Oleh: Faoziduhu | Juni 20, 2011

PROSES PENULISAN DAN PENGAKUAN TERHADAP 66 KITAB DALAM ALKITAB


Murid-murid  katekisasi saya pernah kaget ketika suatu kali dalam sebuah sesi pelajaran tentang sejarah Alkitab, saya berkata “Tuhan Yesus tidak pernah membaca Alkitab Perjanjian Baru.”  Kekagetan murid-murid  saya ini patut dimaklumi sebab selama belajar di Sekolah Minggu bahkan sampai masuk remaja,  mereka tidak pernah tahu riwayat Alkitab.  Selama belajar di SM mereka hanya diajarkan tentang  isi kitab suci tanpa pernah bertanya, menyinggung, membahas apalagi mendiskusikan  bagaimana proses “terjadinya” kitab suci.  Kurikulum SM kita memang tidak pernah membahas mengenai hal itu. Paling-paling kalau ada murid yang kritis bertanya tentang hal  itu,  guru akan dengan sigap menjawab  “tidak perlu tanyakan itu. Itu tidak ada dalam buku pelajaran.”  Jawaban guru ini memang sudah tepat (sebab pedoman pelajaran tetap bersumber dari buku),  tetapi tetap saja  pertanyaan murid tersebut  tidak terjawab.

Akibatnya murid seringkali memiliki asumsi-asumsi (dugaan-dugaan) yang keliru tentang asal-usul Alkitab. Ada yang beranggapan Alkitab ditulis langsung oleh Tuhan Allah, diturunkan dari langit oleh Allah  bahkan ada yang beranggapan Tuhan Yesuslah penulis Alkitab.  Maka saya menjadi tersenyum meihat reaksi  murid-murid  tersebut setelah  mendengar pernyataan saya . Mungkin sebagian dari mereka berpikir saya sudah sesat.  Atau mungkin sebagian dari mereka beranggapan saya salah ucap.

Kegelisahan murid-murid katekisasi saya tersebut juga mungkin merupakan kegelisahan sebagian dari jemaat,  ketika mendengar atau membaca pernyataan saya diatas. “Benarkan Tuhan Yesus tidak pernah membaca Alkitab Perjanjian Baru?” Jangan-jangan sebagian dari kita sama seperti anak-anak SM atau remaja yang kaget mendengar pernyataan atau pertanyaan itu. Sebelum saya akan menjelaskan atau menjawab pertanyan diatas, saya terlebih dahulu mengajak kita untuk berpikir ulang tentang mengapa kita tidak pernah berpikir atau mempertanyakan asal-usul Alkitab kita.

Alasan pertama, mungkin berkaitan dengan riwayat kehidupan kita beriman. Sebagian besar dari kita yang belajar tentang iman Kristen dari kecil di SM selanjutnya ke remaja, pemuda dan terakhir menjadi jemaat yang dewasa,  sama sekali tidak pernah mempertanyakan tentang riwayat Alkitab. Sebab memang hal itu tidak pernah ada dalam kurikulum dan juga tema-tema khotbah kita. Kedua, kita beranggapan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul Alkitab tidak perlu. Tidak ada manfaatnya bagi perkembangan iman kita. Ketiga, mempertanyakan sejarah kejadian Alkitab hanya menunjukkan bahwa kita mempertanyakan keotentikan dan otoritas Alkitab. Dengan kata lain kita meragukan wibawa Alkitab. Keempat, menyelidiki asal usul Alkitab bukan tugas bagi orang awam (jemaat) tetapi tugas para Hamba Tuhan, para teolog,  para pendeta.

Tetapi persoalan muncul, ketika wacana ini dipertanyakan kepada kita  oleh orang-orang yang tidak seiman, atau orang-orang  Kristen sendiri yang berpikiran Kritis dan berpikrian maju. Orang Kristen yang tidak asal “nrimo” atau mereka yang percaya buta.  Bagaimana respons kita mendengar pertanyaan demikian? Apakah kita  berkata “wah.. hal itu saya tidak tahu.” Atau kita menuduh orang yang mempertanyakan hal itu sesat atau kurang iman. Atau Kita  dengan enteng berkata “Tanya saja kepada hamba Tuhan.”  Sebagai orang Kristen kita harus belajar   mengenal  segala sesuatu yang berkaitan dengan  kekristenan kita. Maksud saya bukannya kita semua rame-rame masuk sekolah Alkitab. Tidak. Namun minimal hal-hal yang mendasar yang berkaitan dengan keyakinan kita harus kita ketahui.  Termasuk di dalamnya riwayat Alkitab kita. Firman Tuhan katakan  “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada  padamu( 1Pe 3:15).

Itu sebabnya selama dua Minggu berturut-turut saya akan menguraikan tentang asal usul Alkitab kita, baik perjanjian Lama maupun Perjanjian baru.  Kiranya artikel ini dapat menambah wawasan dan memperteguh iman kita.  Untuk mengurai secara lengkap tentang hal ini, kita memang tidak punya waktu (mengingat pembahasan soal Alkitab hanya sampai akhir bulan ini). Saya hanya akan menjelaskan hal ini sepintas tanpa mengabaikan pokok-pokok penting dalam riwayat kitab suci.

RIWAYAT PERJANJIAN LAMA

Pada waktu Alkitab kita ditulis, jangan dipikir langsung jadi seperti Alkitab ditangan kita hari ini. Waktu itu belum ada kertas apalagi mesin cetak dan foto copy.  Manusia mulai mengenal tulisan 3000 tahun sebelum Masehi. Itupun hanya tulisan bergambar (pictogram) di dinding-dinding gua atau di lempengan batu. Selanjutnya berkembang  menjadi tulisan di tanah liat dan kayu (papyrus) dan berkembang lagi menjadi tulisan di kulit binatang (perkamen). Pada saat Alkitab kita ditulis, para penulis menulis Firman Tuhan di batu, papyrus dan perkamen itu. Bahkan pada zaman Tuhan Yesuspun, Firman Tuhan masih ditulis di kulit binatang (lihat Yosua 8:32, Yesaya 30:8; Habakuk 2:2, Ayub 8:11, Yesaya 18:2, 2 Tim 4:13). Alat menulis juga tidak menggunakan  tinta tetapi besi pengukir/pena besi dan pena buluh (lihat Ayub 19:24, Yeremia 17:1; yeremia 8:8).

Perjanjian Lama di susun selama periode 1000 tahun lebih dan kira-kira dimulai sekitar pertengahn millennium kedua sampai pertengahan millennium pertama SM. Paling tidak 40 orang dipakai oleh Allah untuk menuliskan FirmanNya dalam PL (satu kitab bisa ditulis oleh lebih dari satu penulis). Teks awal PL semula ditulis dalam dua bahasa yakni bahasa Ibrani klasik dan bahasa kerajaan aram. Diantara penulis-penulis Alkitab, ada yang terkenal seperti, Musa, Daud, Salomo. Tetapi ada juga yang kurang terkenal seperti Debora (Hakim-hakim  5:1), Agur dan Lemuel (Ams 30:1) dan Miriam( Kel 15:20-21). PL terdiri dari empat gaya sastra yaitu hukum, kisah sejarah, syair dan perkataan nubuat.

Bagaimanakah proses penulisan Alkitab PL?  Seringkali kita berpikir bahwa ketika Firman Tuhan datang kepada para penulis, maka langsung Firman itu dituliskan. Hal itu memang benar. Tetapi

PROSES PENULISAN DAN PENGAKUAN TERHADAP 66 KITAB DALAM ALKITAB

tidak semua kitab PL ditulis dengan proses demikian. Ada sebagian Firman Tuhan itu datang ketika manusia belum mengenal tulis menulis.  Jadi dalam bentuk lisan (misalnya Ulangan 5:1 dan Yehezkiel 5:5) selanjutnya Firman dalam bentuk lisan namun berotoritas ini di wariskan kepada generasi berikutnya dalam bentuk cerita dan pengajaran sampai akhirnya manusia mengenal tulis menulis dan kemudian dituliskan di batu atau kulit kayu, selanjutnya disalin lagi ke kulit binatang yang punya ketahanan lebih dibandingkan kulit kayu.  Namun kadang-kadang,  waktu Firman Tuhan datang dengan proses penulisan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan (misalnya Keluaran 24:3 dan Yosua 1:8).

Proses penulisan Alkitab juga dapat terjadi sebagai bentuk pendokumentasian penyataan ilahi yang terjadi beberapa waktu setelah peristiwa sejarah terjadi. Seringkalipula kejadian itu langsung diceritakan sebagai bagian dari konteks untuk komunikasi Allah kepada Israel (Misalnya Keluaran 15:1; Yosua 8:32 dan Hakim-hakim 5:1).

Oleh karena Perjanjian Lama ditulis oleh 40 orang penulis dalam kurun waktu seribu tahun lamanya, maka dapat kita pastikan bahwa dokumen-dokumen PL ini tersebar dimana-mana. Maka dimulailah proses pengumpulan dokumen-dokumen tertulis.  Proses pengumpulan dokumen tertulis ini tidak gampang, karena selain tersebar,  juga dokumen-dokumen itu masih ditulis di papyrus dan juga perkamen.  Bahkan sebagian dari tulisan-tulisan suci itu hilang (misalnya kitab peperangan Tuhan yang dicatat dalam Bilangan 21:14 dan kitab orang-orang jujur dalam Yosua 10:13). Tetapi tetap saja usaha-usaha pengumpulan dokumen-dokumen itu dilakukan. Kita tidak tahu persis kapan pengumpulan dokumen mulai dilakukan. Tetapi yang jelas prosesnya juga memakan waktu yang cukup lama. Hampir sama tuanya dengan proses penulisan kitab-kitab PL.

Oleh karena di timur-tengah kuno cukup banyak berkembang agama-agama yang juga memiliki dokumen-dokumen tertulis. Ditambah dengan dokumen-dokumen lain yang tidak bersangkutpaut dengan hal-hal religi/keagamaan, maka para ahli kitab PL dipakai oleh Allah untuk menyortir dokumen-dokumen asli dan yang palsu sekaligus menetapkan kanon untuk PL.  Apakah yang dimakssud dengan kanon? Kanon adalah sebuah ukuran atau sebuah standard untuk pengesahan sebuah kitab suci. Adapun standard (baca:kanon) PL adalah, pertama, apakah kitab itu diilhamkan Allah? Kedua, siapakah penulis kitab itu. Ketiga, apakah kitab itu memiliki hubungan dan konsistensi dengan berita PL sebagai satu kesatuan. Keempat, apakah kitab itu digunakan oleh masyarakat keagamaan Ibrani.

Proses peyortiran dan penetapan kanon memakan waktu yang juga cukup lama. Kita harus angkat topi dengan jasa para Masoret (ahli kitab PL) yang berjuang menyortir dan menetapkan kitab-kitab yang memenuhi kanon PL. Tidak dapat tidak,  kita juga harus mengakui dan percaya bahwa Karya Roh kudus memiliki peranan yang sangat besar tidak hanya di dalam proses penulisan tetapi juga penyortiran dan penetapan kanon PL. Roh kudus membimbing dan mengilhami para  penulis dan para masoret di dalam menyortir dan menetapkan kanon.

Paling tidak ada empat periode penting dalam sejarah PL ketika penyortiran dan penetapan kanon dilakukan. Pertama, selama di padang gurun Sinai dalam peristiwa keluaran. Kedua, pada waktu peralihan periode teokrasi (Tuhan sebagai Raja Israel) ke monarkhi (Israel menginginkan raja manusia) di Israel. Ketiga, pada zaman Ezra (ada ahli yang mengatakan bahwa kitab-kitab PL sudah lengkap pada zaman ezra yaitu tahun 400 sebelum Kristus). Tampaknya orang Ibrani telah memiliki kanon Alkitab PL jauh sebelum zaman Tuhan Yesus. Paling tidak ada tiga kelompok kitab yang diakui dalam zaman itu. Yaitu  Taurat, nabi-nabi dan kitab-kitab Lain. Tuhan Yesus sendiri mengacu kepada kanon ibrani yang meliputi Taurat, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Akhirnya setelah melalui proses yang sangat panjang, baik melalui konsili-konsili (sidang-sidang) para rabi yahudi dan kemudian juga dilanjutkan oleh konsili-konsili gereja maka Alkitab PL dikanonkan.  Alkitab PL dikalangan Yadaisme dikenal sebagai Tanak yang terdiri dari tiga kelompok penting “T” adalah singkatan Torah atau Taurat, “N” adalah singkatan dari Nebiim atau Nabi-nabi dan “K” adalah singkatan dari ketubim atau kitab-kitab lain. Pengelompokkan menjadi tiga bagian ini sudah dikenal pada abad ke-2 SM yang ditegaskan dalam prolog Ben Sirakh dan kemudian oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 24:44 dan kemudian ditegaskan lagi dalam Talmud Babilonia dan oleh tulisan tokoh-tokoh Yahudi dan Kristen selama abad ke-4 sesudah Kristus.

Alkitab PL versi orang Yahudi menyebut 24 kitab dalam kitab suci mereka.  Sedangkan  Alkitab PL dalam Katolik ada 39 ditambah dengan Deuteranonika. Sedangkan di dalam Alkitab PL orang Protestan ada 39 Kitab. Perbedaan jumlah kitab PL untuk masing-masing golongan agama ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, masalah pengelompokkan. Misalnya dalam Kitab PL orang Yahudi, Kitab-kitab nabi-nabi kecil (dari Hosea sampai dengan Maleakhi) dijadikan satu kitab sedangkan di kalangan Katolik dan Protestan dipecah menjadi 12 kitab. Kedua, permasalahan kitab Apokrip atau Deuteranonika. Di kalangan orang Yahudi, kitab Apokrifa adalah kitab yang tidak termasuk Kanon, sedangkan orang Katolik menganggap kita apokrip ini memiliki otoritas yang sama dengan kitab-kitab lain, sehingga dimasukkan dalam Akitab. Ketika tokoh-tokoh  reformasi menerjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani ke bahasa mereka masing-masing, mereka menegaskan bahwa kitab-kitab apokrifa tidak termasuk dalam kanon.

RIWAYAT PERJANJIAN BARU

Sama halnya dengan kitab-kitab dalam PL, kitab-kitab PB juga ditulis ketika manusia hanya bisa menulis di Papyrus dan selanjutnya perkamen. Urutan-urutan dalam kitab PB tidak menunjuk pada urutan tahun penulisan kitab. Dengan kata lain, tidak berarti karena matius diletakkan pada urutan pertama, maka Matius yang lebih dahulu ditulis. Sekali lagi tidak berarti demikian. Malahan, kitab Markus ditulis lebih dahulu dari pada kitab Matius. Namun yang jelas kitab-kitab PB ditulis diatas tahun 40 masehi. Para penulis kitab ini, memang ada yang hidup dekat dengan Tuhan Yesus. Misalnya, Matius, Petrus, Yohanes dan  Yakobus. Tetapi ada juga penulis yang tidak termasuk diantara 12 murid Tuhan. Termasuk diantaranya adalah Paulus. Markus adalah murid dari Petrus yang juga adalah keponakan dari Barnabas. Sedangkan Lukas adalah murid dari Paulus.  Meskipun demikian. Para penulis adalah orang-orang yang hidup tidak terlalu jauh dari masa Kristus. Menurut tradisi dan juga catatan injil,  Lukas mulai penyelidikannya ketika Maria masih hidup (bd Lukas 1:1-4 bd Kisah Rasul 1:1) demikian juga Markus menyaksikan peristiwa penangkapan Tuhan Yesus (Mark 14:51).

Salinan-salinan atau manuskrip-manuskrip kitab-kitab PB yang tertulis di  papyrus dan perkamen  yang masih tersimpan dan bertahan sampai kurang lebih tahun 1500 ketika orang barat menemukan mesin cetak jumlahnya cukup banyak. Diperkirakan ada 5000 manuskrip lebih. Salinan-salinan itu tersebar dimana-mana disebabkan oleh karena berbagai factor, termasuk karena penganiayaan terhadap orang percaya. Namun yang mengherankan, salinan-salinan ini bisa ditemukan dan bahkan dapat terkumpul kembali. Keajaiban ini tidak dapat tidak harus kita akui karena campur tangan Tuhan, sehingga FirmanNya tetap terjaga hingga kini.

Dalam abad-abad pertama, ketika Kekristenan berkembang cukup pesat, ajaran sesat juga ikut berkembang pesat. Salah satu aliran sesat yang berkembang dan masuk dalam gereja saat itu adalah gnostisisme. Para penganjur ajaran sesat juga menuliskan kitab-kitabnya sehingga juga di baca oleh orang Kristen. Sehingga tulisan-tulisan yang beredar membingungkan jemaat Kristen.  Melihat keadaan yang berbahaya ini, maka gereja menetapkan tulisan-tulisan yang disahkan (baca:dikanonkan) sebagai kitab suci. Mula-mula yang masuk dalam kanon adalah kitab-kitab Injil, surat-surat Paulus dan Kisah rasul. Selanjutnya menyusul kitab-kitab lain di kanonkan oleh Bapa-Bapa gereja. Tulisan-tulisan yang saat itu populer dan ditulis oleh orang-orang penting seperti Clemens (melayani tahun 95), ignatius dan Polycarpus tidak diakui sebagai kitab suci karena tidak memenuhi syarat kanon. Kanon PB sudah selesai tahun 200 tetapi baru  disahkan pada konsili kartago pada tahun 397. Sedangkan pengesahan penyatuan PL dan PB menjadi Alkitab pada konsili kartago tahun 419.

Mulai akhir abad ke-2 mulai muncul usaha untuk menterjemahkan kitab-kitab PB dalam bahasa latin yang waktu itu merupakan bahasa “Internasional” di Eropa dan seluruh jajahan romawi. Namun karena ada berbagai versi terjemahan yang membingungkan akhirnya Paus Damasus memerintahkan Hieronimus untuk menterjemahkan Alkitab, baik PL maupun PB kedalam bahasa latin. Penterjemahan resmi yang pertama dari bahasa asli ini selesai tahun 405. Hieronimus juga menterjemahkan kitab-kitab Apokrifa ke dalam bahasa latin. Pada waktu gereja masih satu dan berpusat di Roma,  gereja hanya mengakui satu Alkitab yang telah diterjemahkan kedalam bahasa latin. Alkitab hanya dibaca dan ditafsirkan gereja, dalam hal ini para imam.  Namun gerakan reformasi yang muncul  tahun 1517 mengajukan protes (itu sebabnya disebut protestan) terhadap gereja, sehingga Alkitab ditejemahkan ke dalam bahasa manapun di dunia dan boleh dibaca oleh siapapun. Kita patut bersyukur oleh karena hampir  bersamaan dengan gerakan reformasi, mesin cetak pertama kali ditemukan sehingga gereja-gereja protestan menterjemahkan dan menyebarluaskan Alkitab ke dalam berbagai-bagai bahasa.

Terlepas dari semua itu. Kita melihat melalui sejarah yang sangat panjang, Alkitab boleh ada di tangan kita hari ini, semua karena anugerah Tuhan saja. Oleh karena itu hargailah kitab suci kita dengan membaca dan merenungkannya tiap-tiap hari. Sebelum mengakhiri tulisan ini. Tidak lengkap apabila saya menjawab dengan tegas pertanyaan minggu lalu, apakah Tuhan Yesus tidak pernah membaca kitab PB.  Jawabnya tidak. Karena memang Kitab PB ditulis setelah Tuhan Yesus kembali ke sorga. Namun meskipun demikian kitab PB menceritakan tentang kemasyuran Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat kita (tamat).



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: