Bicara diatus sedemikian rupa. Sangat sopan santung dan terkesan religius. Sedangkan ketika orang tersebut bekerja, keadaannya akan sangat berbeda. Ia bisa berubah menjadi sangat jahat, tidak rohani, sering tidak sopan dan jauh dari kesan-kesan religius.
Mengapa orang semacam ini bisa berubah-ubah, ya karena konsepnya itu tadi. Baginya iman tidak berhubungan sama sekali dengan pekerjaannya. Keduanya berada di dua dunia yang berbeda. Maka secara otomatis orang semacam ini akan menyesuaikan diri di dunia yang berbeda dan tidak berhubungan itu. Ibarat seperti binatang amfibi yang bisa hidup di darat dan bisa hidup di air. Kalau di gereja ia wajib bersikap jujur, tulus dan tekun tetapi di tempat bekerja ia harus berbeda sama sekali. Ia bisa menjadi licik, tidak lagi bekerja dengan tulus dan tekun. Segala sesuatu bisa dikorbankan demi kepentingan diri sendiri.
Saya pikir, sikap keempat ini, juga mungkin paling banyak dianut oleh sebagian dari kita. Kita beranggapan bahwa iman dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda dan tidak saling berhubungan satu sama lainnya. Kita mungkin berkata, kalau saya jujur ditempat kerja, kalau saya tulus, bagaimana saya bisa mendapat keuntungan cepat? Jadi saya harus kejam, saya harus pintar menipu orang supaya saya dapat keuntungan yang lebih banyak lagi. Namun saya juga memerlukan gereja. Gereja bukan saja merupana institusi dimana nenek moyang saya menumbuhkan imnnya tetapi juga merupakan wahana saya bergaul dan bersosial. Oleh sebab itu saya wajib untuk menuruti semua aturan-aturan gereja sebatas saya ada di lingkungan gereja. Tetapi di luar itu, saya bebas mengatur hidup saya sendiri.
Saya juga sering merasa heran bagaimana orang dengan pandangan yang keempat ini dapat menyesuaikan diri dalam dunia dunia yang menurut pandangan mereka tidak saling berkaitan. Bagaimana ketika di gereja dia menjadi sangat baik sedangkan ketika ia bekerja ia menjadi sangat jahat terhadap orang lain. Tetapi orang dengan pandangan keempat ini, dengan gampang dapat beradaptasi dengan hal ini. Mereka tidak merasa dibebani oleh sebuah beban moral atau beban spiritual sama sekali, berhubung dengan iman yang mereka ikrarikan di gereja sama sekali berbeda dengan kenyataan kehidupan kerja mereka.
Bagaimana kita mengkritisi pandangan ini? Menganggap bahwa iman dan dunia kerja tidak saling berkaitan adalah sebuah sikap yang salah dan tidak bertanggung jawab. Sebuah pandangan yang sama sekali tidak konsisten dan jujur terhadap diri sendiri. Mengapa saya katakan demikian? Sebab kalau apa yang terjadi di dunia kerja berbeda dengan dengan apa yang dilakukan di gereja, itu sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab namanya. Kita mengakui iman kita, berdoa, baca Firman, bernyanyi, mendengar Firman, tetapi tidak bisa mengejawantahkan apa yang kita nyatakan di gereja dalam dunia kerja kita setiap hari. Sekaligus ini juga merupakan sikap yang tidak kosnsiten. Mengapa di gereja berbedan dengan ditempat kerja? Seharusnya kan harus sama.
Salah satu hal yang merupakan ketakutan kita hari ini jika menerapkan iman di tempat kerja adalah tidak mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya karena terhalang oleh berbagai aturan iman yang membatasi ruang gerak kita untuk bebas. Saya pikir ini pikiran yang keliru dan sebenarnya merugikan diri sendiri. Aturan-aturan iman sebenarnya tidak membuat kita rugi tetapi justru akan menyelamatkan kita dan pekerjaan kita dari kehancuran. Dalam aturan iman, kita tidak dilarang untuk mencari untung, kita tidak dilarang untuk tegas, kita tidak dilarang untuk menegakkan disiplin, kita tidak dilarang untuk membangun relasi dengan rekan kerja yang tidak seiman dengan kita, kita juga tidak dilarang untuk mengatur strategi dan perencanaan dalam sebuah pekerjaan sehingga hasil yang didapatkan bisa optima, kita pun tidak dilarang untuk punya mimpi dari sebuah pekerjaan kita.
Kita sudah mempelajari berbagai pandangan orang Kristen terhadap pekerjaan. Ada yang menolak pekerjaan, ada yang menerima pekerjaan tanpa syarat, ada yang menerima iman dan pekerjaan dan meleburkan kedua-duanya, sebaliknya ada yang menerima iman dan pekerjaannya tetapi menganggap bahwa keduanya tidak saling berhubungan. Kini saya akan menguraikan pandangan Kristen kelima, dengan meminjam istilah yang dipakai oleh bapak Singgih yaitu pandangan transformative. Pandangan ini beranggapan bahwa pekerjaan manusia terkontaminasi oleh dosa akibat kejatuhan manusia.
Pada mulanya, pekerjaan adalah sebuah panggilan yang kudus, mulia dan belum tercemar (Kej 2:15). Namun karena manusia telah melanggar Firman Tuhan, maka pekerjaan manusia menjadi ikut tercemar. Tanah dikutuk Tuhan dan manusia harus bekerja dengan sangat keras untuk melanjutkan hidupnya (Kejadian 3:17-19). Dengan meminjam perumpamaan yang dipakai dalam khotbah Minggu lalu, manusia yang sudah jatuh dalam dosa harus bekerja seperti petani dan bukan lagi seperti tukang kebun.
Fakta bahwa pekerjaan manusia telah ikut tercemar akibat dosa memang tidak bisa kita pungkiri. Akibat kejatuhan manusia dalam dosa, manusia harus berjuang “dengan segala macam cara” untuk bisa menyambung hidupnya. Manusia tidak lagi tunduk dan hormat kepada Allah dan hukumNya, sehingga mereka bekerja semaunya sendiri. Hal ini tampak jelas dari usaha manusia atau kerja keras manusia di dalam membangun menara babel (Kejadian 11). Sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa manusia tidak mengenal dan tunduk pada Allah dalam mereka merancang dan mengerajakan sebuah pekerjaan besar. Sebaliknya mereka mencari nama di bumi supaya mereka terkenal dan diingat sebagai makhluk yang berkuasa di bumi.
Hari ini kita menemukan fakta-fakta tentang bagaimana manusia di dalam bekerja demi untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Seringkali sebuah usaha yang sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebuah pekerjaan, bila ditinjau dari aspek moral dan hukum Allah, tetapi kemudian mendapat legitimasi hukum dari manusia. Katakanlah misalnya prostitusi yang dianggap sebagai sebuah pekerjaan, demikian juga halnya dengan perjudian, pembunuh bayaran, preman dan berbagai usaha yang telah dikategorikan sebagai sebuah pekerjaan. Demikian juga halnya dengan berbagai pekerjaan yang “halal” dan diakui, juga banyak bersinggungan dengan ketidak jujuran, penipuan, kolusi dan korupsi.
Tidak hanya itu, pekerjaan yang sudah dicemari oleh dosa mengakibatkan manusia mau tidak mau harus berkompetisi atau bersaing di didalam bekerja. Manusia saling menjegal, saling menjatuhkan, saling merusak satu sama lain. Semua ingin menjadi yang utama dan yang pertama. Tidak ada yang mau mengalah. Yang lemah akan tergilas oleh yang lain dan hilang dengan sendirinya. Sedangkan yang kuat semakin akan semakin berjaya. Fakta bahwa pekerjaan manusia telah ikut tercemar, juga kita bisa lihat dalam ambisi dan kerakusan manusia di dalam mengelola alam yang Tuhan ciptakan. Dengan tindakan eksploitasi tanpa batas, manusia telah menghancurkan alam yang begitu indah yang seharusnya menjadi sumber mata pencaharian dan sekaligus menjadi “pengawal” bagi keharmonisan di alam sehingga manusia terhindar dari bencana. Tetapi karena sikap yang Intoleran terhadap alam inilah yang mengakibatkan terjadinya malapetaka bagi manusia.
Tetapi, hal ini tidak berlangsung lama, melalui kedatangan Kristus dan kemenangannya atas dosa, menyebabkan karya Allah di dalam Roh Kudus menjadi nyata di dalam melakukan sebuah transformasi atau perubahan terhadap pekerjaan yang telah tercemar. Jadi karya penebusan Kristus membawa sebuah harapan yang baru akan munculnya pekerjaan-pekerjaan yang murni dikehendaki dan disukai oleh Allah dan pada akhirnya memuliakan Allah.
Oleh sebab itu, menurut pandangan kelima ini, pada dasarnya pekerjaan manusia telah tercemar, tetapi melalui penebusan Kristus dan didalam karya Roh Kudus, pekerjaan menjadi dimurnikan atau mengalami transformasi. Bagaimana pandangan ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, tergantung dari manusianya. Apakah manusia tersebut telah “lahir baru” ataukah belum sama sekali. Orang yang sudah mengalami “kelahiran kembali” di dalam kristus akan melihat pekerjaan sebagai sebuah panggilan dari Tuhan dan akan mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan hukum Kristus atau di dalam terang Firman Tuhan. Orang yang lahir baru menurut pandangan kelima, memiliki sebuah keyakinan bahwa semua pekerjaan yang tidak bertentangan dengan Firman Allah pasti telah dimurnikan, disucikan sehingga pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang mulia dan agung adanya.
Jadi, tidak ada pekerjaan yang lebih mulia atau lebih agung. Semua pekerjaan yang sesuai dengan Firman Tuhan adalah sama mulianya. Entah itu sebagai pendeta, sebagai guru, sebagai pedagang, sebagai tukang becak, sebagai pelayan restoran dan semua pekerjaan lain yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, itu pekerjaan yang mulia.
Karya penebusan Kristus dan pekerjaan Roh Kudus di dalam melakukan sebuah transformasi dalam pekerjaan manusia, menyebabkan manusia yang sudah menjadi “Ciptaan yang baru” mampu membedakan manakah pekerjaan yang baik dan manakah pekerjaan yang jahat. Mereka juga mampu bertidak jujur, transparan dan terhindar dari segala bentuk penipuan di dalam bekerja. Manusia yang adalah “ciptaan baru” juga memiliki kemampuan untuk tidak terlalu “bernafsu” di dalam mengeksploitasi alam semeseta dalam sebuah usaha yang disebut dengan bekerja. Bahkan lebih dari itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk tidak menghancurkan, menjegal, merusak orang lain demi kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini jiwa “diakonia” (Diakonia sama artinya dengan melayani) mereka begitu kuat sehingga mereka tetap peduli dengan orang lain. Orientasi manusia “ciptaan baru” tidak lagi semata-mata demi uang dan kebutuhan hidup, tetapi bagaimana mereka bekerja demi memuliakan Allah. Orang yang bekerja dengan “jiwa” seperti ini pasti akan berbahagia dan akan memiliki kepuasan tersendiri dalam bekerja.
Sekarang, mari kita mencoba melihat, dari kelima pandangan orang Kristen tentang pekerjaan, kira-kira pandangan manakah yang lebih kita bisa terima? Saya pikir pandangan kelimalah yang lebih ideal dan sesuai dengan Firman Tuhan. Mengapa saya katakana demikian? Pertama, karena pandangan ini menyajikan sebuah fakta yang ada tanpa menutup-nutupinya. Pekerjaan memang telah tercemar oleh dosa. Kedua, pandangan ini juga menyajikan sebuah harapan yang baru, bahwa melalui karya penebusan Kristus dan juga karya roh kudus, manusia “ciptaan baru” kini dapat bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan. Ketiga, pandangan ini paling bisa diterima oleh semua pihak, baik dari pandangan pertama sampai dengan keempat. Pandangan ini mengakui bahwa pekerjaan memang telah tercemar, mengakui bahwa pekerjaan dapat diterima asalkan sesuai dengan Firman Tuhan, mengakui bahwa keduanya, baik iman Kristen (Firman Tuhan) saling berhubungan satu dengan yang lain tetapi tidak saling mempengaruhi. Pekerjaan harus tunduk dibawah terang Firman Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori