Oleh: Faoziduhu | Juni 18, 2011

MENCURI KEMULIAAN TUHAN


Salah satu godaan yang harus dilawan oleh seorang hamba Tuhan adalah mencuri kemuliaan Allah. Apa itu mencuri kemuliaan Tuhan? Kita semua tahu bahwa kita melayani Tuhan dengan tujuan supaya Dia dipermuliakan. Orang banyak memuji dan mengagungkan namaNya. Namun masalahnya, seringkali hamba Tuhan berpeluang besar untuk mendapatkan kemuliaan itu. Jadi bukan Tuhannya yang dimuliakan tetapi yang dimuliakan adalah hambaNya. Terutama hamba Tuhan yang berhasil dalam pelayanan dengan dukungan talenta dan karunia-karunia yang luar biasa. Pelayanan yang saya maksud misalnya, pertama pelayanan khotbah. Banyak pengkhotbah yang dipuji karena gaya dan bobot khotbah yang menarik dan bermutu. Orang-orang seperti ini sangat laris dan biasanya biaya honornya sangat tinggi. Untuk bisa mendapatkan pengkhotbah macam ini, harus di pesan berbulan-bulan sebelumnya, karena jadwalnya sangat padat. Pengkhotbah dengan jam terbang sangat tinggi dan laris manis sering dijuluki pengkhotbah caliber intenasional atau nasional.
Tetapi pengkotbah semacam ini, godaan terbesarnya adalah pujian dan penghormatan yang berlebihan. Lihat saja setiap pengkhotbah seperti ini pasti disambut bak menyambut raja atau dewa saja. Setelah khotbahnya selesai atau kebaktian selesai, pasti disalamin dan dipuji-puji. Tiap jemaat yang menyalaminya berkata “terima kasih pak” sebenarnya pernyataan itu membungkus sebuah pengakuan kehebatan pengkhotbah atau pujian kepadanya. Jadi, ukurannya biasanya demikian. Kalau ada ucapan terima kasih, berarti khotbahnya bagus, tetapi kalau tidak di ucapan terima kasih, bisa jadi khotbahnya kurang baik dan kurang mengena di hati. Yah.. memang kita juga sering memberi salam dan mengucapkan terima kasih, bukan karena motif tadi. Jadi maksud saya tulus, walaupun khotbahnya sangat buruk.
Anehnya, biasanya pengkhotbah berkaliber/terkenal, meskipun suatu ketika berkhotbah sangat buruk. Yang saya maksud buruk adalah apabila ditinjau dari ilmu hermeneutic (tafsir dan penggalian nast) maupun ilmu homiletic (ilmu berkhotbah). Namun tetap saja khotbahnya dipuji. Sekalipun khotbahnya membuat ngantuk dan monoton, namun tetap saja di puji sebagai khotbah paling baik. Sebab pengkhotbah tersebut sudah terkenal. Jadi ukuran khotbah yang baik bukan lagi dilihat berdasarkan hermeneutic dan homiletic tetapi dari sudut ketenaran si pengkhotbah. Apalagi kalau pengkhotbah lulusan sekolah ternama. Banyak orang menyebut khotbah yang kurang baik sebagai khotbah yang baik karena takut nanti disebut bodoh atau tidak mengerti. Bagaimana mungkin pengkhotbah caliber khotbahnya buruk. Kalau disebut khotbahnya jelek, nanti jangan-jangan orang yang menilai itu dikira tidak sanggup mencerna, tidak mampu memahami atau dengan kata lain level pemahamannya dibawah standard. Mana mau orang disebut demikian. Jadi nilai saja khotbahnya bagus. Saya selalu tegaskan, khotbah yang baik ditentukan oleh tiga hal. Pertama, kalau khotbahnya memenuhi unsure hermenutik. Kedua unsure homiletic dan ketiga kuasa Roh Kudus yang bekerja ketiga Firman disampaikan. Bill Graham seorang tokoh injili terkenal bertobat, tidak karena mendengar khotbah seorang yang terkenal tetapi ketika mendengar khotbah yang disampaikan orang tidak terkenal, itupun khotbahnya amburadul. Jadi sekali lagi bukan karena tenarnya.
Kita kembali ke persoalan tadi. Setiap orang senang untuk dipuji. Pujian juga diperlukan untuk memacu orang lebih baik. Namun pujian yang berlebihan apalagi yang tidak masuk akal seharusnya jangan sampai terjadi dalam gereja. Kalaupun si pengkhotbah, khotbahnya bagus tetapi jangan sampai pengkhotbahnya yang dipermuliakan. Dulu, saya sering dengar pengkhotbah ketika mengakhiri khotbahnya dalam doa berkata demikian “Tuhan sembunyikanlah hambaMu di balik salibMu” apa maksudNya? Maksudnya adalah supaya Hanya Tuhan yang dilihat dan dipermuliakan sedangkan hambaNya tidak. Sekali lagi sama sekali tidak.
Kedua, pelayanan kesaksian. Di gereja kita memang kesaksian tidak dimasukkan dalam susunan liturgy karena berbagai alasan. Salah satunya adalah menghindari bahaya pujian terhadap diri sendiri. Memang kesaksian pada dasarnya tidak salah. Kesaksian penting untuk meneguhkan iman kita. Namun masalahnya, kesaksian bisa menjadi antroposentris dan bukan Teosentris. Antroposentris artinya berpusat pada diri sendiri. Karena saya, untuk saya, demi saya dan seterusnya. Apalagi jika kita bersaksi tentang berkat-berkat materi yang kita terima dari Tuhan. Sangat ironis jika kesaksian kita di dengar oleh orang-orang yang takut pada Tuhan, sudah bekerja keras tetapi tetap mereka menglami keadaan susah. Kita mungkin tidak bersaksi di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita pasti bersaksi. Bersaksi tentang berkat jasmani yang kita terima, bersaksi tentang keselamatan yang kita terima. Namun berhati-hatilah jika anda bersaksi. Jangan sampai kesaksian anda untuk memuliakan diri sendiri.
Keempat, pelayanan puji-pujian. Setiap kita memang Tuhan perlengkapi dengan berbagai talenta dan karunia-karunia. Salah satunya adalah talenta memuji. Suara kita merdu dan indah. Kita menyanyi dengan ekspresi yang bagus, bahkan kita bisa menyanyi dengan nada-nada yang sangat tinggi. Luar biasa. Orang-orang yang bertalenta suara merdu, lebih baik bergabung dengan paduan suara gereja, singer atau berbagai bentuk pelayanan yang bernafaskan puji-pujian lainnya. Pelayanan pujian adalah pelayanan yang sangat penting dalam ibadah gerejawi. Pelayanan pujian dalah salah satu cirri khas penting dari Kekristenan. Gereja dan pelayanannya selalu di dukung puji-pujian. Tetapi seringkali pelayanan pujian seperti paduan suara, bukannya memuliakan Tuhan tetapi justru untuk memuliakan diri sendiri. Seringkali paduan suara hanyalah ajang untuk pamer kemampuan dan sebagainya. Untungnya paduan suara kita tidak demikian. Saya akan cerita sedikit tentang suasana gereja di Nias. Gereja-gereja di sana, memang kaya dengan orang-orang bertalenta menyanyi. Sehingga di satu gereja bisa memiliki 12 group paduan suara. Oleh karena terlalu banyak, maka group-group ini dibagi dan dijadwal. Namun dalam event khusus, semua group harus tampil. Jika ada group yang tidak tampil, maka akan terjadi keributan di gereja. Saya pernah merasa geli karena banyak anggota paduan suara yang tiba-tiba muncul di depan tanpa pernah mengikuti latihan koor. Seringkali menyanyi dijadikan ajang pamer kemampuan nyanyi, pamer fashion, pamer kekayaan dengan emas yang dipakai di sana sini dan berbagai pameran lainnya. Jadi motifasinya sudah bukan untuk memuliakan Tuhan tetapi memuliakan diri sendiri. Untungnya di Nias tidak ada tepuk tangan setelah paduan suara menyanyi. Tidak seperti di sini.
Kelima. Pelayanan doa. Pelayanan doa adalah salah satu tonggakpenting dalam gereja. Tanpa doa, gereja tidak bisa hidup. Bukankah doa merupakan nafas hidup kita? Termasuk nafas hidup gereja. Setiap orang percaya wajib berdoa bahkan terlibat dalam persekutuan-persekutuan yang menekankan doa. Namun pelayanan doa juga bisa bersifat antroposentris. Artinya doa itu bisa berpusat pada diri manusia dan bukan kepada Allah. Kalau doa seseorang dijawab, itu bukan karena yang berdoa itu lebih hebat dari orang lain sehingga doanya lebih manjur. Bukan karena jabatannya semisal pendeta, sehingga doanya lebih hebat dari orang awam misalnya. Sekali lagi bukan karena itu. Bukanpula karena cara doanya, strategi doanya ataupun lamanya orang berdoa. Semuanya karena kedaulatan Tuhan dalam menjawab doa kita. Semua karena kehendak Allah dan bukan karena kehendak kita atau kehebatan kita. Sayang, banyak orang yang terlalu mengagunggkan manusia karena doanya yang manjur. Misalnya pendeta Paul Yonggi Co Di Korea disebut-sebut sebagai manusia yang doanya selalu manjur. Akibatnya pendeta Co selalu laris karena doanya yang manjur. Di mana-mana ia sangat diangungkan dan dipuji-puji karena doanya. Sekali lagi hati kita ikut sedih, dimanakah Tuhan dalam pelayanan pak Co? Jangan-jangan yang dimuliakan pak Co nya dan bukan Tuhan.
Keenam, pelayanan kesembuhan. Pelayanan kesembuhan adalah pelayanan paling di minati, ditengah-tengah krisis ekonomi saat ini. Di kala orang sudah tidak mampu membayar dokter dan biaya medis yang sangat mahal, pelayanan kesembuhan adalah alternative terbaik. Hitung-hitungdari pada pergi ke dukun, kan lebih baik pergi ke pendeta yang memiliki pelayanan kesembuhan. Ini memang tidak salah. Kepada siapa kita berharap, dikala sudah tidak ada yang memapu memberikan kita harapan selain kepada Tuhan? Maka pelayanan penyembuhan dengan skala besar begitu ramai dikunjungi. Saya sering heran kalau melihat iklan kebaktian di gereja tertentu. Tulisannya demikian “HADIRILAH KEBAKTIAN PENYEMBUHAN.” Jadi, kebaktian semacam ini penekanannya kepada kesembuhannya dan bukan FirmanNya. Ini suatu pengajaran yang berbahaya. Orang datang kebaktian bukan dengar Firman tetapi ingin sembuh. Kita kembali ke pokok pembicaraan. Nah, orang yang memiliki karunia penyebuhan pasti laris. Kedatangannya disambut bak dewa saja. Bahkan di Indonesia pernah hamba Tuhan penyembuh disambut oleh Presiden. Hebat bukan?
Ke tujuh. Pelayanan kepemimpinan. Tidak lengkap jika tidak angka tujuh. Bukan karena 7 angka keramat, namun angka tujuh dalam Alkitab sering disimbolkan sebagai kesempurnaan. Setiap kita mungkin penah dipercayakan untuk sebuah pelayanan kepemimpinan, entah dengan skala besar ataupun dengan skala kecil, misalnya memimpin grup atau kelompok kecil. Jika kita sukses memimpin sebuah pelayanan ini sangat bagus. Kita mungkin di puji, makin dihormati, pengaruh kita semakin besar. Maka mulai berhati-hatilah. Ingat pelayanan kepemimpinan kita dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Jangan di balik. Dari saya, oleh saya dan untuk saya. Memang pelayanan kepemimpinan mengorbankan banyak hal, tenaga, pikiran, uang bahkan harga diri kita. Namun kalaupun kita telah berkorban banyak hal bahkan berjerih lelah karenanya, itupun semua karena anugerah Tuhan.
Saya mau akhiri tulisan ini dengan menyampaikan bahwa kesombongantidak hanya kita temukan di luar gereja. Di dalam gereja juga banyak kesombongan. Ini disebut kesombongan rohani. Maka berhati-hatilah ketika anda sudah mulai sukses dalam pelayanan. Teruslah kembangkan kerendahan hati. Bukan kerendahanhati semu, kerendahan hati yang membungkus kesombongan. Namun kerendahan hati yang tulus dan apa adanya. Tuhan senang dengan pelayanan demikian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: