Oleh: Faoziduhu | Juni 19, 2011

BAHAYA SEBUAH GUYONAN


Saya yakin kita pernah atau sering berguyon dengan orang lain. Orang lain yang sering kita ajak berguyon pasti orang-orang  terdekat atau orang-orang yang kita kenal. Sebagian dari kita mungkin sungkan berguyon atau bercanda dengan orang yang baru kita kenal ataupun dengan orang yang lebih tua dari kita. Namun ada juga orang yang memanfaatkan guyonan  sekedar untuk mempererat  atau membangun hubungan dengan orang yang baru dikenal ataupun orang yang usianya lebih tua.  Bagi banyak orang pada umumnya, guyonan memiliki begitu banyak manfaat. Pertama, Guyonan bisa mencairkan suasana yang tegang. Kalau dalam rapat atau pertemuan yang membahas sesuatu yang penting dan dalam proses pembahasannya diliputi oleh ketegangan, guyonan sangat efektif mencairkan suasana dan bahkan kadangkala guyonan bisa memecahkan kebuntuan sebuah rapat.

Guyonan juga bermanfaat dalam meningkatkan suatu kualitas sebuah hubungan. Kalau sebuah hubungan interpersonal hanya mengedepankan aspek formalitas dan mengabaikan aspek –aspek lainnya seperti  canda dan guyonan, maka hubungan atau juga komunikasi semacam itu lebih kaku. Saya ambil contoh, misalnya dalam sebuah kelas dimana si guru sangat formal dan sama sekali tidak pernah berguyon atau bercanda dengan muridnya, maka kita bisa bayangkan bangaimana suasana kelas dan interaksi dalam kelas tersebut.

Guyonan juga bisa dipakai sebagai pendekatan kritik yang membangun. Kadangkala kita melihat ada orang yang menyampaikan kritik dengan cara yang halus dan tidak menyinggung perasaan. Sebelum menyampaikan kritik, terlebih dahulu di awali dengan guyonan. Bahkan ada orang sambil bercanda/guyonan menyampaikan kritik kepada orang lain. Guyonan bisa bermanfaat menghilangkan ngantuk bahkan guyonan diyakini bisa mengurangi stress. Lihat saja sekarang stasiun TV banyak memunculkan acara-acara yang berbau humor dan guyonan. Bahkan ada stasiun TV yang mayoritas acara-acara tiap harinya berbau guyonan. Memang acara-acara hiburan semacam itu sangat dibutuhkan saat ini. Ketika tingkat stess masyarakat kita makin tinggi akibat tekanan ekonomi guyonan dianggap sebagai obat penawar stress.  Bahkan guyonan seringkali dipakai dalam sebuah khotbah atau pidato. Banyak jemaat lebih menyukai pengkhotbah yang banyol ketimbang pengkhotbah yang super serius. Bagi sebagian jemaat penyuka khotbah guyonan, khotbah dengan humor membuat pendengar tidak ngantuk.

Terlepas dari semua manfaat penting dari guyonan, ternyata guyonan juga bisa mendatangkan persoalan bahkan bisa berbahaya.  Mengapa saya katakan demikian. Sebab ternyata guyonan bisa menimbulkan luka hati, ketersinggungan, dendam bahkan guyonan juga bisa menimbulkan konflik terbuka yang sangat berbahaya. Oleh sebab itu, saya mencoba mengajak kita melihat bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh sebuah guyonan dan kapan guyonan itu mendatangkan bahaya  bagi orang yang berguyon maupun yang diguyonin.

Pertama, jika ada orang yang terus menerus di guyoni dan dijadikan korban atau bahan guyonan. Biasanya guyonan semakin seru jika ada “lawannya. ” tetapi jika guyonan tidak dibalas, Ledekan tidak di sahut, maka guyonan kurang seru. Maka, biasanya harus ada korban ledekan atau guyonan supaya tawa bisa pecah dan semua senang. Saya masih ingat dahulu ketika saya masih remaja. Dalam kelompok kami, selalu ada yang menjadi korban ledekan atau bahan guyonan. Teman tersebut di olok-olok dan di sindir segala macam, tentu dalam bentuk guyonan atau canda tawa. Sayangnya teman tersebut, tidak bisa membalas ledekan atau guyonan temannya. Lama-kelamaan teman ini tidak tahan juga dan pada suatu ketika emosinya meledak dan ia memukul teman yang suka meledeknya itu. Memang guyonan bisa berbahaya dan merusak sebuah hubungan. Kadangkala kita meledek atau guyoni teman dan teman itu tidak bisa membalas guyonan itu, kita makin senang. Tiap kali bertemu entah secara pribadi atau berkelompok kita meledeknya dan menjadikannya bahan tertawaan. Hati-hati orang kalau terus dijadikan korban ledekan kita bisa suatu waktu akan “mengamuk” tanpa kita sangka-sangka. Meskipun teman yang kita guyonin atau ledekin itu tertawa waktu kita ledekin, tetapi hati-hati belum tentu hatinya senang.

Kedua, jika orang yang kita ajak berguyon belum siap. Kadangkala ada orang yang hatinya lagi tidak mood, sehingga ketika kita ajak bercanda atau kita ajak berguyon malah memarahi kita. Namun lain kali jika hatinya lagi senang, meskipun diajak berguyon berjam-jam tidak masalah. Karena itu hati-hatilah bercanda dengan orang lain. Perhatikan moodnya dulu. Caranya? Lihat wajahnya. Biasanya dari wajah kita bisa membaca perasaan orang. Apakah orang itu lagi senang atau lagi susah. Kemudian lihat gerak-gerik tubuhnya dan juga intonasi bicaranya. Jika gerak-geriknya gelisah dan nada bicaranya agak tinggi, jangan coba-coba untuk mengajaknya bercanda. Bisa berbahaya.

Ketiga,   perhatikan baik-baik status orang tersebut. Apakah lebih tua dari kita, guru kita, pemimpin kita atau sebaliknya. Hati-hati kalau bercanda dengan figur-figur otoritas. Kangkala ada figure otoritas yang tidak mau di guyoni atau diajak bercanda di muka umum. Tetapi kalau berdua,  dia bisa meladeni guyonan kita. Orang-orang berotoritas di depan public biasanya menjaga pencitraan diri mereka sehingga mereka tidak dianggap remeh oleh bawahan atau orang banyak. Keempat, jangan bercanda atau ledekin teman secara berlebihan. Kadangkala kata-kata yang kita sampaikan ketika bercanda kelewatan sehingga orang yang diledek ataupun orang lain yang mendengar bisa tersinggung dan tidak terima. Kadangkala guyonan kita bisa kelewat batas dan akhirnya melukai orang lain. Karena itu hati-hati ketika bercanda dengan orang lain.

Kelima, guyonan biasanya dimbumbui atau dibarengi dengan kebohongan atau dusta. Ini juga sangat berbahaya. Suatu ketika seorang pemuda ketika berenang di sebuah kolam renang pura-pura tenggelam dan berteriak minta tolong. Teman-temannya segera memberikan pertolongan, bahkan ada temannya yang tidak membawa baju renang atau tidak siap berenang segera memberikan pertolongan kepada pemuda tersebut. Ternyata setelah diselamatkan dan diangkat ke pinggir kolam renang, si pemuda tertawa sebab ia berhasil menipu teman-temannya. Baginya itu sebuah guyonan an teman-temannyapun bisa tertawa. Namun suatu ketika mereka ke pantai dan si pemuda itu kembali tenggelam. Kali ini benar-benar tenggelam.  Waktu ia berteriak minta tolong, teman-temannya yang pernah “dikerjain” malah tertawa dan meledek teman mereka yang lagi berjuang melawan gelombang air laut. Akhirnya si pemuda benar-benar tidak tertolong karena dikira bercanda oleh teman-temannya.

Kadangkala ketika kita bercanda atau berguyon selalu ada bohongnya. Orang bilang, kalau tidak ada bohongnya, maka guyonan akan kurang seru. Maka mulailah orang “bohong kecil” hingga “bohong besar” seperti peristiwa tenggelamnya si pemuda tadi.  Tidak salah kita bercanda tidak salah kita berguyon, tetapi hati-hati guyonan kita jangan lah mengandung dusta atau kebohongan. Kalau kita biasa guyon dengan bohong, maka lama-kelamaan kita biasa berdusta atau membohongi orang lain. Biasakan bercanda atau berguyon yang cerdas dan mengandung kejujuran. Jangan kuatir masih banyak bahan guyonan yang bermutu dan membangun yang bisa anda gunakan untuk membangun relasi dengan orang lain.

Saya mau mengakhiri tulisan ini dengan kisah yang di catat dalam Halim-hakim 16:23-31. Dalam perikop itu di catat bahwa Simson telah ditangkap dengan tipu daya oleh orng Filistin. Kedua matanya dicungkil, ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan ia dipekerjakan dipenjara. Suat ketika raja-raja Filistin meminta supaya Simson melawak di depan mereka. Dalam keadaan buta dan tidak berdaya Simson dipaksa untuk membuat orang lain tertawa dan senang. Perhatikan bahwa Simson menjadi korban dari orang lain yang ingin senang dan bergembira. Dalam hal ini jelas Simson tidak suka dengan lakon lawakan yang ia harus perankan. Akibatnya ia meminta Tuhan memberikannya kekuatan untuk meruntuhkan stadion tempat orang-orang berkumpul menonton lawakannya. Alkitab mencatat bahwa itulah peristiwa akhir dari perjalanan heroic si hakim dari Israel.   Saya berharap kita kita tidak meniru sikap raja-raja Filistin dan tidak mengalami malapetaka seperti mereka. Karena itu waspadalah dalam berguyon.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: