Oleh: Faoziduhu | Agustus 3, 2012

MENGAPA HARUS BERDOA (Bagian 2-Terakhir)

Semua alasan-alasan yang diuraikan diatas sebenarnya merupakan alasan yang tidak benar. Mengatakan bahwa Tuhan Mahamengetahui adalah benar. Ia memang mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita. Ia juga mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Ia mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita di masa depan. Ia mengetahui segalanya. Namun keyakinan kita akan pengetahuan Allah tidak serta merta membuat kita merasa tidak perlu berdoa, bahkan berpikir bahwa dengan berdoa kita menghina Dia. Ini pandangan yang naif dan terkesan dibuat-buat. Sekalipun Tuhan mengetahui semuanya. Namun doa adalah sebuah bentuk komunikasi kita denganNya. Bayangkan saja kalau kita tidak berdoa dan berpikir bahwa Ia sudah tahu semuanya. Bukankah dengan tidak berdoa hubungan kita semakin renggang dan bukan tidak mustahil suatu saat hubungan kita dengan Tuhan akan putus suatu saat. Doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan.
Alkitab mengajar kita bahwa Allah yang kita kenal bukan saja Allah yang besar, agung, mulia dan bersifat transenden. Namun ia juga adalah Allah yang kita sebut sebagai Bapa. Pribadi yang dekat dan bersama dengan kita. Ia immanen. Jika Allah adalah Bapa kita. Maka kita seharusnya memiliki hubungan komunikasi yang baik dengannya. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya “berdoalah kepada Bapamu yang ada ditempat yang tersembunyi” (Matius 6:6). Demikian juga Tuhan Yesus berpesan “Berjaga-jagalah dan Berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Matius 26:41). Bayangkan saja kalau ada seorang anak yang tidak mau berbicara kepada ayahnya, karena ia beranggapan bahwa ayahnya sudah mengetahui semua kebutuhannya. Saya tidak habis berpikir bahwa seorang anak tidak pernah meminta sesuatu kepada ayahnya atau tidak pernah bicara kepada ayahnya. Ia begitu pasif dalam berkomunikasi. Bukankah hubungan mereka semakin renggang dan penuh dengan praduga satu sama lain.
Tidak hanya itu, banyak orang kristen berpikir bahwa doa hanya sekedar memohon dan meminta kepada Tuhan. Doa tidak hanya sekedar itu. Doa adalah sebuah pelayanan kita kepada Allah. Di dalam doa kita menaikkan syukur kepadaNya. Kita bersyukur untuk semua berkat, pemeliharaanNya atas hidup kita. Ia menjaga kita dari yang jahat, menjauhkan kita dari godaan, melindungi kita dari marabahaya, mencukupi kebutuhan kita bahkan mencurahkan segala berkatNya atas kita. Maka seharusnya kita berterima kasih kepadaNya melalui doa. Memang mewujudkan syukur tidak hanya dengan doa tetapi juga dengan tindakan lain. Misalnya memberikan persembahan syukur, bersaksi tentang kebaikan Tuhan dan bahkan kerelaan untuk melayani Dia. Namun Doa tetaplah sebuah wujud syukur secara langsung. Kita berbicara kepada Tuhan, kita mengakui dengan mulut kita bahwa berkat bersumber dariNya dan berterima kasih kepadaNya.
Namun doa juga tidak hanya bicara syukur. Namun di dalam Doa kita mengakui dosa kita. Kita mengetahui bahwa kita lemah dan kita bisa saja gagal melakukan Firman Tuhan dalam hidup kita. Maka ketika kita sadar akan pelanggaran kita. Maka saluran terpenting untuk mengungkapkan pengakuan dosa kita adalah melalui doa. Banyak orang Kristen berpikir bahwa pengakuan dosa hanya bila kita berbuat dosa yang bagi banyak orang begitu mengerikan dan menjijikkan. Namun untuk dosa yang biasa, semisal berbohong tidak perlu pengakuan dosa melalui doa. Bahkan mungkin ada yang berpikir bahwa pengakuan dosa hanya waktu di gereja saja. Bukankah di dalam susunan liturgi gereja ada doa pengakuan dosa. Jadi dosanya dikumpulin dulu dan hari Minggu baru diakui. Ini paham yang salah. Di dalam doa tiap hari, kita seharusnya mengakui pelanggaran dan kesalahan kita. Kadang ada dosa yang kita sadari atau ketahui namun kadangkala juga ada dosa yang tidak kita sadari. Artinya, pengetahuan kita yang terbatas, membuat kita tidak sadar bahwa apa yang kita perbuat sebenarnya adalah dosa.
Alasan berikutnya adalah kedaulatanNya atas kita. Memang Tuhan berdaulat atas hidup kita. keputusanNya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Namun alasan ini tidak serta merta menjadi pembenaran untuk tidak berdoa. Jika kita mengakui bahwa Tuhan sudah menetapkan semuanya, pertanyaanNya bagaimana kita bisa mengetahui kehendak dan ketetapanNya? Apakah kita paranormal yang bisa menangkap dengan mudah kehendakNya? Sehingga kita tidak merasa perlu berdoa? Bukankah kehendakNya adalah sesuatu yang terus menerus kita cari dan caranya adalah dengan berdoa? Kehendak kita tidak sama dengan kehendak Tuhan. Tuhan berdaulat atas kehendakNya. Masalahnya, kita terus menerus dalam pencarian akan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Bisa saja kehendak kita sejalan dengan kehendakNya. Namun kadangkala kehendak kita bertentangan dengan kehendakNya. Nah, oleh karena kehendakNya adalah sesuatu yang terus menerus kita cari, maka sangat wajar dan seharusnya kita mengemukakan kehendak kita atau keinginan kita dalam doa kepadaNya. Melalui Doa kita, mengemukakan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita. Jadi doa justru mengangkat martabat kita, sebagai mahluk yang memiliki kehendak dan keinginan. Sekalipun kehendak dan keinginan itu harus tunduk di bawah kedaulatanNya yang mutlak.
Alasan berikutnya adalah kemakmuran. Tuhan Yesus memberikan perumpamaan yang tepat sekali dalam Lukas 12:18 untuk menjawab hal ini. Diceritakan tentang seorang yang sukses dalam kehidupannya dan dengan kesombongan ia berkata, “beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah.” Tetapi Tuhan menetapkan bahwa malam itu juga jiwanya diambil. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa manusia tidak bisa membeli nyawanya seberapa banyak uangnya. Manusia hanyalah debu dan hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Maka sebagai orang percaya yang menyadari kauasa Tuhan dan hanya bersandar kepadaNya, tidak ada alasan untuk tidak berdoa.
Alasan terakhir adalah paham kebetulan. Jika Allah tidak berkuasa mengendalikan ciptaanNya, dan Ia hanya bisa membiarkan segala sesuatu terjadi secara kebetulan, maka untuk apa berdoa. Bukankah semuanya terjadi secara kebetulan? Ini pandangan yang menyesatkan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu dirancang dan dikehendaki oleh Tuhan. Bahkan sampai hal-hal yang mendetail dalam hidup kita. Firman Tuhan berkata: “bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi, diluar kehendak BapaMU. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari banyak burung pipit.” (Matius 11:29-31). Jadi sekali lagi tidak ada yang namanya kebetulan. Dari uraian panjang lebar diatas, menjadi jelas kepada kita mengapa kita berdoa.

Oleh: Faoziduhu | Juli 27, 2012

MENGAPA HARUS BERDOA (Bagian 1)

Ada seorang anak yang begitu aktif di Sekolah Minggu. Dia diajarkan oleh guru di gereja bahwa waktu bangun tidur, sebelum makan, kalau mau tidur harus berdoa. Namun ayahnya adalah seorang yang tidak percaya kepada Tuhan. Ia sering bertanya kepada anaknya, kenapa anaknya sering berdoa. Bukankah Tuhan sudah tahu segala sesuatu? Kenapa harus meminta sesuatu dengan berdoa? Anaknya kemudian menjawab sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah minggu bahwa berdoa adalah nafas hidup orang percaya. Namun jawaban yang singkat dan sederhana ini kurang memuaskan ayahnya itu. Sehingga orang tuanya tersebut terus menerus mempersoalkan tiap kali anaknya berdoa.
Sekalipun pertanyaan si ayah tadi bernada sinis terhadap doa, namun sebenarnya jujur kita akui bahwa banyak orang Kristen mempertanyakan mengapa harus berdoa? Apalagi orang Kristen yang pemahamannya terlalu ekstrim. Bukankah Tuhan Mahatahu. Ia tahu apa yang kita butuhkan, apa yang kita perlukan. Bahkan Ia lebih tahu sekalipun apa yang menjadi kebutuhan terpenting kita. Ia mengetahui jauh ke depan apa yang merupakan kemauan, kerinduan, keinginan dan kebutuhan kita. Jadi kita tidak perlu memohon sesuatu kepadaNya. Jika kita berdoa maka seolah-olah kita menghina Dia sebab seakan-akan Ia tidak mengetahui apa yang kita mau sampaikan. Seolah-olah Ia terbatas di dalam memahami kedalaman hati kita. Intinya, Tuhan sudah tahu semuanya, jadi buat apa berdoa.
Alasan ekstrim berikutnya adalah bahwa Tuhan adalah Mahaberdaulat. Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu. Kita hidup menurut “garis” yang Tuhan sudah tetapkan. Kita tidak bisa mengubah “takdir” kita dan kita hanya pasrah serta ikut apa yang sudah Tuhan tetapkan. Nah, kalau jalan hidup kita Tuhan sudah tetapkan, apa yang akan terjadi kemudian dalam hidup kita sudah digariskan oleh Tuhan, lalu kenapa harus berdoa? Bukankah berdoa hanya membuang-buang waktu dan energy kita saja? Toh, semua sudah tetapkan dalam kedaulatanNya. Jadi tidak perlu berdoa. Kita hanya bisa menerima apa yang Tuhan sudah tetapkan. Ketetapan Tuhan tetap baik dan selalu baik. Sekalipun ada banyak hal dalam ketetapanNya yang tidak sesuai dengan keinginan kita, namun ketetapanNya tetaplah yang terbaik. Kita tidak memiliki kedaulatan apapun untuk mengubah kehendakNya yang baik apalagi mengubah ketetapanNya yang final. Siapakah kita sehingga bisa mengubah kehendakNya yang mutlak. Jadi doa tidak ada gunanya. Sekali lagi ini pandangan ekstrim yang kedua.
Saya memiliki seorang teman yang cukup akrab dan sering saya ajak diskusi teologis. Kalau berkumpul dengan keluarganya dan waktunya untuk berdoa, dengan senyum sinis ia menolak ikut dengan alasan berdoa adalah sesuatu yang sia-sia, percuma dan buang waktu. Saya mengenal pemikiran orang ini tidak hanya dipengaruhi oleh alasan ekstrim diatas, tetapi juga karena kemapanan hidup yang dialaminya hari membuat ia merasa tidak memerlukan Tuhan atau tidak merasa perlu bersandar dan meminta sesuatu kepada Tuhan. Bukankah segala sesuatu ia sudah punya dan bahkan banyak orang bergantung dan berharap kepadanya. Sekarang kurang apalagi. Ia sama sekali tidak butuh Tuhan. Jadi untuk apa berdoa? Inilah alasan ekstrim lainnya. Yaitu kemapanan dan kemakmuran.
Apakah kemapanan dan kemakmuran, bisa membuat orang tidak mau berdoa? Jawabannya ya. Namun tidak semua orang yang mapan dan makmur tidak suka berdoa. Dalam Alkitab, kita menemukan bahwa Abraham seorang yang kaya raya di negerinya. Namun, ia adalah seorang yang suka berdoa. Ia memiliki hubungan yang demikian erat dengan Tuhan. Kemakmuran yang dialami seseorang bisa membuat orang tersebut menjadi Tuhan atas dirinya. Ia tidak butuh Tuhan. Ia hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatannya sendiri. Ada juga orang yang dulunya begitu tekun berdoa sebelum ia makmur secara materi. Namun setelah ia menjadi sukses, ia berpikir bahwa semua kesuksesan yang diraihnya adalah usaha dan jerih lelahnya. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang membuat ia mengalami kesuksesan dan mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Memang ia yang bekerja keras, namun Tuhan membuat kerjanya menjadi mujur dan mulus. Tuhanlah yang melindunginya dan membuat ia tetap sehat sehingga ia bisa bekerja dengan keras dan cerdas. Ia lupa bahwa dibalik jerih lelahnya, ada Tuhan yang beranugerah tiada hentinya. Sekarang setelah semua di dapatkannya, ia tidak merasa bahwa Tuhanlah yang membuatnya demikian dan oleh sebab itu ia tidak perlu berdoa.
Alasan klasik berikutnya adalah sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kebetulan. Tidak ada Tuhan dan tidak ada kekuatan lain yang berkarya di alam semesta. Jangan pikir bahwa paham “kebetulan” hanyalah milik orang ateis. Banyak orang Kristen yang memiliki paham “kebetulan” ini. Semangat naturalisme, menyebabkan munculnya paham segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Dalam kehidupan ini ada keuntungan dan kerugian. Keduanya terjadi secara kebetulan dan tidak ada intervensi Allah di dalamnya. Entah Allah ada atau tidak ada, tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat mengendalikan alam. Semua berjalan secara natural. Nah, paham seperti ini bisa menyebabkan orang kemudian tidak mau berdoa.

Oleh: Faoziduhu | Juli 20, 2012

MENANGGAPI MASALAH DENGAN DOA (Nehemia 1:1-11)

Pendahuluan:
Jendral Patton adalah jendral terbaik sepanjang abad 19. Ialah jendral sekutu paling cemerlang yang berhasil mengobrak-abrik pasukan Jerman dari Afrika Utara, Italia, Belgia, Perancis hingga ke jantung pertahanan pasukan Jerman di negerinya sendiri. Di bawah pimpinan Jenderal George Patton pada Perang Dunia II, Laskar Ketiga yang dipimpinnya, berhasil memukul mundur tentara Nazi sampai kabut dan hujan memaksa pasukan tersebut untuk berhenti. Lalu Patton menelepon seorang pendeta tentara dan bertanya, “Apakah Anda punya doa yang bagus mengenai cuaca?” Pendeta itu segera memenuhi permintaan jenderal tersebut. Ia menulis sebuah doa, dan kemudian Patton memerintahkan agar doa itu dicetak dan dibagikan kepada 250.000 orang prajurit di bawah pimpinannya. Ia menyuruh mereka berdoa agar cuaca menjadi cerah.
Jenderal Patton seorang pemimpin yang luar biasa. Pengalaman perangnya sungguh luar biasa. Ia seorang jenderal yang ditakuti lawan dan disegani oleh kawan. Beberapa kali Patton selamat dari berbagai bahaya, serangan musuh, juga konspirasi jahat dari rekan-rekannya yang iri dan dengki kepadanya. Namun semua kehebatan dan pengalaman itu tidak membuat Patton bersandar pada kehebatan dan kemampuan yang dipunyai dan dialaminya. Dalam berbagai kesempatan, ia membuktikan bahwa ia seorang yang bergantung kepada Tuhan.
Hal yang sama juga dialami oleh Nehemia. Nehamia adalah seorang buangan yang tinggal di puri Susan. Yang istimewa adalah nehemia seorang yang dipercaya oleh Raja. Ia bertugas mengurus minuman raja. Pada waktu itu, tidak semua orang dipercaya untuk menghidangkan anggur bagi raja. Apalagi jika ia berasal dari bangsa lain, yang bukan babel. Namun nehemia mendapatkan kepercayaan dan posisi penting. Sebab Ia memiliki akses langsung kepada baginda raja dan keluarganya. Kita tidak mengetahui dengan jelas riwayat hidup nehemia secara lengkap, termasuk perjalanan karirinya sampai menjadi juru anggur raja. NAMUN YANG PASTI NEHEMIA ADALAH SEORANG PENDOA SYAFAAT. Tidak diragukan bahwa Nehemia adalah seorang pendoa. Pada waktu ia menjadi seorang kepercayaan raja hingga ia menjadi pemimpin pembangunan Yerusalem. Jelas nehemia adalah seorang pendoa syafaat. Ia seorang yang setia dan tekun berdoa. Tidak hanya disaat-saat butuh pertolongan ia berdoa. Ketika semua berjalan baikpun Nehemia tetap berdoa.
Bagaimana Nehemia bisa mengembangkan pelayanan doa yang luar biasa seperti ini, mari kita belajar dari nast kita ini: Pada suatu ketika, Hanani dan beberapa orang dari Yehuda datang ke puri Susan. Perjumpaan dengan Hanani tentu sangat menggembirakan bagi nehemia. Orang yang hidup di perantauan atau jauh dari tanah kelahiran, akan sangat senang bertemu dengan orang yang berasal dari tempat kelahiran. Apakah yang dilakukan oleh Nehemia, ketika bertemu dengan Hanani? Apakah ia menceritakan sejumlah prestasi yang telah diraihnya di kerajaan? Apakah ia menceritakan pengalaman-pengalamannya sehingga ia sampai pada sebuah jabatan prestisius sebagai kepercayaan raja? Apakah ia menceritakan kebanggan-kebanggan pribadinya? Atau ia menceritakan pergumulan hidupnya di negeri orang?
Ternyata tidak. Dalam ayat 2, dikatakan “aku menanyakan kepada mereka tentang orang-orang yahudi dan juga tentang Yerusalem.” Nehemia justru menanyakan teman-teman sebangsanya yang terluput dari pembuangan dan juga tentang Yeruselem. Nehemia ternyata begitu peduli dengan kondisi orang yahudi dan juga Yeruselem. Posisinya yang penting di kerajaan tidak menyebabkan nehemia merasa menjadi orang yang nyaman dan merasa puas dengan diri sendiri. Ia tidak egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Nehemia justru bertanya dan ingin tahu tentang Israel. Kita tahu bahwa bangsa Israel dan bangsa pilihan Tuhan. Yeruselem adalah merupakan pusat dari agama dan bahkan Yeruselem dianggap sebagai symbol kehadiran Tuhan di tengah umatNya. Sebab di Yeruselem berdiri bait Tuhan yang suci. Yeruselem juga merupakan symbol dari isrel itu sendiri. Namun dosa dan ketidak taatan bangsa itu, menyebabkan kota itu dihancurkan dan penduduknya dibuang. Keberadaan kota dan penduduk Yeruselem telah menjadi PUSAT PERHATIAN NEHEMIA. Sehingga pokok pembicaraan penting pertama ketika bertemu dengan Hanani adalah Yerusalem dan orang Israel yang luput. Nehemia selalu MEMBUKA MULUTNYA UNTUK BERTANYA, MEMBUKA TELINGANYA UNTUK MENDENGAR, MEMBUKA MATANYA UNTUK MELIHAT DAN MEMBUKA HATINYA UNTUK PEDULI dengan hal-hal yang ada di sekitarnya. Inilah rahasia seorang pendoa. Seorang pendoa adalah seorang yang peduli dengan dunia sekelilingnya. Orang yang peduli dengan dunia sekelilingnya adalah orang yang mau mengetahui, mau bertanya, mau melihat, mau mendengar situasi sekelilingnya. Tanpa kepedulian dengan dunia sekitar bagaimana seseorang bisa berdoa? HAL APAKAH YANG AKAN DI DOAKANNYA? Ada suatu mitos yang masih melekat pada banyak orang sampai hari ini, yaitu bahwa seorang yang memiliki kehidupan dioa yang bagik adalah seorang yang beraskese. Artinya orang tersebut menjauh dari masyarakat, meninggalkan dunia ini, bertapa, menyendiri dan berdoa. Paham seperti ini pernah menjadi cirri khas gereja pada abad-abad pertengahan. Para biarawan dan biarawati, biasanya hidup terpisah dari masyarakat, menjauh dari dunia dan mereka mengembangkan tarekat berdoa yang “katanya” luar biasa. Pertanyaannya, hal apakah yang mereka doakan, jika mereka tidak pernah mau melihat, mendengar, bertanya dan membukan hati kepada masalah-masalah dunia sekeliling mereka. Jika kita menjadi pendoa syafaat yang dipakai oleh Tuhan, maka kembangkanlah sikap peduli dengan dunia sekitar kita. Mari kita belajar untuk bertanya, mendengar, melihat dan membuka hati terhadap hal-hal disekitar kita, sehingga kehidupan doa kita menjadi dinamis. Banyak orang menjadi jenuh berdoa, sebab yang di doakan itu-itu saja, kurang spesifik, tidak jelas bahkan ada yang berdoa begitu mengambang, sangat umum.
Nehemia tidak saja mengembangkan sikap mau peduli, namun kehidupan doanya didasari dengan kehidupan doa yang benar. Ia bukan orang yang sembarang berdoa. Ia tidak berdoa dengan ngawur. Ia mengenal bagaimana berdoa dengan benar. Di dalam ayat 5-11, kita melihat sikap yang ditunjukkan oleh nehemia, sehingga doanya adalah doa yang benar. pertama, Ia berdoa dengan kesungguhan hati (4), Kedua, ia berdoa dengan hati yang penuh penyesalan dan kerendahan hati (5-7), Ketiga, ia berdoa dengan iman akan janji-janji Tuhan (8-9), dan keempat ia berdoa dengan tulus dan penuh kejujuran (10-11). Doa yang benar adalah doa yang memperkenankan hati Allah. Dalam Alkitab, kita berkali-kali menemukan teguran terhadap doa yang tidak benar atau doa yang salah. Tuhan Yesus mengecam sikap doa yang salah dalam Matius 6:5-8. Yakobus juga mengatakan “atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa.” (Yakobus 4:3). Doa yang salah adalah doa yang tidak memperkenankan hati Tuhan dan doa yang tidak memperkenankan hati Tuhan tentu tidak akan dijawab atau dikabulkan.
Hari ini banyak orang berdoa ngawur dan tidak benar. Pertama, Ada orang yang berdoa tidak dengan kesungguhan hati. Mereka berdoa karena rutinitas, seremonial. Mereka berdoa asal-asalan. Kedua, ada orang yang berdoa dengan kesombongan. Ia memberikan perintah kepada Tuhan dan Tuhan dijadikan seperti “bawahan” yang tunduk kepada kemauan kita. Bahkan doa yang sombong ini sering disertai dengan ancaman atau iming-iming kepada Tuhan. Ketiga, ada orang yang berdoa dengan penuh keraguan. Orang yang tidak mempercayai Tuhan dalam hidupnya, akan selalu ragu kalau berdoa. Keempat, ada orang yang berdoa tidak jujur. Banyak hal yang tidak diungkapkan. Mengapa? Mungkin karena ia sendiri tidak tahu apa yang dia mau doakan, atau karena ia beranggapan bahwa TUHAN SUDAH TAHU SEMUANYA. JADI TIDAK PERLU BERDOA JUJUR. Ada juga yang salah mengerti tentang maksud Tuhan dengan doa bertele-tele. Doa bertele-tele adalah doa yang memiliki motivasi untuk dipuji dan dihormati. Tidak ada salahnya kita berdoa panjang dan lama, asal hati kita jujur dan murni di hadapan Tuhan. Anda ingin kehidupan doa yang luar biasa. Milikilah sikap peduli dengan keadaan sekitar anda. Namun tidak hanya itu, berdoalah dengan benar di hadapanNya.

Oleh: Faoziduhu | Juni 14, 2012

BOLA DAN TANGGUNG JAWAB KRISTEN

Bulan ini mata dunia tertuju ke Eropa. Lebih tepatnya di negeri mantan sekutu dekat Uni Soviet yaitu, Polandia dan Ukraina. Di dua Negara ini, Negara-negara digdaya sepak bola bertarung memperebutkan piala bergengsi Euro. Sudah beberapa tahun yang lalu, Polandia dan juga Ukraina sudah mempersiapkan diri menyambut even penting ini. Tidak hanya sarana prasarana penunjang pertandingan yang dibangun atau direnovasi, namun juga tempat-tempat hiburan menyambut turis dan penonton fanatic yang diprediksi akan membanjiri negeri-ngeri yang sebelum soviet runtuh sangat tertutup itu. Tempat-tempat favorit, tujuan wisata, dipercantik, dibenahi sehingga pengunjung merasa puas dan senang.
Bola memang selalu menarik. Hampir tidak ada negara di belahan bumi ini yang tidak menyukai bola. Negara-negara yang makmur sampai yang paling miskin suka dengan bola. Di Negara-negara yang keamanannya stabil dan menjunjung tinggi demokrasi sampai di kawasan negara-negara yang penuh dengan konflik yang tidak kunjung usai karena kediktatoranpun suka dengan bola. Karena menarik inilah maka setiap even bola selalu digunakan oleh banyak orang untuk mengais keuntungan sebesar-besarnya. Promosi dan publikasi gencar dilakukan dengan tujuan meningkatkan minat penonton yang ujung-ujungnya keuntungan bisnis yang di dapatkan. Memang bola selalu membawa berkah bagi banyak orang.
Namun ditengah hiruk-pikuk bola, sebagai orang Kristen janganlah kita menjadi terlena dan terbius sehingga kurang waspada. Bola bisa membuat kita mengabaikan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari, termasuk tanggung jawab kita kepada Tuhan. Hobi memang ibarat obat perangsang yang sangat nikmat bila dipakai atau dikonsumsi. Hobi apapun termasuk menonton bola jika tidak hati-hati dapat membuat kita, bukannya mendapat berkah di dalamnya sebaliknya bisa merugikan diri kita sendiri. Baiklah saya akan menyampaikan beberapa hal yang perlu kita cermati berkaitan dengan hobi atau demam nonton bola.
Pertama, etos kerja dan kualitas kerja. Karena waktu di sini dengan di tempat penyelenggaraan sangat berbeda jauh, maka pertandingan yang diliput secara live, bisa ditonton pada tengah malam atau juga waktu subuh. Maka jika seseorang tidak mampu membagi waktu tidur dengan baik, ia akan kesulitan ketika bekerja di siang hari. Hal ini tentu akan mempengaruhi kualitas kerja seseorang. Bayangkan sambil bekerja ngantuk-ngantuk, tidak bisa konsentrasi, gampang lelah dan atau emosi menjadi tidak stabil, misalnya gampang marah, sangat sensitif. Lebih-lebih kalau negara jagoannya kalah. Kalau sebuah perusahaan atau tempat bekerja, mayoritas penghobi bola dan lagi demam bola dan celakanya mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik, maka tentu akan menyebabkan produktivitas mengalami penurunan. Bahkan, bisa-bisa karena bola, banyak yang bolos kerja.
Tentu ini tidak benar dan tidak baik. Apalagi bagi seorang pekerja Kristen. Pekerjaan dan hobi harus bisa dibedakan. Pekerjaan harus menjadi prioritas sedangkan hobi hanyalah hiburan dan saluran kreativitas dan juga kadang menjadi ajang membangun kebersamaan. Saya tidak mengatakan seorang Kristen, tidak boleh nonton bola. Saya juga senang nonton bola, walaupun tidak terlalu demam bola. Namun, hobi jangan sampai mempengaruhi kualitas kerja seorang pekerja Kristen. Bagaimana caranya supaya hobi tersalur dan pekerjaan tetap berkualitas. Dibutuhkan hikmat membagi waktu dengan baik. Jika ingin menonton bola tengah malam, maka bagilah waktu anda sehingga sebelum nonton, sebaiknya anda tidur atau beristirahat secukupnya. Saya pikir, kalau jam tidur normal seseorang tercukupi, sekalipun terjadi perubahan dalam urutan dan penempatannya, maka hal itu tidak akan mempengaruhi kualitas keduanya.
Kedua, demam bola hendaknya tidak akan mengakibatkan kita mengabaikan waktu-waktu ibadah kita. Saya pikir semua orang yang sungguh-sungguh Kristen akan setuju bahwa ibadah adalah prioritas utama melebihi segalanya. Ini tanggung jawab kita dan wujud syukur kita yang telah mengalami anugerah Alllah dalam Yesus kristus yang telah menebus kita dengan memberikan nyawaNya bagi kita. Oleh sebab itu, Kewajiban kita untuk tetap beribadah dan tidak boleh mengabaikannya sekalipun dengan alasan hobi bola. Maka sekali lagi aturlah waktu anda, terutama menjelang malam Minggu. Ingat selalu bahwa besoknya adalah waktu untuk bertemu Tuhan.
Ketiga, hati-hati dengan perjudian atau taruhan dalam bola. Sudah bukan rahasia umum lagi, banyak orang ingin mencari untung atau sekedar iseng berjudi ketika dunia lagi demam bola. Dalam Kekristenan, perjudian atau apapun nama samarannya adalah dosa dan tidak diperkenankan. Ingat judi bisa merugikan diri sendiri atau merugikan orang lain. Judi juga menyebabkan kita kurang menghargai apa yang namanya kerja keras dan proses. Manusia yang senang judi biasanya ingin cepat dapat untung banyak, suka berspekulasi dan kalau ingin menang terkadang menggunakan cara-cara tebak-tebakan yang penuh mistik untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Ini dosa yang harus kita hindari dan jauhi. Dengan judi seseorang kurang menghargai uang sebagai milik Tuhan yang dipercayakan kepadanya untuk dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab. Uang dengan gampangnya di buang dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan detik. Hindarilah tawaran judi dalam musim bola dengan iming-iming keuntungan banyak. Mari salurkan hobi dengan cara benar tanpa mengurangi kualitas kerja dan tanggung jawab Kristiani kita.

Oleh: Faoziduhu | Mei 30, 2012

Membangun Infrastruktur di Nias Barat

Kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh infrastruktur yang menunjang di dalamnya. Tanpa infrastruktur yang memadai maka kemajuan sebuah daerah hanyalah mimpi belaka. Oleh sebab itu pemerintah perlu melakukan terobosan dan berupaya menyediakan infrastrukur tersebut. Masyarakatpun memiliki kewajiban mendorong dan mengingatkan pemerintah untuk berupaya menyediakan sarana prasarana bagi kemajuan di segala bidang. Sebagai daerah yang berbatasan dengan pantai barat, nisbar sebenarnya telah memiliki akses pelabuhan sendiri. Namun pengembangan dan pembangunan pelabuhan tersebut masih kurang memadai. Kapal kapal besar penunjang ekonomi belum berani merapat karena pelabuhannya belum memadai. Akibatnya hasil bumi tidak bisa diangkut lewat pelabuhan yang seharusnya lebih efektif dan efisien ketimbang melalui jalan darat yang memutar dengan ongkos yang lebih besar. Sekarang tergantung niat pemda, untuk segera membenahi pelabuhannya.

Oleh: Faoziduhu | Mei 25, 2012

PELAJARAN DARI KELUARGA YAKUB (Bagian 3)

Banyak kisah-kisah menarik yang kita bisa pelajari dari keluarga Yakub yang diceritakan dari pasal 29 hingga pasal 49 kitab Kejadian. Namun kita tidak bisa membahasnya secara keseluruhan. Pada bagian akhir dari uraian ini, saya mengajak kita melihat kejadian 37:3. Dalam ayat itu tertulis demikian “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya.” Bagian yang lain adalah Kejadian 42:4 yang bertuliskan demikian “tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf pergi bersama saudara-saudaranya, sebab pikirnya “jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.” Dari kedua ayat ini, timbul sebuah kesan dalam hati kita atau semacam dugaan yang demikian kuat bahwa dalam keluarga Yakub memang terjadi pilih kasih. Yakub lebih mengasihi Yusuf dan lebih mengasihi Benyamin ketimbang anak-anaknya yang lain. Mari kita mencoba membuktikan lebih dahulu dugaan atau kesan itu.
Pertama-tama, kalau kita membaca pasal 37:3 maka penulis kitab Kejadian menyebutkan dengan gamblang bahwa Yakub yang telah memiliki nama baru yaitu Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anak yang lain. Kita perlu ingat bahwa Benyamin dilahirkan juh sebelum pasal 37. Dengan demikian secara harafiah, Yusuf memang lebih dikasihi dibandingkan yang lain bahkan lebih dikasihi dibandingkan dengan Benyamin adiknya. Pertanyaannya, mengapa Yakub lebih mengasihi Yusuf? Apakah karena Yusuf merupakan putra satu-satunya yang berakhlak baik (37:2). Alkitab mencatat bahwa saudara-saudara Yusuf memiliki perangai yang jahat dan Yusuf sering melaporkan perbuatan saudara-saudaranya kepada ayahnya. Apakah karena Yusuf memiliki paras yang ganteng dan tubuh yang elok sehingga Yakub lebih mengasihinya (bd 39:6). Ternyata semua alasan itu tidak benar. Alkitab mencatat bahwa Yakub lebih mengasihi Yusuf karena Yusuf lahir pada masa tuanya. Jadi alasannya bukan karena ahlak dan juga bukan karena keelokan paras. Bukan karena keunggulan dalam rupa jasmani dan juga bukan karena keunggulan dalam rupa bathin. Namun lebih kepada “perasaan” sayang yang tumbuh kepada anak yang bungsu tanpa bisa dijelaskan dengan alasa-alasan yang logis. Memang ini kelihatan sesuatu yang sulit dijelaskan secara mendetail dari kajian psikologis.
Anak yang kedua yang paling dicinta adalah Benyamin. Kejadian pasal 42 memberikan kita sebuah indikasi bahwa memang benyamin lebih disayang ketimbang anak-anak lainnya, setelah “berita kematian Yusuf” di dengar oleh Yakub. Yakub lebih merasa sayang kehilangan nyawa Benyamin dibandingkan dengan sayang kehilangan nyawa saudara-saudaranya yang lain. Mengapa Benyamin paling dikasihi dibandingkan dengan yang lain? Tidak ada penjelasan yang setegas pasal 37:3. Namun dalam nast-nast berikutnya yaitu dari ungkapan-ungkapan Yakub dan Yehuda, menjadi terang kepada kita bahwa Benyamin disayang (42:38;44:20; 31) karena alasan yang sama dengan Yusuf. Banyamin dilahirkan ketika Yakub telah tua umurnya. Jadi, Yusuf dan Benyamin lebih disayang ketimbang yang lain, karena keduanya dilahirkan bagi Yakub, ketika Yakub telah berusia lanjut.
Fakta tentang Yakub yang lebih menyayangi anaknya yang bungsu adalah sebuah fenomena yang tidak hanya terjadi pada zaman dahulu. Orang tua di zaman pascamodern di berbagai belahan dunia manapun memang ada yang memiliki sikap seperti Yakub. Sebuah penelitian dilansir oleh femalefirst menunjukkan bahwa 59 persen orang tua sadar bahwa mereka lebih memilih anak bungsu dibandingkan si sulung. Secara khusus, ayah dan ibu cenderung lebih sering berada di samping si bungsu, lebih memberikan perhatian, dan menghabiskan waktu membaca lebih banyak bersama mereka. Anak bungsu juga cenderung lebih mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mendapat perawatan yang lebih baik. Orang tua mereka cenderung lebih sulit menolak apapun yang diinginkan si bungsu. Menurut Lisa Penney, juru bicara bounty.com, yang tergabung dalam penelitian mengatakan, “Sangat sedikit orang tua yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan, dan meskipun penelitian ini membuktikan hal ini benar terjadi, kami tidak menyarankan orang tua hanya menyayangi satu anak dari yang lain,” Menurutnya, para orang tua cenderung memanjakan dan mendukung si bungsu karena mereka adalah anak yang paling muda, sehingga mereka lebih menuntut, dan para orang tua berpikir bahwa inilah saat memerhatikan si bungsu karena perhatian akan semakin sedikit diberikan saat mereka makin tua. Walaupun si sulung sering diminta untuk lebih mandiri dibandingkan anak bungsu, lebih dari separuh orang tua mengaku mereka terikat lebih cepat dengan anak pertama mereka. Sebanyak 64 persen orang tua merasa mereka memiliki banyak kesamaan dengan anak sulung dan lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. (Vemale.com).
Fakta tentang orang tua yang lebih menyayangi anak yang bungsu adalah salah satu dari sekian banyak bentuk-bentuk ketimpangan kasih dalam keluarga, tidak terkecuali dalam keluarga Kristen. Ada orang tua yang lebih mengasihi anak yang sulung. Misalnya Ishak yang lebih sayang kepada Esau anaknya yang sulung (Kejadian 25:28). Orang tua yang lain lebih sayang anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Sikap-sikap seperti ini memang kadang disadari atau tidak disadari oleh orang tua. Namun anak-anaklah yang bisa merasakan dan memberikan penilaian terhadap sikap orang tua terhadap mereka. Saya tida mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi keluarga anda hari ini. Apakah orang tua masih sering pilih kasih, suka membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain, lebih memprioritaskan anak yang satu dan mengorbankan anak yang lain, memuji-muji anak yang satu dan sering menekan dan menghina anak yang lain. Hal-hal inilah yang sering diamati, dirasakan, dialami anak-anak dari orang tuanya. Perlakuan yang tidak sama rata, yang tidak adil, yang pandang bulu menjadi bukti bahwa terjadi ketimpangan kasih dalam keluarga.
Sikap-sikap yang tidak bijaksana dari orang tua seperti inilah yang mengakibatkan munculnya kecemburuan, kebencian, perasaan tidak suka, diantara anak-anak dalam keluarga. Sikap yang pilih kasih mengakibatkan munculnya perasaan rendah diri bagi sebagian anak dan atau perasaan superior bagi anak lainnya. Akibatnya muncul letupan-letupan kecil diantara anak-anak yang jika tidak segera diatasi kelak bisa membesar dikemudian hari. Keluarga menjadi terpecah, kurang harmonis, kurang kompak, tidak menyatu, tidak rukun dan kelak ketika anak-anak menjadi besar mereka tidak peduli satu sama lainnya. Oleh sebab itu orang tua harus menunjukkan sikap yang bijak terhadap anak-anak mereka. Tunjukaan kasih dan perhatian secara merata, tidak membeda-bedakan atau membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Memang setiap anak unik, kadangkala cara mendidik anak yang satu tidak sama dengan cara mendidik terhadap anak lainnya. Kadangkala anak yang satu diberi kelonggaran karena memang anak tersebut telah menunjukkan kematangan, kedewasaan serta tanggung jawab mandiri. Namun terhadap anak yang lain kita tidak bisa longgar sebab anak tersebut masih belum bisa bertanggung jawab dalam banyak hal. Sekalipun cara didikan terhadap anak menyesuaikan terhadap kondisi anak, tetapi orang tua harus ingat satu hal. Semua anak adalah sama. Kasih orang tua kepada semua anak harus sama. Mereka adalah mutiara-mutiara yang berharga yang dititipkan Tuhan kepada orang tua untuk dikasihi dan disayangi. Bagaiamana dengan anda?

Oleh: Faoziduhu | Mei 18, 2012

PELAJARAN DARI KELUARGA YAKUB (Bagian 2)

Apa mau dikata, siasat Laban menjadi kenyataan. Yakub memperistri Lea. Namun cintanya kepada Rahel tidak pernah surut. Ia rela untuk bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel menjadi istrinya. Sekalipun dalam kehidupan manusia purba, system perkawinan masih sangat sederhana. Namun yang jelas disini kita melihat bahwa untuk menikahkan seorang gadis dengan pria idamannya atau untuk bisa mendapatkan atau mempersunting seorang gadis bukanlah hal yang mudah pada masa itu. Butuh perjuangan. Sebab dalam kehidupan zaman purba otoritas keluarga masih sangat kuat. Orang tua memiliki hak untuk menerima dan menolak lamaran seseorang dan hal itu terikat dengan suatu perjanjian di kedua belah pihak. Tidak seperti zaman sekarang. Peran keluarga tidak terlalu dominan dan bahkan sering diabaikan oleh pria dan wanita yang sedang dimabuk cinta dan berniat untuk membangun mahligai rumah cinta mereka. Yakub mendapatkan Rahel dengan susah payah dibawah dominasi keluarga, dalam hal ini Laban. Ia membayar mahar atau jujuran pernikahannya dengan bekerja di rumah Laban empat belas tahun lamanya.
Banyak orang yang memikirkan hari ini bahwa betapa pentingnya pernikahan yang diperjuangkan dengan susah payah, dengan membayar jujuran atau belis memiliki korelasi atau hubungan yang erat dengan lamanya usia penikahan. Jujuran adalah harta benda dalam bentuk uang atau emas yang diserahkan kepada mempelai yang akan dipersunting atau dilamar. Semakin besar nilai jujuran atau semakin susah/berat atau semakin sulit mempersunting si gadis maka semakin beratpula kelak dikemudian hari kedua mempelai memikirkan tindakan untuk berpisah atau cerai. Teori ini dapat kita lihat dan buktikan di daerah-daerah yang masih mempertahnkan adat dengan jujuran yang sangat tinggi. Angka perpisahan atau perceraian masih sangat rendah. Di daerah tersebut untuk mendapatkan seorang gadis tidak gampang. Keluarga calon mempelai pria harus mikir seratus kali untuk mendapatkan jodoh bagi anaknya. Mereka harus menyiapkan dana yang besar. Kadang menabung sejak anak laki-laki mereka masih kecil untuk kelak dipakai sebagai jujuran pernikahan anaknya. Kadang-kadang terpaksa harus minjam atau membuat arisan pernikahan untuk membiayai jujuran anaknya. Jadi bisa dibayangkan seseorang yang membangun rumah tangganya dengan utang atau dengan arisan, harus membayar biaya-biaya tersebut bertahun-tahun kemudian. Bahkan ada yang menyicil membayar utang jujuran itu sampai dua generasi lamanya. Maka ada sebuah ungkapan lucu demikian “Bagaimana mau berpikir soal berpisah (cerai), uang jujuran pernikahan saja belum lunas.”
Disini kita melihat nilai perkawinan atau pernikahan demikian tinggi. Orang tidak dengan gampang menikah. Keluarga yang hendak menikahkan anaknya tidak dengan serta merta atau tiba-tiba mengadakan pesta. Tidak ada pesta kejutan untuk pernikahan. Semua dipersiapkan dengan serius dan hati-hati. Anda mungkin masih ingat dengan pernikahan Ishak, ayah dari Yakub. Bagaimana Eliezer menempuh perjalanan bermil-mil untuk mendapatkan Ribkah bagi Ishak. Bagaimana Elizer membayar jujuran berupa emas, perak serta pakaian kebesaran sebagai jujuran bagi pernikahan Ishak (Kejadian 24:53). Beda halnya dengan seorang budak wanita. System kekeluargaan di timur tengah kuno mengizinkan seorang istri memberikan budak wanita miliknya kepada suaminya untuk “dihampiri” demi mendapatkan anak atau keturunan. Namun penting digaris bawahi bahwa seorang budak wanita tidak disebut sebagai istri yang sah. Sebab, pertama. Seorang budak wanita tidak menikah dengan pria tuannya itu. Tidak ada jujuran untuk budak wanita dan atau tidak perlu usaha keras 7 tahun seperti yakub yang mendapatkan Lea dan Rahel. Tidak perlu pesta untuk budak wanita. Kedua, budak wanita pada masa itu tidak memiliki hak apapun atas dirinya sendiri. Ia harus tunduk dan taat kepada tuannya. Bahkan taat untuk hal-hal yang sangat sensitive sekalipun.
Memang system semacam ini tidak dikehendaki oleh Allah. Tuhan sudah menegaskan tentang aturan pernikahan yang dikehendakiNya dalam Kejadian 2:24 (hal ini akan saya jelaskan minggu depan). Bahwa penikahan adalah satu-satunya cara yang sah atau legal bagi sebuah rumah tangga. Tidak ada pintu darurat atau jalan pintas dalam sebuah rumah tangga. System perbudakan wanita dengan kebebasan seorang majikan wanita menyerahkan budak wanitanya kepada suaminya dan seorang suami yang dengan bebas “menghampiri” budak wanita milik istrinya adalah sesuatu yang illegal sebenarnya dari hukum pernikahan yang dikehendaki Tuhan. Kita akan melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari sytem yang “kacau dan ngawur” semacam ini sungguh sangat merusak rumah tangga. Anda masih ingat dengan kisah keluarga Abraham? Bagaimana Sarai dengan sukarela menyerahkan budaknya perempuan yang bernama Hagar demi mendapatkan keturunan bagi Abraham (Kejadian 16:1-2) . Namun apakah yang terjadi kemudian? Bukankah Hagar memandang rendah Sarai majikannya itu (Kej 16:4b). dan bukankah dalam kisah berikutnya, Hagar dan Ismael harus menderita karena diusir dari rumah Abraham? (Kejadian 21:8-21).
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian ini adalah bahwa pernikahan adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Tuhan hanya membangun 2 lembaga penting yaitu gereja dan keluarga. Oleh sebab itu keluarga perlu dimulai dengan suatu pernikahan yang agung dan suci. Keluarga tanpa dimulai dengan pernikahan sama halnya dengan merendahkan martabat manusia itu sendiri sebagai citra dan gambar Allah. Bahkan tidak hanya itu, keluarga tanpa pernikahan sama halnya dengan menghina Allah yang merancang dan membangun keluarga. Setiap orang yang hendak berkeluarga harus berjuang dan tidak menggampangkan pernikahan itu. Mereka harus berdoa, patuh pada kehendakNya, mempersiapkan segalanya dengan matang, memikirkan dan menggumuli semuanya dengan baik. Maka pada akhirnya, cita-cita pernikahan dan keluarga yang berbahagia sungguh dapat terwujud (Mazmur 128).

Oleh: Faoziduhu | Mei 10, 2012

BELAJAR DARI KELUARGA YAKUB. (bagian 1)

Banyak hal yang kita bisa pelajari dari keluarga Yakub. Kisah-kisah menarik yang kita bisa gali dari kitab kejadian tentang keluarga Yakub begitu lengkap. Saya rasa kisah keluarga Yakub adalah yang terlengkap dalam Alkitab. Memang ada kisah keluarga Abraham, keluarga Daud yang tidak kalah seru dan tidak kalah lengkap diceritakan dalam kitab suci. Namun kisah-kisah keluarga Yakublah yang kelihatannya paling banyak mendapat catatan. Alkitab kelihatannya banyak menyorot keluarga Yakub selain pribadi yakub sendiri. Ingat bahwa dari keluarga Yakub inilah kemudian lahir sebuah keluarga yang lebih besar lagi, yaitu sebuah bangsa yang disebut Israel. Kisah-kisah keluarga Yakub membentang dari pasal 29 sampai dengan pasal 49. Jadi ada 20 pasal. Kita tidak akan membahas keseluruhan kisah-kisah tersebut. Kita hanya akan melihat beberapa bagian saja. Sebagai bahan refleksi bagi kita sebagai keluarga Kristen hari ini.
Mari kita belajar bagaimana Yakub memulai/membangun keluarganya. Hal ini dikisahkan dalam pasal 29 kitab Kejadian. Yakub mencintai Rahel karena sikapnya baik dan cantik wajahnya. Itulah sebabnya Yakub rela bekerja 7 tahun lamanya di rumah Laban demi mendapatkan Rahel (ayat 17-18). Yakub demikian cinta kepada Rahel, sehingga Alkitab mencatat bahwa ia melewati masa tujuh tahun itu seperti beberapa hari saya (ayat 20). Saya tidak pernah mendapatkan narasi yang sedemikian indah menggambarkan cinta seseorang yang rela melakukan sesuatu dengan senang dan gembira melakukan sesuatu selain ayat 20 ini. Luar biasa cinta Yakub terhadap Rahel. Perjumpaan pertama di sebuah sumur di padang memberikan kesan yang dalam bagi Yakub. Sehingga ia mencintai Rahel.
Namun kisah tujuh tahun penuh dendam cinta ini, ternoda oleh siasat licik Laban yang justru memberikan Lea dan bukan Rakhel kepada yakub di malam pernikahannya. Laban menipu Yakub. Yakub memang telah menipu banyak orang sekarang untuk pertama kalinya ia ditipu oleh orang lain. Seolah-olah ada pelajaran penting buah Yakub disini, yakub harus belajar bagaimana rasanya ditipu orang. Ini memang menyakitkan, bayangkan tujuh tahun menunggu akhirnya dapat lea. Lea tidak dicintai oleh Yakub. Namun karena siasat Laban akhirnya terpaksa Yakub menerima Lea sebagai istri pertamanya dan rela bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rakhel wanita yang diidam-idamkannya.
Apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini? Keluarga harus dibangun diatas dasar cinta? Benar. Ini sangat penting. Banyak orang membangun keluarganya tidak atas dasar cinta tetapi karena motivasi-motivasi tertentu. Misalnya karena motiv materi. Ada orang mau menikah dengan seseorang yang sebenarnya tidak dicintainya, namun karena calonnya itu orang “berkeadaan” maka nikahpun diadakan. Ada orang yang menikah karena desakan orang tua atau paksaan keluarga. Pada masa dulu di zaman siti nurbaya ini sudah biasa. Bayangin anak baru usia balita sudah dilamar atau dijodohkan. Memang masa itu sudah berlalu, namun zaman “siti nurbaya” gaya baru tetap ada sampai hari ini. Orang tua yang terlalu otoriter dan memaksakan kehendak kepada anaknya, bisa membuat anak tidak berkutik dengan rancangan orang tuanya. Orang tualah yang memaksakan kehendak menikahkan anaknya dengan orang orang pilihan mereka. Ini sering terjadi dan kita lihat hari ini. Aada begitu banyak motivasi orang yang mau membangun keluarga. Kita tidak bisa ceritakan satu persatu disini.
Keluarga seharusnya dibangun atas dasar cinta. Pertanyaannya cinta yang bagaimana? Yakub mencintai Rahel bukan hanya karena Rahel fisiknya cantik tetapi juga perangainya baik. Yakub melihat kecantikan itu luar dan dalam. Kita tidak melihat apakah standar yang sama juga dimiliki oleh Rahel terhadap Yakub. Cinta Yakub tidak hanya karena pandangan pertama, namun juga ahlak dan budi pekerti Rahel yang baik. Bayangkan Rahel adalah putri yang cantik tetapi penggembala domba. Namun masalahnya bukan faktor koboi yang ditunjukkan Rahel yang menjadi titik perhatian Yakub, tetapi kesan pertama yang menunjukkan bahwa Rahel seorang pekerja dan bertanggung jawab terhadap keluarga kelihatannya menjadi perhatian Yakub. Kekaguman akan citra luar dan dalam menjadi pemicu cinta Yakub kepada Rakhel.
Cinta manusia memang pada dasarnya lebih bersifat erotis. Berangkat dari kekaguman akan hal-hal lahiriah. Syukur-syukur diimbangi dengan kekaguman batiniah. Namun keluarga kalau hanya dibangun diatas alasan cinta erotis tidak akan bertahan lama. Cinta semacam ini akan gampang luntur, terdistorsi oleh banyak hal. Usia, sakit penyakit, musibah yang mengakibatkan cacat fisik bisa membuat kecantikan mudah hilang. Demikian juga halnya dengan hal-hal batiniah. Manusia gampang berubah. Hari ini mungkin baik hatinya tetapi belum tentu besok apakah tetap sama. Manusia rentan dengan perubahan. Oleh sebab itu jika kecantikan fisik luntur dan kecantikan batiniah berubah apakah tetap masih cinta? Kalau cinta sudah luntur bukankah hal itu alamat buruk bagi keluarga?
Namun kalau cinta dibangun diatas dasar cinta yang sejati yaitu cinta agape, maka bangunan rumah tangga akan tetap kokoh dan kuat sekalipun badai melanda. Sekalipun kecantikan fisik luntur dan kecantikan batiniah menghilang namun kalau keluarga dibangun diatas cinta sejati maka bangunan keluarga tetap tegak berdiri. Apakah cinta yang sejati itu? Cinta yang sejati itu kita sebut namanya kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang kita bisa lihat dalam diri Allah yang ditunjukkan Yesus kepada kita. Sekalipun kita berdosa dan menjadi seterunya, namun Ia tetap mengasihi kita bahkan bertindak menyelamatkan kita. Demikianlah seharusnya kasih yang mendasari rumah tangga Kristen.

Oleh: Faoziduhu | Mei 3, 2012

ALLAH SEBAGAI PEMBELAKU (Mazmur 70)

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan memimpin PA di persekutuan Wanita Debora. Saya pikir topic ini menarik untuk saya share-kan di warta ini semoga menjadi berkat. Sebelum kita membicarakan lebih dalam soal naskah ini, ada baiknya kita mengenal lebih dalam suapakah Daud. Daud adalah seorang raja Israel yang besar bahkan terbesar. Namanya begitu harum dan sangat terkenal. Ia seorang raja yang pemberani, seorang raja yang gagah perkasa di medan laga. Ia adalah raja yang selalu sukses dalam peperangan. Alkitab mencatat bahwa sebelum Daud menjadi Raja, ia sudah membunuh musuh-musuhnya sampai berlaksa-laksa (1 Samuel 18:7), Ia membinasakan Goliat (1 Samuel 17:40-58). Tidak hanya itu. Ketika Daud menjadi raja, ia memiliki para pahlawan yang gagah berani dan perkasa (2 Samuel 23:8-23). Ia juga memiliki orang-orang kepercayaan yang begitu setia membelanya (2 Samuel 15:21). Daud sangat ditakuti oleh musuh-musuh dan disegani oleh kawan (2 Samuel 8:13). Namun dibalik kebesaran dan kehebatan Daud, mari kita belajar siapakah Daud yang sebenarnya.
Di dalam ayat 3-4 jelas terbaca bahwa Daud sedang menghadapi musuh-musuh yang ingin mencabut nyawanya dan bahkan menginginkan malapetaka menimpa Daud. Tidak hanya itu, Daud juga menghadapi orang-orang yang menghina bahkan mensyukuri kemalangan atau penderitaan Daud. Kita tidak mengetahui dengan jelas latar belakang perikop ini. Dalam ayat 1, hanya disebutkan sedikit keterangan tentang Daud yang mempersembahkan korban peringatan. Namun terlepas dari semua itu, Daud pasti memiliki musuh. Tidak semua orang senang kepada Daud. Musuh-musuh Israel pasti menginginkan kematian Daud, tetapi dari kalangan orang Israel sendiri pasti ada yang benci kepada Daud. Mereka adalah musuh dari dalam atau musuh dalam selimut.
Kita ambil contoh yang paling jelas dalam Alkitab. Ketika Absalom berhasil mengkudeta ayahnya dan Daud terpaksa menyingkir dari Yerusalem karena ancaman anaknya itu. Dalam pelariannya itulah Daud melintasi Bahurim yang dihuni oleh sebagian kerabat Saul. Simei adalah salah satunya. Ia keluar dan menolok-olok Daud. Ia terus mengutuki Daud dan melemparinya dengan batu (2 samuel 16:5-8). Simei berkata “Tuhan telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan sebagai raja.sesungguhnya engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.” Jelas perkataan dan klaim Simei menyiratkan penghinaan, sindiran dan bahkan perasaan syukur atas musibah yang dialami Daud. Lebih menyakitkan hati lagi, Simei menyebut Daud sebagai penumpah darah dan orang dursila. Sebuah sebutan penghinaan yang luar biasa menyakitkan hati dan bisa menimbulkan emosi. Sehingga pantas saja seorang pahlawan Daud berniat membunuh Simei namun dicegah dengan tegas oleh Daud.
Apakah anda pernah mengalami apa yang dialami oleh Daud ini? Anda pernah dikata-katai orang lain, di serang oleh orang lain dengan gossip, fitnah, hinaan dan sejumlah kata-kata yang menyakitkan hati dan bisa memancing emosi anda? Bagaimana reaksi anda jika anda seperti Daud? Apakah anda marah? Tersinggung? Merasa harga diri anda direndahkan? Apakah anda merasa dilecehkan? Dan kemudian anda ingin segera melakukan pembalasan? Apakah anda melakukan pembelaan terhadap serangan yang diarahkan kepada anda? Jujur mungkin harus kita akui bahwa kita bisa saja memberikan reaksi negatif menghadapi serangan yang dapat merugikan diri kita. Apalagi jika posisi kita benar dan kita sama sekali tidak melakukan sesuatu yang salah seperti yang dituduhkan, difitnahkan atau digosipkan tentang kita. Namun bagaimana dengan Daud?
Kita harus belajar banyak dari Daud. Dibalik kebesaran, kehebatan, kemampuan, potensi yang dimilikinya, ternyata Daud adalah seorang yang menjadikan Tuhan sebagai pembelanya. Daud bisa saja memerintahkan anak buahnya membunuh Simei; Daud bisa saja menghunus pedangnya dan memotong lidah Simei untuk membungkamkan mulutnya yang tidak bertanggung jawab itu. Daud masih memiliki kuasa dan kemampuan untuk membela diri bahkan balik menyerang. Namun Daud tidak melakukan hal itu. Dalam 2 Samuel 16:12 Daud menyampaikan sebuah pernyataan yang indah sekali “Mungkin Tuhan akan memperhatikan sengsaraku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang ini pada hari ini.” Sebuah pernyatan yang dalam sekali bukan. Dalam tekanan emosi yang terdalam, Daud mencetuskan sebuah pernyataan iman yang luar biasa. Disinilah kita melihat kedalam dan kedewasaan iman Daud. Daud memandang serangan itu dari sudut padang positif. Ia berharap kutuk itu menjadi berkat baginya. Serangan itu tidak mendatangkan kerugian namun keuntungan baginya.
Lebih dari itu, kalau kita kembali dalam kitab mazmur ini, jelas dalam ayat 6, Daud berkata “tetapi aku ini sengsara dan miskin.” Apakah maksud kalimat ini? Dalam terjemahan NIV lebih jelas dituliskan “Yet I am poor and needy” artinya “namun aku miskin dan membutuhkan (melarat)” Daud dikatakan dalam bagian ini miskindan melarat. Apakah hal ini diartikan secara harafiah bahwa Daud miskin? Kalau kita membaca ucapan berbahagia dalam Matius 5:3 dituliskan “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Allah.” Apakah maksud Tuhan Yesus dengan kata miskin? Kalau benar-benar miskin berarti hanya orang miskinlah yang disebut berbahagia dan dapat masuk dalam kerajaan Allah. Dan kalau kata miskin dikenakan kepada Daud, maka hal itu sangat kontras dengan apa yang dimiliki oleh Daud. Sekalipun ia dalam pengungsian, namun ia masih kaya dalam banyak hal. Ia kaya dengan para pahlawan yang loyal mengiringinya, ia kaya dengan istri dan anak-anak yang bersamanya dalam pengungsiannya. Jelas bukan miskin jasmani yang dimaksud disini. Lalu apa? Daud merasa bahwa dihadapan Tuhan, Ia tidak ada apa-apanya. Di luar Tuhan ia sesungguhnya tidak berdaya. Dibalik kehebatan dan kebesaran Daud, Daud benar-benar sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak mampun, tidak sanggup, bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah yang dimasud dengan miskin di hadapan Allah. Serangan dari musuh-musuhnya mempertajam dan mengasah keyakinannya bahwa hanya Tuhanlah sandaran satu-satunya dan HANYA TUHANLAH PEMBELANYA. Itulah sebabnya Daud tidak melakukan balasan atau perlawanan. Ia menyerahkan persoalannya kepada Tuhan sang pembelanya. Nada yang sama juga kita perhatikan dalam ucapan Tuhan Yesus. Hanya orang yang sadar siapa dirinya dan dengan rendah hati hanya berserah kepada Tuhan sajalah yang disebut berbahagia.
Perhatikan doa dan penyerahan hidup Daud dalam ayat 2 dan 6. Daud berkata “Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku ya Tuhan.” sebuah doa dalam suasana sangat genting. Ia memerlukan Tuhan sebagai pembelanya. Disinilah kita melihat kedalaman iman dan kedewasaan yang ditunjukkan oleh Daud. Daud tidak larut dalam emosi yang negatif, namun ia memilih bersikap yang benar. Berdoa dan bersandar hanya kepada Tuhan. Daud yakin Tuhan mampu membela perkaranya. Bahkan dalam ayat 5 tersirat sebuah harapan bahwa Tuhan suatu waktu akan membuat orang-orang yang bersandar kepadaNya akan bersukacita dan bergirang dan bahkan mereka akan menceritakan (menyaksikan) kebesaran Tuhan sang pembela umatNya.
Bagaimana dengan anda ketika menghadapi serangan dari orang-orang yang membenci anda? Apakah anda seperti Daud, yang dengan rendah hati bersandar pada Tuhan dan mengambil sikap berdoa? Atau anda berjuang mati-matian dan anda menghabiskan energy anda untuk melakukan serangan balik atau anda berjuang membela diri anda sendiri? Mari belajar dari Daud. Seorang yang memiliki pengalaman hidup yang panjang bersama dengan Allah. Bagaimana sikapnya terhadap Saul, terhadap keluarga besar Saul, terhadap Mikhal anak perempuan Saul bahkan terhadap Absalom anaknya sendiri yang menjahati dirinya. Daud bukan hanya seorang yang pintar bersaksi dan berkata-kata tentang bagaimana bersandar kepada Tuhan, namun Daud sendiri dalam pengalaman belajar yang panjang telah melalui banyak ujian dan ia mempraktekanya dengan baik. Bagaimana dengan anda?
Pengharapan dan keyakinan dan penyerahan hidup Daud kepada Allah memang tidak sia-sia. Tatkala Daud kembali ke Yerusalem untuk menduduki tahtanya oleh karena Absalom mati dalam peperangan menghadapi tentara Daud, Simei datang sujud di hadapan Daud dan berkata “janganlah kiranya tuanku tetap memandang aku bersalah dan janganlah kiranya tuanku mengingat kesalahan yang dilakukan hambamu ini pada waktu tuanku keluar dari Yerusalem; janganlah kiranya raja memperhatikannya lagi. Sebab hambamu ini tahu bahwa hamba telah berbuat dosa.” Simei minta maaf dan mohon ampun kepada Daud. Simei menyadari kesalahannya dan dengan penuh malu dan penyesalan mohon ampun kepada Daud. Daud memaafkannya, namun Hukuman lebih besar menimpa Simei pada zaman raja Salomo yang menghukumnya dengan hukuman mati karena Simei sendiri melanggar titah raja dan tidak konsisten dengan apa yang dikatakannya (1 Raja-raja 2:36-46).

Oleh: Faoziduhu | April 26, 2012

TUGAS DAN PEKERJAAN ROHANIWAN (Bagian 2)

Setelah semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menyusun khotbah telah lengkap, barulah rohaniwan tersebut meramunya sedemikian rupa sehingga lahirlah sebuah teks khotbah yang akan disampaikannya. Untuk menyusun sebuah teks khotbah itupun bukan soal gampang. Ia harus menyederhanakan khotbah tersebut sehingga bisa dimengerti, ia harus menghubungkan antara apa yang diamanatkan oleh teks dengan dunia jemaat hari ini, atau dengan kata lain ia harus memikirkan bagaimana khotbahnya relevan atau teraplikasi dalam kehidupan jemaat sehingga khotbahnya menjawab kebutuhan mereka dan dia juga harus mengumpulkan bahan-bahan ilustrasi yang tepat dan pas untuk mendukung khotbahnya. Inipun butuh waktu berjam-jam. Setelah teks khotbah telah selesai, ia harus menguasai khotbahnya, belajar menyampaikan dengan intonasi, ritme dan gaya khotbah yang benar-benar menarik perhatian jemaat. Ingat bahwa menyampaikan khotbah bukan soal gampang. Banyak jemaat ketika beribadah tidak siap mendengar berita Firman Tuhan. Ada yang mengatuk dalam gereja, ada yang tidak focus kepada khotbah. Bagaimana kalau sebuah khotbah demikian monoton? Tidak relevan? Bukankah jemaat tidak mendapatkan apa-apa pada hari Minggu tersebut?
Tugas rohaniwan yang kedua yang tidak kalah penting adalah doa. Para Rasul mengatakan kepada jemaat “supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman” (Kisah rasul 6:4). Doa adalah bagian penting dari tugas rohaniwan. Doa sebenarnya bukan hanya sekedar tugas. Doa adalah nafas hidup, detak jantung kehidupan seorang rohaniwan bahkan semua anak-anak Tuhan. Oleh sebab itu doa merupakan bagian penting dari ritme kehidupan para rohaniwan. Tanpa doa, seorang rohaniwan tidak bisa “hidup sehat” secara rohani dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Masalahnya, butuh waktu berapa jam untuk berdoa bagi seorang rohaniwan? Tidak ada ukuran yang bisa kita jadikan patokan waktu ideal bagi jam doa seorang rohaniwan. Para Rasul memiliki jam-jam tertentu dalam berdoa dan hal itu di pengaruhi oleh kebiasaan orang Yahudi pada zaman itu (Kis 3:1; Kis 10:9). Rohaniwan yang baik akan menyisihkan banyak waktunya untuk berlutut berdoa memanjatkan berbagai hal dihadapan Tuhan tidak hanya dirinya sendiri tetapi juga jemaat yang digembalakannya, pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. Setiap rohaniwan biasanya memiliki catatan doa, sehingga ia bisa memiliki pokok-pokok doa yang dengan tekun di doakannya dan juga melihat bagaimana Tuhan berkarya menjawab doa-doanya.
Tugas rohaniwan yang ketiga adalah merawat jemaat yang dipercayakan kepadanya. Walaupun rohaniwan sudah disibukkan dengan persiapan khotbah dan kehidupan doanya, namun ia juga harus memberikan waktunya untuk melawat jemaatnya. Untuk itu visitasi (besuk) dan pelayanan konseling merupakan bagian penting dari tugas perawatan jemaat. Seorang rohaniwan yang bertanggung jawab harus menyisihkan jam-jam sibuknya untuk melihat jemaatnya. Ia harus mengunjungi mereka yang sakit, mengunjungi mereka yang sudah lama tidak aktiv beribadah, menyelesaikan masalah-masalah atau konflik yang mungkin terjadi dalam kehidupan jemaat, memberikan nasehat kepada mereka yang mungkin berbuat dosa atau melanggar hukum Tuhan. Jam-jam visitasi Rohaniwan memang berbeda di tiap-tiap gereja. Yang jelas semakin banyak jemaat, semakin kompleks masalah, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk melakukan visitasi. Yang ironis, jika rohaniwan yang melayani jemaat dewasa tidak sebanding dengan jumlah jemaat yang banyak. Jika ia demikian giat berkunjung kepada jemaat yang jumlahnya begitu banyak sehingga frekwensi berkunjung semakin sering, maka waktu-waktu lainnya yaitu persiapan Firman Tuhan, jam-jam doanya, dan aktivitas lainnya harus dikorbankan. Sebaliknya jika ia harus menyeimbangkan waktu-waktunya untuk persiapan Firman, waktu doanya, waktu membacanya, dengan wakyu-waktunya untuk berkunjung, maka kemungkinan frekwensi berkunjungnya akan sedikit berkurang. Hal ini sebenarnya dapat disiasati dengan melibatkan majelis untuk membagi waktu melakukan pelayanan pembesukan. Sehingga visitasi giat dilakukan tanpa harus mengorbankan tugas-tugas penting lain dari seorang rohaniwan.
Tugas rohaniwan berikutnya adalah tugas mengajar. Selain berkhotbah, seorang rohaniwan juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas katekisasi. Entah itu katekisasi sidi-Babtis maupun katekisasi pra nikah. Jika jemaatnya banyak, maka intensitas mengajarpun makin sering. Seorang rohaniwan, harus mempersiapkan tugas mengajarnya dengan baik. Ia tidak boleh keliru di dalam mengajarkan doktrin kepada calon babtis-sidi. Demikian juga ia tidak boleh salah dalam mengajarkan dasar-dasar penting tentang pernikahan Kristen kepada calon mempelai. Seorang rohaniwan tidak hanya mengajar melalui bahasa verbal, tetapi juga mengajar melalui tulisan. Oleh sebab itu, ia juga harus memberi waktu untuk menulis pengajaran yang biasanya dipublikasikan melalui warta atau buletin gereja. Tugas rohaniwan kelima adalah memberitakan injil kepada mereka yang belum percaya. Sesibuk-sibuknya rohaniwan, ia harus memberitakan injil. Waktu memberitakan injil bisa dilakukan melalui perkunjungan, khotbah atau juga bisa dengan menyisihkan waktu memberitakan injil kepada orang tertentu atau keluarga tertentu.
Tugas keenam yang tidak boleh diabaikan adalah tugas-tugas menejerial. Sekalipun gereja memiliki majelis dan kedaulatan majelis demikian kuat, namun seorang rohaniwan harus bertanggung jawab dalam tugas-tugas manajerial gereja. Seperti diketahui bahwa para majelis bukanlah full time gereja dan merekapun memiliki kesibukan lain selain pelayanan di gereja, maka kadang-kadang ada bagian tugas mereka yang tidak bisa dilakukan oleh karena waktu yang sangat terbatas. Maka seorang rohaniwan memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan bahkan kalau perlu melaksanakan tugas-tugas tersebut. Seorang rohaniwan juga harus memiliki waktu untuk menyusun program, mengevaluasi program, menyiapkan kader-kader atau calon majelis, menghadiri rapat-rapat baik rapat majelis, rapat kepanitiaan dan berbagai macam pertemuan-pertemuan rutin lainnya. Semuanya membutuhkan waktu dan persiapan. Biasanya rapat-rapat membutuhkan waktu minimal satu jam. Baik itu rapat penyusunan program, rapat evaluasi dan pertanggung jawaban kegiatan. Belum lagi rapat-rapat antar gereja yang bersifat ekumenikal ataupun juga sidan dan rapat-rapat sinodal. Semuanya butuh waktu dan persiapan.
Kita sudah melihat enam tugas penting seorang rohaniwan. Sekarang kita melihat waktu-waktu yang “sisa” yang sebenarnya juga tidak kalah penting yang merupakan bagian dari tugas rohaniwan. Pertama, seorang rohaniwan wajib dan harus membaca. Jika rohaniwan sudah malas membaca, tidak punya waktu untuk membaca, maka ini menjadi “alamat buruk” bagi rohaniwan dan juga gerejanya. Mengapa? Sebab rohaniwan tanpa membaca akan menjadi rohaniwan yang diibaratkan pejuang yang kehabisan amunisi dan senjata dalam bertugas. Oleh sebab itu seorang rohaniwan selalu menyisihkan waktunya untuk membaca. Kedua, waktu untuk keluarga. Sehebat-hebatnya seorang rohaniwan dalam pelayanan, namun kalau keluarganya hancur-hancuran, apakah gunanya? Apakah hamba Tuhan tersebut bisa jadi teladan? Oleh sebab itu seorang rohaniawan wajib memberikan waktu buat anak-anak maupun kepada pasangannya. Waktu-waktu berharga perlu di dapatkan oleh keluarganya. Bukankah keluarga rohaniwan juga merupakan bagian dari jemaat dan mereka juga memiliki hak yang sama untuk diperhatikan oleh rohaniwannya?
Dari uraian yang demikian panjang lebar, menjadi jelas kepada kita seperti apakah tugas rohaniwan itu. Hal apakah yang dikerjakannya, tugas dan tanggung jawab apa yang ada di pundaknya. Hal apakah yang dilakukannya untuk mengisi waktu-waktunya.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.